
"Jo,, Jonas, nama kamu Jonas kan? Kita sekelas, kamu tau aku ga?"
"Oww ya jelas aku tau, kamu Elena." Jawab Jonas sembari tersenyum dengan tenang.
"Maaf kalau sebelumnya aku menguping obrolan kamu dengan pak Dekan, ta,,, tapi boleh aku tau apa yang terjadi sama Biru?" Tamya Elena yang nampak sedikit ragu-ragu saat mengatakannya.
"Biru, dia udah dua malam gak pulang di rumah, jadi papanya cemas dan nanya ke aku."
"Gak pulang? Kemana emangnya?"
"Aku juga gak tau," Jonas pun mengangkat singkat kedua pundaknya.
"Dan kalau boleh tau lagi, ka,, kamu siapanya Biru? Aku denger kamu manggil papanya dengan sebutan om."
"Oh hehe, aku sebenernya sepupu Biru, tapi emang belum banyak yang tau aja."
"Hah?? Beneran??" Elena pun seketika mendelikkan kedua matanya.
"Hmm." Jonas pun mengangguk.
"Owwhh," Elena pun mengangguk pelan.
"Oh ya, aku denger kamu lagi deket sama Biru, apa itu bener?" Tanya Jonas kemudian.
"Denger dari mana?"
"Tadi, papanya Biru cerita"
"Hah?! Cerita gimana?"
"Gak gimana-gimana sih, cuma lagi dia bilang dia mergoki Biru yang lagi liatin kamu dengan tatapan yang beda. Jadi hal itu yang bikin papanya menduga kalau kalian lagi deket,"
"Duhh gimana cara jelasinnya ya." Elena pun mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena ia sendiri pun bingung dengan status mereka berdua.
"Ya, ya aku ngerti kok, pasti rumit ya? Hehehe."
"Kok kamu bisa tau?"
"Karena itu Biru, makanya aku tau," Jawab Jonas sembari tersenyum tipis,
"Memangnya kenapa dengan Biru?"
"Biru itu orang yang rumit, susah di tebak, misterius!"
Elena pun terdiam sejenak.
__ADS_1
"Maaf Elena, aku gak maksud nakut-nakutin kamu, aku cuma bicara apa yang aku tau tentang Biru."
"Iya gak apa-apa kok." Elena pun akhirnya hanya tersenyum tipis.
"Oh ya, kalau nanti kamu dapat kabar dari Biru, boleh gak kabari aku juga?"
"Hmm boleh, kalau gitu boleh aku save nomormu?"
"Oh tentu." Elena pun dengan cepat langsung memberikan nomor teleponnya pada Jonas.
"Ok, kalau gitu aku duluan ya."
"Iya, makasi ya."
Jonas pun berlalu pergi, meninggalkan Elena seorang diri yang masih diam terpaku dengan segala macam pikiran yang seolah semakin bercabang-cabang.
Malam hari...
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 21.45 malam, lagi-lagi Elena nampak masih terjaga dari tidurnya dengan segudang pikirannya yang begitu kalut hanya karena memikirkan satu nama, Biru.
Tama nampak sudah tertidur begitu pulas, karena besok pagi ia sudah berencana untuk langsung kembali ke desa setelah mengantarkan Elena ke kampusnya.
Tak berapa lama, ponselnya pun berbunyi, bunyi yang menandakan ada sebuah pesan baru yang masuk. Elena pun bergegas meraih ponselnya yang kala itu ia letakkan di bawah bantal tidurnya.
Sebuah pesan baru dari nomor yang tidak dikenal, dengan dahi yang sedikit mengkerut, Elena pun membuka pesan singkat itu.
Tanpa pikir panjang, Elena pun langsung meraih sebuah jaket miliknya yang tergantung di kepala tempat tidur, dengan cara sedikit mengendap, ia pun langsung keluar dari kostnya tanpa sepengetahuan Tama.
Dengan tangan sedikit gemetaran, Elena pun langsung menelpon Jonas sembari terus melangkah cepat keluar dari kost-kostannya.
"Jo, aku bakal kesana sekarang, tolong kirimi aku alamat kost mu." Pinta Elena yang kemudian langsung mengakhiri panggilannya.
Dengan menaiki taksi online yang ia pesan, Elena pun akhirnya tiba di depan sebuah kost-kost an Elit yang sebenarnya juga tidak terlalu jauh dari kampus, hanya saja kost milik Jonas berbeda arah dari kost Elena. Kost Jonas bahkan terlihat jauh lebih elit dibandingkan kostan milik Elena, kelihatannya Jonas pun bukanlah dari keluarga yang kekurangan.
Kedatangan Elena pun langsung di sambut oleh Jonas yang dengan cepat membukakan pintu untuknya.
"Hei, makasih banget ya kamu udah mau dateng kesini." Ucap Jonas.
"Dimana dia?"
"Dia sekarang lagi di balkon." Jawab Jonas sembari menunjuk ke arah balkon yang ada di kamarnya.
"Owh ok."
"Aku bakal ngasi kalian ruang supaya bisa bicara lebih nyaman, aku bakal ngungsi sementara ke kamar temenku yang ada di sebelah." Ucap Jonas yang seketika langsung berlalu pergi.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun lagi, Elena pun langsung melangkah menuju balkon dan mendapati Biru yang sedang terduduk lesu dengan sebuah botol minuman berjenis Vodka di tangannya.
"Hei." Sapa Elena dengan suara pelan.
Biru pun langsung menoleh ke arahnya dan nampak cukup terkejut.
"Ka,, kamu??"
"Ngapain kamu disini Elena? Bukannya seharusnya kamu sama calon suami kamu yang baik dan sempurna itu?"
"Jangan bawa-bawa Tama dalam hal ini!!"
"Hmm ok! Terus ngapain kamu disini?"
"Karena aku peduli denganmu!" Jawab Elena.
Mendengar hal itu membuat Biru seketika terdiam sejenak dan mulai kembali menatapnya dengan kedua matanya yang nampak sayu.
"Kupikir kamu gak mau minum alkohol lagi." Celetuk Elena.
"Memang enggak!" Jawab Biru santai namun justru saat itu ia kembali meneguk minumannya langsung dari botol.
"Apa yang bikin kamu kegini? Ku denger kamu pergi dari rumah, kenapa?"
"Untuk apa aku tinggal sama orang yang sebentar lagi bakal nikah sama perempuan lain yang akan menikmati seluruh hartanya, sedangkan disana mamaku hidupnya pas-pasan." Gumam Biru.
"Dan juga, untuk apa aku di rumah kalau aku harus terus memikirkan orang yang gak bisa kumiliki." Tambah Biru lagi.
Elena pun menghela nafas singkat, lalu ia pun kembali melangkah untuk mendekati Biru.
"Sebenarnya aku belum terlalu paham kemana arah pembicaraanmu sekarang, tapi tolong jangan minum lagi!" Ucap Elena yang ingin meraih botol minuman dari tangan Biru.
Namun disaat yang sama, Biru seakan memberontak.
"Tolong menjauh Elena!!" Bentak Biru.
Hal itu membuat botol minuman itu jadi terjatuh keras ke lantai hingga membuatnya langsung pecah berderai. Elena pun terkejut hingga langsung terdiam sesaat, begitu pula dengan Biru. Tak ingin kamar kost Jonas jadi terlihat lebih berantakan, Elena tanpa pikir panjang pun langsung memunguti pecahan kaca itu dengan tangannya hingga tangannya pun terluka dan berdarah akibat terkena serpihan kaca yang tajam.
"Aaaghh" Elena meringis pelan.
Biru yang menyaksikan hal itu pun dengan cepat menghampiri Elena dan meraih tangannya.
"Kamu berdarah." Ucapnya pelan.
Elena hanya diam sembari terus memandang sendu ke arah Biru yang saat itu memang nampak begitu kacau.
__ADS_1
"Jangan di lanjutin, ayo ikut aku!" Biru pun mengajak Elena untuk masuk ke dalam kamar kost, dengan cepat ia meraih sebuah handuk kecil dan membasahinya dengan air, lalu mengusapkannya pada luka Elena,
...Bersambung......