
Menyadari jika Elena mulai merespon ciumannya, membuat Biru jadi semakin bergejolak hingga ciuman yang lembut, perlahan mulai berubah jadi menuntut. Lidah Biru seakan semakin liar berkelana di dalam rongga mulut Elena, jika dilihat dari bagaimana handalnya Biru saat melakukan itu, sudah bisa ketebak jika itu bukanlah hal baru lagi baginya.
Tubuh Elena perlahan mulai terbaring dengan Biru di atasnya. Sebelah tangan Biru mulai bergerak menuju lampu emergency yang tergantung di atasnya, lalu tanpa ragu mulai mematukan lampu itu.
Elena pun sedikit terkejut hingga seketika langsunf melepaskan tautan bibir mereka.
"Ke,, kenapa kamu matiin lampunya?" Tanya Elena polos.
"Orang-orang yang lagi diluar, bakal bisa liat bayangan kita dari dalam lagi ngapain kalau lampunya tetep idup. Kamu mau mereka tau?" Ucap Biru pelan.
"Oh gitu ya?"
"Hmm" Biru pun mengangguk sembari tersenyum.
Elena pun akhirnya mulai tertunduk karena malu.
"Kayaknya kamu udah mulai ada kemajuan." Celetuk Biru kemudian yang kembali membelai lembut pipi Elena, sembari terus menampilkan sebuah senyumannya yang khas.
"Ke,, kemajuan? Kemajuan apa?" Elena yang nampak tidak mengerti mulai mengerutkan dahinya.
"Ya, kamu mulai balas ciumanku, gak kayak ciuman kita yang sebelumnya." Jawab Biru yang semakin melebarkan senyumannya.
Elena pun lagi-lagi merasa malu.
"Apa terasa aneh? Kenapa kamu ketawa?" Tanya Elena lagi.
"Oh enggak! Justru aku suka yang ini, sekarang aku gak bergerak sendiri lagi."
Elena yang semakin tersipu malu pun akhirnya kembali menundukkan kepalanya. Namun Biru dengan cepat meraih dagu Elena agar membuat pandangan wanita itu bisa kembali sejajar dengannya.
"Kamu mau lanjutin ga?" Tanya Biru setengah berbisik.
Elena pun nampak tersenyum malu-malu tanpa mengeluarkan sepatah katapun, tapi saat melihat senyuman itu, tentu Biru paham dan mengartikan itu sebagai sebuah kesetujuan.
__ADS_1
Biru pun kembali melahap bibir Elena, mlumaattnya dengan penuh tuntutan hingga membuat Elena kembali terpejam saat menikmati hal baru yang mengasyikkan itu.
Biru kembali liar dan makin tak terkendali, wajahnya mulai turun menciumi leher hingga kembali pada perut Elena yang rata. Tak cukup sampai disana, secara perlahan, Biru semakin menaikkan baju kaosnya yang kala itu di pakai oleh Elena. Membuat baju kaos itu semakin naik, semakin naik, hingga akhirnya berhasil menampilkan bagian kewanitaan Elena yang beruba dua buah gundukan daging yang seolah terlihat begitu segar.
Tangan Biru yang mulai tak bisa ia kendalikan juga mulai liar, kini tangan itu mulai menyentuh gundukan daging itu, lalu perlahan mulai memainkannya hingga suara lenguhan Elena yang lembut pun sayup-sayup mulai terdengar.
Saat itu entah kenapa Elena tidak merasa ketukanan seperti sebelumnya, ia bahkan begitu menikmati moment itu, apalagi cuaca yang begitu dingin di tengah hujan, membuat hal itu jadi lebih mendukung.
Biru dengan kedua tangannya terus memainkan gundukan daging yang bahkan juga mirip seperti bola karet yang kenyal.
"Kamu gak keberatan dengan ini?" Tanya Biru pelan sembari kembali memandang wajah Elena yang kala itu terlihat mulai terengah. Elena pun terdiam sejenak sembari ikut menatapnya, lalu ia pun menggelengkan pelan kepalanya.
Biru pun tersenyum dan kembali mencium bibirnya, dengan kedua tangan yang kembali memainkan mainan baru yang seolah begitu menyenangkan itu.
"Aku cinta kamu Elena." Ucap Biru di sela-sela ciuman hangat mereka.
"Aku juga." Jawab Elena yang ikut tersenyum.
"Aku pengen banget nyentuh ini dengan lidahku. Apa boleh?" Bisik Biru sembari terus menyentuh gundukan daging milik Elena.
"Tapi gak bakal kulakuin kalau kamu gak bolehin." Tambah Biru lagi.
"Lakuin aja." Jawab Elena pelan.
"Ka,, kamu serius? Yakin kamu?" Tanya Biru lagi.
"Ak,, aku,,, aku pengen tau gimana rasanya." Jawab Elena.
Biru, ia hanya tersenyum singkat, dan tanpa berkata apapun lagi, ia kembali melahap bibir Elena, perlahan mulai membuka baju kaos yang saat itu masih dikenakan oleh Elena. Sebelah tangan Biru mulai merayap menuju punggung Elena untuk membuka pengait bra, agar ia bisa lebih leluasa dengan mainan barunya.
Awalnya Elena masih sedikit malu hingga masih menutupinya dengan kedua tangannya. Namun dengan lembut Biru menyingkirkan tangan Elena sembari berkata,
"Gak perlu ada yang kamu tutup-tutupi lagi Elena, kamu punyaku sekarang, dan aku punya kamu!" Bisik Biru.
__ADS_1
Dan ya, untuk pertama kalinya, Biru pun bisa melihat meski tidak terlalu jelas karena minim cahaya, ia bisa melihat bagaimana indahnya dua buah Gunung kembar milik Elena yang kala itu masih begitu kokoh berdiri meskipun tanpa penyangga.
Biru pun semakin bergejolak, sang pemilik juga sudah memberikan kuasa pada Biru untuk melakukan keinginannya. Tanpa pikir panjang lagi, Biru pun langsung menyerang kedua gundukan daging itu secara bergantian.
Hal itu membuat kepala Elena seketika mendongak, suara lenguhan juga semakin santer terdengar keluar dari mulutnya. Siapa sangka, Elena yang begitu polos, bisa mengeluarkan suara lenguhan yang terdengar begitu seksi di telinga Biru, hingga membuat gairah Biru semakin mencuat.
Perlakuan itu sungguh membuat Elena jadi tidak bisa diam, ia menggeliat merasa geli juga nikmat dalam waktu serentak.
Keduanya kini mulai kehilangan akal sehat mereka, situasi, cuaca, dan suhu dingin lah yang ikut serta berpartisipasi hingga membuat keduanya tak terkendali.
Tanpa sadar, kini keduanya bahkan sudah tidak memakai selembar pakaianpun, bahkan sehelai benang pun tak lagi terlihat ada menempel di tubuh mereka.
"Kamu yakin mau lanjutin?" Tanya Biru pelan,
Saat itu Elena yang sudah terlanjur terjebak oleh nafsu, hanya bisa mengangguk pelan dengan tatapan yang tak biasa.
Biru, ia pun mulai mengarahkan kepunyaannya menuju lubang surgawi Elena yang masih begitu sempit. Dengan perlahan mulai bergerak untuk mencoba memasukinya, namun di percobaan pertama, ia gagal, terlalu susah baginya untuk memasukkan hal lumayan besar, ke dalam lubang yang masih begitu kecil.
Elena pun menjerit seketika saat Biru pertama kali mencoba, hal itu membuat Biru cepat-cepat mendekap mulut Elena dengan tangannya.
"Kecilkan suaramu sayang, nanti ada yang denger."
"Ta,, tapi sakit banget," jawab Elena dengan air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja karena menahan sakit yang ternyata benar-benar sakit luar biasa bagi Elena.
"Ya, setauku memang gitu di awal, tapi selebihnya kamu gak bakal ngerasa sakit lagi."
"Beneran?" Tanya Elena polos.
"Setauku gitu, menurut pengalaman temen-temen perempuanku."
Elena pun menghela nafas panjang dan kembali mengangguk.
Biru pun kembali mencoba untuk kedua kali, ia pun terlihat begitu bersusah payah untuk melakukannya, karena ternyata hal seperti itu juga pertama kali baginya.
__ADS_1
...Bersambung......