
"Te,,, tertarik?? Ma,, maksudnya ka,, kamu suka sama aku?" Tanya Elena yang nampak begitu terbata-bata.
"Salah gak sih kalau aku bilang sukak sama kamu disaat aku udah tau kalau kamu udah ada yang punya?"
"Aku sama Tama memang di jodohin dari lama, tapi sampai sekarang kami gak pacaran." Jelas Elena dengan tatapan kosong.
"Oh ya?" Wajah Biru pun nampak sedikit berbinar.
"Hmm." Elena pun mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.
"Aku sama Tama udah temenan dari kita kecil, Tama satu-satunya temen terdekat aku di kampung. Orang tua kami juga kebetulan temenan, karena mereka liat kami deket banget, itulah sebabnya kami dijodohin."
"Dan kamu setuju?" Tanya Biru lagi.
"Sejauh ini aku setuju-setuju aja, karena selain Tama, aku memang gak pernah deket sama cowok lain." Ungkap Elena dengan tenang.
"Itu berarti kamu cinta sama Tama?"
Mendengar pertanyaan itu, Sontak membuat Elena mendengus pelan dan kembali tersenyum tipis.
"Entah ini bisa di bilang cinta atau enggak, aku sendiri bahkan gak yakin kalau aku cinta sama Tama. Aku belum pernah ngerasain jatuh cinta sebelumnya, jadi aku gak tau perasaanku sama Tama itu sebenernya cinta atau bukan." Jawab Elena.
Biru pun mulai kembali menatap pekat ke arah Elena kala itu,
"Jadi kamu belum pernah jatuh cinta sama laki-laki sebelumnya?"
"Belum." Elena pun tersenyum.
"Hmm andai aku bisa jadi laki-laki beruntung itu." Celetuk Biru pelan sembari terus menatap Elena dengan semakin dalam.
"Beruntung gimana maksudnya?"
__ADS_1
"Laki-laki beruntung yang bisa jadi laki-laki pertama yang kamu cinta,"
Wajah Elena pun seketika memerah kala mendengar hal itu, ia mendadak nampak kikuk dengan jantung yang kembali berdetak hebat.
"Apa mungkin itu bisa kesampaian?" Tanya Biru yang semakin lama, wajahnya perlahan semakin dekat pada wajah Elena.
Hal itu pun membuat Elena semakin gugup, namun sama sekali tidak membuatnya berniat untuk bergerak dari posisinya saat menyadari Biru yang perlahan semakin mendekatinya.
"Ak,, aku pikir, kamu cuma mau kita temenan." Ucap Elena kemudian.
"Awalnya iya, tapi semakin kesini aku makin gak yakin kita bisa temenan." Jawab Biru pelan, setengah berbisik.
Elena yang semakin gugup mulai menelan ludahnya sendiri kala Biru hanya berjarak 5cm saja darinya.
"Tolong jangan bergerak!" Ucap Biru setengah berbisik sembari sebelah tangannya mulai menyentuh lembut sebelah pipi Elena.
Elena pun semakin terpaku, seolah terhipnotis dengan tatapan Biru yang menatapnya begitu lekat saat itu, dan seolah membiarkan begitu saja Biru melakukan apapun yang ingin ia lakukan saat itu.
Dan cup, Biru pun mendaratkan bibirnya tepat di bibir Elena yang saat itu terasa lembut dan dingin. Secara refleks kedua mata Elena pun seketika terpejam saat Biru melakukan hal tak terduga, hal yang sama sekali belum pernah terjadi dan belum pernah dirasakan oleh Elena. Ya, itu ciuman pertama bagi Elena, ciuman terasa yang baru Elena tau jika rasanya sehangat itu begitu membuat jantungnya berdegub hebat.
"Sorry." Ucap Biru pelan.
Dengan nafas yang begitu tidak beraturan, Elena yang awalnya terpejam, perlahan kembali membuka matanya dan langsung menatap kedua mata Biru yang kala itu juga masih menatapnya dengan begitu pekat.
Elena terdiam, seolah sedang mengontrol detakan jantungnya agar bisa kembali normal. Sedangkan Biru, kembali mengusap lembut pipi Elena yang masih nampak begitu memerah.
"Kamu boleh tampar aku kalau kamu gak suka dengan yang kulakuin barusan." Ucap Biru dengan nada lembut.
Namun Elena masih saja terdiam, dengan tatapan yang berbeda.
"Aku sukak sama kamu, bahkan dari waktu pertama kali liat kamu pingsan di gendonganku, aku udah jatuh hati sama kamu." Ungkap Biru tanpa ragu.
__ADS_1
Entah kenapa, saat itu Elena pun seketika tersenyum kala mendengar ungkapan itu keluar dari mulut Biru, perasaan senang tiba-tiba saja terasa menjalar di hatinya. Biru pun ikut tersenyum saat melihat senyuman Elena yang terlihat begitu menawan, membuat jiwanya terasa menghangat bahkan disaat udara malam itu terasa semakin sejuk.
Tanpa berkata apapun lagi, Biru pun kembali mendekati wajah Elena, terus mengusap lembut pipinya dan ya, ia kembali mencium bibir Elena sekali lagi. Elena lagi-lagi kembali terdiam pasrah seolah tanpa penolakan, karena dalam hatinya, ia pun mulai merasakan adanya rasa yang berbeda terhadap lelaki yang ada di hadapannya saat itu.
Berbeda dari yang pertama, kali ini Biru seolah ingin melakukannya sedikit lebih lama, ia pun mulai melumattt bibir Elena secara perlahan dan sangat lembut, kedua mata indah Elena pun kembali terpejam, sembari merasakan bagaimana lembutnya pergerakan bibir Biru saat memainkan bibirnya.
Sebelah tangan Biru yang awalnya terdiam, kini perlahan mulai bergerak dan memeluk pinggang Elena, hingga membuat tubuh Elena sedikit tertarik ke arahnya dan membuat jarak di antara mereka semakin dekat seolah tak berjarak.
Biru dengan handal terus memainkan bibir atas dan bawah milik Elena yang kala itu seolah masih kaku, hal yang wajar mengingat ini pertama kali baginya.
Beberapa menit berlalu namun keduanya masih nampak belum berniat untuk mengakhiri apa yang sedang mereka lakukan saat itu. Hingga tiba-tiba, suara tenda yang seperti tengah ingin dibuka pun terdengar hingga membuat Biru dan Elena pun dengan cepat menyudahi ciumannn mereka dan bergegas saling menjauh untuk memberi jarak agar tidak mengundang kecurigaan bagi orang yang melihat.
Dan benar saja, Tak lama Bram pun nampak keluar dari tenda dengan wajah yang nampak bengap khas orang baru bangun tidur.
"Kalian?? Ngapain masih duduk berduaan disini?" Tanya Bram sembari menguap.
"Oh aku baru aja keluar karena kebangun, kebetulan kak Biru masih duduk disini, ka,, kami cuma ngobrol biasa kok." Jawab Elena yang nampak begitu gelagapan.
"Ohh." Bram pun mengangguk singkat.
"Lo kenapa bangun Bram?" Tanya Biru santai.
"Gue kebelet kencing!" Jawab Bram yang langsung berjalan menuju sebuah pohon besar yang berjarak sekitar 5 meter dari tenda mereka.
"Lo yakin mau buang air di pohon itu Bram?"
"Iya lah, gue males ke gedung kampus!" Jawab Bram enteng yang terus saja melangkah ke arah pohon tanpa ragu.
Biru pun hanya bisa tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Elena yang kala itu merasa sangat canggung, memilih untuk kembali ke tenda.
"Ka,, kalau gitu aku balik ke tenda dulu." Ucap Elena yang dengan cepat langsung melangkah pergi begitu saja meninggalkan Biru.
__ADS_1
Ia terus melangkah cepat memasuki tendanya dengan membawa serta rasa malu, rasa gugup, juga rasa bahagia yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.
...Bersambung......