
"Bukan urusanmu!" Tegas Biru yang mulai menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Biru, kamu itu gak cocok sama dia!! Dia itu terlalu polos buat kamu yang udah tau segalanya!"
"Feb, lo bisa gak sih gak usah ikut campur segala urusan gue?"
"Kok kamu gitu sih? Kita itu deket udah lama Ruu."
"Iya tapi cuma sebatas temen!" Tegas Biru lagi.
Mendengar hal itu Febby pun seketika terdiam, merasa cukup kecewa dengan penegasan Biru barusan.
Ke esokan harinya...
Pagi itu, Elena dikejutkan dengan kedatangan Tama dari desa yang sebelumnya sama sekali tidak ada memberitahunya.
"Ta,, Tama???" Kedua mata Elena pun dibuat membulat saat mendapati Tama yang sudah berdiri di sisi mobil sedan model lama milik keluarganya yang ia parkirkan di depan pagar kost Elena.
"Hei, Surprise!" Tama pun nampak tersenyum lebar kala mendapati Elena yang baru keluar dari kostnya sudah dalam keadaan rapi.
"Kamu kok bisa ada disini? Ngapain??"
"Ya mau ketemu kamu lah, abisnya kamu bikin aku khawatir karena gak ada ngabarin aku lagi kemarin."
"Tapi aku kan udah bilang aku baik-baik aja Tam."
"Tapi aku gak bakal tenang sebelum aku mastiin sendiri, lagian kamu juga gak ada kasi kabar apapun lagi sama aku."
Elena pun terdiam sembari menghela nafas singkat.
"Kamu udah mau pergi kuliah?"
"Hmm" Jawab Elena sembari mengangguk pelan.
"Hais, aku bahkan baru sampe."
"Salah kamu sendiri, dateng gak ngabarin!"
"Namanya juga surprise!"
Elena lagi-lagi hanya terdiam, entah kenapa kedatangan Tama saat itu sama sekali tidak memberikan kesenangan apapun baginya.
"Ya udah, aku anter kamu ke kampus ya?"
Elena pun hanya bisa mengangguk lesu dan kemudian langsung beranjak memasuki mobil.
__ADS_1
Di sepanjang jalan, Tama banyak bercerita tentang hidupnya di desa selama Elena tidak ada, Tama yang saat itu masih menginjak bangku SMA dengan begitu semangat bercerita dengan sekolahnya, dia bahkan sudah berencana ingin masuk ke kampus yang sama dengan Elena setelah lulus tahun depan.
Elena hanya diam seolah menjadi pendengar yang baik, padahal kala itu, pikirannya sedang berkelana jauh memikirkan seseorang yang bahkan baru saja ia kenal.
"Jadi gimana dengan rencanaku? Kamu senengkan kalau kita bisa kuliah di kampus yang sama? Dengan kegitu, kita gak perlu LDR lagi hehehe."
"Oh iya, iya aku seneng kok." Jawab Elena yang seketika tersentak dari lamunannya.
Mobil yang dikendarai oleh Tama pun akhirnya berhenti tepat di depan gerbang utama Universitas paling bergengsi itu. Tama dengan cepat keluar dari mobilnya untuk membantu membukakan pintu untuk Elena.
"Makasih." Jawab Elena yang tersenyum tipis, sembari langsung keluar dari mobil.
Disaat yang sama, Ame dan Febby yang juga baru datang dengan menaiki sebuah mobil, tiba-tiba langsung menghentikan mobilnya tepat di sisi Elena.
"Wahh, siapa laki-laki ini Elena?" Tanya Ame begitu membuka kaca jendela mobil.
"Hai, aku Tama." Jawab Tama dengan cepat sembari menampilkan sebuah senyuman keramahan.
"Owh, hai Tama, kamu siapanya Elena?" Tanya Febby yang kepo.
"Aku sahabat Elena dari kecil hehehe, dan bisa dibilang kami juga udah dijodohin dari lama, nanti kalau udah lulus kuliah kami bakal langsung nikah." Jelas Tama yang juga nampaknya begitu polos dengan menjelaskan secara detail pada orang yang bahkan tidak ia kenal.
"Oh waww, ternyata lo udah punya calon suami Elena? Wah selamat ya, calon suami lo lumayan juga." Celetuk Febby yang tiba-tiba tersenyum namun senyuman yang terkesan mengejek.
"Hehehe makasih pujiannya." Jawab Tama yang terus tersenyum.
"Ya udah, kami duluan ya, bye." Febby yang kala itu sebagai pengemudi, langsung kembali menjalankan mobilnya memasuki gerbang.
"Wah, itu temen-temen kamu ya? Hmm orang-orang kota memang keren-keren ya?" Celetuk Tama sembari terus tersenyum.
"Kamu ngapain sih jelasin sedetail itu ke mereka?" Keluh Elena.
"Loh memangnya kenapa? Kan mereka nanya."
"Iya, tapi kan gak mesti juga sampe jelasin sedetail itu sama orang yang bahkan kamu gak kenal."
"Mereka kenal sama kamu, jadi kuanggap mereka temen-temen kamu."
"Bukan! Mereka bukan temen-temen aku!" Tegas Elena dengan wajah sedikit kesal.
"Loh jadi??"
"Mereka kakak tingkat galak yang lagi ngospek aku,"
"Wah kenapa kamu gak ngomong dari tadi? Kalau tau gitu kan aku bisa langsung marahin mereka dan minta supaya mereka gak galak lagi sama kamu."
__ADS_1
"Udah ah gak perlu kegitu!"
"Hmm ya udah deh maaf ya Elena yang cantik." Tama pun mencolek pelan ujung hidung Elena.
"Ya udah, aku masuk dulu ya, ini hari terakhir ospek, aku gak mau telat dan jadi di hukum."
"Hmm ok deh, kalau begitu aku langsung balik lagi aja ke kampung."
Perjalanan dari kampung ke kota memang tidak terlalu jauh, hanya berkisar 2 jam'an saja kalau tidak ada macet.
"Ya udah, kamu hati-hati ya."
"Iya, kamu semangat ya ospeknya."
Elena pun mengangguk dan kemudian langsung melangkah memasuki gerbang kampus.
Seperti biasa, ospek berjalan dengan penuh tantangan, bahkan tantangan makin terkesan konyol disaat hari terakhir sebelum kegiatan ospek resmi dibubarkan. Hari itu, mereka bahkan diberi tantangan untuk meminta tanda tangan lima orang dosen yang telah mereka tentukan namanya, jika gagal mereka akan mendapat hukuman, namun bila tidak ingin lelah dengan mencari kelima dosen, mereka bisa saja langsung lolos jika sanggup mendapat satu tanda tangan saja dari Dekan.
Mendengar kata Dekan, tentu saja membuat banyak mahasiswa baru itu langsung ciut nyalinya. Lagi pula siapa yang berani mendatangi Dekan hanya untuk meminta tanda tangan hanya demi tantangan ospek yang bukan menjadi tugasnya.
"Hiss tantangan apa sih ini, aku aja bahkan belum kenal sama kelima nama dosen ini, apalagi Dekan." Gumam Elena dalam hati.
"Dosen yang sudah kami tentukan namanya itu, sudah dipastikan mereka sedang ada di kampus ini, kalian hanya perlu mencari dan mencari tau kelima nama tersebut dan meminta tanda tangan mereka pada selembar kertas." Jelas Febby.
"Waktu kalian satu setengah jam, nanti akan ada suara alarm dari kampus ini yang akan jadi notifikasi kalau waktunya udah abis. Kalian mengerti?" Tambah Bram.
"Mengerti kak." Jawab mahasiswa baru dengan serentak,
Seperti biasa, Biru yang selalu paling lama datang akhirnya muncul dan bergabung dengan rekan-rekannya.
"Tantangan apa sekarang?" Tanyanya dengan tenang.
"Minta tanda tangan dosen." Jawab Bram.
"Owh lama dong."
"Kita bisa free satu setengah jam selama nunggu mereka."
"Hmm baguslah." Biru pun tersenyum.
"Nongkrong dimana kita? Kantin yuk!" Ajak Ame.
"Boleh." Febby pun setuju.
"Kalian boleh mulai sekarang! Ayo gercep, gercep!" Seru Bram kemudian.
__ADS_1
Para mahasiswa baru pun sontak berlarian ke berbagai arah yang mereka pun sebenarnya tidak tau kemana tujuan pasti mereka, yang mereka tau, mereka hanya perlu memeriksa seluruh ruangan yang ada untuk mencari dosen yang sudah ditentukan namanya.
...Bersambung......