
"Hmm sepertinya mereka udah biasa minum-minum kegini deh." Celetuk Elena dalam hati.
"Kenapa Ruu?? Apa lo lagi jaim di depan Elena yang polos?" Tanya Febby lagi yang terus memandangi Elena dan Biru secara bergantian.
"Apasih Feb!" Ketus Biru.
"Heh Elena, kamu tau gak, jadi si Biru ini, dia mau minum anggur berapa botol pun tetep kuat loh, gak ada olengnya sama sekali." Jelas Febby yang seolah sengaja untuk membuat Biru terlihat buruk di hadapan Elena yang polos.
"Feb!!" Ketus Biru lagi.
"Apasih Ruu? Aku kan lagi banggain kamu, banggain kamu yang bener-bener kuat minum hehehe. Oh bukan cuma itu El, Biru ini orang yang hebat loh, dia selalu kesiangan dan telat, tapi gak pernah ada dosen yang berani negur dia, kamu tau karena apa? Itu karena dia anak pak Dekan yang kamu minta tanda tangannya tadi." Ungkap Febby lagi.
"Feb!! Udah ya cukup!!" Bentak Biru.
Elena pun tercengang, ia cukup terkejut saat mengetahui fakta bahwa Biru adalah anak dari Dekan, yang tadi pagi ditemuinya.
"Hah?! Ja,, jadi Biru anak pak Dekan yang tadi??" Gumam Elena dalam hati.
"Hmm ya udah, ok fine! Kita ganti pembahasan aja." Febby pun tersenyum.
"Oh ya El, pacarmu tadi siapa namanya?" Tanya Febby yang seolah sengaja, agar Biru tau bahwa Elena sudah punya pacar.
"Pacar?" Tanya Biru sembari mengernyitkan dahinya.
"Oh kamu belum tau ya Ru? Hmm jadi Elena ini udah punya pacar di kampung, yakan El? Mereka juga udah di jodohin, dan pacarnya bilang kalau lulus kuliah mereka langsung nikah."
"Hah?! Lo tau dari mana si Feb?" Tanya Bram yang juga nampak penasaran.
Kala itu Elena pun terdiam, dalam hati yang sebenarnya sangat tidak ingin Biru tau hal itu, entah karena hal apa, yang jelas pembahasan itu cukup membuat Elena tidak nyaman.
"Jadi tadi pagi gue dan Ame ketemu Elena yang lagi di anter sama pacarnya. Dan pacarnya itu juga yang bilang ke kita kalau mereka mau langsung nikah setelah lulus kuliah. Siapa sih namanya pacar lo tadi El?"
"Tama." Ucap Elena pelan.
"Nah, iya Tama." Febby pun seketika menjentikkan jarinya sembari kembali tersenyum.
"Kayaknya lo emang cocok sih El sama si Tama, sama-sama polos dan sama-sama dari kampung hahaha." Tambah Ame yang mulai terkekeh geli.
Biru pun seketika terdiam, entah kenapa ada perasaan sedikit kecewa saat mengetahui hal itu,
"Kayaknya udaranya makin dingin, kalau gitu saya izin masuk tenda duluan!" Ucap Elena yang bergegas bangkit dari duduknya dan memilih untuk langsung masuk ke dalam tendanya.
Biru pun hanya terdiam sembari memandangi kepergian Elena dengan raut wajah yang berbeda.
"Jadi dia bener-bener udah ada yang punya." Biru pun mendengus dalam hati.
Tiktoktiktok
Waktu terus berjalan, api unggun yang awalnya begitu berkobar dan menjulang tinggi, kini perlahan mulai meredup, orang-orang yang awalnya ramai duduk mengelilingi api unggun pun berangsur mulai masuk ke dalam tenda.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12.10 dini hari.
"Hoaam,, banyak minum anggur, bikin mata jadi berat nih." Celetuk Febby.
"Iya sama, yuk masuk tenda yuk, gue mau tidur." Jawab Ame.
"Yaudah yuk." Febby pun akhirnya bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Biru, kamu gak masuk tenda?" Tanya Febby yang menoleh ke arah Biru yang kala itu terlihat diam sembari terus menyodok-nyodok api unggun yang semakin mengecil dengan sebuah tongkat kayu kecil.
"Duluan aja, aku masih mau nikmati udara malam ini." Jawab Biru dengan tenang.
"Hmm, kalau gitu aku juga masuk tenda luan ya Ru." Ujar Bram yang juga ikut bangkit.
"Ok." Jawab Biru bahkan tanpa melirik sedikit pun ke arah mereka.
Kini hanya tinggal Biru yang masih bertahan duduk menghadapi api anggun seorang diri, bahkan yang lain sepertinya sudah begitu nyenyak tidur di dalam tenda di tambah efek alkohol yang baru mereka minum.
Setengah jam berlalu, secara kebetulan Elena nampak keluar kembali dari tenda dengan raut wajah panik. Mendengar ada bunyi tenda yang dibuka, membuat Biru mulai menoleh dan mendapati Elena yang keluar dari tenda dan terlihat bingung.
"Kamu kenapa?" Tanya Biru yang kala itu masih nampak terduduk di posisinya sebelumnya.
"Bi,, Biru?? Kamu masih disini?"
"Hmm, aku belum ngantuk." Jawabnya datar.
"Hmm ak,, aku sebenarnya..." Elena mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat hal itu membuat Biru mulai memicingkan kedua matanya saat melihat gelagat aneh Elena.
"Biar ku tebak, kamu kebelit pipis ya?" Tanya Biru to the point.
"Hehe iyaa." Jawab Elena yang nampak kikuk.
Biru pun seketika mendengus pelan sembari tersenyum tipis, lalu ia pun langsung bangkit begitu saja dari duduknya dan mendekati Elena.
"Itu berarti kamu harus ke toilet yang ada di gedung kampus,"
"Lumayan jauh dong kalau dari sini."
"Dimana?"
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Biru pun hanya menunjuk ke arah sebuah batang pohon yang cukup besar.
"Hah?! Ma,, maksudnya di balik pohon itu?" Tanya Elena dengan kedua mata yang nampak mendelik.
"Iya." Jawab Biru sembari tersenyum.
"Hih enggak deh!! Makasih!" Elena pun menggelengkan cepat kepalanya.
"Hehe ya udah, yuk ku temani ke gedung kampus,"
"Gak ngerepotin?"
"Enggak!" Jawab Biru.
"Ok deh," Elena pun tersenyum.
"Sebentar!" Ucap Biru yang dengan cepat langsung masuk sejenak ke tendanya, lalu kembali keluar dengan sudah membawa sebuah senter."
"Didalam gedung pasti lumayan gelap karena cukup banyak lampu yang dimatiin. Jadi kurasa kita pasti butuh ini." Ucap Biru sembari mulai menghidupkan senternya,
Mereka pun berjalan dengan tenang menyusuri taman kampus untuk menuju gedung, setibanya di gedung Biru pun menghentikan langkahnya saat mereka sudah berada di depan toilet perempuan,
"Aku tunggu disini ya."
__ADS_1
Elena pun mengangguk dan langsung masuk ke dalam toilet. Beberapa menit kemudian Elena kembali keluar dengan sebuah senyuman dan rasa lega karena hasrat ingin pipisnya sudah tersalurkan,
"Udah?" Tanya Biru.
Elena pun mengangguk sembari tersenyum.
"Yaudah yuk balik."
Mereka pun kembali berjalan menuju tenda,.
"Makasih banyak udah mau nemeni aku." Ucap Elena lembut.
"Iya, sama-sama. Tidur lagi gih."
Elena pun lagi-lagi mengangguk. Biru pun tersenyum singkat dan langsung beranjak menuju tempat dimana awalnya ia terduduk dan kembali duduk dengan tenang disana. Hal itu sontak membuat dahi Elena yang memperhatikannya mulai mengkerut.
"Loh, kamu gak tidur?"
"Aku belum ngantuk, kamu masuk aja lagi ke tenda, udara malam gak baik untuk kesehatan." Ucap Biru tanpa menoleh lagi ke arah Elena.
Kali ini Elena nampaknya tidak ingin menuruti ucapan Biru, ia justru kembali melangkah mendekati Biru dan langsung duduk begitu saja di sisinya.
"Kalau udara malam itu gak baik, terus kenapa kamu masih disini?" Tanya Elena dengan tenang sembari tersenyum menatap Biru.
"Loh, kamu kenapa malah duduk disini? Gak tidur lagi?"
"Tiba-tiba ngantukku ilang."
Biru pun hanya bisa mendengus pelan sembari tersenyum. Mereka pun terdiam beberapa saat, lalu Biru mulai kembali melirik ke arahnya dan kembali bersuara.
"Kamu gak bilang kalau udah punya pacar." Celetuk Biru.
"Hmm ya, sama juga denganmu," Ucap Elena yang membalas tatapan Biru.
"Sama apanya?" Biru pun nampaknya tidak mengerti.
"Kamu juga gak bilang kalau ternyata kamu anak pak Dekan tadi."
Biru lagi-lagi harus mendengus pelan.
"Orang tua sama pacar, itu bener-bener beda konteksnya. Lagi pula untuk apa juga aku bilang-bilang siapa orang tuaku?"
"Ya terus bedanya apa sama aku yang udah punya pacar?"
"Ya jelas beda, andai aku tau dari awal kamu udah punya pacar, bahkan calon suami, pasti aku gak bakal mau berbuat sebanyak ini untuk kamu!" Ungkap Biru dengan tenang.
Mendengar hal itu sontak membuat Elena seketika tercengang sembari memandangi Biru.
"Ma,, maksudmu?"
"Apa kamu sungguh sepolos itu sampai-sampai beneran gak ngerti maksud sikap baikku selama ini sama kamu?"
Elena pun menggelengkan pelan kepalanya.
"Hahaha astaga Elena, apa kamu pikir aku bersikap baik dan peduli gini ke semua orang?? Hmm aku gak sebaik itu Elena!! Aku begini, itu jelas karena aku merasa tertarik sama kamu!" Ungkap Biru terus terang.
*Deeggg*
__ADS_1
Jantung Elena mendadak berdetak seolah 10 kali lebih cepat dari sebelumnya, perasaan gugup juga tiba-tiba ia rasakan hingga wajahnya pun mulai tampak memerah.
...Bersambung......