
"Gimana?" Tanya Elena.
"Hmm bener juga. Tapi kurasa ini cuma berlaku kalau kamu yang suapin deh, aku gak yakin kalau orang lain yang suapin, rasanya bakal seenak ini."
"Kalau yang suapin kak Febby, gimana?"
"Gak bakal! Aku gak pernah mau makan dari suapan orang lain Elena!"
"Ini buktinya kamu makan dari suapan aku."
"Itu karena kamu, kamu itu bukan orang lain bagi aku!" Jawab Biru yang seketika membuat Elena kembali terdiam namun ingin kembali tersenyum.
"Memangnya apa aku bagimu?" Tanya Elena pelan.
"Kamu??? Kamu itu special someone! Kamu pacarku sekarang!"
"Pacar?? Kapan kamu nembak aku? Dan kapan aku jawab?" Tanya Elena yang terus tersenyum.
"Aku gak perlu nembak, lagian aku udah tau jawabannya diwaktu kita berciuman." Biru pun ikut tersenyum.
Mendengar hal itu wajah Elena nampak mulai memerah karena malu, hingga membuatnya langsung menundukkan kepalanya.
"Udah gak perlu malu, kita udah ngelakuinnya dua kali Elena, apa itu pun belum buat kamu sadar juga kalau kita itu udah bukan temen lagi."
"Jadi,,, kita pacaran??"
"Ya, kamu pacarku sekarang! Jadi jangan pernah berani deket sama cowok lain ok, awas aja!"
"Memangnya kenapa kalau aku deket sama cowok lain? Kamu mau pukul aku?"
"Bukan kamu, tapi cowok itu yang bakal ku kirim ke rumah sakit atau mungkin langsung ke rumah duka!"
"Haiss jangan gitu ah."
"Hehehe ya makanya, cukup deket dengan aku aja, ok?"
"Iya-iya." Elena pun tersenyum.
Entah kenapa ia begitu menyukai sikap Biru yang terkesan protektif saat itu, membuatnya benar-benar merasa jika Biru sangat mencintainya, membuatnya merasa begitu berarti bagi seseorang. Namun, Elena belum menyadari, jika itu adalah awal, awal dari semua permasalahan hidupnya yang perlahan akan muncul setelah kedekatannya dengan Biru yang misterius.
Elena pun mengusap bibirnya dengan tisu setelah ia menyelesaikan makannya.
"Udah kenyang?" Tanya Biru.
Elena pun mengangguk sembari tersenyum.
"Aku pengen nunjukin sesuatu sama kamu."
"Apa? Tunjukin aja." Jawab Elena.
__ADS_1
"Sesuatunya gak bisa dibawa di dalam saku, dia ada di suatu tempat,"
"Jadi kita harus pergi kesana?"
"Iya, kamu mau?" Tanya Biru pelan.
Elena pun melirik ke arah jam tangannya.
"Tapi ini udah sore, sebentar lagi gelap."
"Gak masalah, justru bakal lebih baik."
Elena pun terdiam sejenak sembari berpikir, namun akhirnya ia tentu saja setuju. Wanita mana yang sanggup menolak ajakan dari seorang lelaki yang saat itu benar-benar membuat hatinya jadi berbunga-bunga.
Biru melajukan motornya dengan Elena yang sudah berada di boncengannya. Menempuh waktu 45 menit, kini mereka pun tiba di tempat tujuan, tempat yang begitu tenang, jauh dari kebisingan yang ada di tengah kota.
"Tempat apa ini?" Tanya Elena saat turun dari atas motornya.
"Kita perlu jalan naik sedikit ke bukit itu. Harus jalan kaki, gak bisa naik motor." Ucap Biru sembari menunjuk ke arah bukit yang seolah dibalut oleh rerumputan hijau. 10 menit berjalan, kini mereka pun sudah tiba di atasnya, kedua mata Elena pun mulai terlihat membesar kala melihat pemandangan yang di sajikan dari atas.
Di balik bukit ternyata ada sebuah telaga yang airnya berwarna hijau terang, juga di sisi telaga di penuhi tenda kemah berwarna warni yang sengaja di susun secara rapi dan tertata hingga membuat pemandangan telaga itu jadi semakin apik. Juga di sisi lain bukit, terlihat ada banyak lampu-lampu yang mulai dihidupkan, membuatnya terlihat seperti taburan bintang-bintang.
"Itu lampu-lampu dari kota. Salah satunya ada lampu kost mu juga." Celetuk Biru sembari tersenyum.
"Keren, kamu tau dari mana tempat bagus ini?" Tanya Elena sembari terus memandangi seluruh pemandangan di setiap sisi bukit itu.
"Ini tempat pelarian favoritku! Biasanya kalau aku lagi ngerasa down, aku datang kesini untuk nenangin diri."
"Mana boleh ikut-ikutan." Biru pun mendengus pelan sembari tersenyum.
"Jadi gak boleh ngikuti pacar sendiri?"
Biru pun semakin melebarkan senyumannya saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulu Elena.
"Jadi,, kamu beneran udah anggep aku pacar kamu sekarang?" Tanya Biru yang perlahan mulai melangkah untuk semakin dekat dengan Elena.
"Loh, jadi yang tadi gak serius? Kamu cuma bercanda ya?" Dahi Elena pun mulai mengkerut,
"Hahaha ya enggak lah! Maksudku,,,, hmm ya udah deh, yang jelas kamu udah memutuskan setuju jadi pacarku kan?"
Elena dengan sedikit tersipu malu, akhirnya mulai mengangguk, membuat Biru langsung memeluk tubuhnya dengan hangat.
Hari pun semakin gelap, membuat pemandangan dari atas bukit semakin indah dan terasa sejuk.
"Boleh aku nanya?"
"Apa?"
"Gimana kelanjutan hubungan kamu dengan,,,,"
__ADS_1
"Tama??" Sahut Elena,
"Hmm ya, siapa lah namanya."
Elena pun kembali menghela nafas berat.
"Hmm, kayaknya dia beneran udah kecewa sama aku dan itu artinya aku dan Tama udah gak ada apa-apa lagi, dan dia udah ngomong juga sama orang tua aku." Jawab Elena dengan tatapan yang mulai terlihat kosong.
"Loh, jadi gimana? Kamu dimarahin dong sama orang tua kamu?" Biru pun nampak cemas.
"Sejauh ini belum, maksudku,, aku belum ngerespon telepon ibuku."
Biru pun mulai meraih kedua pundak Elena.
"Maafin aku ya, gara-gara aku kamu jadi harus ngalami hal ini." Biru pun mendadak nampak sedih.
"Gak papa, aku udah siap kok nerima semua resikonya. Ini salah aku, salah aku yang udah jatuh cinta sama kamu, dan walau apapun yang nantinya bakal terjadi ke depannya, gak bakalan ada yang bisa ngerubah perasaanku sama kamu." Ungkap Elena yang terlihat begitu tulus saat menatap wajah Biru.
Biru pun kembali tersenyum dan kembali memeluk erat tubuh Elena.
"Kegitu juga denganku, aku udah terlanjur cinta mati sama kamu Elena, aku bakal siap pasang badan buat kamu, kalau sesuatu terjadi,"
"Makasih banyak ya, udah selalu peduli sama aku. Aku bener-bener merasa beruntung bisa diketemuin dengan kamu, ini pertama kalinya aku ngerasa beruntung waktu dapat hukuman."
"Kenapa gitu?" Tanya Biru.
"Iya, karena kalau gak di hukum waktu itu, belum tentu kita bisa kayak sekarang. Bahkan mungkin bisa jadi kamu juga belum kenal aku sekarang,"
"Haiss ada-ada aja kamu, mana ada orang di hukum malah ngerasa beruntung." Biru pun terkekeh sembari mengusap-usap ujung kepala Elena.
Mereka pun terus berbincang sembari menikmati keindahan malam dari atas bukit sembari duduk di atas rerumputan yang cukup tebal. Namun mendadak angin yang awalnya terasa sepoi-sepoi, kini perlahan terasa semakin sejuk dan kencang.
"Duh, kayaknya mau ujan deh ini." Celetuk Biru yang langsung bangkit dari duduknya sembari memandangi ke arah langit.
"Iya kayaknya."
"Ya udah kayaknya kita harus balik sekarang yuk, takut keburu ujan."
Elena pun mengangguk patuh, mereka pun mulai berjalan menuruni bukit dengan sedikit hati-hati, dan benar saja, sesaat setelah mereka tiba di kaki bukit, hujan pun perlahan turun dan dalam waktu sekejab jadi semakin deras.
"Hais hujan." Celetuk Elena yang nampak panik.
"Astaga aku lupa masukin mantel ke motorku,"
"Yah jadi gimana?" Elena pun semakin panik sembari mulai meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya seolah ingin menutupi kepalanya dari tetesan air hujan.
"Disana ada banyak tenda yang bisa di sewa, kita berteduh disitu dulu ya sampe hujannya reda."
Tanpa pikir panjang Elena pun mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
...Bersambung......