Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Ancaman


__ADS_3

Siang hari...


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 13.00, Elena yang baru keluar dari kampus terus berjalan dengan tenang untuk kembali ke kostnya. Tak berapa lama, suara garang dari sebuah motor pun terdengar nyaring dari arah belakang Elena. Elena pun menoleh ke belakang dan mendapati Biru yang sedang mengarah ke arahnya.


"Hei." Sapa Biru yang kemudian menghentikan motornya di sisi Elena.


"He,, hei." Jawab Elena dengan sedikit malu-malu.


"Mau pulang?" Tanya Biru.


Elena pun mengangguk sembari tersenyum.


"Udah makan siang?" Tanya Biru lagi.


Kali ini Elena menggelengkan pelan kepalanya,


"Gimana kalau sebelum pulang, kita makan siang bareng dulu? Kamu mau?"


Elena pun terdiam sejenak namun sembari tersenyum.


"Di dekat kampus sini, ada sebuah cafe yang lagi hits." Ucap Biru lagi.


Elena pun akhirnya mengangguk.


"Hmm boleh." Jawabnya dengan sebuah senyuman yang semakin berkembang.


Biru pun ikut tersenyum.


"Yaudah, sini naik!"


Tanpa pikir panjang lagi, Elena pun langsung naik ke atas motor, Biru kembali melajukan motornya untuk menuju cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus mereka.


Mereka duduk di bagian outdoor cafe yang ada di atas atap, kala itu Elena terus tersenyum sembari memandangi Biru yang baru selesai memesan menu makanan.


"Kenapa?" Tanya Biru saat menyadari hal itu.


"Kenapa apanya?" Tanya Elena yang masih nampak tersenyum,


"Kenapa liatin aku kegitu?"


"Hmm enggak, gak papa kok."


Biru pun mendengus pelan sembari tersenyum tipis.


"Gimana hari pertamamu mulai belajar di kampus?"


"Baik, semuanya berjalan seperti seharusnya." Jawab Elena dengan tenang.


"Syukurlah." Biru pun kembali tersenyum.


Elena hanya terus mengangguk dan terus tersenyum, entah kenapa semenjak kejadian semalam, ia merasa jika hidupnya saat itu benar-benar indah hingga ingin selalu membuatnya tersenyum, apalagi saat itu ada Biru di hadapannya, lelaki yang memberikan pengalaman ciuman pertama yang begitu menghangatkan jiwa Elena.


"Boleh aku tanya sesuatu yang lebih intens?" Tanya Biru lagi.


"Nanya apa?"


"Tentang kejadian tadi malam, hmm apa kamu pernah melakukannya sebelumnya?" Tanya Biru.

__ADS_1


Elena pun menggeleng dan masih tersenyum.


"No!" Jawabnya santai,


"Belum pernah?"


"Belum." Lagi-lagi menggeleng.


"Sama sekali??" Tanya Biru lagi yang seolah tidak percaya.


"Itu yang pertama kali bagiku!" Ungkap Elena secara jujur.


Biru pun seketika kembali tersenyum sembari mendengus pelan.


"Hmm pantes aja." Celetuknya.


"Pantes kenapa?" Dahi Elena pun mulai nampak mengkerut.


"Rasanya masih sangat kaku."


Elena pun seketika tersenyum dan kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa malu dengan hal itu.


"Tapi jujur, aku senang saat tau itu yang pertama bagimu."


"Kenapa senang? Kamu senang ngeliat aku malu?"


"Bukan, aku senang, karena aku orang pertama."


Elena pun perlahan kembali membuka wajahnya dan mulai menatap Biru.


"Ok sekarang giliran aku yang nanya!"


"Gimana dengan kamu? Apa kamu pernah melakukan itu sebelumnya?"


"Hmm males jawab ah, kamu ikut-ikutan! Apa gak ada pertanyaan lain."


Elena pun terdiam dengan wajah yang sedikit masam saat menatap Biru.


"Haiss, malah ngambek."


Namun Elena masih diam tanpa ekspresi.


"Hmm ya udah, ok, ok! Aku bakal jawab!"


Elena pun akhirnya kembali tersenyum, ia langsung melipat kedua tangannya di atas meja seolah begitu semangat ingin mendengar jawaban dari Biru.


"Ku yakin kamu bakal kecewa kalau udah denger jawabanku."


Mendengar hal itu, benar saja, raut wajah Elena nampak sedikit berubah,


"Ke,, kenapa? Apa itu artinya kamu udah pernah lakuin itu sebelumnya?"


"Hmmm." Biru pun mengangguk.


Elena pun seketika terdiam, meskipun ia tau itu masa lalu Biru, tapi entah kenapa rasanya tetap saja sakit saat membayangkan Biru mencium wanita lain.


"Duh, kenapa rasanya sakit banget ya, hmm apa ini artinya aku bener-bener sukak sama Biru? Apa mungkin aku jatuh cinta sama dia?" Gumam Elena dalam hati.

__ADS_1


"Jangan lupa kalau kamu sekarang sedang berada di kota besar Elena, sebagian besar orang akan menganggap wajar hal itu." Ungkap Biru.


Namun tak lama, Febby dan Bram tiba-tiba saja muncul di cafe itu, mereka yang tak sengaja melihat keberadaan Elena dan Biru, sontak langsung melangkah menghampiri mereka.


"Ow, hai Elena, Biru." Sapa Bram.


"Ka,, kalian? Kalian ngapain disini?" Tanya Biru yang nampak terkejut.


"Hmm, bukannya harusnya pertanyaan itu lebih cocok untuk kamu? Kamu ngapain disini, sama dia?" Tanya Febby yang lagi-lagi mulai menatap sinis ke arah Elena,


"Kami mau makan!" Jawab Biru singkat.


"Hmm baguslah, kita bisa gabung dan makan bareng kalau gitu." Ucap Febby yang tanpa ragu langsung duduk di kursi kosong yang ada di samping Biru.


Sedangkan Bram, ia memilih duduk di sisi Elena.


"Biru, kamu kenapa sih? Kamu kalau butuh temen makan, kamu kan bisa ngajak aku, aku siap kok nemeni kamu makan siang, makan malam, atau kapanpun kamu butuh." Ucap Febby sembari mulai mengusap-usap rambut Biru.


"Feb, apasih?" Biru pun mencoba menepis tangan Febby agar menjauh darinya.


"Hais, kamu yang kenapa? Biasanya kamu gak pernah keberatan kalau aku usap-usap rambut kamu kegini, kenapa di depan Elena kamu jadi berubah?"


"Hmm gue gak ikutan deh." Celetuk Bram yang memilih bersikap bodo amat sembari mulai meraih buku menu yang masih terletak di atas meja itu.


Elena pun hanya bisa terdiam memandangi tingkah Febby yang sebenarnya sangat menjengkelkan baginya.


"Sebenernya mereka berdua ini hubungannya gimana sih? Apa ada temenan tapi begitu?" Gumam Elena dalam hati yang merasa cemburu.


"Hmm ya udah kalian lanjut deh, gue dan Elena bakal pergi!" Ucap Biru yang seolah ingin langsung bangkit dari duduknya,


"Oh ya udah, aku numpang kalau gitu sampai ke kost,"


"Gue bawa motor, lo mau duduk dimana?!" Ketus Biru yang nampak tidak senang.


"Ya aku bonceng kamu dong Ru, dulu juga kamu sering kasi tumpangan ke aku, kost ku kan satu arah sama rumah kamu."


"Aku sama Elena!" Tegas Biru.


Febby pun nampak semakin tidak senang.


"Ru, kamu serius deketin cewek polos ini?" Bisik Febby,


"Lo udah siap kalau dia tau gimana sisi gelap lo? Gue yakin anak polos ini bakal ilfeel kalau dia tau kejelekan lo!" Ancam Febby.


Biru pun seketika terdiam dengan wajah yang semakin nampak tidak senang,


"Gimana Biru, kamu mau kan boncengin aku sampai kost?" Tanya Febby lagi yang kembali membelai lembut rambut Biru di hadapan Elena.


"Elena, kamu keluar duluan ya, tunggu aku di depan cafe."


"Ta,, tapi kenapa?" Tanya Elena yang masih merasa bingung.


"Please, cuma sebentar kok, aku gak bakal lama," Ucap Biru.


Elena pun terdiam sejenak dan mulai memasang raut wajah datar.


"Udah deh, sana keluar dulu, gue dan Biru mau ngomong hal yang lebih privasy dan serius!!" Ketus Febby.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Elena pun langsung bangkit dari duduknya, ia merasa cukup tidak senang dan langsung beranjak pergi keluar.


...Bersambung......


__ADS_2