
"Kenapa? Apa karena kamu kebanyakan minum?" Tanya Elena yang seolah tidak mengerti.
"Bukan!"
"Terus?"
"Kamu tau gak, bagi laki-laki yang udah terlanjur horny, kalau gak tercapai itu bisa bikin sakit kepala sampe ke ubun-ubun." Jelas Biru.
Elena pun nampak sedikit tercengang.
"Ha?!! Beneran sampe gitu?"
Biru pun mengangguk.
"Maafin aku Biru, ak,, aku beneran.."
"Udah gak papa, aku bisa tahan kok asalkan gak ngerusak kamu."
Elena pun seketika tersenyum dengan perasaan haru, tanpa malu, ia pun akhirnya memeluk Biru dengan hangat.
"Makasih banyak ya, makasih kamu udah ngerti keadaan aku."
"Sama-sama." Jawab Biru pelan.
Ke esokan harinya...
Pagi itu, Elena terbangun dan langsung dikejutkan oleh sosok lelaki yang kala itu tengah memeluk erat tubuhnya dari belakang. Elena pun bergegas bangkit dari tidurnya dan melirik ke arah Biru yang kala itu terlihat masih tidur dengan sangat lelap.
"Astaga!! Kenapa aku bisa ketiduran disini?" Gumam Elena yang merasa panik.
Elena pun meraih sebuah jam Beker kecil yang ada di atas nakas, saat itu jam ternyata sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi.
"Ya ampun udah pagi!" Elena pun nampak semakin panik dan bergegas meraih jaketnya yang terletak di atas nakas.
"Hmm ada apa?" Tanya Biru yang baru saja terbangun.
"Kenapa kamu biarin aku ketiduran disini?" Tanya Elena.
"Maaf, tapi kurasa kita berdua sama-sama ketiduran." Jawab Biru dengan tenang sembari perlahan mulai bangkit dari tidurnya.
Saat itu Elena memilih diam dan langsung memakai jaketnya.
"Jam berapa ini?"
"Setengah enam." Jawab Elena.
__ADS_1
"Kamu mau pulang ke kost sekarang?"
"Iya."
"Ok, biar aku anter ya?"
Elena pun kembali menoleh ke arah Biru yang kala itu masih terduduk di atas ranjang, ia terdiam sejenak hingga akhirnya ia pun mengangguk tanda setuju.
Beberapa menit berlalu, Biru pun mulai melajukan motornya untuk mengantarkan Elena ke kost. Itu pertama kalinya Elena tidur di tempat orang lain, apalagi saat itu ia tertidur bersama Biru, mereka tidur di ranjang yang sama bahkan dengan berpelukan. Hal itu lah yang membuat Elena jadi merasa panik, bahkan saking paniknya ia sama sekali tidak ada mengecek ponselnya sejak bangun tadi.
Lebih malangnya lagi, Elena bahkan lupa jika saat itu ia meninggalkan seorang lelaki di dalam kamar kost miliknya. Ia meninggalkan Tama begitu saja tanpa pemberitahuan apapun.
Udara pagi itu terasa sangat sejuk, Biru yang begitu pengertian pun langsung meraih satu persatu tangan Elena lalu memasukkan tangan itu ke dalam saku sweeter yang kala itu tengah ia pakai. Hal sederhana namun terkesan manis itu pun akhirnya kembali membuat Elena tersenyum, ia pun mulai memeluk tubuh Biru dengan begitu erat tanpa ada rasa canggung lagi.
"Boleh aku minta satu hal?" Tanya Elena di tengah perjalanan.
"Kamu boleh minta apa aja!"
"Aku mau kamu balik ke rumah, papa kamu khawatir."
"Kamu tau dari mana?"
"Aku denger waktu dia ngobrol sama Jonas, dia nyariin kamu." Jawab Elena.
Biru pun kembali terdiam.
"Ya udah!" Jawab Biru akhirnya.
"Kamu serius?" Elena pun seketika nampak sumringah.
"Iya, demi kamu!"
"Janji ya abis nganterin aku, kamu beneran pulang ke rumah?!"
"Aku janji."
Elena pun merasa semakin senang saat Biru mau mendengarkan ucapannya, ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada Biru sembari terus tersenyum.
Beberapa menit berlalu, kini motor gede Biru pun berhenti tepat di depan pagar kostan Elena. Namun tak berapa lama, hal mengejutkan pun terjadi, Tama, tiba-tiba nampak keluar dari kostan dan memergoki Elena yang baru saja turun dari motor Biru.
"Elena??" Tama pun nampak syok.
"Ta,, tama??" Begitu juga Elena yang tidak kalah terkejut saat mendapati Tama yang sudah berdiri di hadapannya.
Elena yang seketika jadi gelagapan pun langsung melangkah cepat menghampiri Tama.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini El??"
"Ta,, Tama, aku bisa jelasin! Namanya Biru, dia butuh bantuanku untuk,,,"
"Disaat tengah malam??" Ketus Tama yang seolah masih tidak menyangka dengan perbuatan Elena.
"Ta,, Tama tolong jangan marah dulu, bisa kita bicara baik-baik di dalam? Please??" Elena pun nampak sedikit memelas.
Sedangkan saat itu, Biru hanya nampak terdiam memandang sendu ke arah keduanya.
"Aku ingat, dia laki-laki yang berantem sama temennya karena game itu, iya kan? Kamu ada hubungan apa sama dia? Kamu bahkan gak pulang lagi ke kost, apa yang kamu buat semalaman sama laki-laki itu?"
"Ak,, aku,,, aku enggak.."
"Oh ya tuhan, aku bener-bener gak nyangka El, sumpah aku gak nyangka." Tama pun mulai mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ta,, tama, tolong bicarakan ini baik-baik." Pujuk Elena lagi.
"Enggak! gak ada yang bisa dibicarain lagi, aku bener-bener kecewa sama kamu El, kamu bukan lagi Elena yang kukenal polos, kehidupan di kota bener-bener secepat ini ngerubah kamu." Keluh Tama yang akhirnya langsung melangkah cepat menuju mobilnya.
"Tama, tolong jangan pergi dulu, aku minta maaf, aku sebenernya mau ngomongin ini dari jauh hari, tapi...."
"Aku gak bisa bayangin gimana kecewanya orang tua kamu kalau mereka tau hal ini El." Ucap Tama sebelum ia menjalankan mobilnya.
"Tama please.." Kedua mata Elena pun mulai nampak berkaca.
Namun Tama yang sudah begitu kecewa, sama sekali tidak menggubris apapun yang diucapkan oleh Elena, ia pun langsung saja melajukan mobilnya dan meninggalkan kost-kostan itu. Elena pun terdiam dengan air mata yang mulai menetes, tubuhnya sedikit gemeteran karena syok.
Biru yang melihat hal itu pun bergegas turun dari motornya untuk menghampiri Elena.
"El.." Panggilnya pelan.
"Kamu pulang aja Biru, aku pengen sendiri!" Ucap Elena pelan sembari langsung melangkah lesu memasuki gedung kost'annya.
Biru pun hanya bisa terdiam memandangi sendu punggung Elena yang semakin menjauh darinya, tak ingin memaksanya, ia pun akhirnya kembali menuju motornya dan langsung pulang.
Hari itu Elena memilih untuk terus mengurung diri di dalam kamar kostnya, perasaannya kacau, ia takut dan juga cemas. Ia kacau bukan karena hubungannya dengan Tama jadi berakhir, tapi ia lebih memikirkan bagaimana jika Tama mengatakan hal itu pada kedua orang tuanya.
Perasaan yang kalut membuat Elena benar-benar tidak semangat berkuliah hari itu. Elena yang sebelumnya memiliki banyak visi untuk masa depannya, kini perlahan hal itu seolah ia lupakan semenjak ia mengenal cinta dan Biru.
Biru terus mencari keberadaan Elena di kampus, namun sayangnya ia sama sekali tidak menemukan sosok wanita yang ia cintai itu.
"Apa dia tidak kuliah hari ini? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi?" Tanya Biru dalam hati.
Biru pun mencoba untuk menelpon Elena, dekat dengannya selama beberapa hari, tentu saja ia sudah memiliki nomor gadis itu. Tapi sepertinya saat itu Elena benar-benar seolah tidak ingin di ganggu hingga ia langsung mereject panggilan Biru.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak mau bicara sama aku?" Tanya Biru melalui sebuah pesan.
...Bersambung......