He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Jimmi


__ADS_3

Gadis itu terus berjalan menyusuri jalan desa yang gelap. Sesekali kelelawar terbang di atas kepalanya. Wajahnya melukiskan kekhawatiran. Ia terus memandangi jam tangan hitam yang ada di tangannya. Berulangkali ia menghapus air matanya sebelum terjatuh dari pipi. Jam tangan itu menunjukkan tepat pukul enam petang. Gerimis mulai membasahi bumi.


Seberkas cahaya biru berkelebat di langit. Kemudian disusul oleh suara gemuruh yang mengerikan. Angin berembus dari arah barat. Pohon-pohon di tepi jalan bergoyang. Seorang pemuda berumur 19 tahun tengah berlari di bawah hujan. Meski ia nampak lelah dan kesakitan tapi kakinya terus dipaksakan untuk melangkah lebih cepat dan cepat. Sesekali ia meringis mmenahan sakit. Seragam sekolahnya begitu kusut dan kotor. Ia terus melangkah, sampai ujung matanya menangkap bayangan seseorang jauh di depannya.


"Amy?" gumamnya.


Ia terus mempercepat langkahnya mengejar seseorang di depan sana. Ketika ia berhasil meyakinkan dirinya bahwa orang itu memang orang yang ia cari, dia berteriak, "Amy!"


Gadis itu menghentikan langkahnya saat samar-samar seseorang memanggilnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Tak ada siapapun. Hanya sekumpulan pohon yang bergoyang serta ladang jagung yang menari.


Teriakan kedua terdengar. Kali ini ia menoleh ke belakang. Matanya membulat. Tangannya gemetar memegang jam tangan retak itu. Sesaat ia mematung. Namun buu-buru ia menghampiri sosok itu. Tak dipedulikannya angin yang membawa ribuan butir air menghujami wajahnya.


"M ... kau tak apa-apa?" tanya gadis yang bernama Amy itu.


Ia segera memeluk erat kakaknya. Air matanya tumpah lagi. Ada perasaan senang karena ia tidak kehilangan cowok itu. Tapi ia juga khawatir dengan keadaannya.


Cowok yang dipanggil M itu mengelus lembut rambut adiknya. Ia tahu pasti Amy khawatir. Ia sempat pergi ke atap sekolah untuk menjemputnya. Tapi yang ia temui hamya dua orang lainnya yang mengatakan Amy telah keluar beberapa saat yang lalu. Syukurlah ia sudah bertemu dengan adiknya saat ini.


"Apa yang terjadi?" tanya Amy tanpa melepaskan pelukannya. "Kau terluka?"


"Akan kuceritakan di rumah nanti. Sekarang kita pulang."


Sepanjang perjalanan, M memutar kembali apa yang terjadi tadi pagi di kepalanya. Sekelompok besar pelajar SMA Burhan menjaga pintu utama dan pintu samping sekolah, lalu sebagian dari mereka masuk dan mulai merusak taman sekolah. Seseorang dari mereka memukul salah seorang murid Elang dan menanyakan keberadaan seseorang.


Ketika M hendak dipukul, cowok itu menghindar. Ini membuat orang itu berang dan berkali-kali menyerang. Tiba-tiba dari arah gerbang sekolah, beberapa orang berlari menghindari pukulan siswa Burhan.


Melihat itu, M dan kawannya, Jimmi, segera menghindari kumpulan orang itu. Namun mereka malah terjebak di tengah perkelahian tak seimbang. Para siswa Burhan membekali diri mereka dengan balok, rantai, dan pisau lipat. Melihat itu, siswa Elang berlari ke kelas dan melemparkan bangku serta meja untuk melawan mereka.


M tidak tinggal diam meski dengan tangan kosong. Kekerasan tidak akan memberi solusi terbaik tapi jika ia tak berkelahi sekarang, ia bisa saja mati begitu mudah.


Ketika M menghadapi seseorang yang memegang rantai panjang, untaian rantai itu mengenai tangan kirinya hingga jam tangannya terlepas. Ia tak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja para penyerangnya mulai berkurang. Suara letusan senjata api berhasil menghentikan aksi tawuran itu.


"Jadi, tadi kakak dari kantor polisi?" tanya Amy yang memiliki rambut sebahu itu. Ia mengobati tangan kiri M dengan obat yang mengandung iodine.


"Ya. Hanya dimintai keterangan. Polisi akan mengusut tuntas siapa dan apa penyebab penyerangan ini."


"Ngomong-ngomong, kok polisi tahu, ya?"


"Salah satu guru kita menelepon kantor polisi begitu melihat banyak siswa asing di luar gerbang yang tidak mengijinkan siapapun masuk."


Amy mengangguk. "Sepertinya kakak harus istirahat di rumah beberapa hari."


"Sepertinya begitu." M melihat cermin dan mendapati beberapa memar di wajah. Selain itu, tangan dan kakinya pun terasa sakit karena bengkak.


"Baiklah ... sekarang kita tidur. Aku boleh, kan tidur di sini?"


M memandang wajah adiknya sesaat, tapi kemudian tersenyum. Amy memang akan selalu begitu jika M sakit.


************


Matahari hampir tenggelam saat Amy meminta izin kepada kakaknya untuk menonton pertunjukkan seni di balai desa. Sebenarnya M keberatan karena ia tidak bisa mengawal Amy seperti biasa. Ia masih harus beristirahat beberapa hari lagi. Namun, melihat adiknya yang merengek sedari tadi akhirnya M luluh juga.


"Baiklah ... tapi jangan pulang lewat jam sepuluh malam."


"Siap, Pak!" Amy berdiri tegak dan hormat bak seorang tentara yang mendapat perintah dari atasannya. M hanya tersenyum kecil melihat kelakuan adiknya itu.


Pukul enam lebih lima puluh menit Amy berangkat bersama Sifa, Val dan Lewis. Mereka berjalan ke arah timur, melewati jembatan kecil yang terbuat dari sebatang pohon kelapa dan meniti pematang sawah sebelum sampai di pertigaan jalan. Arah kiri mengarah ke desa sebelah dan arah kanan menuju balai desa. Mereka mengambil jalan kiri.


"Hei ... Amy! Aku heran apa benar M mengijinkanmu melihat pergelaran musik ini?" Lewis bertanya setelah tak berapa lama mereka berbelok. Cowok berambut ikal itu tahu persis selama ini M selalu ada mengawal Amy untuk acara seperti ini.


Amy sedikit terkikik, "Aku bilang mau nonton pertunjukkan seni di kantor desa."


"Kau bohong pada M?" tanya Val gak percaya.


"Itu gak terlalu penting. Kan, M gak bakalan tahu." Sifa nyeletuk.


Tak berapa lama mereka sudah berada di suatu lapangan. Sebuah panggung cukup besar dibangun di sisi utara lapangan. Sebuah grup band tengah memainkan lagu di atasnya. Sepanjang jalan banyak pedagang berjualan di pinggir. Banyak orang yang berkerumun di depan panggung. Mereka berdesak-desakkan berusaha untuk berada di urutan paling depan.


Lewis segera berbaur dengan kawan cowoknya. Sifa melihat berkeliling. Cewek yang memakai kaos hitam dan celana ketat selutut itu memicingkan mata. Seorang cowok berambut cepak mengayunkan lengan ke arah Sifa.

__ADS_1


"Guys ... aku ke sana dulu, ya!" teriak Sifa menghampiri si rambut cepak.


Amy memandang Val. Berharap cewek itu tidak janjian dengan siapapun. Namun, dari tanda-tandanya memang Val tidak akan beranjak pergi meninggalkannya.


Val sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukannya selain tetap bersama Amy. Ia sebenarnya ikut karena menyangka M akan ikut. Diam-diam Val menyukai kakak Amy yang ganteng dan populer itu.


"Jadi ... kita mau apa nih?" tanya Val. Ia menyilangkan tangan di dadanya.


"Sebenarnya aku mau makan mi ayam," jawab Amy menatap seorang perempuan yang sedang asyik menyantap semangkuk mi ayam.


"Baiklah ... ayo ke sana!" Val menarik tangan Amy dan mereka menuju pedagang mi ayam yang memarkirkan gerobaknya di sisi timur lapangan.


"Apa kau benar mau melihat pertunjukkan itu?" Amy bertanya pada Val yang sedang mengaduk mi dengan sumpitnya.


"Apa maksudmu?" Val merasa dipojokkan. Tentu saja ia ke sini agar bersama M, kan? Bukan karena ada band terkenal yang mau manggung di sini.


"Sebenarnya aku ke sini hanya untuk mencicipi jajanan di sini. Lagipula, M bilang aku harus pulang di bawah jam sepuluh," jelas Amy yang langung menyeruput mi-nya.


"Mmm ... aku juga begitu." Val tersenyum senatural mungkin. Ia tak ingin terlihat tidak meyakinkan dan membuat Amy bertanya macam-macam. Ia menambahkan sambal pada mi di mangkuknya lalu menyantapnya sampai habis.


"Aku selesai. Eh ... apa kau tak ingin sosis bakar?" tanya Val


Mata Amy berbinar tanda sepemikiran dengan sahabatnya. Setelah meminum habis kuah mi, merea berdua membeli sosis bakar lalu duduk di trotoar jalan agak jauh dari lapangan. Beberapa laki-laki melintasi mereka dan salah satu yang berjaket putih menghampiri.


"Hai ...." sapa cowok berkulit putih itu.


Amy dan Val tidak percaya dengan siapa yang menyapa mereka. Cowok itu adalah Tata. Ia fans berat Val. Beberapa kali Val menolak cowok ganteng itu. Tapi Tata tak pernah menyerah.


"Mmm ... bisa kita bicara empat mata, Val?"


Val tahu pasti ujung-ujungnya Tata akan menyatakan perasaannya lagi. Val melirik Amy yang sedang memasukkan sosis ke dalam mulutnya. Amy hanya menaikkan bahu dan alisnya. Val tak ingin bicara dengan Tata, tapi ia juga tak bisa menolak.


"Aku tidak akan lama," ucapnya pada Amy. Val pun mengikuti Tata dari belakang.


"Alone ...." Amy berkata lirih.


"Well ... sedang apa?" sebuah suara mengejutkan Amy yang sedang memandang orang-orang di lapangan.


"Eh ... kau?" Wajah Amy sedikit pucat.


"Kau pikir siapa?" cowok itu duduk di sebelah Amy. Ia memperhatikan Amy dari atas sampai bawah.


" Eh ... kau lihat apa, Jimm?"


"Melihatmu," jawab cowok itu datar.


Amy memasukkan tangan ke saku jaketnya. Ia mulai khawatir. Bukan mengkhawatirkan Val, tapi mengkhawatirkan Jimmi, cowok yang sedang duduk di sebelahnya itu. Jimmi adalah sahabat karib M. Dia pasti menceritakan pertemuannya ini pada M. Ia akan ketahuan berbohong. Amy tak mau membut kakaknya kecewa. M sudah mempercayainya.


"Sedang apa sendirian di sini?"


"Aku tidak sendiri, aku bersama Val," jawab Amy setenang mungkin.


"Bukankah dia sudah diantar Tata pulang?"


"Masa?!" Amy hampir berteriak. "Gak mungkin. Dia bilang akan kembali ke sini, kok."


"Dia sudah pulang. Aku bertemu mereka di pertigaan."


"Lalu ... aku pulang dengan siapa?"


"Denganku." Jimmi tersenyum pada Amy.


Amy merasa ada yang aneh dengan senyum Jimmi. Apa? Ah ... hanya senyumnya lebih manis dari biasanya. Lagipula hari ini Jimmi mengenakan kacamata hitam yang menambah gayanya jadi keren. Keren? Amy tidak yakin itu kata yang tepat. Malam ini Jimmi lebih ... ganteng. Sulit mengakuinya tapi itu benar.


"Tapi ... aku harus pulang sekarang, Jimm."


"Apa? Dexter belum tampil."


Amy tahu Dexter adalah band favoit Jimmi. Gak mungkin dia mau mengantarnya pulang sekarang. Gak mungkin juga kalau harus menunggu Dexter tampil. Ini sudah jam sembilan lebih sembilan menit. M akan marah kalau ia telat. Mau tidak mau Amy harus berani pulang sendiri. Amy berdiri dan melangkah menjauhi Jimmi.

__ADS_1


"Hey ... tunggu!" Jimmi menarik tangan Amy. "Aku antar."


Amy menaikkan alisnya sebelah. Apa telinganya tidak salah. Barusan Jimmi bilang apa? Cowok tinggi itu berdiri dan meyakinkan Amy bahwa gadis itu tidak salah dengar.


"Dextermu ...?" tanya Amy.


"Aku bisa menontonnya lain kali, tapi berduaan di malam hari bersamamu belum tentu ada kesempatan seperti ini lagi, kan?" Jimmy tersenyum lagi ke arah Amy.


"Ish ... kau bicara apa? Simpan saja kata-katamu untuk para gadis yang selalu berteriak memanggil namamu di pinggir lapangan basket!"


Jimmi hanya tertawa kecil mendengar nada bicara Amy yang menyindir. Ia memang memiliki predikat playboy yang suka gonta-ganti pacar. Ia memang cowok populer di sekolahnya. Ganteng, jago basket dan jago meluluhkan hati wanita. Ia tak keberatan dengan sebutan itu. Tidak sama sekali.


Bulan sabit melengkung bercahaya di langit. Bayangannya yang tertutup bumi terlihat samar. Bintang bertaburan menghias langit yang suram. Beberapa berkelompok dan membentuk suatu konstelasi yang sudah terkenal di seluruh dunia.


"Jimm ... boleh aku meminta sesuatu darimu?"


Jimmi mengerutkan dahi, "Apa?"


"Jangan katakan pada M kalau kita dari pergelaran band, oke?"


"Kenapa harus?"


Amy melangkah di depan Jimmi lalu berhenti dan membalikkan tubuhnya. "Aku bilang pada M pergi ke pertunjukkan seni di balai desa."


"Kau berbohong padanya?" Jimmi tak percaya.


"Ya ... aku tak ingin dia marah atau kecewa. Please, Jimm."


Jimmi mengetuk-ngetukan telunjukknya di dagu. "Baiklah ... tapi, aku juga punya permintaan."


"Apa itu?"


Jimmi sedikit membungkukkan badannya ke arah Amy lalu berbisik. Amy membelalak. Pipinya memerah.


"Gak ... gak akan pernah, Jimm!" ujar Amy. Ia membalik badan dan melangkah.


"Kalau kau tak mau, aku yang akan melakukannya!" teriak Jimmi menyusul Amy.


"Jangan macam-macam, Jimm! Lebih baik M mengetahuinya daripada aku melakukan itu."


"Aku hanya bercanda, Amy. Aku gak akan menceritakannya pada, M, kok." Jimmi nyengir.


"Sungguh?" tanya Amy tak percaya. Yang ditanya hanya mengangguk dan tersenyum. Amy memperhatikan senyum itu. Entah sejak kapan ia jadi suka memperhatikan Jimmi yang sedang tersenyum.


"Hei, lihat! Bintang jatuh!" seru Jimmi menunjuk langit.


Amy mendongakkan kepalanya dan mencari-cari hal yang dimaksud Jimmi.


Cup!


Jimmi menunduk dan mengecup pipi kiri Amy. Tak ada bintang jatuh sepanjang malam itu.


Amy terkejut. Ia merasa pipinya mulai memanas. Apa yang barusan Jimmi lakukan?


Grrr!


Ia hendak melampiaskan amarahnya pada Jimmi tapi cowok itu sudah berlari di depan dan berteriak, "Sudah kubilang, kalau kau tidak mau, aku yang akan melakukannya!"


Amy berlari mengejar Jimmi dengan amarah yang meledak-ledak.


Bersambung...


-------


*Cerita ini akan up 2x seminggu.


Mohon dukungan kalian~


Jangan lupa add to favorite supaya kalian tidak ketinggalan*.

__ADS_1


__ADS_2