
Aku bangun dengan tangan kiri yang telah dibalut perban. Ini di kamarku? Ya, sepertinya begitu. Meja kecil dan lemari cokelat itu buktinya. Di muka lemari itu tertempel fotoku, M dan foto lama Ayah dan Ibu yang menggandeng M kecil.
Aku bergerak melangkah keluar dari kamar. Ah! Sepertinya ada memar dan lecet di beberapa bagian tubuhku.
"Sudah bangun?" tanya M.
Di ruang tengah kulihat Jimmi sedang mengobati luka Olie dan Zack. Kuhampiri mereka bertiga. Wajah Zack memar sedikit di bagian pipi kanan. Agaknya luka Olie lebih parah. Pelipisnya berdarah dan kaki kirinya sedang dibalut perban oleh Jimmi.
"Sudah bangun, Nona?" sapa Jimmi.
"Namaku Amy." Kutatap tajam cowok itu. Sepertinya hanya dia yang gak terluka sama sekali. Wajahnya masih utuh.
Zack menggeser sedikit duduknya kemudian aku duduk di sampingnya. Kulihat M membawa sesuatu di baskom. Sepertinya air hangat karena ada kepulan asapnya. Setelah meletakkan baskom di meja, M duduk di sandaran kursi di sampingku.
"Okey ... ada yang bisa jelaskan semua ini padaku?" tanya M menatapku, Zack kemudian Olie.
"Sebenarnya aku tidak tahu kenapa, tapi beberapa anak SMA Burhan mngirimkan surat tantangan kepada siswa SMA Elang." Zack mengambil topi dari meja dan memakainya, " Awalnya aku gak mengerti kenapa, lalu tadi sepulang sekolah ada yang mengatakan mereka sudah memukuli Tata dan Firgo. Aku hanya mengikuti anak itu bersama Olie ke tempat tadi."
"Lalu ...?" M memotong.
"Mereka menyerang kami dan tentu kami harus mempertahankan diri, kan?"
Kemudian M memutar kepalanya dan menunjukku.
"Dan kenapa kau terlibat, Am?"
"Aku hanya lewat saja, lalu salah seorang menarik dan menjambakku sampai si rambut merah membuatku berdarah," jelasku.
"Kau punya kesempatan untuk lari, kan?" Zack menatapku.
"Ya ... tapi 'ku kesal pada orang itu."
"Kau menggunakan teknikku, ya?" tanya Jimmi. Ia selesai mengobati Luka Olie. Harusnya aku yang ada di posisinya!
__ADS_1
"Itu ... menghancurkan rahang dengan lutut. Mmm ... iya," jawabku jujur.
M dan Jimmi saling pandang. M sepertinya bertanya pada Jimmi, kau mengajarinya? Lalu Jimmi hanya mengangkat bahu. Komunikasi dua orang itu memang sudah tingkat atas. Mereka bisa berbicara tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Apapun itu, kita tidak boleh mengulanginya. Ini bisa merusak nama sekolah dan orang tua kita. Kalian mengerti?" tanya M. Tak ada yang bersuara. Tapi aku masih heran kenapa M bisa tepat waktu. Aku ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi takut. Jadi kusimpulkan sendiri saja pertanyaan itu.
**********
Setelah kejadian itu, bertebaran rumor di sekolah. Mereka bilang telah terjadi tawuran dan aku salah satu orang yang terlibat. Setiap siswa di sekolah menatapku ngeri. Mereka juga mnghindar untuk terlalu dekat denganku.
Sebenarnya pagi ini aku tidak begitu bersemangat. Entahlah, ada sesuatu hal yang mengganjal dipikiranku. Tentang perkelahian itu. Aku dengar penyebabnya adalah seorang gadis SMA yang diperebutkan salah satu siswa Burhan dan Elang, si Firgo.
Firgo adalah siswa tingkat XII. Wajahnya lumayan ganteng, kulitnya putih dan dia tinggi. Dia pacaran dengan seorang cewek yang belum di ketahui siapa. Anak Burhan juga ternyata naksir si cewek jauh sebelum Firgo jadian. Karena tak terima cewek incarannya jadian dengan Firgo, anak Burhan menantang berkelahi dan terjadilah pertempuran di jembatan itu. Setidaknya itulah hasil yang ku dapat dari teman-teman sekelasku. Benar tidaknya aku gak tahu. Aku malah berpikir mungkin mereka akan balas dendam. Mengerikan sekali karena aku sudah terlibat.
Suasana pagi ini agak mendung. Agaknya aku berangkat kepagian. Hanya ada beberapa murid yang kutemui. Setelah berpisah dengan M, aku menuju kelasku. Kelas X.3. Belum ada siapapun di kelas. Hari ini aku kebagian piket. Ku letakkan tasku di meja. Saat aku beranjak, kulihat Val dan Sifa memasuki ruang kelas. Mereka memberi salam dan mengambil sapu seperti yang kulakukan. Saat itu aku melihat beberapa orang berlarian di depan kelas.
"Am ... Amy ...!" M berteriak dan menarik lenganku. "Ayo, ikut aku! Kalian berdua juga!" perintahnya pada Val dan Sifa.
Aku tidak mengerti ada apa dan mengapa tapi M terus menarikku dan berlari cepat. Sifa dan Val sampai agak kewalahan mengejar kami.
Napas M tak beraturan. Ia terengah-engah.
"Dengar, Am ... kau dan teman-temanmu diam di sini. Ingat, jangan kemana-mana. Apapun yang terjadi. Mengerti?"
"Tapi kenapa?" tanyaku penasaran bercampur cemas. Apa yang terjadi?
"Dengar ... anak-anak Burhan—mereka mengepung sekolah kita!" M menatapku cemas, kemudian ia menuju pintu.
"Kau ... kau mau kemana, kak?" tanyaku khawatir, "Apa jumlah mereka banyak?"
"Tak ada waktu untuk menjelaskan, Am ... aku akan membantu teman-teman yang lain. Jaga dirimu." M berlalu dan menutup pintu. Aku berlari menyusulnya namun tangan Sifa dan Val menarikku.
"Jangan bodoh, Amy ... kakakmu benar. Lebih baik kita di sini," kata Val. Sifa mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Kita harusnya melapor pada guru," ujarku.
"Terlalu pagi. Bahkan jika guru-guru datang, mungkin akan di blokade oleh mereka. Kau tahu tawuran di SMA Naga yang fenomenal itu, kan?" Val meringis. Terlihat ketakutan di wajahnya.
"Tidak! Banyak korban di peristiwa itu. Aku tak mau M jadi korban."
"Sebaiknya kita berdo'a semoga ini tak seburuk yang kita kira." Sifa meraih bahuku dan mengelusnya. Dan Sifa memang benar hanya itu yang bisa kami lakukan.
Aku berharap ini adalah lelucon yang M buat, atau salah satu koleksi mimpi burukku. Aku mencubit tanganku sendiri. Ini nyata. Sudah tujuh jam kami di sini. Sejak pagi terdengar jeritan dan erangan dari bawah. Aku hanya dapat mengira-ngira apa yang terjadi di luar sana. Aku tidak bisa tenang. Aku sibuk memikirkan keselamatan M, Jimmi, Olie, Zack, Lewis dan teman-teman lainnya.
"Kita sudah tujuh jam berada di sini. Kita harus keluar," ucapku memecah keheningan.
"Jangan! Kita tunggu sampai kakakmu menjemput kita. Belum tentu di luar aman, Amy." Sifa bersuara.
"Tidak. Suara-suara itu sudah tidak ada berjam-jam yang lalu. Lagipula ... lagipula ... mungkin M ...." Air mataku hampir tumpah. Aku tak punya siapa-siapa lagi selain dia. Aku melangkah mendekati pintu. Sifa menarik lenganku tapi aku menepisnya.
"Jika kalian takut, diamlah di sini." Aku melirik Val yang sejak tadi diam membisu.
Tidak ada seorang pun. Hanya balok, kursi dan meja yang berantakan serta beberapa percik darah menghiasi sekolah ini. Kemana mereka? Apakah mereka berpindah tempat berkelahi? Aku berjalan melewati pecahan kaca yang berwarna merah berhias darah. Tunggu! Apa itu? Jam tangan M? Kupungut jam digital merk kw itu. Kacanya pecah dengan percikan darah di ujung pengaitnya.
"M! Dimana kau? Kakak!" Aku berusaha berteriak sekuat tenaga. Tak ada jawaban. Sepi.
"M!" aku berlari menuju kantin, wc, ruang OSIS, gerbang. Tak ada siapapun. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hari mulai gelap.
Apakah kau sudah pulang, M?
Aku menatap jam tangan M. Tak terasa butiran kristal bening mengalir di pipi. Tubuhku merosot. Kupandangi atap sekolah. Entah apa yang kupikirkan. Aku merasa hilang. Perlahan kutegakkan badanku. Kuseret langkah kakiku yang kini terasa berat. Apakah aku akan kehilanganmu, M?
Bersambung ...
-------
Cerita ini akan update 2-3 kali seminggu :)
__ADS_1
Mohon dukungan kalian~