He Is Not My Brother

He Is Not My Brother
Kalah Taruhan


__ADS_3

Setelah beberapa waktu berusaha keluar dari kumpulan orang yang berusaha memberinya selamat beserta hadiah ini-itu, akhirnya Zack berhasil keluar dengan baju dan rambut acak-acakan. Bahkan topinya raib entah kemana akibat tarikan dan cubitan tadi.


"Ini, sih, bukan memberi selamat namanya, tapi mencelakakan," ucapnya berusaha membenarkan dasinya yang kedodoran. "Eh ... itu Amy, kan? Aku belum berterimakasih padanya."


Zack hendak menghampiri cewek yang berjalan cuek itu. Baru beberapa meter bergerak, ia menghentikan langkahnya begitu seorang cowok mendekati Amy dan bicara padanya. Ia memutuskan untuk duduk di tepi koridor kelas dan memeperhatikan mereka berdua.


Dilihatnya Amy beberapa kali mengembungkan pipi. Sepertinya si cowok memberitahu hal yang gak ingin Amy dengar, atau mungkin lakukan. Sementara cowok itu sendiri terlihat kalem dan senang dengan ekspresi Amy yang sama sekali gak memperlihatkan kebahagiaan sedikitpun. Pacaran yang aneh, pikir Zack.


Setelah si cowok pergi beberapa saat setelah Amy menjulurkan lidah pada cowok keren itu, Zack menghampiri Amy. Wajah Amy masih memperlihatkan ketidaksukaan, bahkan saat Zack mmberinya senyum—yang Zack pikir—paling menawan yang ia miliki.


"Hei, kau kenapa? Bertengkar dengan Jimmi?" tanya Zack begitu sadar senyumnya tidak merubah sedikitpun ekspresi wajah Amy.


"Tidak."


"Gak usah bohong, deh! Daritadi aku liat kalian ngobrol, kok."


Amy mengerutkan kening. Ia terlalu malas untuk membahas hal itu sekarang. Ia heran kenapa Zack bisa sesantai ini, padahal ia baru saja kalah pemilihan KM.


"O, iya ... Amy, thank's ya udah banyak membantuku dalam pemilihan KM. Biarpun gak menang tapi kalah satu suara dari Olie itu ... keren! Amazing! Pokoknya aku puas!"


Bukannya memperhatikan pembicaraan Zack, Amy malah memperhatikan tas Zack yang terbuka sedikit. Ada beberapa batang cokelat terlihat, seakan memanggil-manggilnya. Tanpa sadar senyum Amy merekah.


Zack mengira senyum Amy itu adalah jawaban dari rasa terima kasih yang baru saja ia ungkapkan. "Jadi, kalau kau butuh bantuanku bilang saja, ya. Gak usah sungkan padaku."


Amy tersenyum cerah. Sama sekali tidak terlihat sisa-sisa raut wajah kekecewaan. "Zack, boleh aku minta sesuatu?"


"Apa?" tanya Zack bersemangat.


"Yang ada di tasmu."


Zack menurunkan tasnya dan membuka retsleting utamanya. Terlihat bukan hanya beberapa batang cokelat, tapi juga beberapa kotak yang Amy bisa pastikan isinya adalah cupcake yang manis.


"Kau mau ini?"


"Ya!" seru Amy dan dengan gak tahu malu diambilnya cokelat dan kotak itu.


"Ambil saja semua. Aku heran sama cewek-cewek di sekolah ini. Mereka selalu memberi cokelat atau kue-kue manis padaku. Padahal kalau mereka memberi sesuatu yang aku sukai, aku pasti senang."


"Memang apa yang kau sukai?" tanya Amy yang sedang memasukkan benda-benda manis itu ke tasnya.


"Kau tahulah ... yang diinginkan cowok. Figure action super hero, skateboard, sepatu keren."


"Itu harganya mahal, Zack. Kalo makanan ini kan ga seberapa."


"Ya ..., mestinya daripada ngasih begituan tiap hari, kenapa gak di tabung dulu aja. Kalo uangnya udah cukup baru dibelikan sesuatu untukku."


Mereka berdua terus mengobrol sepanjang jalan menuju gerbang belakang. Gerbang depan berbahaya, kata Zack. Banyak teman dan fansnya yang sudah pasti menanti kedatangannya. Jadi ia memaksa Amy untuk turut ikut pulang lewat belakang sekolah.


.

__ADS_1


§§§


.


"Apa itu?" tanya Amy pada kakaknya yang baru saja menaruh sebuah bungkusan di hadapannya.


"Titipan Jimmi, katanya untukmu." M mengambil sebuah cupcake terakhir yang ada di kotak yang sedang Amy pegang.


"Apa isinya?" Amy memperhatikan bungkusan itu dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa gak dibuka aja langsung?" saran M yang juga sebenarnya penasaran dengan isi bungkusan itu.


Amy menuruti kata M. Ia mmbuka bungkusan yang centil—berwarna merah muda dengan pita di satu sisinya—itu. "Baju," katanya. Diangkatnya pakaian itu keluar dari pembungkusnya. "What? Gaun hitam?"


Amy memperhatikan gaun hitam tak berlengan itu baik-baik. Ada sentuhan ruffle di bagian dada dan panjangnya kira-kira sebetis.


"Kau harus memakai ini ketika kita makan malam. Jangan protes. Jimmi."


Amy menoleh ke arah M yang baru saja membacakan isi kartu yang dipegangnya.


"Tadi terjatuh saat kau menarik gaun itu." M mendekati adiknya kemudian tersenyum nakal, "Kau mau dinner bareng Jimm, ya?"


"Siapa? Ini terpaksa, tahu!" ujar Amy dengan wajah panas.


"Terpaksa?"


"Dan kau kalah?" selidik M. Ia memperhatikan raut wajah adiknya saksama.


Amy hanya mengangguk sambil menekuk wajahnya.


"Intinya kau tetap dinner bareng dia, kan? Hahaha." M terkekeh.


"Sudah kubilang ini terpaksa!" teriak Amy.


M menaikkan bahunya kemudian pergi menuju dapur sambil terus meledek Amy.


"Argh!" Amy melempar gaun itu menuju M tapi yang dilempar sudah menghilang dari pandangannya. Beberapa saat kemudian disusulnya M ke dapur.


"M ..., bisakah kau bantu aku?"


"Maaf, Amy ... aku gak bisa membantu merias wajahmu." Lagi-lagi M meledek adiknya.


"Ish!" Amy memukul bahu M, "Bukan itu! Bisakah kau katakan kalau kita akan ke rumah nenek malam minggu ini? Atau ada acara apalah ..., please!"


M yang sedang memasak sosis goreng menjawab tanpa menoleh, "Jimm sudah tahu kalau aku ada janji dengan Weni nanti."


"Ah ... benarkah?" Amy menghela napas.


"Kau sudah makan, Am?" tanya M sembari menyodorkan sebuah sosis.

__ADS_1


"Ya, sudah." jawab Amy lemas. Ia menolak tawaran kakaknya. Matanya mengikuti setiap gerakan M. Mulai dari mengangkat sosis, menaruhnya di piring hingga mengikuti M yang kini makan di ruang depan.


"Kak, bagaimana bisa kau membiarkan adikmu pergi makan malam dengan seorang playboy? Kau kan harusnya melarangku pergi, kan?" rengek Amy.


M tidak langsung menjawab. Ia menghabiskan dulu makanan di mulutnya.


"Kau pikir aku baru kenal Jimmi baru-baru ini? Lagipula hanya acara makan biasa, kan? Jimmi gak akan berani macam-macam, kok."


"Huh ... tolong aku, please! Please banget." Amy memasang wajah memelas dan berharap kakaknya mau membantu menghindari masalahnya itu. Makan malam berdua bersama seorang cowok belum pernah ia lakukan. Harusnya hal seperti itu dilakukan dengan penuh kebahagiaan bersama seseorang yang istimewa. Bukan dengan orang yang mengalahkannya dalam taruhan.


"Kalau kau tidak mau, harusnya jangan bertaruh seperti itu."


Amy mati kutu mendengar kata-kata kakaknya.


Kali ini M benar-benar gak bisa dibujuk dan dipengaruhi. Amy memandang kembali gaun yang tergeletak di lantai. Harusnya memang ia tak perlu taruhan apapun. Makan malam saja sebenarnya tidak terlalu masalah. Tapi gaun itu? Memakai gaun itu? Entah nanti akan menjadi seperti apa. Sepertinya Jimmi sengaja mau mempermalukannya. Cowok itu sudah pasti tahu kalau ia tidak pernah memakai rok, apalagi gaun. Amy merasa risih bahkan hanya dengan melihatnya saja.


Biarpun hatinya bersikeras tidak mau, tapi toh akhirnya Amy merapikan gaun yang tergeletak di lantai itu dan menyimpannya di lemari pakaiannya.


.


§§§


.


"Apalagi ini?" tanya Amy kepada M yang lagi-lagi memberikan sebuah bungkusan padanya tepat setelah bel pulang berbunyi.


"Dari Jimmi."


Amy menerimanya dengan kasar, "Kenapa gak dia sendiri yang memberikannya?"


"Katanya dia hari ini buru-buru mau mengantar Jane ke suatu tempat."


Jane? Cewek yang waktu itu di pesta Olie?


"Dasar, playboy!" maki Amy. Entah kenapa tiba-tiba timbul rasa tidak suka pada cewek yang tempo hari memakai rok mini ke pesta Olie itu.


Mereka sudah berbaikan rupanya. Dasar Jimmi! Dia bilang tidak suka pada Jane tapi sekarang malah jalan berdua. Dasar player! Player! Player! rutuk Amy dalam hati.


"Ayo, pulang!"


Amy terpental dari pikirannya sendiri, "Eh ... tidak ada kegiatan apa-apa hari ini?"


"Tidak. Aku bukan KM lagi mulai hari ini. Ayo, pulang!"


Bersambung...


Mohon dukungan kalian ^.^


Saya sangat berterima kasih sekali karena kalian sudah membaca Lemon Love sejauh ini. Terima kasih banyak m(__)m

__ADS_1


__ADS_2