Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Berubah


__ADS_3

"Maaf ya, kamu jadi ngerasain sakit kegini karena aku." Ucap Biru lirih.


"Bukan sepenuhnya salah kamu kok, aku juga yang salah." Jawab Elena sembari mulai menundukkan kepalanya.


"Kamu udah sadar sekarang, apa kamu nyesel dengan apa yang kita lakuin semalam?" Tanya Biru lembut.


"Enggak kok, nasi udah jadi bubur, gak ada yang perlu aku sesali."


"Selain sakit, apa yang kamu rasain sekarang?" Tanya Biru sembari mulai mengusap lembut pipi Elena.


"Aku ngerasa makin cinta sama kamu," Jawab Elena jujur.


Biru pun tersenyum dan memeluk Elena dengan hangat.


"Aku juga," jawab Biru.


Selang beberapa menit, tiba-tiba saja suara ketukan pada pintu kamar kost Elena terdengar, hal itu sontak membuat keduanya menoleh ke arah pintu dan terdiam sejenak.


"Siapa yang ngetuk pintu kamar kamu pagi-pagi gini?" Tanya Biru pelan sembari melepaskan tautan tubuh mereka.


"Gaktau, mungkin tukang laundry, dia biasa dateng untuk nganter pakaian dan ambil pakaian kotor aku." Jawab Elena dengan tenang sembari mulai bangkit dengan perlahan dari atas tempat tidur.


Saat itu tubuh Elena masih terbalut selimut, karena ia tidak memakai pakaian sehelai benang pun. Dengan cepat Elena meraih handuk kimono dan langsung memakainya. Lalu tanpa ragu langsung membuka pintu kamarnya dan mengeluarkan bagian kepalanya saja untuk melihat siapa yang datang.


Dan betapa terkejutnya Elena saat melihat dua orang yang kala itu sudah berdiri tegak di depan pintu kamarnya. Kedua matanya pun sontak membulat sempurna saat mendapati ibu dan ayahnya yang pagi-pagi sudah datang jauh-jauh dari desa.


"Ibu?? Bapak??" Ucap Elena saat terkejut,


"Kenapa kamu gak pernah mau angkat telepon ibu Elena??!!" Tanya Sri, ibu Elena yang kala itu menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


Kedatangan kedua orang tuanya itu benar-benar membuat Elena sontak jadi gelagapan, bagaimana tidak, saat itu Biru tengah berada di dalam kamarnya dan dalam keadaan yang masih belum memakai pakaian.


Hal itu pun membuat Elena seketika jadi panik dan bergegas keluar dari kamarnya sembari menutup rapat pintu kamarnya. Aksi itu tentu saja membuat kedua orang tuanya curiga, apalagi Elena sejak dulu adalah anak yang selalu jujur, maka ketika ia mulai menyembunyikan sesuatu, itu bisa langsung ketahuan oleh orang tuanya karena gelagatnya yang berbeda.


"Kamu kenapa keliatan gugup gitu? Apa yang kamu sembunyikan di dalam kamarmu?" Tanya Adi, ayah Elena.

__ADS_1


"Engg,, enggak ada pak." Jawab Elena gugup.


Sri dan Adi pun mulai memicingkan kedua matanya saat melihat gelagat aneh Elena dan mulai merasa curiga. Sri yang pembawaannya lebih keras dari pada Adi, sontak langsung memaksa ingin masuk ke kamar anaknya, meskipun awalnya Elena bersikeras menghalangi kedua orang tuanya itu, namun nampaknya hal itu tidak berhasil karena Sri tetap bersikeras memaksa masuk.


Kedua mata Sri pun seketika nampak mendelik begitu masuk ke dalam kamar Elena, matanya membesar kala mendapati seorang lelaki yang tengah bergegas mengenakan celananya.


"Siapa kamu??!!" Pekik Sri pada Biru dengan mata melotot.


Adi pun ikut masuk dan menampilkan reaksi yang sama, mereka benar-benar terkejut saat mendapati jika putrinya sudah berani membawa lelaki lain masuk ke dalam kamarnya.


Biru pun ikut terkejut, sama halnya seperti Elena, ia juga nampak gelagapan dan bingung. Elena yang tidak ingin orang tuanya memarahi Biru yang sangat ia cintai, dengan cepat kembali masuk ke kamarnya dan berdiri di hadapan kedua orang tuanya,


"Bu, tolong jangan marahi Biru, Biru gak salah!!" Tegas Elena.


"Gak salah apanya ha??!! Apa yang udah kalian lakukan di kamar berduaan??" Sri pun terlihat semakin naik pitam.


"Bu, pak, bisa kita bicara di luar, please!!" Elena dengan wajah memelas mulai menyatukan kedua telapak tangannya seolah tengah memohon pada kedua orang tuanya.


"Pleasee." Ucapnya lagi yang terdengar lirih.


Sri dan Adi pun terdiam sembari saling pandang, namun Elena langsung saja menarik tangan kedua orang tuanya dan membawa mereka keluar kamar sembari menutup rapat pintu kost itu.


"Maafin Elena pak, bu." Ucap Elena sembari mulai menundukkan kepalanya.


"Jadi bener??!!" Tanya Adi lagi yang semakin meninggikan suaranya.


"Elena cinta sama Biru pak, Biru laki-laki yang baik, dia selalu ngejaga Elena selama disini." Ungkap Elena yang mencoba melunakkan amarah kedua orang tuanya.


"Laki-laki baik macam apa yang berada satu kamar dengan perempuan tanpa memakai celana??!!" Ketus Sri.


"Dan ini, kamu tidak memakai baju, apa kalian sudah,..." kedua mata Sri kembali nampak membesar.


"Maafin Elena buk, tapi Elena udah dewasa dan berhak mencari kebahagiaan Elena sendiri buk!" Jawab Elena yang masih terus mencoba membela diri.


"Jadi kalian udah melakukan hubungan suami istri??!!

__ADS_1


"Maaf buk, ini hidup Elena, Elena berhak atas hidup Elena sendiri."


Sri dan Adi seketika terdiam, mereka benar-benar dibuat sangat tercengang melihat perubahan pada putri mereka yang berubah 180 derajat dari sebelum.


"Bapak kecewa sama kamu!! Tinggi sekali harapan bapak saat kuliahin kamu sampe kesini, tapi apa yang kamu buat?? Bukan malah fokus belajar, kamu malah sibuk pacaran dengan laki-laki gak jelas itu!!" Bentak Adi.


Saat itu Elena ikut terdiam dengan kedua matanya yang nampak mulai berkaca-kaca.


"Tolong jauhi laki-laki itu sekarang juga Elena! Dia jelas bawa pengaruh buruk untuk kamu! Ini bukan lagi Elena yang ibu kenal, Elena anak kami tidak pernah melawan orang tuanya seperti ini." Ucap Sri yang terlihat lirih.


"Maaf buk aku gak bisa, aku cinta sama Biru, kegitu juga sebaliknya! Ibu dan bapak gak tau sebaik apa Biru sama aku, selama ini aku sering dibully sama kakak kelas dan Biru yang lindungi aku dari mereka!"


"Jadi kamu beneran gak mau nurut lagi sama ibu dan bapak?" Tanya Sri yang seolah tidak menyangka.


"Kali ini Elena bener-bener minta maaf karena gak bisa ngikuti kemauan ibu sama bapak! Elena capek buk, Elena capek jadi orang yang harus ngikuti segala aturan dan kemauan ibu dan bapak. Elena udah jadi anak yang berbakti selama ini, tapi Elena gak pernah merasa bener-bener bahagia. Tapi semenjak kenal Biru, hidup Elena berubah, Biru bener-bener bisa bikin Elena bahagia dan ngasi dunia yang baru buat Elena, lebih berwarna." Ungkap Elena panjang lebar.


Namun ungkapan itu bukan malah meluluhkan hati kedua orang tuanya, mereka justru semakin merasa kecewa pada putri kebanggaan mereka itu.


"Bapak bener-bener malu punya anak seperti kamu!!" Ucap Adi dengan bibir bergetar.


"Elena ibu tanya sekali lagi, kamu yakin kali ini gak mau nurut sama ucapan ibu dan bapak?" Tanya Sri.


"Maaf bu." Jawab Elena pelan.


"Ya udah kalau gitu keputusanmu, itu berarti kamu udah siap dengan segala konsekuensinya! Termasuk dengan uang bulananmu, kami gak bakal ngirimin kamu uang bulanan lagi." Ancam Sri.


"Ya, gak papa, gak masalah." Jawab Elena pelan.


Sri pun mendengus pelan. Anak gadis kebanggaannya benar-benar sudah berubah dan itu membuatnya sangat sedih.


"Ya udah, selangkah kami pergi, itu berarti benar-benar gak akan ada lagi sepeser pun uang yang akan masuk ke rekeningmu!"


"Iya, gak papa." Ucap Elena pelan.


Sri yang sangat kecewa pun akhirnya langsung mengajak suaminya untuk langsung pulang, meninggalkan Elena yang masih berdiri terdiam memandangi kepergian mereka dengan tatapan lirih.

__ADS_1


Elena oh Elena, jatuh cinta ternyata benar-benar sudah mengubah hidup serta pandangannya, ia bahkan masih sama sekali tidak menyadari, jika perasaan cinta yang begitu menggebu pada Biru, itu adalah awal dari kehancuran hidupnya.


...Bersambung......


__ADS_2