He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Our Fate [END]


__ADS_3

Samar-samar Amy mendengar suara telepon selulernya berbunyi. Ia memaksakan diri membuka mata dan meraih ponsel.


"Ada apa? Kasus baru? Baik, aku segera ke sana." Sambungan telepon ditutup. Amy berusaha bangkit dari ranjang. Kepalanya terasa berat. Lagi-lagi darah rendahnya kambuh.


Setelah duduk sebentar di tepian ranjang, Amy bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya ia mengambil dua lembar roti dari meja makan dan langsung mengunyahnya tanpa mengoleskan apa pun.


"Rasanya, kok, lebih enak polos begini," gumam Amy heran. Ia terus bergerak mengunyah roti sambil berlari keluar dan menuju halte bus.


Di depan sebuah gedung bercat krem yang tidak begitu besar, Amy turun dan segera berlari masuk ke dalam gerbang.


"Selamat pagi," ucapnya pada dua orang yang bertugas jaga. Dua orang itu hanya mengangguk dan tersenyum padanya.


"Ah, Amy. Maaf karena tiba-tiba meneleponmu. Harusnya hari ini kau cuti." Seorang lelaki berseragam hijau muncul dan mengasongkan berkas pada Amy.


"Oh, ini seperti bunuh diri," gumam Amy setelah membaca beberapa lembar berkas. Ia terus bergerak melewati deretan meja kemudian berbelok ke kanan dan memasuki sebuah ruangan.


"Ini memang terlihat seperti bunuh diri tetapi coba lihat hasil penyelidikan tim forensik. Tidak ada bekas sidik jari satu pun di tali yang dipakainya untuk gantung diri." Lelaki berseragam hijau itu duduk di seberang meja setelah Amy duduk di mejanya.


"Hm, memang aneh. Apakah korban memakai sarung tangan?" selidik Amy yang terus memeriksa berkas yang diberikan lelaki berseragam hijau padanya.


"Tidak. Dia tidak memakainya ketika kami temukan di TKP."


Amy mengerutkan dahi, berpikir. Membaca kata per kata hasil laporan sementara tim penyidik. Kemudian rasa mual menyergapnya. Asam lambungnya terasa naik ke kerongkongan. Amy menutup mulut dan segera menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut.


*******


"Pak, tolong berikan saya waktu sedikit lagi untuk menyelesaikan esai." Seorang gadis mengejar seorang pria berjas biru dongker dan agak kewalahan mengimbangi langkahnya.


"Sudah kuberi tambahan sehari. Kenapa kau selalu lambat?" kata pria itu tanpa menoleh.


"Saya ... saya kurang mengerti bahasa sains. Saya harus mengulang membaca teori multiverse itu lima kali, Pak Marshall." Gadis itu terdengar frustrasi. Bukan sekali ini saja ia meminta tambahan waktu.


M menoleh pada si gadis. Ia tahu kalau mahasiswinya yang baru masuk itu berbakat. Tetapi M juga tidak suka dengan keterlambatan. "Sudah sejauh mana kautulis esainya?"


Gadis itu tiba-tiba berbinar, "Saya hanya tinggal menuliskan kesimpulannya, Pak."


"Saya tunggu sebelum jam empat sore hari ini." M melirik jam tangan yang menunjukkan pukul dua belas.


"Terima kasih," ucap gadis itu menunduk dalam. Kemudian ia berhenti mengikuti M.


"Kau selalu memberi mahasiswamu tambahan waktu," kata seseorang yang sudah berdiri mengamati M sejak ia keluar kelas.


"Aku tahu seseorang yang kurang memahami bahasa tidak awam," ucap M. Dirangkulnya dan dikecupnya kening wanita yang menunggunya itu.


"Itu pasti Amy!" Wanita itu tertawa. "Ayo, kita harus cepat kalau tidak mau terlambat. Ayah pasti menantikan hari ini."


*******


Jerome tengah menyiram tanaman di halaman depan rumah ketika sebuah mobil minibus putih datang. Lelaki itu tampak lebih tua dan berkeriput. Rambutnya dihiasi warna perak berkilau. Ia sudah pensiun melaut. Sekarang ia telah menetap dan kembali menghuni rumah kecilnya.


"Kakek!" Sebuah suara kecil terdengar disusul derap langkah yang antusias. Seorang bocah lelaki berlari memeluk Jerome. "Aku datang, Kek!"


"Xabi! Kau makin besar saja," ucap Jerome sambil mengangkat bocah itu tinggi-tinggi. "Mana ayah ibumu?"


Bocah yang dipanggil Xabi itu diam saja hingga dua bocah lain datang dan berebut memeluk Jerome. Seorang bocah lelaki gendut dan seorang anak perempuan cantik yang terlihat paling muda.


"Gery! Aby!" seru Jerome.


"Ayah bilang bibi Amy akan datang. Mana? Aku tidak melihatnya," ucap si gadis kecil celingak-celinguk.


"Dia belum datang, Sayang." Jerome mengelus rambut Aby pelan. Ia melihat M yang tengah menurunkan barang-barang bersama istrinya, Aurora.


"Ayah, apa kabar?“ tanya Aurora dengan sebuah tas besar di tangan kiri. "Kemana tangan ayah?" tanya wanita dengan baju terusan ungu itu.

__ADS_1


Tangan kiri Jerome memang kini tidak utuh. Ia mengalami sebuah kecelakaan di laut sehingga bagian jari hingga pergelangan tangannya harus diamputasi.


"Jangan khawatir. Jimmi bilang akan memperbaikinya. Kemarin kupecahkan tangan itu dengan tidak sengaja." Jerome terkekeh.


"Harusnya ayah lebih berhati-hati. Sudah berapa kali Jimmi membuatkan yang baru?“ tanya M yang mengangkat dua tas besar dan segera meletakkannya di teras.


"Dua kali. Tapi sebenarnya ayah lebih suka menggunakan lengan kait daripada lengan robot." Jerome kembali terkekeh.


"Ya! Kakek bajak laut!“ seru Gery dan Xabi.


Ponsel M bergetar. Ia segera menjauhi anak-anak dan menerima panggilan itu. Segera wajahnya berubah pucat.


"Ada apa?" tanya Aurora membaca suasana hati suaminya.


"Amy pingsan di kantornya," bisik M. Ia tidak ingin anak-anak tahu hal itu. Mereka sangat menyukai Amy.


"Ha? Bukankah dia harusnya cuti?“ Aurora ikut berbisik. "Dasar, anak itu!" Aurora memijat keningnya. Bukan sekali dua kali Amy tetap bekerja padahal ia cuti.


"Aku pergi dulu." M pun bergegas mengendarai mobil untuk melihat keadaan adiknya.


"Jimm? Kau belum pulang? Amy pingsan dan sekarang ada di rumah sakit." Terdengar M menghubungi sahabatnya ketika di mobil. "Cepat pulang!" katanya seraya memutuskan panggilan karena kata-katanya barusan masuk mailbox.


M berlari sepanjang lorong rumah sakit. Ia hanya berhenti di resepsionis untuk menanyakan dimana adiknya berada. M tahu benar kalau Amy memang selalu memaksakan diri tentang pekerjaannya. Namun, ia juga tahu kalau Amy mencintai pekerjaannya sebagai analis tim forensik.


Ketika M tiba di kamar Amy, seorang perawat juga datang hampir bersamaan.


"Apakah Anda walinya?" tanya perawat yang memakai seragam dusty pink itu.


"Ya, saya keluarganya," jawab M.


"Hasil tesnya positif, Pak." Perawat itu tersenyum lebar kemudian menyerahkan sebuah amplop besar pada M.


"Tes apa, ya, Sus?" tanya M kaget. Ia khawatir Amy memiliki penyakit berbahaya.


M duduk di samping ranjang dan membuka amplop. Ia melihat foto usg rahim Amy. Di sana tertera usia kandungan adiknya yang menginjak tiga bulan.


"Jadi, sebenarnya Jimmi sering pulang menemuimu?" tanya M ketika dilihatnya Amy membuka mata.


"Tidak sesering itu. Dia sedang sibuk di lab jadi terkadang dia pulang dua minggu sekali," ucap Amy lemah. "Tapi, sudah sebulan ini dia tidak pulang."


"Anak itu!" M menggenggam hasil tes Amy erat hingga sedikit lecek. "Haruskah kuhajar dia?"


"Dia tidak tahu aku sedang mengandung anaknya, M."


"Kau membelanya?"


"Aku saja baru tahu hari ini," ucap Amy sedikit malu. "Ini bukan salahnya. Ayo, pulang. Aku ingin bertemu anak-anak dan ayah." Amy bangkit dan menyingkirkan selimut. Dengan bantuan M ia berjalan menuju kursi roda yang berada di dekat pintu.


"Biar kudorong," ucap M. "Harusnya Jimmi yang melakukan ini. Kadang aku ragu apa dia benar bisa menjagamu? Dia bahkan kerja di tempat yang jauh. Berani-beraninya sekarang menghamili adikku."


"Kak, ini bukan salahnya. Aku yang ngotot ingin kerja di sini."


"Bela saja terus!" seru M. Ia hanya tidak ingin Amy kenapa-kenapa. Sekarang, ia tinggal di kota Z bersama Aurora. Sementara Jimmi bekerja di kota X dan Amy tetap di kota kelahiran mereka. Ia hanya mengkhawatirkan adiknya. Meski ayahnya kini menetap di sini, tetapi ia tahu lelaki itu telah menua.


"Aku bisa menjaga diri sendiri, M." Amy berusaha meredakan kekesalan atau kekhawatiran M.


"Tidak dengan seorang anak di rahimmu. Jimmi harus bertanggung jawab dan menjagamu."


Amy menggelengkan kepala. Rasanya ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuat kakaknya tenang. Tubuhnya masih terasa lemas jadi ia memutuskan untuk menyimpan tenaganya.


*******


"Paman Jimm!" seru Gery ketika melihat Jimmi keluar dari mobil sedannya. Bocah lelaki itu langsung berlari menghampiri Jimmi dan memeluknya.

__ADS_1


"Dimana Xabi dan Aby?" tanya Jimmi, masih menggendong Gery.


"Mereka tidur," jawab Gery sembari mengacak rambut Jimmi.


Jimmi berjalan memasuki teras dan mendapati Aurora dan M di ruang depan menatapnya dengan tatapan protes.


"Kemari Gery! Paman Jimmi pasti lelah. Ayo, tidur siang!" Aurora mengambil Gery dari Jimmi dan segera membimbingnya menuju kamar.


"Dia di kamar," ujar M. "Sampai kapan kalian berpisah terus, sih?" tanya M menyatakan protesnya.


Jimmi hanya tersenyum dan memegang bahu M sekilas. Kemudian ia memasuki kamar Amy. Kamar itu masih sama seperti dulu, kecuali langit-langitnya yang telah direnovasi.


Amy terlihat berbaring dengan Xabi memeluknya. Mereka tampak lelap. Pelan-pelan Jimmi bergerak mendekati ranjang. Ia duduk di tepian kemudian mengelus rambut Amy pelan dan mengecup keningnya.


"Kau pulang?" tanya Amy. Rupanya tidurnya terusik oleh perlakuan Jimmi.


Jimmi mengangguk seraya tersenyum. Kemudian ia membelai rambut Xabi dan mengelus pipi bocah tiga tahun itu.


"Aku hamil, Jimm," kata Amy. Diraihnya tangan Jimmi dan dielusnya jemari lelaki itu. "Tiga bulan."


Senyum merekah di bibir Jimmi. Mata cokelatnya membulat. "Benarkah itu?"


Amy menyodorkan amplop cokelat besar yang ia ambil dari meja samping ranjang pada Jimmi.


Lelaki itu membukanya dengan tak sabar. Ia membacanya saksama kemudian segera memeluk erat Amy.


"Ada apa?" Xabi terbangun dan mengucek mata. "Daddy?"


"Hai, Sayang! Kau akan punya adik!" Jimmi memeluk dan mencium Xabi hingga bocah kecil itu tertawa keras. Kemudian ia mencium perut Amy dengan hati-hati.


"Kau sudah bertemu M? Dia marah karena aku hamil dan kau akan berada jauh dariku."


"Itu tidak akan terjadi. Aku dipindahkan ke laboratorium baru di kota sebelah."


"Benarkah?" tanya Amy dengan wajah berseri. Itu artinya Jimmi bisa pulang setiap hari.


"Ya!" Jimmi memeluk istri dan anaknya.


"Mommy, Daddy ... adik itu apa?" tanya Xabi polos.


Amy dan Jimmi langsung memutar otak untuk merangkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pada anak sulung mereka.


Awan-awan di langit bergerak berkerumun dan gerimis mulai membasahi bumi. Tidak. Langit tidak pernah menangis karena ia tahu sejauh apapun air-air itu mengalir, mereka akan kembali terbang kepadanya.


TAMAT


_______


*Hai, Pembaca...


Terima kasih karena telah mendukung Author selama ini. Berkat kalian novel ini selesai.


Sampai jumpa di cerita berikutnya!


Pssttt, nanti masih ada chapter extra. Curahan hati para karakter utama He Is Not My Brother*. ^^


Find me on:


Fb: Hi Gaez Itz Revka


Ig: @its_revka


Wp: @Revka09

__ADS_1


Storial: @Revka09


__ADS_2