
"Wow Ruu, lo mau kemana? Gak gabung sama kita??" Tanya Bram yang sedikit berteriak.
"Gak ah, ribet lo semua!" Jawab Biru.
"Ru, ntar malem jangan lupa dateng ke party gue! Awas aja lo gak dateng!" Pekik Lita lagi saat Biru mulai melangkah pergi menjauh dari mereka.
"Skip! Kalian aja!" Jawab Biru yang terus melangkah tanpa menoleh ke arah teman-temannya lagi,
"Wah gilaa sih, Biru bener-bener udah berubah cuy, udah gak asik kayak dulu lagi." Celetuk Ame.
"Pasti gara-gara tu perempuan kampung yang sok baik dan sok suci!!" Ketus Febby yang terus memandangi sinis ke arah Biru dan Elena.
"Gue setuju sih, kayaknya Elena deh yang nyoba untuk ngerubah Biru, bener-bener payah!" Tambah Ame lagi.
"Cewek kampung itu gak tau aja gimana Biru sebelumnya!"
"Ihiyy kasi paham Febb, biar tau rasa tu cewek polos hahaha." Ame pun kembali tertawa.
Sepanjang jalan menuju gedung kampus, Biru nampak terus terdiam dengan wajah kesalnya.
"Maafin aku ya, gara-gara aku kamu jadi berjarak sama temen-temen kamu sendiri." Ucap Elena pelan.
"Enggak kok bukan salah kamu, lagian aku yang milih untuk deket sama kamu."
"Tapi, aku gak mau gara-gara aku kamu jadi di jauhin sama temen-temen kamu. Aku pinginnya walaupun kita pacaran, kamu tetep gabung aja sama temen-temen kamu, aku gak mau kamu juga malah nanti jadi bahan bullyan."
"Mana berani mereka ngebully aku!" Jawab Biru yang seketika mendengus pelan.
"Ya tetep aja Ruu,, aku gak mau kamu jadi gak ada temen,"
"Udah, ngapain kamu yang pusing sih??" Biru pun mengusap pipi Elena dengan lembut.
"Lagian kenapa kamu gak mau dateng ke acara party nanti malam?"
"Gak ah, mending aku bareng kamu aja."
"Kamu kan bisa aja dateng kesana bareng aku."
Mendengar hal itu, membuat Biru seketika terdiam sesaat.
"Ka,, kamu mau?" Dahi Biru kemudian nampak mulai mengkerut.
"Kenapa enggak?"
"Setelah mereka pada ngebully kamu??" Tanya Biru yang masih seolah tidak menyangka.
__ADS_1
"Aku gak ngerasa di bully kok, aku udah mulai biasa aja denger kata-kata kegitu. Lagian aku gak mau kamu jadi malah musuhan sama temen-temen kamu. Kamu baikin aja mereka, siapa tau dengan kegitu, aku akhirnya juga bisa temenan sama mereka dan gak bakal di bully lagi." Pujuk Elena.
"Ta,, tapi El partynya gakan cocok buat kamu,"
"Memangnya party yang kayak gimana?" Tanya Elena lembut.
"Yang jelas gak cocok sama kamu! Kamu gak bakal nyaman disana, percaya deh sama aku." Jawab Biru.
"Kenapa? Apa nanti disana ada minuman keras? Asap rokok? Atau musik dj yang keras?" Tanya Elena lagi.
"Hmm ya, kira-kira kegitu lah." Jawab Biru lesu.
"Aku gak keberatan, aku mau kita pergi kesana!" Ucap Elena santai.
"Hah?! Kamu serius?" Dahi Biru pun kembali mengkerut.
"Hmm." Elena pun mengangguk cepat sembari tersenyum.
"Lagi pula aku capek denger mereka ngatain aku polos! Aku capek jadi cewek polos!"
"El, kok ngomongnya gitu??"
"Kamu sayang aku kan?" Elena pun mulai menatap Biru dengan begitu serius.
"Ya udah, tolong kabulin permintaan aku, aku mau kita dateng keparty itu nanti malam."
"Hmm ok! Kalau itu yang kamu mau!" Biru pun menghela nafas singkat dan akhirnya setuju.
Malam hari...
Dengan masih memakai selembar handuk yang ia lilitkan di dadanya, Elena nampak begitu sibuk memilih-milih baju yang cocok untuk ia pakai di party malam ini.
"Aku gak boleh bikin Biru malu, aku harus dandan cantik malam ini." Gumam Elena dalam hati yang nampak begitu semangat memilih baju.
Elena pun menjatuhkan pilihan pada sebuah dress berwarna putih, memiliki lengan yang panjang sesiku, kerah yang tidak terlalu lebar, dan memiliki panjang selutut. Bagi Elena itu sudah merupakan dress terbaik yang ia punya kala itu, dress andalan yang hanya akan ia pakai saat moment penting saja.
Elena pun tersenyum sembari memandangi pantulan dirinya di cermin, memandangi bagaimana menawannya ia yang sudah mengenakan dress sederhana namun terasa begitu wah baginya.
Dengan semangat ia pun mulai memoles wajah cantiknya dengan bedak, memakai eyeliner agar membuat matanya jadi sedikit terlihat tajam.
Elena menghela nafasnya sembari terus tersenyum puas sesaat setelah ia menyelesaikan dandanannya. Disaat yang sama pula, ponselnya terderang berdering dan menampilkan nama Biru yang sudah ia ganti menjadi "Kesayanganku"
"Halo." Jawab Elena dengan cepat.
"Kamu udah siap? Aku udah di depan kost kamu."
__ADS_1
"Owhh, iya,, ak,, aku udah siap kok."
"Ya udah, aku tunggu di depan ya."
"Iya, aku turun sekarang." Jawab Elena.
Elena bergegas keluar dari kamar kostnya yang berada di lantai dua, melangkah cepat menuruni anak tangga seolah tidak sabar ingin bertemu dengan sang pujaan hati.
"Hei." Sapa Elena begitu tiba di depan pagar kostnya.
Biru pun terdiam sejenak memandangi penampilan Elena malam itu yang terlihat berbeda. Elena yang biasanya hanya sering memakai baju kaos dan celana jeans atau rok panjang, kini terlihat anggun saat memakai dress, walaupun dress yang ia pakai saat itu masih terkesan biasa saja dan tidak terlalu menonjolkan lekuk tubuhnya,
"Ke,, kenapa kamu liatin aku kegitu? Aku keliatan aneh ya?" Tanya Elena yang mendadak sedikit gugup.
"Owh, enggak kok, kamu cantik." Jawab Biru sembari tersenyum tipis.
"Serius??" Tanya Elena lagi.
"Iya, kamu pake apa aja juga cantik kok." Jawab Biru sembari mengusap singkat sebelah pipinya.
Hal itu pun seketika membuat Elena kembali tersenyum.
"Ya udah yuk, kita pergi sekarang?" Celetuk Biru sembari mulai menaiki motornya.
Elena pun mengangguk cepat dan langsung ikut naik.
Beberapa puluh menit berlalu, kini keduanya telah sampai di sebuah rumah mewah yang kala itu di halaman depannya sudah nampak begitu banyak kendaraan, baik motor maupun mobil yang terparkir.
Alunan musik DJ bahkan sudah terdengar nyaring hingga ke halaman depan,. Elena pun terdiam sejenak, ia tampak begitu terpaku memandangi rumah yang nampak begitu megah itu.
"Jadi ini rumah kak Lita?" Tanya Elena yang terus memandangi rumah mewah itu.
"Iya." Jawab Biru santai.
"Kamu yakin mau tetep masuk dan gabung sama mereka?" Tanya Biru lagi,
"Kok kamu nanyain itu lagi?"
"Ya gak papa, aku cuma takut kamu ngerasa gak nyaman denger musik keras kegini."
"Ini hal baru bagiku, aku juga pengen nikmati suasana kegini." Jawab Elena sembari tersenyum,
"Hmm ya udah." Biru pun kembali tersenyum, ia mulai menggenggam tangan Elena untuk membawanya masuk.
...Bersambung......
__ADS_1