
Elena seketika membeku, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia benar-benar senang saat mendengar ungkapan semacam itu keluar dari mulut Biru. Itu menandakan jika Biru memang masih sangat menyayanginya.
"Please El, maafin aku! Beberapa hari ini aku juga beneran kacau karena jauh dari kamu." Ungkap Biru lagi dengan raut wajah yang semakin terlihat sendu.
Cinta yang begitu besar untuk Biru, membuat Elena merasa tidak tega dan seakan ingin langsung memeluk Biru saat itu juga. Namun entah kenapa Elena juga merasa jika ia masih perlu memberi Biru pelajaran agar tidak terlalu mudah membuat keputusan seperti itu lagi nantinya.
"Hmm gimana ya?" Elena pun seolah tengah memikirkan jawabannya.
"El, jangan bilang kamu udah bener-bener lupain aku cuma dalam waktu tiga hari!" Ucap Biru sembari mulai memicingkan matanya.
"Untuk apa aku terus-terusan inget sama orang yang udah nyakitin dan gak bener-bener cinta sama aku!"
"Demi tuhan aku beneran cinta sama kamu El, cinta banget!! Tapi di sisi lain aku juga gak mau hidup kamu jadi kacau cuma karena jalin hubungan sama aku!" Biru kembali mengutarakan isi hatinya pada Elena dengan penuh emosional.
"Hmm ok, biarin aku pikirin dulu ya, aku gak mau terlalu cepat ambil keputusan yang nantinya bakal bikin aku jadi sakit hati lagi." Jawab Elena yang masih ingin menguji lebih dalam lagi keseriusan Biru.
Elena pun langsung pergi meninggalkan Biru begitu saja, meninggalkan Biru yang kala itu nampak masih terdiam memandangi lirih kepergian Elena yang nampak mulai berubah sikapnya.
Malam hari...
Kedua mata Biru seketika dibuat membulat sempurna saat papanya baru saja mengajaknya berbicara. Bagaimana tidak, hal yang di bahas oleh Manof saat itu adalah hal yang paling tidak sukai. Yaitu tentang pernikahannya dengan wanita lain yang akan menjadi pengganti mamanya.
"Apa?!! Papa mau percepat pernikahan papa sama perempuan itu??!!" Ketus Biru yang nampak sangat tidak senang.
Manof pun mengangguk sehingga membuat Biru yang melihatnya seketika langsung mendengus kesal.
"Apa sih yang bikin kamu gak suka sama calon istri papa? Dia udah baik loh sama kamu." Ucap Manof.
"Papa masih nanya??!! Mamaku yang udah nemeni papa dari nol, sekarang hidup pas-pasan di luar kota sana, sedangkan dia yang baru beberapa waktu datang ke hidup papa, sekarang bisa menikmati semua ini." Keluh Biru yang masih tidak terima dengan keputusan manof.
"Biru, satu hal yang harus kamu pahami, papa dan mamamu memang udah gak ditakdirkan bersama! Jadi kamu harus belajar menerima takdir hidup, lagi pula sejauh ini papa gak pernah ngabaiin kamu."
__ADS_1
"Aaaghhh!!! Persetan dengan takdir!!" Bentak Biru meninggikan suaranya sembari menepis kuat sebuah vas bunga yang saat itu berada di sampingnya.
"Biru cukup!!!" Seru Manof yang tak kalah menaikkan volume suaranya.
"Suka gak suka, papa bakalan tetap nikahi tante Lina!" Tegas Manof.
Biru lagi-lagi mendengus.
"Fine!!" Jawab Biru melotot dan kemudian langsung berlalu pergi.
Biru terus melangkah cepat dan sekali lagi ia meninju keras sebuah gucci yang berukuran cukup besar yang ada di salah satu sudut ruangan.
"Aaaghhh!!! What the fvck!!" Teriaknya lagi.
Manof pun hanya bisa terdiam memandangi Biru yang saat itu seolah tengah begitu berapi-api karena keputusannya. Tidak ada yang bisa Manof lakukan saat itu selain hanya menghela nafas panjang melihat reaksi anaknya yang cukup tak terduga.
Biru dengan pikirannya yang begitu kalut malam itu mulai terduduk lesu di halaman depan rumahnya. Terus memandang nanar ke arah jemari tangannya yang kala itu mulai di penuhi oleh darah yang terus mengucur keluar dari lukanya akibat memukul gucci di rumahnya.
"Siapa lagi yang bisa ngerti perasaanku?? Papaku sendiri aja sama sekali gak mau ngerti perasaanku!" Gumam Biru dalam hati.
"Elena, ya aku cuma butuh Elena saat ini." Gumam Biru lagi.
Biru pun perlahan bangkit dari duduknya lalu langsung melangkah lesu menuju motornya. Biru seolah benar-benar tidak memperdulikan darah yang terus mengalir pada lukanya, ia bahkan tidak berniat untuk mengobati lukanya terlebih dulu dan tetap membiarkan darahnya terus menetes di jarinya.
Tanpa pikir panjang, Biru langsung melajukan motornya keluar dari pekarangan rumah elitnya, mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di kost Elena.
Saat itu, Elena nampak sedang duduk bersandar dengan lesu pada kepala tempat tidurnya, ia terus melamun sembari sesekali menatap sendu ke arah ponselnya yang sama sakali tidak ada berbunyi malam itu.
"Dia bahkan gak berusaha untuk ngubungi aku, sms juga gak ada." Keluh Elena dalam hati.
Meski sikapnya di kampus seolah masih jual mahal, tapi yang sebenarnya ia rasakan tentu saja tidak seperti itu. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tentu masih sangat mengharapan Biru agak kembali padanya, apalagi saat itu kesuciannya telah ia serahkan pada Biru.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan dia lagi enak-enaknya party lagi sama temen-temennya." Gumam Elena lagi yang mendadak jadi merasa tidak tenang dan mulai berfikir yang tidak-tidak pada Biru.
Elena mulai semakin gelisah, ia pun bangkit dari atas tempat tidur dan mulai berjalan mondar mandir di kamarnya.
"Apa aku telpon aja ya dia untuk nanya dia dimana??" Pikir Elena.
"Eh tapi masa aku yang nelpon duluan, malu dong." Tambahnya lagi.
Elena terus berperang pada hati dan pikirannya sendiri saat itu, hingga tiba-tiba suara ketukan pintu seketika mengejutkannya.
"Siapa??" Tanya Elena yang kala itu masih terdiam di tempatnya.
Namun sama sekali tidak ada jawaban, yang terdengar hanyalah suara ketukan pintu yang kembali terdengar.
"Siapa sih?" Gumam Elena yang mulai melangkah menuju pintu.
Tak ingin terlalu lama penasaran, Elena pun langsung membuka pintu kamar kostnya, dan ya, matanya kembali dibuat mendelik saat mendapati Biru yang sudah berdiri di hadapannya.
Tidak seperti biasanya, yang dimana Biru selalu terlihat menawan, kali ini ia nampak begitu berantakan, matanya terlihat memerah dan sembab, rambutnya tidak beraturan, dengan raut wajah yang nampak lusuh.
"Bi,, Biru." Ucap Elena saat terkejut.
"El, aku kacau El, bener-bener kacau." Ungkap Biru lirih.
"Kamu kenapa? Kamu mabuk ya?" Tanya Elena sembari mengerutkan dahinya.
Saat itu Biru hanya terdiam dengan wajah sendunya. Dan tidak sengaja Elena melirik ke arah jari tangannya yang kala itu dipenuhi dengan darah yang bahkan nampak mulai mengering. Lagi-lagi hal itu tentu saja membuat kedua mata Elena seketika terbelalak.
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Elena yang seketika nampak panik sembari langsung meraih tangannya.
"Aku gak papa, ini bukan masalah!" Jawab Biru pelan.
__ADS_1
Elena pun terdiam sejenak dengan raut wajah yang nampak begitu cemas saat memandangi Biru yang nampak benar-benar kacau.
...Bersambung......