Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Menghindari gosip


__ADS_3

"Kenapa malah ketawa?" Tanya Elena polos.


"Habisnya kamu mikirnya gitu hahaha, siapa juga yang mau pacaran sama perempuan galak kayak Febby hahaha." Biru pun kembali terkekeh.


Elena pun mendadak tersenyum, entah kenapa perasaa senang tiba-tiba muncul begitu saja saat mengetahui fakta itu."


"Jadi kamu dan kak Febby gak pacaran?"


"Ya enggak lah!" Tegas Biru.


"Ayo naik, aku anter kamu pulang."


"Ta,, tapi..."


"Kenapa lagi?"


"Tapi mungkin kamu memang udah punya pacar dan itu bukan kak Febby. Aku takut pacar kamu marah dan salah paham kalau kamu antar aku pulang."


"Gak ada yang bakalan marah Elena!" Jawab Biru dengan lembut.


"Kamu gak punya pacar?" Tanya Elena memastikan.


Biru pun menggeleng sembari tersenyum.


"Hah?! Serius?? Mustahil!" Elena pun seolah tidak percaya.


Dalam benaknya, mana mungkin lelaki sekeren dan sepopuler biru bisa tidak punya pacar, bahkan di kampus mereka ada banyak sekali wanita cantik yang tak kalah populer dan berkelas.


"Dih malah gak percaya, hmm ya udah. Intinya kamu mau aku anter atau enggak?" Tanya Biru lagi.


Elena pun terdiam sejenak.


"Udah, ayo buruan naik, panas banget nih." Tambah Biru lagi yang seolah tidak sabar.


Dengan sedikit langkah ragu, akhirnya Elena pun mulai naik ke atas motor gede milik Biru, memastikan Elena sudah duduk dengan aman di boncengannya, ia pun kembali menancap gas motornya, membuat suara gahar pada motornya kembali terdengar nyaring di jalanan kota yang padat merayap.


Elena meminta Biru untuk berhenti saat mereka tiba di depan sebuah kost-kostan eksekutif, kedua orang tua Elena nampaknya benar-benar ingin membuat anak mereka tetap merasa nyaman meski berada jauh dari rumah.


"Jadi kamu ngekost di kosan elit ini?" Tanya Biru sembari melirik ke arah bangunan kost yang bertingkat.


Elena pun mengangguk sembari tersenyum.


"Makasi banyak ya kak. Dan maaf, bukannya aku gak mau menawari kakak untuk mampir, ta,,, tapi..."


"Hmm ya it's ok, beberapa kost memang punya peraturan ketat yang gak bolehin orang sembarangan kayak aku gini untuk masuk."

__ADS_1


"Oh bukan, kost ini bebas kok, cuma lagi aku yang...." Elena pun sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Oh ya, ya, ya. I see, kamu pasti takut ya?. Ya gak papa, kamu memang wajib waspada sama orang baru, apalagi saat kamu jauh dari keluarga dan tinggal di kota besar seperti ini."


"Makasi udah ngerti kak, sekali lagi maaf ya kak."


"Sejujurnya aku kecewa Elena." Ucap Biru tiba-tiba.


Elena pun terdiam dan mengira jika Biru merasa kecewa karena tidak ditawari masuk ke kostnya.


"Ke,, kecewa?" Tanya Elena yang raut wajahnya nampak mulai berubah.


"Ya, aku kecewa karena kamu masih aja manggil aku dengan sebutan kakak!"


"Oh hehehe jadi karena itu? Hmm iya maaf Biru."


Biru pun akhirnya kembali menampilkan senyuman manisnya.


"Ok, kalau begitu aku pamit, sampai ketemu besok Elena."


"Hati-hati dijalan, Biru,"


Biru pun kembali melajukan motornya, meninggalkan Elena yang masih berdiri terpaku memandangi kepergian lelaki yang lagi-lagi kembali menolongnya.


Malam hari...


Malam itu, ponsel Biru mendadak berbunyi riuh seolah tak henti, bunyi itu dari notifikasi grup whatsapp yang kala itu tengah ramai obrolan yang mengajak Biru untuk ikut bergabung di acara ulang tahun salah satu teman kampus mereka.


"Aku lagi males kemana-mana malam ini." Balas Biru.


"Ayolah Biru, lo gak asyik banget sih," Sahut Bram.


"Please dateng dong ru, gak ada lo gak rame!" Pujuk Ame menimpali.


"Hmm mungkin biru sedang sibuk dengan mahasiswa baru itu guys." Jawab Febby yang menambahkan emoticon senyum yang seakan tengah menyindirnya.


Dahi Biru pun sontak sedikit mengkerut saat membaca pesan itu.


"Hah?! Mahasiswa mana yang lo maksud Feb? Kok gue belum ada denger kabar terbaru nih." Timpal Ame lagi.


"Jangan bilang mahasiswa baru yang namanya Elena!! Please jangan bilang!!" Jawab Bram.


Dan setelahnya keadaan di dalam grup whatsapp pun nampak semakin tidak kondusif karena begitu banyak yang merespon ucapan Febby yang membuat Biru sedikit merasa risih. Tak ingin pembahasan itu berlanjut, akhirnya mau tidak mau Biru pun setuju untuk datang.


"Ok fine, gue kesana sekarang!!! Puas lo semua!" Jawabnya kemudian,

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Biru akhirnya muncul di sebuah rumah, rumah salah satu temannya yang sedang mengadakan party ulang tahun. Lewat pintu samping, Biru pun terus melangkah menuju halaman belakang rumah itu, tempat dimana mereka mengadakan party. Suara musik yang begitu keras seakan cukup memekakkan telinga, aroma barbeque dan minuman beralkohol seolah berbaur menjadi satu di sana.


"Hei bro, akhirnya lo dateng juga," Ucap Ferdy, si pemilik acara yang langsung menghampiri Biru sembari membawa sebotol minuman beralkohol di tangannya.


"Happy birthday bro, kadonya bisa nyusul kan?"


"Kado sama sekali gak penting, yang penting bagi gue itu cuma satu, yaitu kesenangan yang bisa dinikmati bareng-bareng hahaha." Jawab lelaki itu sembari terkekeh dan kembali menenggak minumannya.


Biru pun hanya bisa mendengus pelan sembari tersenyum tipis.


"Setiap orang yang baru dateng, wajib gue sambut dengan minuman ini. Ayo bro minum!"


Seperti sudah menjadi sebuah tradisi bagi mereka, tidak etis rasanya bila menolak minuman yang di tawarkan, apalagi yang menawari adalah yang punya acara. Tanpa ragu, Biru pun mulai menenggak minuman berjenis vodka itu langsung dari botol. Membuat Ferdy yang sudah setengah mabuk seketika bersorak senang dan disahuti oleh teman-teman mereka yang lain,


Biru pun akhirnya duduk bergabung dengan teman-temannya yang lain, bisa dikatakan kehidupan yang mereka jalani benar-benar bebas seolah tanpa aturan, layaknya kehidupan di kota besar pada umumnya. Malam itu benar-benar sangat ramai, ada banyak wanita berpakaian cukup terbuka disana, bahkan tak jarang ada pasangan yang berciuman di hadapan orang ramai dan sikap mereka hanya biasa saja.


"Hei Biru, senang akhirnya kamu dateng." Sapa Febby yang langsung duduk begitu saja di sisi Biru.


Biru pun mulai menatapnya dengan tatapan sedikit tidak senang.


"Feb, maksud lo apa ngomong kegitu di grup?"


"Gak ada maksud apa-apa, cuma menduga aja."


"Aku males keluar, gak ada hubungannya sama sekali dengan mahasiswa baru!!" Tegas Biru.


"Oh ya, tapi kayaknya kamu peduli banget ya sama anak sok cantik itu? Bukan cuma gendong dia ke UKS, kamu juga bawain makan dan minum buat dia."


"Gua gak ada apa-apa ya sama dia, jangan nyebarin gosip yang enggak-enggak!! Dia pingsan itu gara-gara ulah lo, harusnya kalau lo punya hati, lo yang lakuin apa yang kemarin gue lakuin, bukan malah protes!"


"Hmn ya, sorry untuk masalah itu, tapi apa kamu gak ngerasa sikapmu ke dia itu berlebihan."


"Berlebihan apanya? Menurutku biasa aja!"


"Oh biasa aja ya??? Terus gimana soal kamu yang sengaja buat dia menang di tantangan surat cinta? Padahal kata-katanya gak ada yang special."


"Ya itu karena menurutku isi surat cintanya paling beda di antara yang lain, yang kata-katanya lebay dan bikin geli."


"Kamu serius gak ada apa-apa sama dia?" Tanya Febby lagi.


"Sejauh ini gak ada!" Tegas Biru.


"What?? Sejauh ini?? Berarti next time bakalan ada?? Gitu?" Kedua mata Febby pun nampak membulat.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2