
"Hmm bakal seru nih!" Celetuk Febby sembari langsung bangkit dari duduknya.
"Hai Elena." Panggil Febby kemudian.
Biru yang mendengar hal itu pun seketika menoleh ke arah Elena, kedua matanya pun nampak sedikit membesar saat melihat keberadaan Elena yang juga ternyata berada disana dengan seorang lelaki yang bisa ia tebak itulah lelaki yang di jodohkan dengannya.
"Wah, gue gak nyangka banget bisa ketemu kalian disini." Celetuk Febby yang langsung menghampiri Elena dengan sikapnya yang seolah terlihat begitu ramah.
Elena mau tak mau menghentikan langkahnya dan kembali berbalik arah menatap Febby.
"Hai." Jawabnya.
"Owh ada Tama juga, hai Tama,"
"Hai, hmm siapa namamu?"
"Oh aku Febby."
"Owh hai Febby."
"Kalian baru dateng kan?"
"Ya, tapi kayaknya kami bakal pindah, Elena mau makan di cafe lain." Jawab Tama dengan tenang.
"Loh kok pindah? Duh gak usah pindah, kalian gabung aja bareng kita, gimana?"
"Gak usah kak, makasi banyak." Jawab Elena yang seolah tidak berminat.
"Haiss udah gak papa, ayo gabung aja, ikut kita seru-seruan, aku pengen ngenalin pacar kamu ini ke temen-temen yang lain terutama para cowok-cowok jomblo disana, biar mereka tau kalau kamu udah ada yang punya heheh."
Mendengar hal itu, Tama pun akhirnya setuju.
"Hmm kedengarannya bagus," Tama pun tersenyum.
"Tam, kok kamu malah jawab gitu!" Bisik Elena.
"Udah gak papa, aku juga mau kenal sama temen-temen kamu yang lain, sekalian aku mau tegasi sama mereka supaya jangan ada yang bully atau dekatin kamu lagi."
Elena pun mendengus, tak sengaja kedua matanya melirik ke arah Biru yang kala itu juga berada disana dan sedang menatapnya.
"Oh, ada dia juga rupanya." Gumam Elena.
Elena pun seketika langsung memegang lengan Tama, dan ia setuju.
"Ok kalau gitu."
"Nahh gitu dong, ayo ikut aku." Febby pun kembali ke tempat duduknya.
"Guyss, liat siapa yang bakal gabung bareng kita??" Ucap Febby dengan wajahnya yang begitu berbinar.
__ADS_1
"Wah Elena?" Bram pun nampak sedikit kaget.
"Hai." Sapa Elena sembari tersenyum,
"Guys, kalau kalian ada yang belum tau, ini namanya Tama, dia pacar Elena sekaligus calon suaminya."
"Wah wah, jadi kamu beneran nyata ya? Aku pikir cuma karangan Febby doang." Celetuk salah satu teman mereka yang diketahui bernama Rei.
Saat itu Biru hanya terdiam dan memilih untuk kembali meneguk bir di gelasnya hingga kandas. Elena yang menyaksikan hal itu pun juga ikut diam dengan perasaan yang campur aduk.
Satu jam berlalu, Febby tiba-tiba memiliki ide untuk mengerjai Elena.
"Guys, gimana kalau kita main game."
"Game? Wah game apa tu?" Tanya Ame yang nampak semangat.
"Game hisap, lalu tiup." Jelas Febby sembari memperagakannya dengan Ame.
Ia menempelkan selembar kertas pada mulutnya, lalu mengoper kertas itu ke arah mulut Ame dengan cara meniupnya. Dan Ame pun melakukan hal yang sama pada seseorang yang ada di sampingnya dan begitu seterusnya.
"Lalu kalau kertasnya terjatuh?" Tanya Ame.
"Itu berarti yang menjatuhkan kertas dan yang akan menerima kertas itu selanjutnya akan berciuman hahaha."
"Itu berarti posisi duduknya harus selang seling biar lebih greget." Celetuk Bram.
"Ah keliatannya seru, ayo kita main sekarang." Jawab Ferdy yang juga ada disana.
"Hais, kamu gak asik banget sih Ru." Keluh Febby.
"Terserah mau bilang apa!" Jawab Biru
"Hmm Ya udah deh kita aja yang main. Ok, mulai dari gue ya." Febby pun mengulanginya lagi, ia menghisap selembar kertas itu agar menempel di bibirnya, lalu meniupkannya ke arah Bram.
Bram dengan semangat menerima kertas itu lalu mengoper dengan bibirnya ke arah Ame, lalu Ame mengopernya pada Ferdy, dan di samping Ferdy kebetulan ada Elena. Namun saat itu Ferdy nampaknya ingin mengambil kesempatan dari Elena, ia pun sengaja menjatuhkan kertas itu.
"Ouhh, kertasnya terjatuh." Celetuk Ferdy sembari tersenyum menatap Elena.
"Wow hahaha kalian tau kan apa artinya hahaha." Febby pun tertawa puas.
"Ayo Fer, lanjutin gamenya tanpa kertas." Seru Ame.
"Ok, dengan senang hati," jawab Ferdy yang langsung ingin mendekatkan wajahnya pada Elena.
Namun Elena dengan cepat menolak tubuhnya.
"Enggak kak, aku gak bisa!" Ucap Elena.
"Haiss, ayolah El, ini cuma game." Pujuk Febby.
__ADS_1
"Jangan Bro, tolong jangan." Ucap Tama yang juga menolak pelan tubuh Ferdy.
"Come on Bro, ini cuma game, just for fun." Ucap Ferdy yang seolah terus memaksa ingin mengarahkan bibirnya ke arah Elena.
"Ayo cium, cium, cium!" Sorak Febby, Ame, Rey, dan yang lain kecuali Biru.
"Yang sportif dong." Seru seseorang.
"Ayolah Elena, just for fun ok," pujuk Ferdy yang terus memaksa untuk mencium Elena.
Hal itu pun akhirnya mengundang rasa emosi pada Biru yang benar-benar sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi saat melihat bagaimana temannya itu begitu niat ingin mencium Elena.
"Berhenti mainin game sampah ini!!" Ketus Biru yang seketika bangkit dari duduknya dan langsung meninju Ferdy agar menjauh dari Elena.
Elena pun terkejut, begitu pula dengan teman-teman Biru yang lainnya.
"Woi, Bro, lo kenapa?" Teriak Ferdy yang juga menolak kasar tubuh Biru.
Biru kembali meninju Ferdy hingga mereka pun terlibat baku hantam. Tak lama Bram dan yang lainnya pun melerai mereka. Sementara Elena, saat itu ia masih terdiam, dengan perasaan syok dan panik, namun tidak bisa berbuat apapun.
"El, ini bener-bener udah gak kondusif, kita harus pergi dari sini!" Tegas Tama yang langsung menarik tangan Elena begitu saja.
Elena masih terdiam dan seolah pasrah saat tubuhnya harus di tarik pergi oleh Tama, namun tatapannya saat itu masih sempat terus memandang sendu ke arah Biru yang kala itu tengah di tahan tubuhnya oleh Bram agar tidak terus berkelahi.
Sepanjang malam Elena terus melamun di atas tempat tidurnya, ia terus menatap sendu ke arah langit-langit kamarnya saat mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Dia bilang gak serius sama aku, tapi dia rela memukul temennya sendiri demi lindungi aku, bahkan Tama gak bisa lakuin hal serupa saat posisiku kayak kemarin." Gumam Elena lirih dalam hati, sembari mulai melirik ke arah Tama yang kala itu sudah nampak tertidur pulas di atas karpet di lantai.
Keesokan harinya...
Hari ini Elena sama sekali tidak melihat adanya sosok Biru di kampus, bahkan tidak melihat motornya di tempat biasa ia parkir.
"Dia gak kuliah? Apa dia sakit gara-gara berantem semalam?" Tanya Elena dalam hati yang mendadak merasa bersalah dan tidak tega.
Elena pun terus berjalan lesu menyusuri koridor kampus, tak sengaja ia melihat salah satu teman yang berada satu kelas dengannya sedang berbicara dengan Dekan yang tak lain adalah ayah Biru, di depan ruangannya, hal itu pun seketika membuat Elena menghentikan langkahnya saat berada di balik pilar.
"Tolong kabari om kalau kamu ada denger kabar dari Biru ya!" Ucap Manof yang tak sengaja di dengar oleh Elena.
"Iya om, nanti aku bakal cari tau juga ke temen-temennya."
"Ok, makasih ya Jo."
"Iya om."
Manof pun kemudian nampak pergi meninggalkan Jo. Mendengar hal itu membuat beragam pertanyaan muncul begitu saja di dalam benak Elena.
"Memangnya Biru kemana? Apa dia pergi dari rumah? Dan barusan, Jonas manggil papa Biru dengan sebutan om? Apa mereka ada hubungan saudara?"
Jonas pun nampak mulai beranjak, namun entah berasal dari mana keberanian itu, membuat Elena dengan refleks langsung mencegat langkah Jonas.
__ADS_1
...Bersambung......