
Elena lagi-lagi dibuat kagum saat pertama kali memasuki kamar hotel itu, terlebih lagi jika kamar itu bertype suit room, dimana type ini sudah termasuk type kamar hotel yang mewah dan lengkap, hanya setingkat dibawah type presidential suite, bahkan harganya juga cukup fantastis.
"Wahhh, besar banget kamarnya." Celetuk Elena yang terus menatap kagum ke segala sisi kamar itu.
Biru yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sembari menutup kembali pintu kamarnya.
"Wow, bukan cuma ada kamar tidur, disini juga ada ruang tamu? Hah yang bener aja??!" Celetuk Elena lagi.
"Kenapa kamu kayak kaget banget sih liat kamar ini?" Tanya Biru santai.
"Jelas aja, aku kan belum pernah nginep di hotel semewah ini. Dulu pernah sih nginep di hotel sama ibu bapak, tapi cuma hotel biasa yang cuma sepetak kamar, gak segeda gini." Jawab Elena polos.
"Ini suite room, jelas aja gede, dan mungkin yang kemarin di pesan ibu sama bapak kamu itu type standart atau superior." Jelas Biru.
"Hmm ya, mungkin." Jawab Elena.
Biru pun perlahan mendekati Elena, lalu memeluknya erat dari belakang sembari mulai menciumi pundaknya yang terbuka. Elena pun tersenyum dan mulai mengusap lembut pipi Biru yang berada di atas pundaknya.
"Aku sayang banget sama kamu El, sayang banget." Ucap Biru lembut.
"Aku juga sayang banget sama kamu, apapun yang terjadi, gak akan ada yang bisa ngubah perasaan aku sama kamu."
"Jangan tinggalin aku El, gak tau apa jadinya aku tanpa kamu sekarang."
Elena pun mengangguk dan mulai menatap memutar kepalanya untuk menatap Biru. Biru pun nampak tersenyum dan akhirnya ya, ia mulai mengecup lembut bibir Elena.
Seolah tidak ingin membuang waktu, Biru pun segera membawa Elena ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu.
"Kamu yakin kita bakal ngelakuinnya disini?" Tanya Elena kemudian.
"Kenapa enggak?"
"Gimana kalau ketauan sama papa kamu?" Tanya Elena yang nampak sedikit cemas.
"Gak bakal, dia lagi sibuk dengan pesta pernikahannya dan para tamu pentingnya,"
"Kamu yakin?"
"Yakin! Lagian kita gak bakal lama-lama disini."
__ADS_1
Elena pun akhirnya terdiam dengan perasaan yang jadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Biru kembali menciumi Elena, kedua mata Elena pun mulai terpejam menikmati setiap sentuhan yang dilakukan secara lembut oleh Biru pada setiap permukaan kulit Elena.
Elena semakin terbuai, dan nampaknya ia semakin tak bisa lepas lagi dari jeratan cinta Biru, ia bahkan tau jika hal itu adalah sebuah kesalahan, namun baginya itu adalah kesalahan terindah dan ternikmat yang pernah ia rasakan hingga sulit untuk di tolak.
Sesuai dengan yang kalian pikirkan, Elena dan Biru pun kembali melakukannya lagi, melakukan hubungan ranjang untuk kesekian kalinya. Permainan mengasikkan itu benar-benar sudah membuat kedua candu, bahkan mereka tampak tidak ragu melakukannya meskipun tanpa memakai pengaman.
Suara lenguhan Elena yang mendayu-dayu terus terdengar menggema di ruangan itu, membuat Biru semakin bersemangat menuntaskan aksi liarnya saat itu. Rambut Elena yang awalnya tertata rapi, kini jadi begitu berantakan akibat kebringasan Biru saat memangsanya di atas ranjang.
Entah sudah berapa lama aktivitas itu mereka lakukan, kini akhirnya tubuh Biru ambruk di atas tubuh Elena dengan nafas keduanya yang sama-sama terengah.
"I love you." Bisik Biru pelan.
Elena hanya tersenyum tipis sembari terus berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal.
Beberapa menit berlalu, kini Elena sudah berdiri dengan posisi membelakangi Biru yang kala itu terduduk di tepi ranjang sembari membantunya menutup kembali resleting dressnya yang ada di bagian punggung.
"Makasih." Ucap Elena sembari tersenyum.
"Sama-sama sayang." Jawab Biru lembut.
Elena pun bergegas merapikan kembali rambutnya, begitu juga dengan Biru yang kembali menatap dasinya agar kembali rapi.
"Udah siap?" Tanya Biru kemudian.
"Kita keluar sekarang?"
"Yuk!" Jawab Elena.
Tanpa berdosa, mereka pun akhirnya keluar dari kamar hotel itu setelah mereka selesai melakukan aktivitas ekstrem di dalamnya.
Tiga hari kemudian...
Pagi itu Elena nampak gusar serta cemas saat ia baru saja memeriksa isi saldonya melalui M-Banking pada ponselnya. Bagaimana tidak, semakin hari, tentu isi saldonya semakin menipis, meskipun semenjak mengenal Biru pengeluarannya jadi berkurang karena sering di traktir makan dan lainnya, namun tetap saja uangnya terus saja berkurang untuk keperluan pribadinya.
"Duhh gimana ini? Uang di rekeningku makin menipis, waktu bayaran kost'an juga udah gak lama lagi." Gumam Elena dalam hati.
Elena pun terus berjalan mondar mandir di dalam kamar kostnya sembari terus berpikir, hingga akhirnya ia mulai memikirkan untuk mencari kerja paruh waktu agar bisa terus bertahan hidup di kota itu tanpa ingin menyusahkan Biru, kekasihnya.
"Iya, kayaknya aku memang harus cari kerja part time nih, aku gak bisa gini terus, bisa jadi gelandangan aku." Gumam Elena lagi.
__ADS_1
Namun Elena kembali dibuat bingung saat memikirkan kemana ia harus mencari pekerjaan, sedangkan ia tidak punya pengalaman bekerja sebelumnya, bahkan juga ia tidak punya banyak teman untuk ia tanyai mengenai pekerjaan itu.
Tapi kedua mata Elena mendadak membesar kala ia mengingat satu orang yang sekarang cukup dekat dengannya.
"Jonas,, ya semoga jonas bisa bantu aku kali ini." Gumam Elena yang langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Jonas.
"Halo El." Sahut Jonas begitu mengangkat panggilan dari Elena.
"Jo, kamu dimana? Aku ganggu gak?" Tanya Elena.
"Enggak sih, kebetulan aku lagi nongkrong di cafe temenku. Kenapa El?"
"Di cafe temen kamu??"
"Iya, kenapa sih El?"
"Kebetulan banget Jo, aku lagi mau cari kerjaan part time nih, kamu kan tau sendiri masalahku kan, aku udah gak dikirimin uang bulanan lagi, tabunganku juga udah mulai menipis, jadi aku butuh banget kerja. Temen kamu butuh pegawai gak di cafe itu?" Ungkap Elena yang terdengar memelas.
"Hmm coba aku tanya dulu nanti ya, kebetulan orangnya lagi keluar bentar."
"Iya, tolong tanyain ya jo, pleaseee."
"Tapi,,,,"
"Tapi apa Jo?"
"Biru setuju gak kamu kerja? Apalagi kerja di cafe temenku, aku gak mau ada masalah sama Biru"
"Biru belum tau tentang ini." Jawab Elena pelan.
"Hais, kamu ngomong dulu deh sama Biru, aku gak mau Biru jadi salah paham sama aku nanti."
"Biru gak perlu tau Jo, aku gak mau dia tau masalahku, karena masalah hidupnya juga udah banyak, aku gak mau nambah masalah dia lagi."
"Kamu yakin?"
"Iya aku yakin, please ya Jo gak usah kasi tau Biru."
"Hmm ya udah, nanti aku kabari kamu lagi ya."
__ADS_1
"Iya Jo. Makasih banyak ya Jo." Elena pun tersenyum sumringah.
...Bersambung......