Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
48


__ADS_3

Mata Arga seketika dibuat jadi begitu mendelik ketika mendengar Anna menyebutkan nama rumah sakit yang begitu familiar baginya. Bagaimana tidak, rumah sakit yang di maksud oleh Anna sejak tadi ternyata adalah rumah sakit milik keluarganya, sedangkan seseorang yang menjabat sebagai kepala rumah sakit itu adalah kerabat jauhnya.


“Hei, kenapa kamu jadi mendadak diam?” Suara Anna kembali terdengar dari balik telpon, hal itu pun sontak membuat lamunan singkat Arga seketika buyar.


“Oh tidak, tidak apa.”


“Lalu bagaimana?” Tanya Anna lagi.


Meskipun Arga adalah tipe orang yang sangat tidak suka repot, tapi entah kenapa, kali ini ia tetap mengiyakan permintaan Anna.


“Eem ok, serahkan padaku.” Ucap Arga dengan tenang.


Anna, seketika langsung tersenyum puas saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Arga, begitu sesuai dengan apa yang ia harapkan.


“Benarkah?”


“Eemmm.” Jawab Arga singkat sembari mengangguk.


“Aaa terima kasih, terima kasih banyak sudah mau menolongku.” Ucap Anna yang semakin melebarkan senyumannya.


“Hal itu bisa terjadi, karena kamu yang terlebih dulu bersedia untuk menolongku semalam.” Ungkap Arga yang ikut tersenyum tipis.


Saat itu Anna hanya terus tersenyum dan tidak menjawab lagi. Namun seolah belum puas dengan janji yang di ucapkan Arga tentang pernikahan tadi, membuat Anna ingin kembali memastikannya.


“Tapi, bagaimana dengan janjimu yang ingin menikahiku tadi, kamu sungguh-sungguh tidak sedang membual kan?”


Arga lagi-lagi harus mendengus dan tersenyum saat Anna kembali membahas masalah pernikahan, seketika ia kembali teringat saat tadi pagi Anna begitu tegas menolaknya.


“Sepertinya masih terngiang dengan sangat jelas di telingaku, bagaimana sebelumnya kamu mengatakan sangat tidak sudi menikah dengan pria asing. Lalu, kenapa sekarang seolah kamu yang jadi begitu menginginkannya?” Sindir Arga sembari terus tersenyum tanpa sepengetahuan Anna.


Sebuah sindiran yang di kemas Arga dengan sangat apik, kini nampaknya berhasil membuat Anna mulai kikuk dan sebenarnya ia merasa sangat malu pada saat itu. Tapi lagi-lagi wajah sinis Miska kembali terbayang begitu saja olehnya, membuat tekatnya kembali membulat hingga menyingkirkan rasa malunya dengan seketika.


“Sebelumnya memang begitu, tapi setelah di pikir-pikir lagi, sepertinya aku mulai berubah pikiran.” Jawab Anna yang sebenarnya tanpa sepengetahuan Arga dia juga sedikit cengengesan.


“Benarkah?” Tanya Arga yang mulai kembali tersenyum dari balik telpon, tanpa diketahui oleh Anna.


“Iya.”


“Tapi kenapa? Kenapa mendadak bisa berubah pikiran?” Arga nampaknya masih begitu penasaran dengan hal itu.


“Karena aku ingin menjadi nyonya CEO.” Jawab Anna dengan sangat jujur.


Hal itu begitu diinginkannya karena ia berpikir bahwa hanya dengan cara seperti itu lah dia akan bisa membalas Miska, orang yang telah mengatai dia dan juga ibunya sebagai wanita simpanan, di tambah pula saat ini Miska yang dengan tak berperasaannya, meminta pihak rumah sakit untuk mengeluarkan ibunya begitu saja tanpa memikirkan keselamatan jiwa sang ibu.


Dan bukan hanya itu, saat bisa menikah dengan seorang Arga Widjaya, maka secara otomatis pula nama baik ia dan ibunya bisa kembali terangkat bahkan bisa menjadi orang yang sangat terpandang dan disegani di kota itu.


Namun, sepertinya pemikiran seperti itu hanya lah berlaku bagi Anna, tapi tentu tidak bagi Arga. Mendengar jawaban jujur dari Anna, justru membuat Arga berpikir jika Anna nyatanya tak lebih dari seorang wanita yang matrealistis.


“Oh, jadi dia berubah pikiran dan mau menikah denganku hanya karena sudah mengetahui siapa aku? Emm, ternyata dia pun sama saja dengan perempuan-perempuan matrealistis di luar sana.” Gumam Arga dalam hati yang mulai merasa kecewa pada Anna.


Arga, yang awalnya merasa tertarik pada Anna yang secara visual memang lah sangat menawan, kini mendadak berubah menjadi cuek dan dingin.


“Jadi hanya karena itu?” Tanya Arga lagi yang kembali bernada datar.


“Eemm.” Jawab Anna pelan sembari mengangguk singkat.


“Gelar nyonya CEO bisa saja ku berikan padamu dengan cara menikahimu, tapi, aku tidak akan bisa memberi lebih dari pada itu.” Tegas Arga.


“Lebih dari pada itu? Misalnya?” Tanya Anna yang nampak bingung.


“Misalnya perasaan!” Tegas Arga lagi yang sudah terlanjur merasa kecewa di awal.


“Oh itu, eemm tidak masalah. Lalu, bagaimana juga dengan janjimu yang ingin memberiku uang sebesar satu Milyar semalam?” Anna kembali bertanya tentang uang tanpa ragu.


Anna berani menanyakan hal semacam itu bukan lah karena ia tak tau malu, bukan juga karena tak punya harga diri, bahkan bukan pula karena ia wanita yang matrealistis, melainkan karena keadaan mendesak lah yang membuatnya jadi berani. Saat itu ia berpikir, jika ia tidak akan bisa membantu ibunya mengganti ginjal secepatnya jika tanpa uang-uang itu, dan itulah satu-satunya alasan yang membuatnya rela menebalkan mukanya di hadapan Arga Widjaya.


Tapi bagi Arga, pertanyaannya yang seperti itu justru semakin membuatnya mengira jika Anna benar-benar wanita mata duitan yang dalam otaknya hanya berisikan uang, uang, dan uang, hingga membuatnya jadi semakin bertambah kesal.


“Wanita ini, benar-benar wanita mata duitan ternyata. Pantas saja ia rela berhubungan badan denganku meski kami tidak saling mengenal, bahkan meski saat itu ia juga ternyata masih perawan, namun akhirnya aku tau ternyata semua hanya demi uang dan gelar.” Gumam Arga dalam hati.


“Apa kau memang sangat butuh uang?!” Tanya Arga kemudian.


“Iya!” Tegas Anna dengan cepat.


Arga pun terdiam sejenak.


“Jujur saja, saat ini aku memang sedang membutuhkan banyak uang, alasannya tidak lain dan tidak bukan karena ibuku. Ibuku harus di operasi transplantasi ginjal secepatnya, maka dari itu memang butuh biaya besar.” Jelas Anna lagi yang berinisiatif menjelaskan hal itu meski Arga tak meminta penjelasannya.


Dan nampaknya, penjelasan Anna kali ini telah berhasil membuat Arga kembali tertegun dan mulai merasa jika ia telah salah paham pada Anna.


“Oh jadi begitu, kurasa aku sudah salah paham dengannya.” Pikir Arga.


“Dan kamu tenang saja, selain gelar nyonya CEO dan uang 1 Milyar itu, aku tidak ingin hal apapun lagi, kamu tidak perlu memberiku nafkah selama aku menjadi istrimu kelak, karena aku bisa saja menghidupi diriku sendiri.” Jelas Anna lagi.


Hal itu pun membuat Arga jadi terdiam sejenak. tetapi sayangnya, Arga sudah terlanjur mengira bahwa Anna adalah cewek matre yang hanya menginginkan hartanya, jadi entah kenapa, begitu sulit baginya untuk percaya begitu saja dengan ucapan Anna yang mengatakan takkan meminta nafkah setelah menikah.


"Entah itu kamu katakan dengan sungguh-sungguh atau hanya modus, tapi ku sarankan, sebaiknya kamu memang benar-benar bisa menepati semua perkataan yang telah kamu ucapkan padaku barusan, karena jika tidak, kamu tau aku bisa melakukan apapun!” Tegas Arga yang seolah memberitahu pada Anna tentang bagaimana kekuasaannya.

__ADS_1


Perkataan sekaligus penegasan Arga itu, nampaknya cukup membuat Anna merasa tersinggung dan jadi kesal, karena ia merasa jika Arga kurang mempercayainya bahkan telah mengancamnya.


“Hei, jadi kamu tidak yakin pada ucapanku? Apa kamu menganggap jika aku hanya membual? Begitu ha? Haais, kau ini ya, benar-benar menyebalkan! Dasar pria tua yang jelek!!” Ketus Anna yang langsung meluapkan emosinya tanpa berpikir panjang hingga kemudian langsung mematikan sambungan telponnya.


Anna untuk kedua kalinya kembali memarahi Arga tanpa ada rasa segan dan takut sedikit pun, saat itu ia seolah lupa siapa Arga di kota itu. Sementara Arga, lagi-lagi ia di buat tercengang saat Anna kembali memarahinya.


“Hah?! Lagi-lagi dia berani memarahiku??” Tanya Arga dalam hati yang seolah tak menyangka jika saat itu ada seorang wanita yang berani melakukan hal itu padanya.


Arga yang terus memandangi ponselnya yang sudah tak tersambung pada Anna, sontak mendengus dan menggelengkan kepalanya karena masih sulit percaya.


“Bahkan dia juga berani menyebutku pria tua yang jelek??!!!” Gumam Arga yang mulai menggeram seorang diri sembari terus melototi ponselnya seolah ponsel itu ia anggap sebagai Anna.


“Haaiss, benar-benar kelewatan, sepertinya dia sungguh perlu diberi pelajaran?!” Ketus Arga lagi sembari mulai mengecakkan pinggangnya.


Tapi entah kenapa, meski dalam keadaan marah, namun Arga justru tiba-tiba kembali terbayang moment semalam, moment disaat ia menikmati tubuh Anna di atas ranjangnya yang sangat sempit. Saat itu ia melihat Anna menangis seperti menahan rasa sakit, tapi karena ia sedang dalam pengaruh obat, membuatnya tidak terlalu fokus pada air mata Anna, melainkan hanya fokus pada kenikmatan yang ia rasakan melalui tubuh Anna.


“Ah tidak, aku akan menjadi orang yang sangat kejam jika membiarkannya terus dalam masalah.” Pikir Arga kemudian.


Kembali membayangkan hal itu, cukup membuat rasa kesal Arga sedikit mereda, hingga ia tetap memutuskan untuk tetap membantu Anna dalam menyelesaikan semua masalah yang tengah ia hadapi. Arga kembali meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi seseorang,


Sementara saat itu, Anna masih sangat frustasi karena belum juga mendapat jalan keluar yang pasti untuk masalah yang kini sedang ia hadapi.


“Maaf mba, anda sudah tidak punya waktu lagi, mohon segera kemasi seluruh barang bawaan anda dan carilah rumah sakit terdekat yang lain mba.” Tegas pegawai yang di tugaskan untuk mengusir Anna dan ibunya.


“Tolong berikan waktu beberapa menit lagi mba, saya mohon. Saya sedang menunggu keputusan dari seseorang.” Rengek Anna yang nampak begitu memelas.


“Tapi mba, saya juga di perintah oleh orang yang berkuasa disini.”


“Tapi lihat lah ibu saya juga masih sangat lemah! Apa kalian sungguh tidak punya hati nurani?!”


Pegawai rumah sakit itu pun terdiam sejenak sembari memandang ke arah Irene, ia benar-benar berada dalam situasi yang sangat membingungkan. Bagaimana tidak, hati nuraninya sangat tidak tega saat harus mengusir Anna dan ibunya yang sedang sakit, tapi lagi-lagi perintah dari seseorang yang berkuasa lah yang memang harus ia dengar agar ia bisa tetap dipekerjakan di rumah sakit itu.


Irene, saat itu terus memandang sendu ke arah putri semata wayangnya yang kala itu terlihat begitu memperjuangkannya, membuatnya merasa bersalah atas semua yang telah terjadi selama ini.


“Maafkan ibu nak, kamu begitu memperjuangkan ibu, sedangkan ibu, dulu ibu begitu kejam ingin menggugurkanmu.” Gumam Irene dalam hati.


Akhirnya, Irene pun berusaha untuk bangkit dari tidurnya, ia terduduk lesu, lalu meraih tangan Anna yang saat itu terlihat masih bersitegang dengan pegawai rumah sakit.


“Sudah lah nak, ibu tidak apa-apa, sebaiknya kita pergi saja, itu lebih terhormat dari pada kita harus memelas dan memohon pada mereka yang sudah pasti tidak akan merubah lagi keputusannya.” Ucap Irene dengan lembut.


“Tapi bu…”


“Tolong kali ini turuti saja!” Tegas Irene yang dengan susah payah mulai beranjak dari atas tempat tidur.


Mendengar hal itu, membuat Anna terlihat semakin tak karuan, ia terus berjalan mondar-mandir sembari menggigiti kuku ibu jarinya.


“Maaf mba, sudah tidak ada waktu lagi mba. Tolong pergi sekarang!"


“Baik, kami akan pergi!” Jawab Anna yang kemudian langsung mengemasi barangnya, dan memapah ibunya untuk berjalan keluar dari ruangannya.


“Benar-benar tidak punya hati!! semua orang kaya nampaknya sama saja, selalu menindas yang miskin!!” Gumam Anna dalam hati yang terus berusaha menahan tetesan air matanya agar tidak jatuh di hadapan ibunya.


Miska, yang menyaksikan itu dari atas balkon, terus tersenyum puas ke arah Anna dan Irene.


“Sudah ku katakan, kau tidak akan bisa menang melawanku!” Ketus Miska dalam hati sembari terus tersenyum sinis menatap Anna.


Sementara Anna, saat itu hanya bisa diam, ia terus menatap Miska dengan tatapannya yang begitu tajam, api kemarahan semakin nyata dan marak berkobar, kini tekatnya untuk balas dendam pun semakin membulat.


“Demi tuhan aku akan membalasmu wanita iblis!” Tegas Anna dalam hati.


Irene, saat itu masih sangat lemah, baru berjalan beberapa langkah saja sudah membuat tubuhnya mulai berkeringat dingin dan pandangannya pun kembali berkunang-kunang. Langkah kaki Irene pun semakin melambat, semakin melambat, hingga akhirnya ia pun kembali pingsan dan jatuh dalam dekapan Anna.


Anna pun begitu dibuat terkejut saat tubuh ibunya ambruk begitu saja di sisinya, membuatnya semakin panik dan berteriak meminta tolong. Tapi entah kenapa saat itu, sama sekali tidak ada ada orang yang berani menolongnya, karena sebelumnya mereka telah mendapat ancaman dari Miska.


“Tolong!! Siapa pun, aku mohon tolong ibuku!” Teriak Anna lagi.


Namun tetap tak di gubris dan hanya menjadi tontonan belaka. Membuat Anna semakin murka, tapi saat itu ia sama sekali tak bisa melakukan apapun selain berusaha memapah tubuh ibunya yang jadi 10 kali lebih berat ketika ia pingsan.


Namun kejadian memilukan bagi Anna dan ibunya itu tampaknya hanya berlangsung dalam waktu kurang dari sepuluh menit saja.


Setelahnya, saat baru beberapa meter mereka melangkah keluar dari kamar, mereka tiba-tiba saja diundang untuk masuk kembali oleh sekelompok Dokter.


“Maaf mba, anda di panggil oleh para dokter ke ruangan yang ada di atas.” Ucap salah satu pegawai rumah sakit saat berhasil menghentikan langkah Anna sembari membawa sebuah kursi roda untuk membawa ibunya.


“Mau apa lagi?!” Ketus Anna yang sudah terlanjur emosi.


“Saya juga tidak tau pasti mba, tapi mereka bilanga ini penting. Ayo mba, biar saya bantu.” Pegawai rumah sakit itu pun bersigap membantu Anna untuk mendudukkan Irene di kursi roda.


Anna pun terdiam sejenak dan kembali memandangi sang ibu yang telah terkulai tak sadarkan diri.


“Mari mba, ikuti saya.” Ucap pegawai itu lagi dengan sangat ramah sembari mulai mendorong kursi roda yang membawa ibunya.


Melihat hal itu, Miska pun mulai mengerutkan dahinya, dan bertanya-tanya ada apa gerangan.


“Ada apa ini? Kenapa mereka di bawa ke atas? Mau kemana?” Tanya Miska dalam hati.


Anna dan ibunya pun masuk ke dalam sebuah ruangan, seperti ruang kerja pribadi, namun ada beberapa sofa di dalamnya. Di dalamnya, sudah ada beberapa Dokter yang menyambut kedatangan Anna dan ibunya dengan sangat ramah dan mempersilahkan Anna untuk duduk.

__ADS_1


“Ada apa? Kenapa kami kembali di tahan saat sudah ingin pergi?” Tanya Anna datar.


“Atas perbuatan salah satu oknum yang sangat tidak menyenangkan itu, kami sekumpulan para Dokter dan mewakili pihak rumah sakit, sungguh sangat meminta maaf pada mba Anna dan juga ibu Irene.”


“Minta maaf? Kalian begitu mudah meminta maaf setelah melakukan hal memalukan ini pada kami, dan sekarang lihat, ibuku sampai pingsan lagi!” Ketus Anna yang masih nampak sangat tidak senang.


“Iya mba, kami sangat paham, maka dari itu, sebagai permohonan maaf, kami akan memberikan kamar VVIP pada ibu Irene selama ia menjalani perawatan disini,”


Anna pun terdiam sejenak sembari mulai berpikir.


“Kenapa tiba-tiba bisa begini? Apa semua ini ada campur tangan Arga Widjaya di dalamnya?” Tanya Anna dalam hati.


Tak lama, Wakil kepala rumah sakit pun hadir dan memasuki ruangan dengan terlihat tergesa-gesa. Menyadari Anna dan ibunya sudah berada di dalam ruangan itu, membuatnya tampak sedikit lega.


“Ah syukur lah kalian bisa menahannya.” Celetuk wakil kepala pada seluruh Dokter.


Wakil kepala pun langsung duduk di hadapan Anna dan Irene sembari menyapa mereka dengan sangat ramah.


“Halo selamat siang mba Anna, perkenalkan saya Anton, wakil kepala rumah sakit.” Ucap Anton saat memperkenalkan dirinya.


Anna pun hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


“Jadi kami sungguh sangat minta maaf atas semua kejadian memalukan yang baru kalian alami, bukan hanya memberikan kamar VVIP, sebagai tanda permintaan maaf, kami juga akan membantu ibu Irene mencari ginjal yang cocok.” Jelas wakil kepala rumah sakit.


“Benarkah begitu?” Tanya Anna memastikan.


“Benar mba Anna, bahkan saya sendiri lah yang nantinya akan membantu untuk operasi transplantasi ginjal tersebut.”


Mendengar hal itu, membuat Anna seketika jadi meneteskan air mata karena begitu terharu dan juga merasa sangat lega, sembari mulai menganggukkan pelan kepalanya sebagai tanda setuju.


Irene pun akhirnya tersadar, dengan perlahan mulai membuka mata, lalu memandangi sosok yang terlihat samar-samar ada di hadapannya.


“Ibu, ibu sudah siuman?” Tanya Anna yang langsung meraih tangan ibunya.


Sosok yang sejak tadi masih terlihat samar dimatanya, kini semakin jelas terlihat hingga membuat Irene mulai tersenyum tipis.


“Kamu masih disini?” Tanya Irene pelan.


“Tentu saja aku masih disini, lalu kemana lagi aku akan pergi saat keadaan ibu seperti ini?”


“Bukankah kamu harus bekerja nak?”


Mendengar hal itu seketika membuat Anna tertegun, dan mulai menundukkan pandangannya.


“Ada apa? Kenapa reaksimu jadi melesu saat ibu bertanya?”


“Tidak apa bu, sepertinya hari ini aku ambil libur saja.” Jawab Anna yang kembali menampilkan senyumannya.


“Haais, lagi-lagi ibu harus menyusahkanmu, maafkan ibu ya, tapi saat ini ibu merasa sudah baik-baik saja, jadi kamu bisa pergi bekerja, tidak perlu cuti hanya karena ibu.” Ucap Irene lirih.


“Tidak bu, aku sama sekali tidak merasa kesusahan kok hehehe.” Anna pun semakin mengembangkan senyumannya agar ibunya tidak merasa cemas lagi.


Tapi, seolah baru menyadari satu hal yang berbeda, mata Irene kini mulai melirik kesana kemari dengan raut wajahnya yang seperti kebingungan karena melihat bahwa lingkungan disekitarnya kini telah berubah drastis.


“Dimana kita nak? Kenapa kita bisa pindah ke kamar yang begitu mewah seperti ini?”


Anna pun ikut memandangi kembali seluruh sudut ruangan yang nampak begitu lega dan sangat mewah dengan wajahnya yang sumringah.


“Bagaimana? Apa ibu merasa nyaman di kamar rawat ibu yang baru ini?” Anna pun kembali menatap ibunya dengan senyuman.


“Iya, ta,, tapi kita dimana? Dan,, bagaimana bisa??” Tanya Irene yang kelihatannya masih sangat bingung.


“Kita masih berada di rumah sakit yang sama, hanya kamarnya saja yang berbeda bu, saat ini ibu bisa menjalani perawatan dengan tenang di kamar VVIP ini..”


“Ya ampun, tapi nak, kamu seharusnya tidak perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk membayar kamar sebagus ini nak. Alangkah lebih baik jika uang lebihmu, kamu tabung untuk dirimu sendiri agar bisa sedikit menikmati hidup.”


“Haaisss, siapa bilang aku mengeluarkan banyak uang bu? Semua ini memang sudah di siapkan oleh calon menantu ibu.” Jelas Anna yang mencoba untuk menghibur ibunya agar tidak perlu mengkhawatirkan lagi masalah uang.


Mendengar penuturan putri semata wayangnya itu, membuat mata Irene jadi sedikit terbelalak karena terkejut, namun juga dibuat semakin bingung.


“Calon menantu??! Apa maksudnya itu Annabella?”


Anna pun tersenyum lagi, dengan raut wajahnya yang terlihat kikuk.


“Iya bu, jadi ada seseorang yang akan menikahiku dan bersedia membantuku untuk membayar semua biaya perawatan ibu selama disini,” Jelas Anna secara singkat.


“Hah?! Tapi sejak kapan kamu punya pacar? Kenapa ibu tidak pernah mengetahui hal itu?”


“Tidak bu, dia bukan pacarku, aku bahkan baru mengenalnya semalam, tapi aku tau jika dia memanglah seseorang yang sangat kaya raya bu.” Jawab Anna polos dan begitu sesuai dengan fakta.


Alih-alih merasa senang saat mendengar hal itu, Irene justru berpikir jika putrinya itu pasti sudah tertipu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, mengingat jaman sekarang sudah terlalu banyak kasus penipuan demi mencari keuntungan sepihak.


“Astaga nak, kenapa kamu ceroboh sekali? Sudah pasti lelaki itu telah menipumu. Lelaki mana yang baru kenal semalam terus langsung ingin mengajak menikah hah?! Dan apa kamu sudah tau latar belakangnya, apa kamu yakin dia sungguh lelaki lajang? Ibu tidak mau kamu mengalami nasib serupa dengan ibu!” Irene pun terus mengomel namun dengan suaranya yang begitu pelan.


Anna pun hanya tersenyum saat ibunya terus mengomelinya seolah tanpa jeda, lalu ia pun memutuskan untuk kembali menghubungi Arga di depan sang ibu,


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2