Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Lolos


__ADS_3

Tidak sampai lima menit, Biru pun kembali keluar dari ruangan itu dengan membawa selembar kertas yang sudah dihiasi oleh sebuah tanda tangan dari Dekan bahkan disertai juga dengan stempelnya.


"Ini." Ucap Biru sembari memberikan selembar kertas itu pada Elena.


Hal itu kembali membuat Elena jadi begitu tercengang.


"Ini ambil, kok malah diem aja?" Ujar Biru lagi.


Elena pun meraih kertas itu sembari terus memandanginya seolah masih tidak menyangka jika Biru bisa mendapatkan tanda tangan Dekan secepat itu.


"Ka,,, kamu..." Elena nampaknya masih terbata-bata.


"Kamu bisa langsung lolos kalau ngasi kertas itu sama temen-temenku sekarang. Dan kamu gak perlu bicara apapun soal ini, hanya kita yang tau!" Jelas Biru dengan tenang.


Namun tak lama seseorang pun keluar dari ruangan itu, seorang lelaki paruh baya berkaca mata, rambut disisir klimis dan memiliki tubuh tegap. Dengan wajah datarnya ia pun berdiri di depan pintu memandangi Elena dari ujung kaki hingga rambut.


Elena yang menyadari hal itu sontak langsung gelagapan, namun hebatnya ia masih sanggup langsung menyalami lelaki yang dikenal bernama Manof Dirgantara yang tak lain ialah Dekan yang baru saja menandatangani selembar kertas untuk Elena,


"Siapa nama kamu?" Tanya Manof dengan raut wajah datar.


"Elena pak." Jawab Elena sembari menundukkan kepalanya karena takut.


"Elena?? Elena Dwicahya?"


Elena pun mengangguk sembari melirik ragu wajah dingin lelaki itu.


"Jadi kamu orangnya?"


"Maaf pak, maksudnya?" Tanya Elena yang nampak begitu bingung.


Begitu pula dengan Biru yang kala itu mulai mengerutkan dahinya.


"Kamu mahasiswa baru yang masuk jalur prestasi kan? Yang dapat beasiswa?"


"Oh Iy,, iya pak."


"Wah, selain cantik, ternyata dia juga pintar, benee-bener paket lengkap." Gumam Biru dalam hati sembari mulai tersenyum saat memandangi Elena.


Manof yang menyadari ekspresi Biru yang tidak biasa baginya, sontak menepuk pundak anaknya sembari memandang ke arah Elena.


"Kalau begitu Elena, tolong fokus pada kuliahmu ya, kalau bisa jangan dulu mikirin cinta-cintaan, belajar yang rajin, supaya kamu bisa terus dapat beasiswa sampe lulus. Karena biaya kuliah disini itu sama sekali tidak murah." Ungkap Manof seolah tengah menasehati Elena, juga sembari menyindir Biru.

__ADS_1


"Iya pak, terima kasih banyak ya pak nasehatnya." Elena pun mengangguk patuh sembari tersenyum.


"Ok, kalau begitu saya duluan ya." Ucap Manof yang kemudian langsung beranjak pergi.


Biru pun seketika langsung mendengus pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Elena.


"Ow, enggak, aku gak papa." Jawab Biru cepat.


"Hmm ternyata pak Dekan gak segalak yang aku pikirin sebelumnya," celetuk Elena.


"Makanya jangan suka ngejudge orang sebelum kamu kenal langsung sama orangnya." Jawab Biru dengan lembut sembari mengusap singkat ujung kepala Elena lalu kemudian langsung beranjak pergi begitu saja.


"Hei, ka,, kamu mau kemana?"


"Mau balik ke kantin, buruan kasi kertas itu sama Febby, mereka juga ada di kantin sekarang!" Jawab Biru santai sembari terus melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Elena.


Sikap Biru yang seperti itu, benae-benar membuat Elena semakin merasa kagum padanya, bahkan mungkin perasaan kagum itu perlahan berubah menjadi suka.


Biru dengan santainya kembali ke kantin dan duduk bergabung bersama teman-temannya sembari memesan sebuah minuman es capuccino. Selang lima menit kemudian, Elena pun datang menghampiri mereka dengan nafas sedikit ngos-ngosan karena dia habis berlari untuk bisa dengan cepat tiba di kantin itu.


"Elena, ngapain lo malah kesini ha? Disini gak ada dosen yang lo cari!" Ucap Febby yang langsung menatap sinis.


"What???!!" Ujarnya yang nampak begitu terkejut.


"Kenapa sih?" Tanya Ame yang langsung mengambil alih kertas itu.


"Hah?! Lo serius ini bisa dapetin tanda tangan Dekan??" Tanya Ame yang juga nampak terkejut.


"Hah?! Tanda tangan Dekan? Mana coba liat?" Bram yang tak kalah penasaran pun ikut merebut kertas itu.


"Wahh, ini beneran tanda tangan pak Dekan, bahkan ada stempelnya juga." Celetuk Bram.


Febby pun kembali menatap Elena dengan raut wajah yang tidak biasa.


"Gimana bisa lo dapet tanda tangan pak Dekan??" Tanya Febby.


"Pak Dekan tau saya mahasiswa baru yang masuk lewat jalur prestasi, mungkin karena itu pak Dekan mau tanda tangan." Jawab Elena yang jelas berbohong.


Namun kebohongan itu nyatanya begitu disukai oleh Biru sehingga membuatnya tersenyum.

__ADS_1


"Masa? Kok gue gak percaya ya?" Febby pun mulai bangkit perlahan dari duduknya.


Lalu ia pun mulai menatap Biru yang kala itu terus tersenyum saat menatap Elena.


"Hmm jangan bilang lo yang bantu dia Ru?!"


Mendengar hal itu, Biru pun sontak menatap Febby dengan dahi mengkerut.


"Kok gue? Lo semua juga tau seberapa malasnya gue berurusan sama orang itu! Apalagi cuma karena urusan yang bukan urusan gue!" Jawab Biru yang mengelak namun dengan sikapnya yang terlihat tenang.


Biru pun meraih kertas itu dan menatapnya singkat.


"Tanda tangan ini Valid!" Ucapnya datar dan kembali meletakkan kertas itu di meja.


Biru pun kemudian bangkit dari duduknya dan kembali menatap ke arah Elena yang kala itu masih diam memandangi mereka.


"Selamat ya Elena, kamu mahasiswa pertama yang lolos di tantangan ini, sampai ketemu di acara pembubaran ospek nanti malam." Ucap Biru yang kemudian berlalu pergi dengan membawa cup minumannya.


Febby dan yang lainnya pun terdiam, mau tak mau ia pun harus mengakui jika Elena kembali menang di tantangan itu, bahkan menjadi orang pertama yang lolos, yang artinya ia akan di nobatkan menjadi ratu ospek dan akan mendapat perlakuan istimewa.


Malam hari yang cerah...


Cuaca malam itu sangat cerah tak berawan, itu terbukti dari banyaknya taburan bintang di langit yang bisa terlihat dengan mata telanjang. Malam itu ada banyak mahasiswa baru yang gagal pada tantangan terakhir hingga mereka harus menjalani hukuman untuk merakit tenda-tenda, membuat api unggun juga harus membakar semua ayam dan ikan yang sudah tersedia.


Sementara Elena, ia bahkan mendapat tenda secara khusus untuk dirinya sendiri tanpa harus bergabung dengan mahasiswa baru, hal itu merupakan salah satu dari keistimewaannya karena berhasil menjadi ratu ospek, juga ia sama sekali tidak perlu membantu apapun di kegiatan malam itu.


Acara pembubaran ospek malam itu berlalu dengan begitu seru, mereka bernyanyi sembari mengelilingi api unggu, makan-makan, bahkan beberapa kakak tingkat juga ternyata membawa minuman anggur sebagai penghangat tubuh mereka malam itu.


"Elena, kamu mau anggur?" Tanya Bram menawari.


"Enggak kak, aku gak minum!" Jawab Elena lembut.


"Hais, bener-bener polos kamu ya!" Celetuk Bram.


"Hmm dia gak minum karena dia belum tau aja gimana efeknya." Celetuk Febby sembari meraih botol anggur itu sembari langsung meneguknya tanpa ragu.


"Ini Ru, kamu belum minum dari tadi!" Ucap Febby menawari Biru.


"Enggak deh." Jawab Biru yang langsung menggelenkan kepalanya,


"Loh kenapa? Biasanya kamu gak pernah nolak loh dengan minuman ini?"

__ADS_1


Mendengar hal itu Elena pun langsung terdiam memandangi Biru.


...Bersambung......


__ADS_2