
1 Minggu kemudian...
Hari itu, kedua mata Elena seketika dibuat membulat sempurna saat memandangi Biru yang sudah berdiri menunggunya di depan kost. Sebuah senyuman tipis penuh kagum pun perlahan muncul menghiasi wajah cantiknya sembari kembali melangkah pelan untuk mendekati Biru.
"Ka,, kamu... keliatan beda." Celetuk Elena yang terus tersenyum memandangi Biru yang hari itu benar-benar terlihat sangat kharismatik dengan memakai setelan jas berwarna biru dongker.
"Beda gimana?" Tanya Biru sembari menaikkan sebelah alis matanya,
"Lebih ganteng, jadi lebih kharismatik." Jawab Elena.
Pengakuan itu pun membuat Biru seketika mendengus pelan sembari tersenyum.
"Hmm, jadi selama ini aku gak ganteng ya?"
"Ganteng dong, cuma sekarang jadi lebih ganteng."
Biru hanya tersenyum sembari mulai menggerakkan sebelah tangannya menuju pipi Elena, lalu mengusapnya lembut.
"Kamu juga, kamu keliatan cantik hari ini." Puji Biru sembari tersenyum seolah penuh ketulusan.
"Apa gaun ini cocok sama aku?" Tanya Elena yang kembali memandangi penampilannya hari itu.
Elena yang sekarang memang sangat berbeda dengan Elena yang dulu, yang belum mengerti gaya. Kini ia sudah belajar banyak tentang fashion melalui internet, juga dari wanita-wanita modis di sekitarnya. Elena yang sebelumnya selalu berpakaian sederhana dan tertutup, kini sudah jauh lebih berani berpakaian lebih terbuka. Seperti hari ini, ia bahkan tak segan lagi menunjukkan pundaknya yang putih mulus saat mengenakan gaun tanpa lengan.
"Cocok banget, tapi..."
"Tapi kenapa?" Dahi Elena pun mulai mengkerut.
"Tapi sebenarnya aku masih sedikit gak rela liat kamu berpakaian terbuka gini di hadapan banyak orang."
"Haisss sayang, udah deh, aku udah capek jadi bahan bullyan orang-orang kota disini. Aku gak mau jadi cewek yang katro lagi dan akhirnya jadi bikin kamu malu, aku pengen kamu tu bangga punya aku."
"Tapi aku udah bangga banget sama kamu yang dulu, aku gak pernah malu."
"Iya, tapi aku yang tertekan liat kamu di ketawain terus sama temen-temen kamu cuma gara-gara pacaran sama aku yang gayanya katro." Jawab Elena.
Biru pun akhirnya hanya bisa menghela nafas.
"Hmm ya udah, terserah kamu aja, apapun keputusan kamu, aku hargai, asal kamu seneng." Jawab Biru akhirnya.
Elena pun tersenyum manis dan langsung menggandeng lengan Biru.
"Aaaaa makasih sayang, I love you." Ucap Elena girang.
__ADS_1
"I love you more!" Jawab Biru.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Elena kemudian dengan wajah yang penuh semangat.
"Yuk!" Biru pun mengangguk singkat.
Namun begitu tiba di depan pagar kost, dahi Elena lagi-lagi dibuat mengkerut saat tidak mendapati motor yang biasanya Biru pakai untuk menjemputnya.
"Loh, motor kamu mana?" Tanya Elena bingung.
"Aku gak naik motor."
"Loh, terus naik apa?"
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Biru hanya menunjuk ke arah sebuah mobil sport yang terparkir tak jauh dari mereka.
"Hah?! Kamu datang naik mobil itu??" Elena pun kembali mendelik.
Biru hanya mengangguk tenang sembari terus melangkah ke arah mobil itu.
"Tapi ini mobil siapa? Dimana motor yang biasa kamu pake?"
"Udah deh, kamu bawel banget sih, ayo naik." Ucap Biru lembut, Biru pun segera menuntun Elena menuju mobil dan membantu membukakan pintu mobil itu untuknya.
"Ok, let's go." Celetuk Biru pelan sembari mulai menancap gas pada mobilnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku." Ucap Elena.
"Pertanyaan yang mana sayang?" Tanya Biru yang kala itu masih nampak begitu fokus mengemudi.
"Ini mobil siapa? Dan kemana motor kamu?"
"Ini mobilku, dan motorku ada di rumah."
"Hah?! Kamu serius ini mobil kamu? Kok aku gak pernah liat kamu make mobil ini sebelumnya?" Tanya Elena yang nampak semakin penasaran.
"Aku emang gak pernah make mobil ini sebelumnya, aku lebih seneng naik motor ketimbang naik mobil,"
"Hmm? Terus kenapa sekarang tiba-tiba jemput aku naik mobil?"
"Hmm aku berpikir, bakal aneh aja rasanya saat aku udah pake pakaian formal kegini dan masih naik motor, apalagi baju kamu yang lumayan terbuka kegitu, hmm bisa-bisa kamu masuk angin kalau kita tetep naik motor." Jawab Biru santai.
Elena pun akhirnya bisa kembali tersenyum saat mendengar penjelasan yang masuk akal dari Biru.
__ADS_1
"Kamu bener-bener udah mikirin semuanya ya?"
"Iya, dari rumah tadi aku udah bisa nebak kalau kamu pasti bakal pake gaun yang cukup terbuka, dan liat sekarang, tebakanku bener kan."
Elena pun semakin mengembangkan senyumannya dan mulai menyandarkan kepalanya dengan manja ke pundak Biru.
"Kamu bener-bener seperhatian itu sama aku, makasih ya." Ucap Elena yang merasa tersanjung.
"Kami beruntung karena aku bener-bener sayang sama kamu." Jawab Biru yang ikut tersenyum tipis.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka pun tiba di basement sebuah hotel mewah. Setelah memarkirkan mobilnya, Biru pun segera membukakan pintu untuk Elena dan menggandeng tangannya untuk membawanya masuk dengan menggunakan lift.
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba jadi pendiem gitu?" Tanya Biru sembari mengerutkan dahinya saat menatap Elena yang nampak aneh.
"Aku gugup." Jawab Elena.
Biru pun mendengus pelan sembari tersenyum.
"Apa yang bikin kamu gugup ha? bukannya kamu yang pengen banget hal ini terjadi."
"Iya sih, tapi semakin kesini, entah kenapa aku jadi semakin gugup."
"Gak perlu gugup, kamu pegang aja tangan aku yang kenceng, ok." Biru pun semakin melebarkan senyumannya sembari mulai menggenggam tangan Elena.
Elena pun tak segan ikut menggenggam erat tangan kekasihnya itu sembari menghela nafas panjang.
*Tingg*
Pintu lift pun terbuka, kini mereka sudah berada di rooftop hotel itu, tempat dimana sebuah acara pernikahan berlangsung. Ya, hari ini adalah hari yang begitu special bagi Manof, papa Biru. Hari dimana akhirnya ia bisa menikah dengan seorang wanita pilihannya, dan melepas status dudanya yang sudah bertahun-tahun status itu ia sandang.
Meskipun dalam hati Biru masih sepenuhnya belum bisa menerima keputusan papanya untuk menikah lagi, namun berkat Elena, ia akhirnya setidaknya bisa sedikit legowo dengan hal itu.
"Kamu inget janji kamu kan?" Bisik Elena begitu mereka melangkah keluar dari lift.
"Hmm, mau gak mau aku harus berjanji untuk gak bikin keributan disini cuma demi kamu." Jawab Biru dengan wajahnya yang mendadak terlihat datar.
"Iya, kamu gak boleh langgar janji itu kalau gak mau bikin aku sedih."
"Hmm." Jawab Biru akhirnya.
Kedatangan Biru nampaknya sedikit terlambat, karena mereka datang setelah ayahnya sudah resmi menikah dengan ibu tirinya. Namun nampaknya Biru sengaja menghilang dengan dalih menjemput Elena saat moment sakral itu berlangsung, hal itu ia lakukan agar ia tidak terlalu emosi saat melihat hal itu.
...Bersambung......
__ADS_1