Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Salah dugaan


__ADS_3

Totalnya ada 8 orang yang memenangkan tantangan surat cinta dari setiap satu kakak tingkat.


Para pemenang pun di bebaskan dari tantangan berikutnya dan dibebaskan dari aturan ospek selama masa tantangan berjalan, mereka bisa melakukan apa saja selama tidak menjalani tantangan, bahkan diperbolehkan kekantin atau bersantai di taman kampus.


Saat itu Elena memilih untuk pergi ke kantin, karena lagi-lagi dia tidak sempat sarapan sebelum pergi ke kampus karena buru-buru agar tidak terlambat lagi.


Dengan memesan nasi goreng dari kantin yang saat itu paling ramai saat itu, nasi goreng yang sama yang dimakannya kemarin, memang benar-benar enak. Elena terus melahap makanannya dengan semangat karena dia benar-benar lapar, namun tiba-tiba kedua matanya kembali membulat sempurna saat Biru tiba-tiba muncul dan berdiri di hadapannya.


"Hai." Sapa Biru sembari tersenyum.


Hal itu pun seketika membuat Elena tersedak hingga terbatuk-batuk.


"Uhukk,,uhukk,,," Elena yang terbatuk pun bergegas meraih tisu untuk menutup mulutnya


"Ow maaf, apa aku bikin kamu kaget?"


"Oh eng,, enggak kok kak." Jawab Elena dengan cepat.


"Boleh aku duduk disini?"


Elena pun mengangguk pelan. Biru pun langsung duduk dihadapannya, melihat Elena yang kembali memesan nasi goreng dari kantin yang sama, membuat Biru kembali tersenyum.


"Keliatannya kamu nagih sama nasi goreng yang ku bawa kemarin ya."


"Hehehe iya kak, enak." Jawab Elena sembari tersenyum.


Biru pun kembali tersenyum.


"Jadi,,,, nama kamu Elena?" Tanya Biru memastikan.


"Iya kak."


"Oww kita belum kenalan secara resmi," Biru pun langsung menjulurkan tangannya.


"Salam kenal Elena." Ucapnya kemudian.


Elena pun membalas jabatan tangan Biru dan kembali tersenyum malu.


"Oh lanjut lagi aja makannya, jangan sungkan." Ucap Biru saat Elena nampak kikuk sesaat.


"Kakak gak makan?"


"Enggak, aku cuma pesen minum doang, haus soalnya abis kena matahari pagi di lapangan tadi."


"Oh hehehe." Elena pun melanjutkan makannya.


Sedangkan Biru, kala itu masih diam sembari terus memandanginya dengan sebuah senyuman tipis,


"Ke,, kenapa liatin aku kegitu?" Tanya Elena yang mendadak jadi merasa gugup.


"Ah enggak, aku cuma masih gak abis pikir aja sama isi suratmu tadi."


"Oh iya, lagi-lagi makasih ya kak, kakak udah bikin aku menang."


"Kejujuranmu yang bikin kamu menang."

__ADS_1


"Tetap aja tadi itu kakak yang punya kuasa untuk nentuin pemenangnya."


"Hmm iya deh, sama-sama kalau gitu."


Elena lagi-lagi tersenyum.


"Tapi beneran cuma makasih doang ni?" Tanya Biru tiba-tiba.


"Hmm terus apa kak? Oh apa kakak mau ku traktir makan sekarang?" Tanya Elena menawarkan,


Elena memanglah dari desa, tapi di desa ia juga bukan orang yang kekurangan materi, bahkan keluarganya bisa dikatakan keluarga terpandang didesa, yang memiliki beberapa hektar sawah, juga memiliki peternakan sapi.


"Ah enggak, enggak! Bukan itu."


"Terus apa dong?"


"Imbalannya, aku mau kita temenan, kamu mau?" Tanya Biru.


"Temenan?"


"Hmm." Biru pun mengangguk.


"Boleh." Jawab Elena akhirnya, yang kembali tersenyum manis.


"Ok, mulai sekarang kita temenan ya, jadi kamu gak perlu manggil aku kakak lagi, ok."


"Ok kak." Elena pun mengangguk,


"Nah loh, masih aja panggil kakak."


"Nah gitu dong."


"Tapi emang bener-bener Biru berarti ya namanya?" Tanya Elena lagi.


"Sabiru! Namaku Sabiru." Jawab Biru.


"Bagus namanya," Celetuk Elena.


Tak lama minuman pesanan Biru pun datang dalam bentuk cup,


"Hmm minumanku sudah datang, kalau begitu aku harus balik ke lapangan."


"Balik ke lapangan??"


"Iya, kan masih harus ngospek."


"Ohh, ok." Jawab Elena yang entah kenapa sedikit kecewa saat Biru harus begitu cepat pergi saat ia merasa sedang asyik-asyiknya mengobrol.


Padahal mereka baru saja bertemu dan saling mengenal, tapi Elena merasa sudah begitu nyaman dengan Biru.


Siang hari...


Siang itu, di sekeliling lapangan basket mendadak terlihat ramai, Elena yang awalnya berniat pulang, harus menunda hal itu karena melihat banyaknya orang yang berkumpul di area basket.


"Ada apa itu?" Celetuk Elena yang penasaran.

__ADS_1


Elena pun bergegas menuju kerumunan, dan ternyata mereka semua sedang menonton pertandingan basket three on three atau tiga lawan tiga yang dimana ada Biru di salah satu tim.


"Hah, itu kan kak Biru." Celetuk Elena yang juga nampak begitu berbinar kala melihat bagaimana macho dan coolnya Biru saat memainkan bola basket.


"Bener-bener gak nyangka, selain ganteng dia juga jago banget main basketnya." Gumam Elena yang entah kenapa melihat biru saat itu jadi sepuluh kali lebih tampan dari sebelumnya, apalagi saat melihat bagaimana lelaki itu yang nampak begitu serius pada permainanya.


"Beruntung banget pasti perempuan yang jadi pacar kak Biru," Gumam Elena lagi yang terus tersenyum sembari menatap kagum ke arah Biru.


Saat Elena tiba, pertandingan itu sudah berjalan setengah permainan, hingga setengah jam berlalu, akhirnya pertandingan basket pun selesai dengan dimenangkan oleh tim Biru. Biru pun nampak tersenyum sembari melangkah tenang ke arah pinggir lapangan. Kala itu dahi Elena mendadak sedikit mengkerut saat melihat Febby yang langsung menghampiri Biru sembari memberikan air mineral dan handuk kecil untuknya.


"Kak Febby?? Hmm apa kak Febby pacarnya kak Biru? Mereka keliatan deket banget." Tanya Elena yang entah kenapa mulai terlihat sedikit murung menyaksikan hal itu.


"Ih aku kenapa sih? Masa cuma karena dia baik aku jadi langsung baper gini," Elena pun menghela nafas panjang, lalu langsung memilih untuk keluar dari kerumunan.


Dengan langkah pelan ia terus berjalan menuju pintu gerbang untuk keluar dari kampus. Kost Elena yang tidak terlalu jauh dari kampus pun membuatnya lebih suka berjalan kaki ketimbang harus naik angkutan umum.


Elena terus melangkah lesu di trotoar jalan, pikirannya mulai bercabang, tatapannya mulai kosong.


"Aku bener-bener memimpikan untuk kuliah dikampus bergengsi ini, dan itu udah terwujud sekarang, aku gak mau semuanya rusak cuma karena aku baper sama orang yang bahkan baru aku kenal." Gumam Elena lirih.


Namun disaat yang sama, seorang lelaki yang menaiki motor warrior dengan menggunakan helm full face tiba-tiba berhenti di tepi jalan, tepat di sisi Elena.


"Hei." Panggil lelaki itu.


Elena pun melirik aneh ke arah orang itu karena tidak mengenal siapa dia. Namun raut wajah Elena seketika berubah saat lelaki itu membuka kaca helmnya.


"Kok jalan?" Tanya lelaki yang tidak lain adalah Biru.


"Kak Biru?? Eh mak,, maksudku Biru."


"Iya, kamu gak kenalin aku tadi ya?"


"Gimana bisa ngenalin kalau pake helm full face gitu."


"Kamu kenapa jalan? Ini panas loh."


"Gak papa, kost ku deket kok."


"Oh kamu ngekost?"


"Iya, kan rumahku di kampung." Jawab Elena jujur.


"Hmm memangnya dimana kostmu? Mau ku anter?" Tanya Biru menawari.


"Memangnya kamu gak pulang bareng kak Febby?"


"Hah?! Febby? Kenapa aku harus pulang bareng dia?" Tanya Biru yang terlihat bingung.


"Bukannya kalian pacaran ya?"


"Hah?! Pacaran?? Hahaha." Biru pun nampak tertawa geli.


Hal itu sontak membuat Elena terdiam dan menatapnya dengan tatapan tak kalah bingung.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2