Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
45


__ADS_3

Kedatangan Biru yang seolah datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dulu benar-benar mengundang kaget bagi seluruh teman-temannya. Bagaimana tidak, Biru yang belakangan ini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Elena, benar-benar nyaris tidak pernah lagi ikut berkumpul bersama teman-temannya lagi.


"Biru??!!" Febby yang menyadari kedatangan Biru pertama kali sontak membulatkan kedua matanya.


"Hai." Sapa Biru lesu sembari terus melangkah pelan mendekati teman-temannya.


"Gue lagi gak ngehalu karena udah minum beberapa botol anggur merah kan ini? Ini serius ni Biru dateng kesini?" Tanya Ame sembari mulai mengucek-ngucek kedua matanya.


"Tumben lo dateng bro?" Tanya Bram.


"Lo semua pada kenapa sih? Kayak kaget banget liat gue dateng. Emang udah gak boleh ya gue gabung? Kalau gak boleh, kenapa gak langsung kalian kick aja gue dari grup?" Ucap Biru sembari mulai duduk di sisi Bram.


"Ehhh, boleh dongg, siapa bilang gak boleh?? Boleh banget!" Jawab Febby dengan cepat sembari langsung bangkit dari duduknya.


Febby pun tanpa ragu langsung meminta Bram untuk bergeser agar ia bisa duduk di samping Biru.


"Cuma kita heran aja, kenapa kamu tiba-tiba dateng? Emangnya kamu gak nemeni pacar polos kamu itu ya?" Tambah Febby lagi.


"Emangnya yakin dia masih polos?" Tanya Ame sembari mendengus dan tersenyum.


"Oopss, iya juga sih. Hmm ku denger kalian udah tinggal satu kost bareng ya? Itu bener?" Tanya Febby lagi.


"Iya, memangnya kenapa?" Jawab Biru santai.


"Kalau udah kegitu, mustahil sih kalau doi masih polos hahaha. Jangan-jangan udah jebol juga tuh." Sahut Ame.


Biru pun mendengus pelan sembari tersenyum.


"Kalian ngomong kegitu kayak kalian enggak aja."


"Owh bukan, bukan gitu maksudnya. Ya lo tau juga gimana pergaulan kita selama ini, dan kita juga udah sama-sama tau kebobrokan kita masing-masing. Cuma yang agak bikin kaget kan si Elena ini kan ya, yang awalnya kayak cewek berlagak gak tau apa-apa, berlagak paling suci, eh sekarang malah kumpul kebo sama pacarnya." Jawab Ame yang terus tersenyum.


Mendengar hal itu, wajah Febby nampak sedikit berubah, perasaan tak senang kembali ia rasakan saat harus menerima kenyataan jika Biru dan Elena memang sudah melakukan hubungan ranjang.


"Jadi kamu sama Elena beneran udah....??" Tanya Febby dengan suara merendah,


Saat itu Biru hanya diam tak merespon.


Di sisi lain, Elena yang tengah merasakan kesedihan serta rasa sakit pada perut dan kepalanya, sama sekali tidak bisa dibuat istirahat dengan tenang dan justru malah kepikiran dengan Biru,


"Dia kemana sih?" Tanya Elena dalam hati sembari melirik ke arah jam dinding.


Sudah sejam lebih Biru belum juga kembali, membuat Elena jadi semakin tidak tenang dan mulai merasa khawatir. Elena pun meraih ponselnya dan mencoba menelpon Biru, namun sayang, tak sekalipun Biru mengangkat panggilannya.


"Kamu dimana? Pulang dong, perutku sakit." Tulis Elena dan langsung mengirimkan pesan singkat itu pada Biru.


Namun hingga beberapa menit berlalu, pesan yang dikirimkan Elena pun tak kunjung mendapat balasan hingga membuat Elena semakin tak tenang dan mencoba mengirimkan pesan lagi pada kekasihnya.


"Please kamu dimana? Jangan buat yang aneh-aneh! Aku beneran gak ada apa-apa sama Vero, tolong pulang! Perutku bener-bener sakit, sumpah." Tulis Elena lagi.


Namun selang beberapa menit saja, ponsel Elena pun akhirnya berbunyi, menandakan ada sebuah pesan baru masuk. Elena pun bergegas membuka pesan yang tentu saja itu adalah balasan dari Biru. Ternya Biru tidak mengirimkan pesan balasan berupa teks, melainkan sebuah foto yang masih loading.


"Dia ngirim foto apa?" Tanya Elena dengan dahinya yang mulai mengkerut.


Tak lama foto itu pun muncul dan membuat kedua mata Elena yang melihatnya seketika membulat sempurna. Foto yang menampilkan Febby yang selfie seorang diri dengan fose seksi dengan penampilan yang juga terlihat tak kalah seksi.


"Febby?? Gimana bisa dia foto di hp Biru?" Tanya Elena seorang diri.


Tak lama sebuah pesan teks pun masuk.


"Tolong biarin pacar ganteng lo nikmati waktunya dengan gue sebentar, selama ini bukannya dia selalu bareng lo? Lagian sakit perut doang, manja bener jadi cewek!! Tolong jangan ganggu Biru, dia lagi asik minum bareng gue!" Isi pesan itu.


Elena pun membeku, ia masih begitu tercengang saat membaca pesan yang ia tau jika itu adalah Febby yang menulisnya,


"Gimana bisa Febby megang hp Biru? Terus Biru kemana? Apa dia mabuk?" Tanya Elena.


Elena yang merasa geram pun akhirnya kembali menelpon ke nomor Biru, namun sayangnya panggilan itu dengan cepat di reject oleh Febby.


Ternyata saat itu Biru sedang ke toilet dan ponselnya ia tinggal di dalam saku jaketnya yang ia letakkan di kursi tempat sebelumnya ia terduduk, yang bertepatan posisi jaket itu tepat berada di sebelah Febby.


Febby pun dengan cepat kembali menghapus pesan yang telah ia kirimkan pada Elena dan mengembalikan ponsel Biru ke dalam saku jaketnya.


"Gue yakin cewek kampung itu udah baca, dan yaa, abis ini mereka pasti bakal ribut lagi." Gumam Febby yang mulai memunculkan senyuman iblisnya.


Tak lama Biru pun kembali duduk dan Febby kembali bersikap seolah tidak pernah ada hal yang terjadi.


"Eh ayo kita cheers lagi." Ajaknya.


Biru pun mulai ikut mengangkat gelasnya dan ikut minum bersama teman-temannya untuk menghilangkan rasa stressnya. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, kini jam sudah menunjukkan pukul 00.35 dini hari dan Biru masih saja betah duduk bersama teman-temannya yang beberapa di antara mereka mulai nampak teler.


"Hei, kamu gak kangen aku?" Tanya Febby sembari mulai menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak Biru.


Biru pun hanya mendengus pelan sembari tersenyum.


"Aku kangen banget sama kamu Ru, aku kangen kamu yang kayak gini." Ungkap Febby setengah berbisik.


Lagi-lagi Biru hanya terus tersenyum sembari mulai memijiti pelipisnya.


"Ru, kita bisa lakuin itu lagi malam ini."


"Lakuin apa maksudmu?"


"Masa kamu gak ngerti." Ucap Febby sembari mulai semakin mendekati Biru.


Biru pun terdiam sejenak kala Febby semakin mendekati wajahnya, mendadak wajah cantik Febby seolah berubah menjadi wajah Elena di mata Biru yang kala itu juga mulai mabuk.


"El??" Ucapnya pelan.


"I miss you." Ucap wanita itu dengan lembut sembari mulai mengusap pipi Biru dengan sangat lembut.


Biru masih saja terpaku, seolah menantikan apa yang akan dilakukan oleh Febby padanya. Namun begitu bibir Febby nyaris menyentuh bibirnya, tiba-tiba saja Biru tersadar, wajah Elena seolah lenyap dan kembali menjadi wajah Febby hingga membuat Biru terkejut dan refleks mendorong Febby hingga ia terjatuh dari tempat duduknya.


"Apa-apaan sih lo?!" Ketus Biru yang merasa tidak terima.


Febby pun langsung menatap wajah Biru dengan tajam.


"Kamu yang apa-apaan?! Kenapa kamu nolak aku?"

__ADS_1


"Ya itu karena lo lancang mau nyium gue!" Jawab Biru yang langsung bangkit dari duduknya.


"Ru!! Sebelumnya lo gak pernah keberatan tiap kali gue cium, bahkan lo ngebales!! kenapa sekarang lo jadi bersikap seolah jijik!"


"Apasih lo Feb! Lo harus inget kalau kita itu cuma temen!!" Tegas Biru.


"Ya, kita memang temen! Tapi lo harus inget juga, walaupun kita cuma temen, tapi kita udah pernah berhubungan ranjang bahkan lebih dari sekali!" Tegas Febby yang ikut bangkit.


Perdebatan itu pun sontak membuat semua teman-teman mereka pun hanya bisa terdiam dan saling pandang satu sama lain.


"Itu terjadi karena kita sama-sama mabuk waktu itu!!"


"Apapun alesannya, kita pernah ngelakuinnya Ru! Dan gue jadi penasaran, gimana reaksi Elena ya kalau dia tau tentang ini!" Ucap Febby yang seolah sedang mengancam Biru.


Biru pun terdiam sejenak, dengan tatapan tak senang ia pun mulai melangkah pelan mendekati Febby.


"Berani lo ngomong hal itu sama Elena dan bikin hubungan gue sama dia makin ancur, abis lo!!" Bisik Biru dengan penuh penekanan.


"Gue gak takut!" Jawab Biru dengan bibir yang sedikit bergetar.


Biru pun mendengus pelan.


"Coba aja!" Ucapnya dengan tenang, dan kemudian langsung berlalu pergi begitu saja.


Biru akhirnya kembali ke kost dan mengetuk pintu kamar dengan lesu. Elena yang sejak tadi menunggu kepulangannya pun langsung bergegas menuju pintu dan membukakan pintu itu dengan raut wajah yang sudah nampak kesal.


"Dari mana kamu?!" Tanya Elena yang berdiri tepat di depan pintu.


"Aku capek, biarin aku masuk!" Jawab Biru pelan sembari mulai ingin melangkah masuk ke dalam kamar.


"Ngapain pulang?! Kenapa gak check in hotel aja sekalian sama Febby ha?!" Ketus Elena yang masih seolah menghalangi Biru untuk masuk.


Mendengar hal itu, membuat Biru seketika terdiam dan mulai menatapnya dengan raut wajah sedikit bingung.


"Kamu ngomong apasih?" Tanyanya dengan dahi yang mengkerut.


"Kamu abis ketemu kan sama Febby, ngapain? Mabok bareng lagi? Iya??! Terus ngapain?" Elena terus menunjukkan kekesalannya dengan cara mengintrogasi Biru sembari mulai menyedekapkan kedua tangannya di dada.


"Aku gak ada ngapa-ngapain sama dia! Lagian kamu kok bisa tau?"


"Oh, berarti bener kan kamu abis ketemu dia dan minum bareng?!"


"Kamu tau dari mana? Febby?? Ada ngomong apalagi anak itu?" Tanya Biru yang mulai nampak cemas.


"Kenapa kok kayaknya muka kamu keliatan panik gitu?" Elena pun mulai memicingkan kedua matanya.


"Kamu ni apasih El? Kamu masih mau kita terus ribut??" Tanya Biru, yang kemudian langsung memilih untuk menerobos masuk ke dalam kamar.


Dengan cepat Biru melepaskan jaketnya dan meletakkannya begitu saja di sofa. Namun Elena yang sudah terlanjur kesal pun langsung menutup pintu itu dengan cara sedikit kasar.


*Grebuakkk*


Biru pun terkejut dan langsung menoleh ke arah Elena yang kala itu masih memasang wajah kesalnya.


"Kamu ni kenapa sih??!" Tanya Biru lagi.


"Aku minum bukan sama dia doang, ada banyak temen-temen aku yang lain!" Jelas Biru singkat.


"Owh enak dong ya! Seru ya??! Udah mabok, terus kamu pulang kesini!!"


"Terus kamu maunya aku kemana?! Apa kamu mau aku gak usah balik lagi aja kesini??"


"Iya! Pergi aja lagi sana sama temen-temenmu!!" Bentak Elena yang makin merasa kesal.


Biru pun mendengus pelan dan mulai berdiri dari duduknya sembari terus memandangi Elena dengan tatapan tak biasa.


"Kamu nyuruh aku pergi, kenapa? Biar kamu bisa manggil Vero kesini? Iya?"


"Gak usah bawa-bawa Vero! Aku sama Vero jelas-jelas gak ada apa-apa?! Sedangkan kamu dan Febby? Ada apa sebenernya di antara kalian berdua?"


"Udah ku bilang, aku sama Febby gak ada apa-apa!!" Tegas Biru setengah membentak.


Membuat Elena seketika terkejut dan terdiam seketika.


"Aku bener-bener capek banget ya debat kegitu sama kamu! Kayaknya salah banget ya aku balik kesini malam ini." Tambah Biru lagi yang langsung kembali melangkah menuju pintu.


"Kamu mau pergi lagi?!" Tanya Elena seketika.


"Aku capek debat terus sama kamu! Percuma!" Ketus Biru sembari ingin membuka pintu kost itu.


"Ya udah pergi aja sana! Aku bakal gugurin kandungan ini sekarang juga!" Tegas Elena.


Hal itu sontak membuat langkah Biru seketika jadi terhenti, Biru pun kembali menoleh ke arah Elena dan langsung menghampirinya.


"Kamu gak bakal lakuin itu!"


"Ya, aku bakal lakuin! Percuma dipertahankan, kelakuan kamu juga kegini kan!" Tegas Elena.


"Enggak, jangan!" Biru pun mulai menggelengkan pelan kepalanya.


"Gugurin aja! Aku udah capek!" Tegas Elena lagi yang langsung menjauh dari Biru.


Namun Biru pun segera mendekati Elena lagi dan langsung memeluknya dari belakang.


"Please El, jangan! Aku mohon jangan! Aku sayang banget sama kamu, aku cinta sama kamu El!" Ungkap Biru yang mulai merendahkan suaranya.


Elena pun mulai kembali menangis.


"Kamu bilang sayang sama aku, cinta sama aku, tapi kamu kegini! Kamu bahkan sanggup minum bareng temen-temen kamu dan ninggalin aku sendiri di sini nahan sakit karena masa ngidam."


"Iya El, aku beneran minta maaf, aku khilaf El, aku kegitu karena aku stress banget, aku gak bisa liat kamu deket sama laki-laki lain, aku gak sukak! Tolong maafin aku El, please!" Ucap Biru lirih.


Elena pun terdiam. Begitu lah seorang wanita pada umumnya, semarah apapun dia, sekecewa apapun dia, jika lelaki yang ia cintai mulai memohon padanya dengan begitu lirih, tentu saja hatinya akan mudah luluh dan tersentuh. Begitu pula yang terjadi pada Elena, rasa cinta yang begitu besar pada Biru, membuatnya tidak kuasa menunjukkan rasa kesalnya lebih lama, terlebih saat itu Biru sudah begitu memelas memohon maaf darinya.


Elena pun perlahan mulai membalikkan tubuhnya, kini mereka berdua kembali berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.


"Kamu masih mau kita berhubungan kan?" Tanya Elena pelan.

__ADS_1


Biru pun mengangguk cepat.


"Itu berarti kamu harus percaya sama aku!" Ucap Elena.


"Aku percaya sama kamu El! Tapi aku beneran gak bisa liat kamu deket sama laki-laki lain, apalagi kalau sampai laki-laki itu nyetuh kamu kayak tadi. Aku gak rela! Kamu itu cuma punya aku El, kamu milik aku!" Ungkap Biru.


"Dia cuma nolongin aku!! Aku hampir pingsan tadi, aku kegini karena lagi hamil muda, hamil anak kamu! Jadi mana mungkin aku macem-macem sama cowok lain!"


Biru pun menghela nafas panjang,


"Ya udah, aku gak mau kita ribut lagi, masalah itu gak usah di bahas lagi. Tapi aku mohon, ke depannya, tolong kamu jaga jarak sama bos kamu itu, dan juga laki-laki lain, siapapun! Termasuk jonas, intinya aku gak mau liat kamu deket sama laki-laki manapun selain aku!"


"Dan kamu, gimana dengan kamu? Kamu larang aku deket sama laki-laki lain sedangkan kamu bebas deket sama temen-temen kamu terutama Febby!"


"Ok! Aku gak bakal deket sama siapapun lagi, terutama Febby! Demi kamu, semua rela aku lakuin!" Ucap Biru.


Elena pun kembali diam dan terus memandangi wajah Biru yang nampak masih memerah karena mabuk.


"Aku sayang banget sama kamu El, aku sendiri bahkan gak tau cara ungkapin perasaan aku yang besar banget untuk kamu. Maafin aku ya, maafin aku yang kadang masih susah ngontrol emosi aku."


Elena masih diam dan sesekali air matanya masih nampak menetes.


"Please jangan nangis lagi, aku beneran minta maaf ya. Kamu sayang kan sama aku."


"Aku sayang sama kamu, dan aku gak mau kamu kegini lagi."


"Iya aku janji gak bakal kegini lagi, maaf ya sayang." Biru pun mulai mengusap air mata Elena.


Elena pun akhirnya mengangguk pelan.


"I love you." Ucap Biru pelan.


"Love you more." Jawab Elena.


Biru pun akhirnya bisa tersenyum dan mulai mencium singkat ke arah bibir Elena.


"Apa masih ada yang sakit?" Tanya Biru kemudian.


Elena pun menggeleng.


"Aku udah minum obat yang dikasi dokter kemarin."


"Ah baguslah." Biru pun kembali tersenyum dan kembali mencium Elena dalam waktu lebih lama lagi.


Tak usah di tanya apa yang terjadi selanjutnya, tentu saja hal yang terjadi adalah pergulatan di atas ranjang.


"Entah kenapa, semenjak kamu hamil, aku jadi semakin horny liat kamu." Bisik Biru.


Tak lama seorang lelaki tua yang bertugas sebagai tukang bersih-bersih di kost itu pun muncul menyambut kedatangan Biru.


"Mas yang sebelumnya nelpon mau cek kost-kost'an ya?" Tanya lelaki tua itu.


"Iya pak." Biru pun mengangguk.


"Oh mari, ikut saya." Pak tua itu pun langsung menuntun langkah Biru.


"Ayo." Ucap Biru pelan sembari memegang tangan Elena.


Elena yang saat itu masih sedikit bingung hanya bisa terus diam dan mengikuti langkah mereka.


"Kost'an yang masih kosong cuma ada di lantai dua, lantai satu sudah full semua mas." Jelas pak tua itu.


"Gak masalah pak, dimana aja yang penting cocok." Jawab Biru santai.


Tiba di lantai dua, pak tua itu pun membuka salah satu pintu kamar,


"Ini mas, cuma kamar jni yang tersisa yang kasurnya sesuai keinginan mas. Ada dua kamar lagi yang kosong tapi kasurnya lebih kecil dari ini." Jelas pak tua itu.


Biru pun langsung masuk ke dalam kamar kost yang berukuran lebih luas dari kamar kost'-an Elena dan ya, tempat tidurnya juga jauh lebih besar. Biru pun tersenyum sembari melirik ke arah Elena.


"Gimana sayang, kamu sukak gak kamar ini?"


"Suka, kamarnya besar, memangnya untuk siapa sih?" Tanya Elena yang masih penasaran.


"Ya udah pak, saya ambil yang ini aja."


"Baik mas. Kapan mau masuk?"


"Kemungkinan besok." Jawab Biru.


"Baik mas, untuk mengenai pembayaran, masnya langsung transfer aja ya ke rekening yang punya kost, karena saya cuma bertugas bersih-bersih aja disini. Nanti saya kasi nomor rekeningnya."


"Sekarang aja pak saya transfernya."


"Oh baik."


Setelah menyelesaikan pembayaran, pak tua itu pun langsung menyerahkan kunci kamar kost itu pada Biru.


"Tapi disini beneran bebas kan pak?"


"Bebas mas, yang penting jangan bikin keributan."


"Baik pak, makasi."


Pak tua itu pun pergi meninggalkan Biru dan Elena yang kala itu masih berada di dalam kamar kost itu.


"Jadi kamu yang mau ngekost disini ya?? Tapi kenapa?? Kamu berantem lagi sama papa kamu??" Tanya Elena yang masih belum mengerti maksud Biru.


"Bukan cuma aku, tapi kita." Jawab Biru sembari langsung merangkul mesra Elena.


"Hah?! Kita?!" Elena pun terkejut namun juga masih terlihat sedikit bingung.


"Ya, semenjak aku tau kamu gak dikirimin uang bulanan lagi, dan kost kamu juga udah mau jatuh tempo, saat itu juga aku mulai mikirin semua ini."


"Ja,,, jadi maksud kamu..."


"Iya, kita bakal ngekost disini bareng-bareng, kamu gak perlu pusing lagi mikirin biaya kost, karena aku yang bakal handle."

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2