Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Cemburu buta


__ADS_3

Kedua matanya sontak berkaca, ia pun terduduk lesu di atas closet dengan tatapan kosong.


"Aku hamil, aku bener-bener hamil." Gumamnya lirih sembari mulai meneteskan air matanya,


Tak lama, suara ketukan pintu pun menyentakkan Elena, itu adalah Biru.


*Toktoktok*


"Sayang, kamu lama lagi ya di dalam? Aku kebelet nih." Ucap Biru dengan suara beratnya khas orang baru bangun tidur.


Elena pun tersentak dan langsung menyeka air matanya.


"Sayang??? Kamu ngapain sih? Kok diem aja?" Tanya Biru lagi yang kembali mengetuk pintunya.


"Sebentar." Jawab Elena lesu,


Tak lama, Elena pun keluar dengan raut wajah yang tidak biasa, hal itu pun sontak mengundang tanda tanya bagi Biru yang merasa aneh melihat Elena yang tidak seperti biasanya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Biru sembari meraih kedua pundak Elena.


Elena masih terdiam lesu.


"Kamu berkeringat dingin, kamu sakit ya?" Tanya Biru lagi yang nampak cemas.


Elena pun hanya menggelengkan pelan kepalanya.


"Terus kenapa? Ada masalah apa?"


Tak ingin menutupinya lagi dari sang kekasih, Elena dengan lesu akhirnya mulai mengeluarkan salah satu test pack dari saku celananya, lalu menyerahkannya pada Biru tanpa berkata sepatah katapun.


"Apa ini?" Tanya Biru sembari meraih test pack itu.


Biru pun memperhatikan test pack itu dengan seksama, beberapa detik di awal, Biru terlihat masih bingung dan terus membolak balik test pack itu. Namun beberapa detik selanjutnya, perlahan kedua matanya nampak membesar saat memandangi dua garis merah yang terpampang nyata di test pack itu.


"Ka,, kamu hamil??" Tanya Biru yang langsung melirik ke arah Elena.


Tidak menjawab dengan kata-kata, Elena hanya mengangguk pelan dan kemudian mulai melangkah lesu menuju tempat tidur.


"Serius kamu hamil??" Tanya Biru lagi yang langsung mengejar langkah Elena.


Elena hanya diam dan menunduk lesu.


"Elena jawab aku, kamu beneran hamil?" Tanya Biru lagi yang masih seolah tidak menyangka.


"Iya!! Iya aku hamil!!" Tegas Elena yang nampak kembali meneteskan air matanya.


Namun reaksi Biru setelahnya benar-benar diluar ekspektasi, ia justru langsung tersenyum senang dan seketika langsung menggendong tubuh Elena sembari bersorak girang.


"Yeaayyy, kamu hamil."


Hal itu pun tentu saja membuat Elena keheranan, karena yang ada di dalam pikirannya sebelumnya adalah bagaimana Biru yang pasti akan panik saat mengetahui kehamilannya dan akan memintanya untuk langsung menggugurkan kandungannya. Tapi ternyata hal itu tidak terjadi, Biru justru nampak sangat layaknya seorang suami yang begitu menantikan kehadiran sang buah hati dari rahim istrinya.


"Ka,, kamu,,, kenapa malah seneng?" Tanya Elena yang nampak bingung.


"Ya jelas aku seneng, kamu hamil Elena, aku seneng banget."


"Kamu gak takut? Kita ini belum nikah, gimana bisa kamu seneng?"


"Hais, banyak kok diluaran sana orang hamil di luar nikah. Aku janji, setelah lulus kuliah, aku bakal nikahi kamu."


"Terus gimana dengan kandungan aku? Apa langsung di gugurin aja?" Tanya Elena.


"Jangan!" Tegas Biru.


"Kenapa?" Dahi Elena pun nampak mengkerut.


"Aku mau kamu tetep hamil, bakal nyenengin banget rasanya kalau liat perut kamu mulai membesar."


"Ka,, kamu yakin? Apa kata orang nanti?"


"Kenapa kamu masih aja mau mikirin apa kata orang? Memangnya saat kita susah, orang-orang itu ada yang nolongin kita? Enggak kan!"


Elena pun seketika terdiam sejenak dengan segala macam pikiran yang ada.


"Ta,, tapi, kamu gak bakalan ninggalin aku kan setelah tau aku hamil kegini? Kamu bakalan tetep disini dan tanggung jawab kan?" Tanya Elena yang masih saja terlihat begitu cemas.


"Tentu aja, aku gak bakal ninggalin kamu, aku justru seneng tau kamu hamil."

__ADS_1


"Tapi gimana kuliahku?"


"Kamu kuliah aja kayak biasa, nanti kalau perutnya mulai gede, kamu bisa pake baju longgar atau sweater, biar gak keliatan."


Lagi-lagi Elena pun kembali terdiam sembari menundukkan kepalanya.


"Udah dong sayang, jangan takut lagi, ada aku disini, ok? Aku gak bakal lari kemana-mana, kamu percaya kan sama aku?"


Elena pun mengangguk pelan sembari menatap Biru dengan tatapan sendu.


"Udah ya, jangan sedih lagi, aku bakalan selalu ada buat kamu." Biru pun langsung memeluk erat tubuh Elena, mengusap-usap lembut punggungnya untuk memberi kenyamanan serta ketenangan pada Elena yang nampak begitu gusar hari itu.


Sejak kehamilannya, pribadi Elena yang awalnya begitu santai pun seketika berubah menjadi lebih posesif dari sebelumnya. Bahkan setiap jam ia harus mengetahui keberadaan Biru saat mereka sedang tidak bersama. Perubahan terjadi bukan hanya pada Elena, Biru juga. Semenjak mengetahui kehamilan Elena, Biru justru semakin agresif pada Elena terlebih saat mereka melakukan hubungan ranjang. Seakan gairahnyaa menjadi tiga kali lipat lebih besar dari sebelumnya, ia bahkan semakin sering menciumi perut Elena dengan penuh naffsu.


Keduanya semakin sering melakukan hubungan intim, seolah pantang memiliki waktu luang sedikit saja, mereka pasti menghabiskannya dengan bercumbu.


"Kamu milikku Elena, jangan pernah berfikir kamu bisa pergi dariku." Bisik Biru sembari terus menciumi area telinga Elena.


"Aku cuma milik kamu, selamanya bakal kegitu." Jawab Elena sembari terus terpejam merasakan betapa nikmatnya setiap sentuhan Biru kala itu.


Beberapa hari berlalu, dan Elena pun semakin menunjukkan gejala kehamilannya. Ia semakin sering merasa lemas dan mual secara tiba-tiba. Malam itu, Elena nampak sedang bersiap-siap dan mengemasi barang-barangnya yang ada di loker, jam kerjanya sudah selesai dan ia ingin bersiap untuk pulang. Tapi tiba-tiba saja, kepalanya terasa berputar, pandangannya berkunang-kunang, hingga membuatnya hampir ambruk saat itu juga. Beruntung disaat yang sama, Vero tidak sengaja melintasi di dekatnya dan langsung refleks menangkapnya.


"Elena?? Kamu kenapa?" Tanya Vero yang nampak panik.


"Saya ti,, tidak apa-apa." Jawab Elena pelan sembari terus memegangi kepalanya.


"Mukak kamu pucet banget, kamu sakit ya?"


Elena hanya menggeleng pelan.


"Aku anter ke rumah sakit ya."


"Ja,, jangan!!" Tegas Elena yang langsung berusaha untuk kembali berdiri tegak.


Namun lagi-lagi tubuhnya langsung oleng dan Vero menangkapnya kembali.


"Saya gak apa-apa, gak perlu di bawa ke rumah sakit." Ucap Elena lagi dengan suara pelan.


"Ya udah, kamu kayaknya kecapek'an, aku anter kamu pulang ya!"


"Ta,, tapi..."


Tak berkutik, Elena pun akhirnya mengangguk pelan. Vero mencoba untuk memapah Elena yang terkulai lemas, namun rasanya hal itu jauh lebih banyak memakan waktu, membuat Vero sangat tidak sabar hingga ia pun langsung menggendong tubuh Elena begitu saja.


"Maaf ya aku harus gendong kamu, biar cepet!" Ucap Vero yang seolah tidak butuh persetujuan dari Elena saat melakukan hal itu.


Elena yang sudah begitu pusing akhirnya hanya bisa diam dan pasrah. Vero pun kembali melangkah cepat keluar dari cafe, meminta salah satu pegawainya untuk membantu membukakan pintu mobilnya. Dengan sangat hati-hati ia pun meletakkan Elena di kursi yang ada si sisi kursi kemudi.


Namun na'as, disaat yang sama Biru pun nampak muncul untuk menjemput Elena seperti biasa dan akhirnya ia pun bisa melihat bagaimana Elena yang terlihat lemah di masukkan ke dalam mobil oleh bosnya yang juga masih sangat muda.


"Elena??!!" Ucap Biru pelan.


Biru ingin segera menghampiri mereka, 'namun sayangnya mobil itu langsung pergi, melesat cepat meninggalkan area cafe hingga membuat Biru seketika mendengus kasar.


"Apa-apaan sih?? Beraninya dia nyentuh pacarku!" Gerutu Biru yang merasa terbakar api cemburu.


Biru pun langsung kembali ke atas motornya, melaju cepat untuk menyusul Elena yang telah pergi lebih dulu bersama dengan Vero.


Beberapa waktu berlalu, kini mobil Vero sudah terhenti di depan kost Elena dan Biru. Sejujurnya, Vero begitu peduli dan perhatian pada Elena bukanlah tanpa alasan, ia secara diam-diam sudah menyukai Elena sejak pertama kali melihatnya secara langsung di cafenya. Namun Vero memilih untuk menyimpan perasaan sukanya karena akhirnya ia tau jika Elena sudah memiliki kekasih, yaitu Biru yang setiap Elena pulang kerja selalu datang menjemputnya.


"Kita udah sampe?" Tanya Elena pelan.


"Iya, bener ini kan kostnya?" Tanya Vero lagi untuk memastikan.


Elena dengan tangan yang masih terus memegangi kepalanyapun melirik singkat ke arah gedung kost nya yang bertingkat.


"Iya bener." Jawab Elena yang berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman yang sebelumnya dipasangkan oleh Vero.


"Biar aku bantu." Ucap Vero yang dengan sigap langsung membantu melepaskan sabuk pengaman itu.


Dan untuk pertama kalinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana cantiknya wajah Elena yang begitu natural secara dekat, bahkan benar-benar di jarak yang sangat dekat. Meskipun ia tau jika Elena bukanlah wanita single, namun entah kenapa saat itu jantungnya masih saja berdebar saat kedua mata mereka tak sengaja saling beradu pandang.


Namun hal itu hanya terjadi beberapa detik saja, sebelum akhirnya Elena yang tiba-tiba seolah ingin muntah, hingga membuat lamunan singkat Vero buyar.


"Kamu kenapa Elena?"


"Rasanya kayak mau muntah, tapi gak mau muntah."

__ADS_1


"Maksudnya gimana?"


"Saya juga bingung." Jawab Elena pelan.


"Kayaknya kamu masuk angin."


"Mungkin." Jawab Elena berbohong, yang padahal ia sendiri sudah tau pasti apa penyebab kondisi itu.


"Aku bantu kamu masuk ke kost ya." Ucap Vero lagi yang langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah Elena.


"Maaf saya udah banyak ngerepotin." Ujar Elena lesu.


"Ah gak papa kok." Jawab Vero santai.


Vero pun kembali memapah Elena dan membantunya menaiki tangga, setibanya di depan pintu kamar, langkah Elena dan Vero tiba-tiba terhenti saat seseorang bersuara dari belakang mereka.


"Biar aku aja." Seru Biru dengan wajahnya yang datar.


Elena pun terkejut.


"Biru?!" Ucapnya pelan.


Biru pun langsung mendekati Elena dan mengambil alih tubuhnya dari Vero. Saat itu Vero hanya bisa tersenyum tipis dan masih nampak begitu tenang menyikapi Biru yang begitu jelas terlihat cemburu.


"Jangan khawatir Bro, aku cuma bantu Elena aja kok, kayaknya dia sakit." Jelas Vero singkat.


"Ok, makasih udah peduli sama pacarku, tapi next time kalau terjadi kegini lagi, kamu gak perlu repot-repot nganterin dia balik, cukup suruh dia telpon aku aja!" Ungkap Biru.


"Hmm ok, kalau gitu aku balik dulu."


"Ya!" Jawab Biru singkat.


"Makasi banyak Vero, maaf ya udah ngerepotin." Ucap Elena pelan.


"It's ok El, get well soon ya." Jawab Vero yang kemudian langsung beranjak pergi.


Biru yang nampak kesal pun langsung membuka pintu kamar mereka dan membawa Elena masuk ke dalam. Elena pun langsung terbaring lesu di atas tempat tidur sembari terus memijiti pelipisnya.


"Apa-apaan sih kamu El??!" Ketus Biru kemudian.


"Kenapa lagi?" Tanya Elena lesu,


"Kok mau-mau aja di pegang-pegang sama bos kamu??! Pake acara di gendong-gendong segala lagi!"


"Maaf, tapi aku beneran lemes banget dan pusing. Kepala aku berasa goyang-goyang." Ungkap Elena lirih.


"Halah alesan aja! Bilang aja kamu sengaja kan, biar narik simpati bos kamu yang masih muda tapi udah mapan." Ketus Biru yang semakin meninggikan suaranya.


"Kamu ni apasih Ru? Aku beneran lemes banget loh astagaa." Keluh Elena yang masih terkulai lemah tak bertenaga.


"Kamu kalau udah bosen sama aku bilang El!! Kalau udah gak mau lagi sama cowok kuliahan yang belum mapan kayak aku ngomong kamu!! Jangan kayak gini!!"


"Enggak astagaaa! Kamu ni makin kesini makin ngaco ya omongan kamu. Dia cuma nolongin aku karena aku hampir pingsan tadi di tempat kerja, itu aja gak lebih!"


"Aghh udah lah!! Capek berdebat sama kamu, disayang gak tau disayang!!" Ketus Biru sembari menepis kasar beberapa buku yang terletak di atas nakas lalu melangkah menuju pintu.


"Kamu mau kemana??" Teriak Elena.


"Mau cabut, pusing disini!!" Ketus Biru.


"Kamu mau pergi disaat aku kegini??"


"Halah, minta perhatiin aja sama bos kamu!! Kamu kan udah gak butuh aku lagi!" Jawab Biru yang langsung pergi begitu saja dengan membanting kasar pintu kamar mereka.


Elena pun terdiam, air matanya langsung menetes begitu saja meski tanpa suara tangisan.


"Tega banget kamu Ru? Aku ini lagi ngandung anak kamu loh, aku kegini juga karena lagi hamil anak kamu, bisa-bisanya kamu kegini." Gumam Elena lirih dalam hati.


Biru yang sudah terlanjur kesal karena cemburu, kembali melajukan motornya dan pergi meninggalkan area kost'an mereka. Ia terus mengemudi dengan kencang tanpa tujuan yang jelas.


"Gue kurang apa lagi sih? Semuanya gue kasi buat dia, tapi kenapa dia masih aja kegitu, gak sadar apa kalau dia itu lagi hamil anak gue, bisa-bisanya masih cari kesempatan sama cowok lain!!" Gumam Biru dalam hati yang masih saja merasa sangat kesal pada Elena.


Rasa cinta yang begitu mendalam dan terlalu berlebihan nyatanya juga tidak terlalu bagus untuk kelancaran sebuah hubungan. Dan itu terbukti, semakin dalam cinta Biru pada Elena, itu membuat rasa cemburunya juga semakin besar hingga mengubahnya jadi seorang yang toxic, yang tanpa sadar selalu membuat Elena merasa tertekan.


Biru pun menghentikan motornya ditepi jalanan yang cukup sepi, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Saat itu di grup chat ramai sekali perbincangan, teman-temannya sedang membahas bagaimana serunya mereka yang sedang party di salah satu rumah seorang teman mereka yang sedang di tinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Tak pikir panjang, Biru pun kembali melajukan motornya untuk menyusul teman-temannya yang sudah cukup lama ia jauhi hanya demi kebaikan hubungannya dengan Elena.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2