
Mata Elena akhirnya perlahan mulai terbuka dan langsung mendapati langit-langit di ruangan bernuansa putih yang menjadi hal pertama yang ia lihat kala membuka mata.
"Hah?! Aku dimana?" Gumamnya yang seketika langsung bangkit dari tidurnya sembari terus memandangi sekeliling ruangan yang nampak sepi, benar-benar hanya ada dia sendiri.
Disaat yang sama, ponsel Elena berdering, ia pun segera meraih tasnya yang sudah terletak di atas nakas yang berada di disisinya kala itu. Elena menatap singkat layar ponselnya yang kala itu tengah menampilkan nama "Tama"
"Halo." Sahutnya kemudian dengan suara yang masih terdengar lemas.
"El, gimana hari pertama masuk kuliah? Seru?" Tanya Tama begitu mendengar suara Elena menjawab panggilannya.
Tama adalah teman Elena sejak kecil saat didesa, Tama memiliki usia terpaut satu tahun lebih muda dari Elena namun tetap saja ia tidak berniat untuk memanggilnya dengan sebutan kakak. Saking dekatnya, keduanya pun akhirnya dijodohkan oleh kedua orang tua mereka yang juga berteman, Elena yang merupakan anak berbakti pada orang tua, tentu saja menuruti hal itu, mengingat ia juga sangat dekat dengan Tama meskipun ia sendiri tidak yakin bila dia menyukai Tama.
"Ak,, aku baik-baik aja kok." Jawabnya dengan suara pelan.
"Hah?! Kenapa kamu malah ngomong gitu? Aku bahkan nanya hal lain. Ada apa El?"
"Oh, ak,, aku gak papa."
"Suaramu kenapa? Kok kedengeran lemes banget?" Tanya Tama lagi yang nampak mulai cemas.
"Aku gak papa." Jawab Elena lagi.
Tak lama, seorang lelaki pun terlihat muncul dengan sudah membawa minuman juga makanan ke dalam ruangan itu. Lelaki yang menjadi lelaki terakhir yang di tatap Elena sebelum akhirnya dia pingsan itu pun terus melangkah dengan tenang mendekati tempat tidur dimana kala itu Elena nampak duduk bersandar dengan kedua kaki yang berselonjor.
"Ak,, aku tutup dulu telponnya ya, nanti aku kabari lagi." Ucap Elena yang mendadak jadi gelagapan dan langsung mengakhiri panggilannya begitu saja.
Ia pun terdiam sembari terus memandangi kedatangan Biru dengan raut wajah yang sedikit cemas.
"Udah sadar?" Tanya Biru datar ketika ia berada di sisi tempat tidur ala rumah sakit itu.
Elena pun mengangguk pelan.
"Kakak yang tadi bantu aku waktu dilapangan kan?" Tanya Elena dengan sedikit ragu.
"Anggap aja kegitu." Jawab Biru dengan tenang.
"Ini, makanlah! Aku yakin kamu pasti belum sarapan kan?" Ucap Biru kemudian, sembari menyerahkan sebuah piring yang berisikan nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang di atasnya.
__ADS_1
"Tau dari mana?"
"Febby bilang kamu telat datang ke kampus karena kesiangan, kalau bener kegitu, berarti 1000 persen kupastikan kalau kamu juga gak sempat sarapan dirumah." Jawab Biru dengan tenang.
Elena pun akhirnya mulai tersenyum tipis,
"Ayo makan!" Tawar Biru lagi yang semakin mendekatkan piring itu.
Elena pun meraihnya dengan sedikit ragu.
"Ini nasi goreng yang ku beli dari kantin yang paling rame di kampus ini, jadi jangan ragu soal rasanya." Celetuk Biru yang mulai duduk dengan santai di kursi yang berada di sisi tempat tidur.
"Makasih banyak kak." Ucap Elena dengan lembut.
Elena pun mulai memakan nasi goreng itu dengan lahap, karena faktanya dugaan Biru memanglah benar adanya, benar jika Elena memang tidak sempat memakan apapun sebelum berangkat kekampus, hal itu jugalah yang membuatnya pingsan saat dihukum.
"Ini minum juga susumu, biar tenagamu bisa balik lagi." Biru pun menyerahkan segelas susu coklat hangat pada Elena.
Elena pun terdiam sejenak dan akhirnya meraih segelas susu itu untuk kemudian ia minum dengan perlahan.
"Makasih sekali lagi kak."
"Besok-besok jangan telat lagi ya! Kamu punya alarm kan di hpmu?"
"Iya kak, maaf."
Piring yang awalnya berisi nasi goreng, kini terlihat licin tak berbekas, Elena nampaknya benar-benar lapar kala itu hingga membuatnya begitu lahap memakan makanannya.
"Udah abis aja? Hmm cepet juga ya kamu makannya." Celetuk Biru yang mendengus pelan sembari tersenyum tipis.
Elena pun hanya bisa tersenyum malu.
"Ya udah, kalau gitu bayar sekarang! 15 ribu untuk seporsi nasi goreng, 7 ribu untuk segelas susu." Ucap Biru sembari mengulurkan tangannya.
Elena pun terdiam sejenak memandangi Biru, namun tanpa berpikir lebih lama lagi, ia pun mulai meraih tasnya untuk mengambil dompetnya. Hal itu pun seketika membuat Biru terkekeh geli hingga membuat dahi Elena mulai mengkerut.
"Hahaha enggak, enggak! Aku cuma bercanda." Ucap Biru kemudian.
__ADS_1
Elena pun lagi-lagi tercengang.
"Udah aku bayar kok, jadi jangan takut hehehe." Tambah Biru lagi,
"Gak papa kak, aku ganti aja uang kakak, kakak udah banyak bantu aku hari ini." Elena nampaknya masih ingin meraih dompetnya.
Namun kala itu Biru benar-benar tidak menginginkan hal itu, karena ia bukanlah seseorang yang kekurangan materi.
"Gak perlu! Simpen aja uangmu untuk jajan yang lain!" Tegas Biru.
Elena pun akhirnya patuh.
"Hmm ya udah, aku mau balikin piring dan gelas ini ke kantin, karena ibu kantinnya lumayan galak. Kamu bisa lanjutin istirahat dulu kalau masih mau disini." Biru pun bersiap ingin segera pergi.
"Kak, tunggu!" Ucap Elena yang membuat langkah Biru seketika terhenti.
"Boleh aku tau nama kakak?"
"Hmm menurutmu, di antara Merah, kuning, hijau, biru, mana yang paling cocok untukku?" Tanya Biru yang kembali menatap Elena.
Elena lagi-lagi terdiam sejenak seolah tengah berpikir.
"Jawaban kamu harus bener, kalau gak mau di hukum lagi." Tambah Biru yang seolah ingin menakut-nakuti Elena.
"Bii,,, ru, mungkin." Jawab Elena dengan sedikit ragu."
Mendengar hal itu, sebuah senyuman tipis pun seketika kembali terlihat jelas menghiasi wajah Biru yang tampan.
"Ya udah kalau gitu, kamu bisa panggil aku Biru." Ucap Biru yang kemudian langsung berlalu pergi membawa senyumannya yang khas.
Elena pun ikut tersenyum, ia benar-benar menyukai bagaimana sikap Biru yang tenang, menurutnya sikap Biru benar-benar membuatnya terlihat cool.
Keesokan harinya...
Pagi ini Elena tidak lagi terlambat, pengalaman menyeramkan di hari pertama masuk kuliah sudah cukup membuatnya sangat jera dan benar-benar tidak ingin kejadian serupa terjadi padanya lagi. Elena yang bergabung dalam barisan terus diam memperhatikan Bram yang kala itu tengah memberikan tantangan untuk mereka dan menjelaskan cara mainnya.
"Tantangannya adalah, kalian harus menulis surat cinta untuk salah satu kakak tingkat yang mengospek kalian, hanya untuk satu orang yang kalian paling sukai. Bagi yang laki-laki, tentunya harus menulis untuk kakak tingkat perempuan, dan begitu sebaliknya." Jelas Bram dengan menggunakan toa.
__ADS_1
"Dan setelah selesai, kalian harus membacakan surat itu di hadapan orang yang kalian kirimi surat cinta itu. Dan nantinya hanya akan ada satu orang yang surat cintanya di terima oleh setiap sasaran kalian, baik perempuan maupun laki-laki, dan yang suratnya mendapat tanda tangan penerima, itulah yang diterima dan berhak lolos dari tantangan ospek berikutnya." Tambah Ame yang kala itu mendampingi Bram untuk menjelaskan setiap tantangan yang mereka berikan.
...Bersambung......