
Hoaaaamp ...
Aku terbangun dari tidur. Suara kokok ayam jantan pertama milik tetangga telah terdengar. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi meski mata ini masih berat. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. M sudah bangun, tebakku.
Aku memang hanya tinggal berdua saja di rumah ini. Ibu meninggal ketika usiaku 6 tahun karena penyakit ginjal. Ayah sempat ingin menikah lagi saat itu, tapi aku menolak mati-matian meski semua orang sudah membujukku.
Aku tak ingin punya Ibu tiri. Mereka kejam. Setidaknya itu yang digambarkan sinetron dan buku cerita selama ini. Tahun ke-2 Ibu meninggal, Ayah memutuskan untuk berlayar dan menjelajahi samudera seperti ketika ia belum menikahi Ibu. Ayah hanya pulang akhir tahun. Itupun hanya beberapa hari.
"Sudah bangun?" tanya M membuyarkan lamunanku.
"Iya. Mau langsung keliling desa?" tebakku. M sudah mengenakan kaos dan celana training. Dia tambah ganteng dengan pakaian seperti itu, meski belum mandi. Tidak heran banyak cewek tergila-gila padanya.
"Iya. Aku dan Jimm akan berangkat sekarang."
Kebiasaan dua karib itu salah satunya adalah joging bersama pagi buta. Sesekali aku mengekor mereka. Namun udara pagi terasa begitu menggigit hingga sering kali aku pulang duluan.
Kuberikan sebotol air mineral kemudian M menghilang dari pandanganku. Aku menuju kamar mandi. Airnya sungguh dingin. Tapi aku tak hendak mengurungkan niatku untuk mencuci serta mandi. Hari ini adalah tugasku mengerjakan pekerjaan rumah tangga, jadi aku tak ikut berlari bersama dua sahabat itu.
Selesai mencuci baju aku memasak. Hanya ada roti tawar, selai nanas, lalu telur dan pisang di kulkas. Malas rasanya masak nasi. Jadi aku hanya membuat telur dadar yang kusisipkan di antara tumpukan roti. Tak lupa aku membuat tiga gelas susu. Ya, tiga. Jimmi menginap semalam. Setelah semua selesai kubawa sarapan pagi itu ke ruang tengah.
"Sarapan!" teriakku.
"Aih ... roti?" tanya Jimmi.
"Kau harus tahu, Jim. Amy jarang masak nasi," ucap M sambil memasukkan satu tumpuk roti ke mulutnya.
"Kenapa? Roti juga karbohidrat. Isinya juga telur yang mengandung protein, kok," jelasku pada Jimmi.
"Aku pikir isinya selai. Aku benci selai." Jimmi berkata dengan mulut penuh.
"Nanti siang aku mau makan nasi." ucap M. Dilapnya mulutnya yang habis meminum susu.
"Nng ... itu ... kita belum belanja, kan? Hanya ada telur." ucapku membereskan piring-piring dan gelas.
"Kalau begitu nanti siang aku belanja," kata M menatap kulkas.
Aku mencuci piring di dapur. Sabun cuci piringnya hanya tinggal sedikit. Sungguh sedikit. Jadi aku membuka tutup atasnya dan menguras seluruh isi botol itu.
Hey, Jimmi tak menghabiskan susunya. Ia hanya minum seperempatnya saja. Tahu begini tak kubuatkan. Aku melirik ruang tengah. Mereka berdua lagi asyik ngobrol. Jadi ... kuminum sisa susu Jimmi. Jijik? Tidak. Sayang sekali kalau harus dibuang. Toh, hanya aku sendiri yang tahu, iya, kan? Lagipula, sepanjang aku mengenalnya, Jimmi tidak punya penyakit menular.
"Amy, cepat!" terdengar M berteriak dari depan.
Buru-buru kuselesaikan pekerjaanku dan segera berlari menuju kamar. Aku mengambil tas hitam yang tergantung di balik pintu, memakai sepatu dan setelah memastikan semua pintu terkunci berlari menyusul M dan Jimmi.
"Tunggu aku ...!"
**********
__ADS_1
Hari ini ku pulang sendiri. M akan belanja. Pulang tanpa teman rasanya aneh juga. Sepi. Di gerbang sekolah aku melihat Val, sahabatku sejak SMP. Anaknya cantik dengan rambut panjang dan berponi. Banyak cowok yang mendekatinya, tapi ia enggan menyambut hati mereka.
"Val!" Aku melambaikan tangan padanya. Val tersenyum manis dan balas melambaikan tangannya.
"Kemana kakakmu?" tanyanya melihat ke belakangku.
"Mmm ... dia belanja," jawabku.
"Kau mau pulang?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
"Kita pulang bareng ... aku mau ke rumah nenek." Sedetik kemudian Val memelukku. Aku balas memeluknya. Tercium bau tubuh Val yang wangi. Dia emang benar-benar cewek. Tidak sepertiku.
Kami melangkah melewati gerbang. Tiba-tiba Lewis berlari menabrak kami. Dia meminta maaf dan kembali berlari.
"Kenapa dia?" tanya Val. Kami bertatapan dan aku mengangkat bahu.
"Nggak tahu. Cowok memang begitu. Ayo, pulang!" ajakku menarik lengan Val dan berjalan pulang.
Rumahku hanya berjarak 1,5 km dari sekolah. Dan rumah nenek Val searah dengan rumahku, hanya saja lebih jauh. Kami melewati jalan utama desa lalu berbelok menuju jalan sempit yang membelah persawahan. Jalan ini adalah jalan pintas. Di depan sana ada jembatan dengan sungai kecil mengalir di bawahnya. Beberapa meter lagi menuju jembatan, Val menarik lenganku.
"Aku mendengar sesuatu," katanya lirih.
Aku diam dan berusaha menangkap suara-suara di sekitarku. Terdengar seperti teriakan atau mungkin pukulan, entahlah. Aku terus melangkah ke depan.
"Itu kan, anak-anak SMA Burhan." Val berbisik dan mendekatkan tubuhnya padaku.
Kami berdua tak tahu harus berbuat apa selain melihat perkelahian itu. Kulihat Olie dan Zack kewalahan menghadapi anak-anak Burhan. Teman-teman Elang juga begitu, bahkan beberapa sudah tak sadarkan diri. Tiba-tiba seseorang menunjuk ke arah kami. Celaka! Val menarik tanganku dan memberi aba-aba untuk lari. Kami berlari sebisa kami tapi terlambat. Seseorang memegang tanganku dan langsung menyeretku.
"Lari, Val ... larilah!" Aku berteriak dan sedikit lega mengetahui para anak cowok Burhan gak mengejar Val.
"Heh ... ngapain kamu di sana tadi?" orang yang memegang tanganku bertanya. Aku hanya diam saja. Kulirik Zack dan Olie yang masih sibuk dengan lawannya masing-masing.
"Ahk ...!" aku menjerit kecil saat ada yang menjambak rambutku. Orang-orang menyebalkan! Setelah orang itu mengendurkan jambakkannya, aku langsung menggigit tangan orang yang memegangiku.
"Aww, sialan!" pekik orang itu.
Aku terlepas dari genggaman orang itu dan hendak lari. Rasanya tak ingin berkelahi dengan orang sebanyak ini. Belum lagi melangkah, aku merasa tanganku terhantam sesuatu dan cairan merah keluar.
"Heh ... cewek! Jangan coba-coba kabur." orang itu adalah orang yang melempar batu ke arahku. Rambutnya dicat merah. Sungguh norak.
"Amy, cepat lari!" Zack berseru padaku.
Aku tak menghiraukan Zack atau si rambut merah yang kini menyeretku menuju jembatan. Aku memperhatikan tangan kiriku. Lelehan darah yang mengucur. Aku tidak tahan! Dia harus membayar setiap tetes darahku yang keluar. Ku kepalkan tangan kananku.
"Mau apa, kau?" tanya si rambut merah memelototiku. "Karena kau wanita jadi aku tak tega memukulmu. Jadi kau harus aku apakan, ya?" Lanjutnya. Ia tertawa. Memuakkan!
__ADS_1
Brukkk!
Aku meninju si rambut merah hingga terjatuh. Akhirnya ada saat dimana ilmu karate ini dipakai. Dia meringis kesakitan. Si rambut merah sepertinya berang.
"Aku cabut ucapanku tadi, aku akan membunuhmu!" Dia berseru dan mengepalkan tinjunya ke arahku. Tapi sebelum ia meninjuku, kutendang bawah perutnya. Dan ... kena! Ia berguling di tanah. Tanpa pikir panjang aku meraih balok di sampingku dan memukulnya beberapa kali sampai ia pingsan. Atau dia mati? Tak peduli. Aturan karate pun sudah kulanggar.
Melihat si rambut merah terkapar, teman-temannya menghampiriku. Kulihat Zack dan Olie juga sudah kepayahan dan tergolek di atas jembatan ini.
Apa aku harus menghadapi mereka sendiri? Mereka ada satu ... dua ... tiga ... lima. Sanggupkah aku. Ini mustahil. Aku tak bisa berlari, tubuhku tak mau bergerak. Lima orang itu semakin dekat. Tiba-tiba aku teringat perkataan Jimmi dan M tempo hari.
Aku memukul orang pertama dengan balok. Orang itu tersungkur dan mengerang. Lalu kurasa orang itu bangkit lagi. Aku gemetaran. Ia berusaha menyergapku lalu kuangkat lututku tinggi-tinggi menuju rahangnya. Ia kembali terjatuh dan kali ini tidak bangun lagi. Tanpa kusadari empat orang lainnya sudah mengelilingiku. Argh! Ingin rasanya lari dan memohon pada sensei untuk belajar mengatasi serangan berkelompok.
Sepertinya aku hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan terjadi sekarang. Kakiku beku. Sementara meski sudah berusaha mengatasinya, tanganku tetap gemetar. Ya, Tuhan, tolonglah hambamu ini. Aku memejamkan mata dan benar-benar pasrah.
Bukk! Bukkk ... bukk ...!
Terdengar pukulan berkali-kali. Aku membuka mataku.
"Jimm!" Aku melihatnya tersenyum padaku lalu kembali berkelahi dengan mereka. Untuk pertama kalinya aku senang, sangat senang melihat wajahnya.
"Kau tidak apa-apa?"
M! Dia berusaha menuntunku tapi kulihat seorang bersiap memukul kakakku dari belakang.
"M, belakangmu!" pekikku.
M berbalik dan untunglah ia bisa menangkis serangan orang itu. M memegang tangan kanan orang itu lalu memelintirnya. Detik berikutnya orang itu terjatuh kena tendangan M. Hebat! batinku. M menaik napas. Masih belum teratur.
"Jimm ... kau perlu bantuan?" teriak M pada Jimmi yang kurasa sudah menaklukan semua lawannya.
"Kau telat, M." Jimmi mendengkus.
M tersenyum ke arah sahabatnya itu kemudian menghampiriku. "Amy, kau baik-baik saja?" tanya M. Matanya menelusuri seluruh badanku dan mendapati luka di tangan kiriku. Ia memegang tangan kiriku tapi cepat-cepat kutarik tanganku.
"Jangan lihat!" bentakku sambil meringis. Aku benci jika kakak melihatku dengan tatapan seperti itu. Dia selalu menganggapku anak kecil jika mendapati aku terluka.
"Sebaiknya kita cepat pulang, M." Jimmi membantu Zack dan Olie berdiri, juga anak SMA Elang lain.
M mengangguk dan menggendongku di punggungnya.
"Kau tidak boleh cengeng. Lukamu cuma sedikit."
Aku mengangguk pelan. Lihat? Dia bahkan menggendongku, padahal kakiku baik-baik saja. Namun, tetap saja semua kejadian ini membuatku lelah. Tak tahu apa yang akan terjadi jika M dan Jimmi tak datang. Entahlah ... rasanya aku ... ngantuk.
Bersambung...
-------
__ADS_1
Hai, ini author... Jangan lupa add to favorite agar kalian jadi orang pertama yang tahu kalau Lemon Love update! :)