Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Seolah menghilang


__ADS_3

Sudah dua hari lamanya Elena tidak masuk kuliah, selama dua hari itu pula ia terus mengurung diri di dalam kamarnya. Rasa bersalah pada Tama seolah terus menghantuinya, hingga membuatnya mulai berpikir betapa kejamnya ia pada Tama yang selama ini sudah sangat baik padanya.


"Kenapa aku jahat banget ya sama dia? Padahal dia selalu baik sama aku." Gumam Elena dalam hati yang saat itu terlihat duduk meringkuh di ujung tempat tidurnya.


"Tapi, aku juga gak bisa bohongi perasaanku sendiri, aku gak pernah ngerasa menggebu kalau di samping Tama, beda banget waktu aku di samping Biru." Gumam Elena lagi.


Elena pun kembali mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, disaat yang sama ponsel Elena pun kembali berdering, itu adalah sebuah panggilan dari ibunya.


"Hmm, ibu pasti udah tau kejadiannya, makanya dia nelpon aku." Gumam Elena yang dengan lesu langsung meletakkan kembali ponselnya.


Tak lama panggilan pun berhenti dan disusul dengan sebuah pesan baru.


"Tama udah ngomong semuanya sama ibu, tolong angkat telepon ibu Elena!" Isi pesan singkat yang dikirim oleh ibunya.


Elena hanya bisa terdiam saat memandang sendu isi pesan itu. Elena pun berniat untuk meletakkan ponselnya kembali, namun hal itu tak jadi ia lakukan disaat lagi-lagi ada sebuah pesan yang baru masuk.


Kali ini bukan lagi dari ibunya, melainkan sebuah pesan yang dikirimkan oleh Biru untuk kesekian kalinya.


"Harus sampai kapan Elena? Sekarang aku bahkan jadi jauh lebih kacau dari kemarin karena dua hari gak liat kamu." Isi pesan Biru.


Elena pun kembali terdiam, dan lagi-lagi jadi kembali bergumam dalam hatinya.


"Hmm Biru gak salah, yang salah itu aku yang udah berani main hati sama dia padahal aku udah setuju di jodohin sama Tama. Harusnya aku gak ngindarin Biru, aku udah janji bakal mau perbaiki mental dia yang lagi gak baik-baik aja, dan aku gak mau sikapku kegini jadi malah bikin dia jadi tambah kacau." Gumam Elena dalam hati.


Elena pun akhirnya menghela nafas panjang, ia pun mulai bangkit dari duduknya, lalu berdiri di depan cermin dan terus memandangi pantulan dirinya yang kala itu penampilannya terlihat berantakan.


"Hmm ok, sekali ini aja aku pengen ikutin perasaanku sendiri, ikutin kemauanku, aku juga pengen ngerasain gimana rasanya saling jatuh cinta." Elena pun kembali menghela nafas, seolah tengah memantapkan dirinya.


Ia pun bergegas mandi demi menyegarkan diri, lalu langsung berpakaian rapi. Dengan memesan sebuah taksi online, Elena pun langsung pergi menuju cafe yang ada di sekitar kampus mereka.


Kampus tempat dimana ia berkuliah merupakan kampus bergengsi dan terbesar di kota itu, jadi jelas saja jika di sekitaran kampus itu ada banyak cafe-cafe kekinian yang sering di kunjungi mahasiswa universitas itu.


Setibanya di cafe, Elena pun memesan green tea, minuman yang akhir-akhir ini menjadi minuman favoritnya semenjak tinggal di kota. Ia pun kembali mengeluarkan ponselnya, meskipun awalnya sedikit ragu, namun akhirnya ia mantap melakukan panggilan ke nomor Biru.


Hanya berselang beberapa detik saja, suara Biru yang menawan pun sudah terdengar menjawab panggilan dari Elena.


"Elena, kamu baik-baik aja kan? Astaga aku bener-bener cemas." Ungkap Biru begitu menjawab panggilan itu.


"Aku di cafe!" Jawab Elena masih dengan nada datar.


"Cafe?? Bilang kamu di cafe mana? Aku kesana sekarang!"


"Green hills."

__ADS_1


"Green Hills yang di dekat kampus??" Tanya Biru memastikan.


"Iya!"


"Ok,kamu disitu aja ok, jangan kemana-mana, aku kesana sekarang!" Biru pun kemudian langsung mengakhiri panggilannya.


Biru yang pada sore itu sedang duduk melamun di atas balkon kamarnya, seketika meraih sebuah jaket yang tergantung di kursi belajarnya, lalu bergegas pergi begitu saja, melajukan motor warrior yang bersuara gahar dengan kecepatan tinggi, seolah ia benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu dengan wanita yang begitu ia rindukan.


Setibanya di cafe, Biru melangkah cepat memasuki cafe itu, melirik kesana kemari dan akhirnya mendapati seorang wanita yang tengah duduk seorang diri sembari menyeruput tenang minumannya. Kedua mata Biru pun seketika berbinar, sebuah senyuman tipis pun tiba-tiba saja muncul dari wajah kharismatiknya.


"Elena." Panggil Biru lembut saat menghampirinya.


"Kamu baik-baik aja kan? Kamu kenapa ngilang selama dua hari ha?" Tanyanya lembut sembari langsung meraih kedua pipi Elena dengan tatapannya yang begitu lekat.


"Maaf." Ucap Elena pelan.


"Kenapa? Kenapa malah minta maaf?"


"Maaf karena udah ngilang selama dua hari."


"It's ok, tapi kamu beneran udah baik-baik aja sekarang?" Biru nampaknya begitu cemas dengan Elena.


"Kurasa gitu."


Elena pun tersenyum lirih.


"Anggap aja ini diet alami!"


"Jangan ah! Kamu harus makan, aku gak suka liat kamu kurus gini, kamu harus makan ya! kamu udah pesen makan?"


Elena pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Kapan terakhir kamu makan nasi?"


"Aku memang belum ada makan nasi selama dua hari."


"Nah kan!! Haih bener-bener kamu ya!! Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus makan sekarang ok!!" Tegas Biru yang nampak begitu cemas, namun juga merasa kesal disaat yang sama.


Biru dengan cepat kembali memanggil waiters.


"Gimana kalau Ayam bakar, kamu suka?" Tanya Biru yang kala itu terlihat begitu fokus memandangi buku menu.


"Apa aja!" Jawab Elena lesu,

__ADS_1


Ya, ia lesu memang karena tidak bertenaga karena belum makan.


"Atau mau steak?"


"Apa aja." Jawab Elena lagi.


"Ah tapi bakalan aneh kalau makan steak pake nasi," Celetuk Biru yang terus membolak-balik buku menunya.


"Ya udah aku pesenin kamu ayam bakar aja ya, disini ayam bakarnya enak." Tambah Biru lagi.


Elena pun hanya mengangguk pelan.


Waiters pun berlalu pergi setelah mencatat pesanan Biru.


"Kamu gak makan?"


"No, aku udah makan!" Jawab Biru dengan tenang.


Beberapa belas menit menunggu, akhirnya makanan yang dipesan Biru untuk Elena pun datang, Elena pun mulai melahap makanannya dengan tenang. Sedangkan Biru, ia hanya menjadi penonton dan terus tersenyum kala memandangi gadis cantik itu begitu fokus pada makanannya.


"Makan yang banyak," Celetuk Biru pelan.


"Kamu mau coba?"


"Enggak ah, aku udah tau rasanya! Lagian aku gak bisa makan dari suapan orang lain."


"Kenapa??" Dahi Elena pun mulai mengkerut.


"Ya gak papa, gak bisa aja." Jawab Biru santai.


"Coba dulu!! katanya makan dari suapan orang lain itu bikin rasanya jauh lebih enak."


"Ah masa sih?" Biru pun kembali tersenyum sembari mengerutkan dahinya.


"Ya makanya coba dulu!!" Elena pun terus menyodorkan makanan makanan dari tangannya ke arah mulut Biru.


"Enggak deh, kamu makan aja." Tolak Biru secara halus yang kala itu masih mencoba mempertahankan prinsipnya.


Elena pun terdiam sembari mulai menatap Biru dengan tatapan masam, entah kenapa hal itu membuat keteguhan Biru pada prinsipnya seketika jadi melemah.


"Kamu serius gak mau makan dari suapan aku?" Tanya Elena lagi.


Akhirnya Mau tak mau, Biru pun perlahan membuka mulutnya dan mengunyah pelan makanan itu. Hal itu nyatanya berhasil membuat Elena kembali tersenyum penuh kepuasan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2