
"Maaf kalau caraku udah bikin kamu jadi luka." Ucap Biru lirih.
Kala itu Biru seolah nampak begitu menyesal saat memandangi telapak tangan Elena yang terluka.
"Enggak, aku gak gak papa kok, it's ok." Jawab Elena yang langsung menarik tangannya dari Biru.
"Aku udah bikin kamu marah dan kecewa, tapi kenapa kamu masih mau peduli sama aku? Dan sekarang kamu jadi luka kegini, aku bener-bener minta maaf."
"Gak papa! Kalau kamu memang berprinsip gak mau jalin hubungan dengan siapapun, aku gak bakal,,,,,"
"Enggak!! Sekarang prinsipku udah berubah sejak kamu datang kesini!"
"Maksudmu??" Dahi Elena pun nampak mengkerut.
"Aku suka sama kamu Elena, bahkan rasanya lebih dari sekedar suka, mungkin sekarang aku bener-bener udah jatuh cinta sama kamu." Ungkap Biru yang kembali menatap sendu wajah Elena.
"Aku bukan gak mau jalin hubungan denganmu, ta,, tapi aku."
"Tapi kenapa?" Tanya Elena pelan.
"Sekarang bilang, gimana penilaianmu ke aku saat kita pertama kenal?"
"Kamu?? Hmm kamu adalah orang yang tenang, paling manusiawi di antara kakak tingkat lainnya yang kemarin ngospek aku dan yang lain."
"Hmm ya, penilaian yang sama dengan hampir seluruh orang yang kenal aku, mereka bilang aku sangat tenang." Biru pun mendengus pelan.
"Aku begitu tenang diluar, tapi tidak ada yang tau kalau aku ini sangat berantakan di dalam Elena, aku kacau! sedangkan kamu, kamu itu ibarat seorang gadis yang masih sangat murni, kamu seperti dewi surga, sementara aku, mungkin bisa jadi iblis bagimu. Liat aja barusan, belum apa-apa aku udah bikin kamu luka." Ungkap Biru yang mulai tertunduk lesu, seolah nampak begitu lirih.
"Ya, ku akui sebelum kenal sama kamu, hidupku sangat sederhana dan sangat teratur, tapi setelah kenal sama kamu, duniaku mendadak seolah jadi meluas, gak lagi monoton. Kamu buat aku merasakan banyak hal baru." Ungkap Elena sembari mulai meraih kedua pipi Biru agar ia tidak terus menundukkan kepalanya.
Biru pun terdiam menatap Elena masih dengan tatapannya yang lirih.
"Ya, kalau memang kamu berantakan, kalau memang kamu kacau, mari perbaiki."
__ADS_1
"Tapi dengan cara apa?"
"Kurasa cinta dan kasih sayang, pelan-pelan bisa memperbaiki kerusakan mental seseorang." Jawab Elena lembut sembari mulai membelai lembut pipi Biru.
Biru pun benar-benar berhasil dibuat tenang saat itu, sentuhan lembut dan hangat dari Elena benar-benar memberi efek layaknya obat penenang bagi Biru.
"Kamu yakin mau lakuin itu buat aku?" Tanya Biru pelan.
Elena pun mengangguk.
"Tapi kenapa?"
"Karena, aku peduli denganmu."
"Hanya karena peduli?"
"Enggak juga! Aku juga gak tau ini bisa dibilang cinta atau bukan, ta,, tapi, aku ngerasa nyaman waktu di dekat kamu, dan juga aku ikut ngerasa kacau liat kamu begini." Ungkap Elena.
"Mari kita perbaiki, semuanya bisa di perbaiki asal beneran niat," Ucap Elena lagi yang terus mengusap lembut sebelah pipi Biru.
Biru pun kembali menatap Elena, kali ini menatapnya begitu lekat dan sangat dalam.
"Kamu yakin ini bakal berhasil?" Tanya Biru lagi.
"Aku yakin asal kamu juga yakin." Jawab Elena.
Biru pun akhirnya tersenyum, perasaanya semakin jauh lebih tenang, jiwanya juga mendadak menghangat saat mendengar jawaban itu keluar dari mulut Elena. Tanpa berkata apapun lagi, Biru pun langsung mencium bibir Elena, membuat Elena sedikit terkejut, namun entah kenapa ia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.
Biru pun mulai memainkan bibirnya, membuat jarak diantara mereka jadi semakin dekat, tangan kanannya pun mulai berpindah ke leher Elena, sedangkan tangan kirinya mulai merengkuh pinggang ramping gadis itu dan menarik tubuhnya agar semakin dekat tanpa jarak.
Kedua mata Elena pun mulai terpejam, merasakan bagaimana sentuhan bibir Biru yang seketika membuatnya seolah melayang. Bahkan tanpa Elena sadari, kini kedua tangannya pun mulai ia kalungkan pada leher Biru.
Ciuman Biru yang lembut pun perlahan mulai berubah jadi sedikit menuntut, seolah menuntut sebuah balasan dari Elena yang kala itu masih terasa kaku. Hingga akhirnya Elena pun perlahan membuka mulutnya, membuat lidah Biru jadi semakin bebas dan semakin liar menjelajahi rongga mulutnya.
__ADS_1
Elena benar-benar terbuai, bisa merasakan bagaimana ternyata sebuah ciuman bisa begitu menyenangkan baginya yang masih sangat polos, dan ternyata ia sangat menikmati dan menyukai hal itu.
Keduanya pun mulai terbaring di atas ranjang, seolah tidak puas hanya dengan bibir Elena yang saat itu terasa manis seperti buah Cerry, kini perlahan Biru mulai memindahkan bibirnya ke area leher Elena yang begitu sensitif.
Hal itu membuat Nafas Elena jadi semakin tak beraturan, kepalanya terdongak, kedua matanya masih terus terpejam, dengan mulut yang jadi sedikit terbuka, saat merasakan bagaimana Biru yang mulai membasahi area lehernya,
"Apa ini nyata? Ini bener-bener nyata?" Gumam Elena dalam hati yang masih seolah tidak percaya dengan apa yang ia lakukan dengan Biru saat itu.
"Apa aku harus menghentikannya? Ta,, tapi,, ternyata ini bener-bener nikmat dan aku menyukai ini." Gumam Elena lagi yang sebenarnya merasa takut, namun ia seolah tidak kuasa untuk menghentikan aksi Biru yang terkesan semakin liar.
Biru perlahan mulai menurunkan wajahnya, melewati gundukan daging milik Elena yang nampak masih begitu kokoh berdiri, ia terus turun hingga tiba di area perut Elena. Perlahan ia menaikkan sedikit baju Elena, membuat pusar dan area perut yang putih mulus pun terlihat jelas. Biru, dengan lembut mulai menciumi perut Elena yang rata, menciuminya terus meneris hingga pusarnya.
Hal itu membuat Elena semakin terengah, perasaan geli sekaligus nikmat tengah ia rasakan. Namun tidak bisa di pungkiri, ia juga jadi semakin takut pada saat itu, ia takut kehilangan keperawanannya namun juga tidak berdaya untuk menolak godaan kenikmatan yang ia rasakan.
Kedua tangan Elena pun mulai meremas kuat seprei tempat tidur, Biru yang tak sengaja melihat hal itu pun seketika kembali melirik ke arahnya dan mendapati bagaimana Elena yang nampak sedikit ketakutan,
Ekspresi Elena pun berhasil membuat Biru seketika menghentikan aksinya, ia kembali menaikkan wajahnya hingga kedua wajah mereka kembali sejajar, dan menatapnya dengan lembut.
Menyadari jika sentuhan Biru tidak lagi ia rasakan, membuat Elena seketika kembali membuka matanya dan langsung mendapati Biru yang sudah ada di depan matanya.
"Ke,, kenapa kamu berhenti?" Tanya Elena yang nampak sedikit gemetaran,
"Jadi, kamu bener-bener memang belum pernah disentuh sama siapapun?" Tanya Biru pelan.
Elena pun mengangguk. Hal itu pun membuat Biru menghela nafas singkat sembari tersenyum tipis, lalu memilih langsung berbaring di sisi Elena tanpa ada niat lagi untuk melanjutkan aksinya.
Elena pun terdiam sesaat sembari kembali menurunkan baju yang ia pakai agar perutnya kembali tertutup. Begitu juga dengan Biru yang juga nampak terdiam sembari menatap kosong langit-langit kamar.
"Kenapa kamu diem aja? Apa kamu marah?" Tanya Elena.
"Enggak! Aku diem karena kepalaku jadi pusing sekarang." Jawab Biru yang kembali tersenyum tipis sembari mulai memijiti pelipisnya.
...Bersambung...,...
__ADS_1