Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
43


__ADS_3

"Mana yang sakit ha? Kasi tau aku mana yang sakit." Ucap Biru sembari memegangi hampir ke sekujur tubuh Elena.


"Aku gak papa." Jawab Elena pelan.


"Gak papa gimana? Jelas-jelas kamu kesakitan."


"Aku gak papa, tapi tolong kamu jangan gitu lagi, aku takut." Elena pun menatap sendu wajah Biru.


"Maafin aku ya, aku minta maaf, aku gak sengaja nyakitin kamu." Biru pun langsung memeluk hangat tubuh Elena begitu saja, seolah sebelumnya tidak terjadi masalah apapun antara dia dan Elena.


"Ka,, kamu beneran gak marah lagi sama aku?" Tanya Elena yang merasa sedikit bingung dengan berubahan sikap Biru yang terkesan begitu cepat.


"Enggak." Jawab Biru sembari menggelengkan pelan kepalanya.


"Maafin aku ya, aku gak maksud nyembunyiin ini semua dari kamu, aku cuma gak mau ngerepotin kamu dengan masalahku." Ungkap Elena lirih.


Biru pun menghela nafas pelan dan kemudian ia pun hanya mengangguk.


"Ya udah gak papa." Jawabnya kemudian.


"Liat tangan kamu, sampe berdarah gini." Elena pun langsung meraih tangan Biru yang terlihat sedikit membengkak dan berdarah.


"Aaghh." Biru pun meringis pelan.


"Aku obati luka kamu dulu ya." Elena pun langsung bangkit dari duduknya.


Tak lama ia pun kembali ke tempat dimana awalnya ia terduduk dengan sudah membawa wadah yang berisikan air hangat dan selembar handuk kecil.


"Tangan kamu bengkak, harus di kompres dulu pake air hangat," ucap Elena pelan sembari mulai membersihkan darahnya terlebih dulu.


"Kamu kenapa sih harus mukulin tembok kegitu? Liat nih tangan kamu, kan jadi gini. Kalau kamu marah sama aku, kamu pukul aku aja, dari pada tangan kamu jadi gini karena mukulin tembok." Keluh Elena lembut sembari terus mengobati tangan Biru.


"Mending mukul tembok dari pada mukul kamu! Semarah apapun aku ke kamu, aku gak akan sanggup mukul kamu."


"Please ya kamu jangan gini lagi, aku takut liat kamu marah sampe kegitu,"


"Maaf ya aku udah bikin kamu takut, aku bener-bener emosi tadi."


"Aku juga minta maaf karena gak jujur sama kamu."


Elena pun selesai mengobati tangan Biru.


"Sekarang aku mau kamu cerita semuanya sama aku, kamu ada masalah apa sebenernya? Kenapa tiba-tiba kamu harus kerja part time? Tadi Jonas bilang kamu terdesak uang, kenapa memangnya?" Tanya Biru yang merasa masih penasaran.


"Sebenernya,,,," Elena pun perlahan mulai menundukkan kepalanya.


"Kenapa sayang? Ada masalah apa sebenernya?" Tanya Biru lagi yang nampak tidak sabar.


"Orang tuaku, hmm orang tuaku berenti kirimin uang bulanan sama aku." Ungkap Elena akhirnya dengan sedikit ragu-ragu,


"Hah?! Serius?? Dari kapan?" Biru pun nampak terkejut.


"Dari semenjak ibu dan bapak datang kesini dan mergoki kita yang lagi berduaan di kamar." Jawab Elena pelan.


"Kejadian itu udah cukup lama dan kamu sama sekali gak ngasi tau aku??!! Kenapa El?? Kenapa kamu gak cerita dari awal sama aku?"


"Maaf, tapi situasinya kemarin lagi gak tepat, lagian waktu itu kamu milih langsung mutusin aku dan kita gak ketemu beberapa hari kan?" Jawab Elena yang mencoba membela diri.


"Astaga Elena, ternyata banyak banget hal yang kamu tutupi dari aku ya selama ini. Segitu gak yakinnya ya kamu sama aku?"


"Enggak sayang, gak gitu! Aku gak cerita karena kemarin kamu juga lagi banyak masalah kan, terutama masalah dengan papa kamu. Jadi aku gak mau nambah pikiran kamu dengan masalahku." Jelas Elena,


Biru pun akhirnya terdiam.


"Dan sekarang uang sisa kiriman ibu bapak udah mulai menipis, dan kost juga sebentar lagi masuk bayaran baru, makanya aku mutusin cari kerja part time." Tambah Elena lagi.


Biru pun langsung menghela nafas saat mendengarnya.


"Maafin aku ya El, gara-gara aku hidup kamu jadi berantakan gini. Ini sebenarnya yang paling aku takutin El, ini yang kemaren coba aku hindari, makanya aku pilih pisah dari kamu." Ungkap Biru lirih.


"Enggak! Kamu jangan pernah berpikir untuk ngulangi hal itu lagi Biru!! Aku gak mau!! Aku gak mau pisah sama kamu, cuma kamu yang aku punya sekarang, please jangan!"


"Hei, tenang! Aku gak bakal ninggalin kamu kok." Jawab Biru sembari mulai meraih kedua pipi Elena.


"Kamu janji?" Tanya Elena dengan tatapan sendu.


"Aku janji." Biru pun mengangguk pelan.


Elena pun langsung memeluk hangat tubuh Biru.


"Aku bisa ngadapi masalah apapun, asal bukan kehilangan kamu. Aku gak mau kamu ninggalin aku." Ungkap Elena.


"Iya, aku janji kita bakal selalu sama-sama, ya?"

__ADS_1


Elena pun hanya mengangguk pelan saat itu.


Dua hari kemudian...


Kedua mata Manof seketika mendelik saat mendengar pernyataan Biru, anak tunggalnya.


"Kamu mau ngekost??!!"


"Iya pa." Jawab Biru.


"Tapi kenapa tiba-tiba mau ngekost disaat orang tua kamu punya rumah yang sangat layak untuk kamu tinggali."


"Aku mau cari kost yang jaraknya lebih deket dengan kampus, biar aku gak telat terus. Lagian papa juga udah nikah, dan jujur aku masih butuh lebih banyak waktu untuk menerima semua ini, jadi tolong izinin aku ngekost untuk nenangin diri."


"Kamu yakin?"


"Yakin pa!" Jawab Biru.


"Hmm ya udah kalau emang itu maumu."


Biru pun mengangguk singkat.


"Memangnya kamu mau ngekost dimana? Berapa uang bulanan yang kamu perlukan?"


"Aku masih mau cari kost yang cocok, tapi kalau bisa aku mau kost eksekutif biar aku nyaman. Dan mengenai bulanan, terserah papa aja, tapi setidaknya naikin sedikit dari bulananku yang biasa, karena aku harus bayar kost."


"Hmm ok. Sebentar lagi papa transfer ke rekening kamu ya."


"Makasih pa." Biru pun akhirnya tersenyum tipis.


Keesokan harinya...


Malam itu Biru nampak sudah menunggu Elena di depan cafe tempat ia bekerja. Tak lama Elena pun keluar sembari mengusap-usap tengkuknya karena merasa sedikit pegal akibat bekerja seharian,


"Hai." Sapa Biru sembari tersenyum.


Elena pun tersenyum dan langsung melajukan langkahnya.


"Lama ya nunggu disini?" Tanya Elena.


"Enggak kok." Jawab Biru sembari tersenyum.


"Ya udah yuk." Elena pun langsung naik ke atas motor Biru.


"Udah sayang, kamu?"


"Udah juga."


"Ya udah, kita langsung balik ke kost kalau gitu." Ucap Elena yang kembali tersenyum.


"Enggak, aku mau bawa kamu ke suatu tempat dulu sebelum balik ke kost."


"Oh ya? Kemana sayang?"


"Nanti juga kamu tau." Jawab Biru sembari semakin menambah kecepatan pada motornya.


Beberapa menit berlalu, kini motor Biru akhirnya berhenti di depan sebuah kost'an elit, sama-sama masih di sekitar kampus hanya saja berbeda arah dari kost milik Elena.


"Kost'an?? Kost'an siapa ini sayang? Temen kamu ya?" Tanya Elena sembari mulai turun dari motor.


"Bukan." Jawab Biru dengan tenang sembari ikut turun dari motornya.


Tak lama seorang lelaki tua yang bertugas sebagai tukang bersih-bersih di kost itu pun muncul menyambut kedatangan Biru.


"Mas yang sebelumnya nelpon mau cek kost-kost'an ya?" Tanya lelaki tua itu.


"Iya pak." Biru pun mengangguk.


"Oh mari, ikut saya." Pak tua itu pun langsung menuntun langkah Biru.


"Ayo." Ucap Biru pelan sembari memegang tangan Elena.


Elena yang saat itu masih sedikit bingung hanya bisa terus diam dan mengikuti langkah mereka.


"Kost'an yang masih kosong cuma ada di lantai dua, lantai satu sudah full semua mas." Jelas pak tua itu.


"Gak masalah pak, dimana aja yang penting cocok." Jawab Biru santai.


Tiba di lantai dua, pak tua itu pun membuka salah satu pintu kamar,


"Ini mas, cuma kamar jni yang tersisa yang kasurnya sesuai keinginan mas. Ada dua kamar lagi yang kosong tapi kasurnya lebih kecil dari ini." Jelas pak tua itu.


Biru pun langsung masuk ke dalam kamar kost yang berukuran lebih luas dari kamar kost'-an Elena dan ya, tempat tidurnya juga jauh lebih besar. Biru pun tersenyum sembari melirik ke arah Elena.

__ADS_1


"Gimana sayang, kamu sukak gak kamar ini?"


"Suka, kamarnya besar, memangnya untuk siapa sih?" Tanya Elena yang masih penasaran.


"Ya udah pak, saya ambil yang ini aja."


"Baik mas. Kapan mau masuk?"


"Kemungkinan besok." Jawab Biru.


"Baik mas, untuk mengenai pembayaran, masnya langsung transfer aja ya ke rekening yang punya kost, karena saya cuma bertugas bersih-bersih aja disini. Nanti saya kasi nomor rekeningnya."


"Sekarang aja pak saya transfernya."


"Oh baik."


Setelah menyelesaikan pembayaran, pak tua itu pun langsung menyerahkan kunci kamar kost itu pada Biru.


"Tapi disini beneran bebas kan pak?"


"Bebas mas, yang penting jangan bikin keributan."


"Baik pak, makasi."


Pak tua itu pun pergi meninggalkan Biru dan Elena yang kala itu masih berada di dalam kamar kost itu.


"Jadi kamu yang mau ngekost disini ya?? Tapi kenapa?? Kamu berantem lagi sama papa kamu??" Tanya Elena yang masih belum mengerti maksud Biru.


"Bukan cuma aku, tapi kita." Jawab Biru sembari langsung merangkul mesra Elena.


"Hah?! Kita?!" Elena pun terkejut namun juga masih terlihat sedikit bingung.


"Ya, semenjak aku tau kamu gak dikirimin uang bulanan lagi, dan kost kamu juga udah mau jatuh tempo, saat itu juga aku mulai mikirin semua ini."


"Ja,,, jadi maksud kamu..."


"Iya, kita bakal ngekost disini bareng-bareng, kamu gak perlu pusing lagi mikirin biaya kost, karena aku yang bakal handle."


Elena yang merasa terharu seketika langsung memeluk hangat tubuh Biru dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aaaa sayang, kamu kenapa baik banget sih sama aku?" Ucap Elena.


"Aku ngerasa kalau aku memang harus tanggung jawab atas kamu sekarang. Kamu jangan khawatir lagi ya, kita bakal sama-sama terus mulai sekarang." Ucap Biru yang terus mengusap lembut punggung Elena.


"Makasi ya sayang, makasi udah jadi pacar yang perhatian banget sama aku. Aku sayang banget sama kamu, sayang banget." Ungkap Elena.


"Jangan pernah raguin aku lagi ya, apapun itu bakal aku usahain buat kamu. Intinya aku gak mau kamu main rahasia-rahasiaan lagi sama aku,"


"Iya aku janji mulai sekarang bakal selalu terbuka sama kamu."


Biru pun tersenyum sembari makin mengeratkan pelukannya pada Elena, begitu juga Elena yang juga membalas pelukan lelaki tercintanya dengan tak kalah erat.


Biru dan Elena akhirnya resmi tinggal bersama di sebuah kost'an eksekutif yang lebih elit dibanding kost milik Elena sebelumnya. Saat itu Elena benar-benar semakin dibuat yakin, jika lelaki yang kini berada disisinya itu adalah lelaki terbaik yang pernah ia temui. Elena bahkan tidak pernah menyesal dengan apa saja yang telah mereka lakukan bersama, terutama saat memberikan keperawanannya pada Biru yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta,


Saat itu Biru benar-benar menyiapkan semuanya untuk Elena, bahkan ia yang sebelumnya tidak pernah pergi untuk belanja bulanan, kini mau tak mau harus bersedia melakukannya demi Elena.


Bukan hanya itu, layaknya seperti suami istri, mereka pun kini jadi lebih leluasa dalam melakukan hubungan ranjang bahkan lebih sering dari sebelumnya. Elena benar-benar sudah 100 persen keluar dari dirinya yang dulu, dimana dulu Elena masih begitu polos dan takut akan banyak hal terutama berhubungan dengan lelaki.


1 Bulan kemudian...


Elena mulai cemas saat menyadari jika dirinya sudah tidak kedatangan tamu bulanan sejak 2 Minggu setelah seharusnya ia memasuki priode datang bulan. Bukan hanya itu saja, gejala-gejala aneh pun perlahan mulai ia rasakan hingga membuatnya semakin cemas. Elena yang biasanya begitu menyukai aroma teh melati, mendadak jadi sangat benci dengan aroma itu dan selalu ingin muntah setiap kali ia membuat teh melati. Bahkan Elena juga sering merasa mual di pagi hari dan kehilangan nafsu makannya.


"Gimana kalau aku beneran hamil?" Gumam Elena dalam hati sembari mulai menggigiti ibu jarinya.


Kebetulan, tepat di seberang cafe tempatnya bekerja, ada sebuah apotek, ia pun mencari alasan pada beberapa rekan kerjanya agar bisa izin sebentar untuk membeli test pack di apotek tersebut.


Tak tanggung-tanggung, Elena pun membeli tiga test pack sekaligus dengan merk yang berbeda-beda, lalu ia sembunyikan di dalam tasnya tanpa berniat ingin memberitau pada Biru lebih dulu.


Keesokan paginya,,,


Elena perlahan terbangun dari tidurnya, sembari melirik ke arah jam dinding yang tergantung tepat di hadapannya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi, saat itu Biru bahkan masih nampak terlelap sembari memeluknya dari belakang.


Dengan gerakan pelan, Elena pun mulai turun dari tempat tidurnya, ia mengambil salah satu test pack dan membawanya ke dalam toilet.


Beberapa menit kemudian, sebuah garis berwarna merah gelap perlahan muncul saat ia sudah mencelupkan ujung test pack itu ke dalam urinenya. Namun tak lama, sebuah garis merah satu lagi perlahan juga nampak muncul hingga seketika membuat jemari tangan Elena yang kala itu masih memegang test pack itu gemetaran.


"Gak, gak mungkin aku hamil." Ucapnya yang mulai panik dan masih gemetaran,


Elena pun dengan cepat membuang test pack itu ke dalam closet, lalu menyiramnya dengan air hingga test pack itu pun lenyap. Seolah tidak percaya dengan hasil pertama, Elena pun berusaha menenangkan dirinya dan meyakinkan dirinya sendiri jika test pack itu bisa saja keliru.


"Bakal aku coba lagi besok." Celetuknya pelan.


Dan keesokan harinya, hasil yang sama dari test pack dengan merk yang berbeda pun seketika membuat Elena terdiam membeku, bagaimana tidak, sudah dua kali percobaan dan hasilnya sama. Masih merasa belum puas hati, Elena pun mengambil sisa test pack terakhir dan langsung mencelupkan ujungnya pada urinenya pagi itu. Dan ya, dua buah garis merah pun kembali muncul hingga membuat Elena seketika melemas.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2