Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Pesta pernikahan


__ADS_3

"Tapi, kayaknya kita dateng telat deh, itu papa kamu udah pakein cincin ke mama kamu." Ucap Elena kemudian.


"Dia bukan mamaku!" Tegas Biru dengan suara pelan.


"Ya, lagian aku emang sengaja dateng lama, aku gak pengen liat moment dimana papaku ngucapin janji sucinya untuk perempuan lain selain mamaku." Jelas Biru secara terang-terangan.


Hingga hal itu seketika membuat Elena terdiam sembari menatapnya dengan tatapan berbeda.


"Kenapa? Kamu mau marah sama aku karena aku sengaja dateng lama? Iya? Please El, untuk hal yang ini tolong ngerti."


"Aku ngerti kok! Justru sekarang aku lagi ngerasa semakin sayang sama kamu, hanya demi aku, kamu rela nuruni ego kamu dan mau dateng ke acara pernikahan papa kamu. Makasi ya." Ucap Elena lembut sembari mulai mengusap-usap tangan Biru.


Biru pun akhirnya menghela nafas singkat dan mulai mengusap pipi Elena dengan lembut.


"Kamu tau kan, ada di posisiku yang kegini itu bener-bener gak mudah, aku bersyukur kamu dateng ke hidupku, berkatmu aku bisa lewati semua ini," ungkap Biru dengan lembut hingga membuat Elena semakin tersanjung dan terus tersenyum.


"Kamu selalu kegini ya, jangan berubah, aku cinta kamu Biru."


"Aku bakal usaha terus kok untuk jadi lebih baik."


Elena pun seketika langsung memeluk hangat tubuh Biru, ia bahkan tidak peduli jika saat itu mereka berpelukan di tengah orang ramai berlalu lalang.


"Ya udah, kita kesana yuk!" Ajak Elena begitu melepaskan tautan tubuh mereka.


Biru pun hanya mengangguk patuh dan mulai mengikuti langkah Elena untuk mendekati papanya.


Manof yang tidak sengaja melihat kehadiran Biru pun seketika nampak sedikit terkejut dan langsung sumringah.


"Biru, anakku, akhirnya kamu datang juga nak." Sapa Manof yang segera menghampiri Biru dan langsung memeluk hangat tubuh tegap putranya.


"Papa senang kamu bersedia datang kemari." Ucap Manof lagi sembari terus mengusap-usap punggung Biru.


"Selamat pa, akhirnya hal yang begitu papa inginkan terwujud." Ucap Biru dengan nada datar.


"Hais jangan ngomong gitu, papa yakin tante Nita bisa jadi ibu sambung yang baik untuk kamu." Jawab Manof.


"Hmm ya, semoga aja!"


Manof pun melepaskan tautan tubuh mereka sembari terus tersenyum senang,


"Oww, Elena." Celetuk Manof begitu menatap ke arah Elena yang masih berdiri terdiam tak jauh dari Biru.


"Kamu datang bersama Elena?" Tanya Manof pada Biru.

__ADS_1


"Iya." Jawab Biru sembari mengangguk singkat.


Elena yang menyadari itu pun bergegas melangkah untuk mendekati Manof untuk memberikan ucapan selamat padanya.


"Selamat ya pak Manof, semoga keluarga baru bapak selalu diberikan kebahagiaan dan dijauhkan dari hal-hal buruk." Ucap Elena yang sedikit gugup sembari mengulurkan tangannya pada Manof.


"Makasih Elena, hmm bisa saya tebak, pasti kamu yang udah berhasil bujuk Biru agar mau datang ke acara ini. Bukan begitu?"


"Ah hehehe enggak kok pak, itu memang kesadaran Biru sendiri." Jawab Elena yang sedikit cengengesan.


"Iya, dia yang memaksaku untuk datang kesini!" Ucap Biru terang-terangan hingga membuat kedua mata Elena mendelik seketika saat melirik ke arahnya.


"Maka dari itu, papa harus merestui hubungan kami." Tambah Biru lagi tanpa beban.


"Oww, keliatannya hubungan kalian lebih serius dari apa yang papa pikirkan." Manof pun sedikit terkejut saat mendengar ucapan Biru.


"Aku gak pernah main-main dalam hal apapun!" Jawab Biru datar.


"Hmm, tapi bukannya Elena masih harus fokus dengan kuliahnya?"


"Bukannya seseorang bisa fokus sama lebih dari satu hal? Contohnya papa, sekarang papa udah nikah dan punya istri baru, apa itu berarti papa cuma bisa fokus sama istri baru papa dan ngabaiin anak papa?" Sindir Biru.


"Oh tentu aja enggak dong, papa bakal tetap perhatiin kamu sebagai anak tunggal papa."


"Nah begitu juga dengan kami, kami tetap bisa fokus dengan kuliah walaupun kami berhubungan."


"Hmm ok lah kalau memang kalian udah mutusin begitu."


Manof pun kembali menatap Elena dan menepuk pelan pundak gadis itu.


"Tapi ingat, kamu harus tetap konsisten pada kuliah, kamu itu anak pintar Elena, jangan sia-siakan itu."


"Iya pak, saya ngerti." Jawab Elena sembari mengangguk singkat.


"Jangan sampe kelewat batas, ok?" Ucap Manof lagi.


"Iy,, iya pak." Jawab Elena yang semakin gugup saat di tatap dengan serius oleh manof.


"Bagus kalau gitu." Manof pun kembali tersenyum dan menjauhkan kembali tangannya dari pundak Elena.


Elena yang menjadi sedikit gemetaran, akhirnya memilih untuk izin sebentar ke toilet.


"Aku mau ke toilet." Bisik Elena pada Biru.

__ADS_1


"Oh ok, toiletnya ada disana." Jawab Biru sembari menunjuk ke salah satu ruangan yang ada di sudut rooftop.


"Ok." Elena pun mengangguk singkat lalu kemudian pergi.


"Biru, itu ibumu, alangkah baiknya kalau kamu datang untuk menyapanya." Ucap Manof kemudian.


"Ta,, tapi.." Namun Biru nampaknya masih ragu.


"Please, papa udah mengizinkan kamu untuk berhubungan dengan Elena, maka imbalannya kamu juga harus berbuat hal yang sama." Pujuk Manof.


"Hmm ok." Jawab Biru lesu dan akhirnya patuh.


Manof pun membawa Biru untuk menghampiri istri barunya yang kala itu tengah berbincang dengan teman-temannya yang jadi tamu di acara itu.


Tak lama Elena pun keluar dari toilet dan mendapati jika Biru sudah tidak ada lagi di tempatnya semula. Hal itu membuat Elena mulai sedikit kebingungan sembari melirik kesana kemari untuk mencari keberadaan kekasih tercintanya itu.


Namun disaat yang sama, ia pun dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Hai El." Sapa orang itu, seseorang yang memiliki suara cukup familiar bagi Elena.


Elena yang terkejut pun seketika menoleh ke arah belakangnya dan langsung mendapati seseorang yang tentu saja sudah ia kenali.


"Jonas???" Ucap Elena sembari mulai tersenyum girang.


"Kamu juga datang kesini?" Tanya Jonas yang ikut tersenyum.


"Hehehe iya, aku datang dengan Biru."


"Hmm ya, udah bisa ku tebak." Jawab Jonas santai.


"Hehehe." Elena pun tersenyum malu.


"Jadi, yang kemarin itu memang gak bener?" Tanya Jonas lagi.


"Yang mana?" Tanya Elena yang nampak bingung.


"Bagian yang kamu bilang, kalau kamu dan Biru udah gak sama-sama lagi."


"Owhh itu, hmm ya itu bener, aku dan Biru memang sempet putus, tapi sekarang kami udah balikan." Jawab Elena secara polos.


"Oww, gitu rupanya, hmm kalau gitu selamat."


"Hehehe makasi Jo."

__ADS_1


Mereka pun mulai berbincang santai layaknya dua orang sahabat yang sudah lama saling mengenal satu sama lain. Saat itu Elena bahkan tidak ragu untuk menceritakan semua kejadian yang ia alami semenjak ia dekat dengan Biru, tak terkecuali dengan kejadian kedua orang tuanya yang berhenti mengiriminya uang bulanan.


...Bersambung......


__ADS_2