
Lagi dan lagi, kedatangan Biru malam itu kembali mengundang kejut bagi teman-temannya. Bagaimana tidak, Biru yang biasanya selalu datang sendirian ke party-party sebelumnya, kini terlihat datang dengan menggandeng tangan Elena.
"Wow, liat tuh siapa yang dateng!" Celetuk Ferdy yang dibuat sedikit tercengang,
Febby, Ame, Bram dan yang lainnya pun sontak menoleh ke arah Biru dan Elena yang kala itu terlihat berdiri di depan pintu.
Lagi dan lagi, Febby kembali nampak sangat tidak senang dengan hal itu, ia benar-benar sakit hati saat melihat bagaimana Biru yang kala itu memegang tangan Elena dan Elena yang bisa dengan bebas menggandeng tangan Biru.
"Pake pelet apa sih cewek kampung itu??!! Kok bisa bikin Biru jadi kepincut gitu sama dia??!!" Gumam Febby dalam hati.
Elena memanglah memiliki kecantikan alami, tapi tidak bisa di pungkiri, Febby juga tidak kalah cantiknya, bahkan Febby jauh lebih modis dalam penampilannya, ia modern, anak orang kaya, dan merupakan perempuan yang paling populer di kampusnya. Namun sayangnya, nyatanya segala keunggulan yang dimiliki Febby saat itu tidak bisa membuat Biru jatuh hati padanya seperti ia jatuh hati pada Elena.
"Apasih kurangnya gue kalau di bandingin sama cewek kampung itu?" Gumam Febby lagi yang masih merasa terheran-heran,
Lita selaku pemilik party malam itu, seketika langsung menghampiri Biru dan juga Elena.
"Wahh, ternyata lo dateng juga Ru,, seneng banget gue karena lo mau ikut ngeramein party gue." Ungkap Lita ketika menyambut mereka.
"Happy birthday Li, nih kado lo!" Biru pun memberikan sebuah paperbeg berukuran kecil.
Lita dengan sebuah senyuman sumringahnya langsung meraih paperbag itu,
"Wow, apa ni? Repot-repot bener deh." Lita pun segera meraih isi dalam paperbag itu.
Sebuah kotak jam dari sebuah brand yang cukup terkenal membuat senyuman Lita semakin merekah.
"Wowww, kelasss banget, thanks Biru." Ucap Lita sesaat setelah melihat isi dalam kotak itu, yang merupakan sebuah jam keluaran terbaru.
Biru pun hanya tersenyum tipis sembari mengangguk singkat.
"Oh ya, gak masalah kan kalau aku dateng sama Elena kesini?" Tanya Biru lagi.
Saat itu Elena pun akhirnya mulai tersenyum saat Lita mulai memandanginya, Lita pun nampak terdiam sejenak sembari terus memandangi penampilan Elena dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bisa dikatakan, pakaian yang di pakai Elena malam itu adalah pakaian yang paling sopan di antara seluruh perempuan yang ada di party itu.
"Owwh, hai Elena." Sapa Lita akhirnya sembari tersenyum penuh makna.
"Hai kak Lita, selamat ulang tahun ya kak." Ucap Elena yang terus tersenyum.
"Makasih." Jawab Lita yang terus mengutas senyuman dan mencoba untuk bersikap ramah.
"Ya udah, yuk gabung sama yang lain." Ajak Lita yang sontak langsung menarik tangan Biru begitu saja.
Lita pun terus melangkah penuh semangat menuju ke tempat dimana Febby dan yang lainnya sudah duduk berkumpul.
"Hai guys, liat siapa yang ku bawa." Celetuk Lita.
__ADS_1
"Wohoo Biru Dirgantara, akhirnya lo mau gabung ke party ini bro, welcome." Celetuk Bram.
Biru hanya tersenyum tipis,
"Oww, ada Elena juga, hmm hai Elena." Sapa Bram kemudian.
"Hai semua." Ucap Elena dengan sedikit kikuk.
"Hai El." Jawab Ame sembari mulai memandangi penampilan Elena yang terlihat begitu biasa saja baginya.
"Hmm dress mu bagus El, keliatan sangattt,,, hmm apa ya?" Ucap Ame sembari terlihat tengah berfikir.
"Sangat apa hayoo?" Pancing Ferdy.
"Ah ahahaha enggak, enggak, kamu keliatan cocok dengan dress itu El, sama-sama sederhana hehehe." Ucap Ame lagi yang seolah mengolok Elena secara halus.
Febby yang mendengar hal itu pun akhirnya mendengus pelan sembari tersenyum geli, karena ia jelas sangat paham maksud dari ucapan Ame sebenarnya ke arah mana.
"Ah ayo duduk, jangan berdiri terus." Ajak Lita yang langsung mendudukkan Biru disalah satu kursi yang kosong.
Elena pun ikut duduk di sisi Biru, dan harus berdampingan dengan Ame. Elena pun terdiam sejenak kala memandangi penampilan seluruh perempuan yang ada di sekitarnya, memandangi bagaimana pakaian yang mereka kenakan seolah seperti kekurangan bahan. Ada banyak paha, pusar, dan belahan dada yang terpampang jelas disana, namun bagi Elena mereka terlihat begitu keren saat mengenakan pakaian seperti itu hingga mulai membuat Elena sedikit merasa tidak percaya diri dengan pakaiannya sendiri.
"Mereka semua berdandan dan pakaiannya juga keren-keren dan modis banget, sedangkan aku..." Gumam Elena sembari kembali memandangi pakaian yang ia pakai dengan tatapan sendu.
"Kamu kenapa El?" Tanya Biru berbisik.
"Kamu malu gak bawa aku kesini dengan pakaian kegini?" Tanya Elena pelan.
"Enggak! Kenapa nanya gitu sih?"
"Liat aja pakaian temen-temen cewek kamu, semuanya keren dan modis, sedangkan aku...."
"Haiss, udah gak usah di pikirin! Tetep kamu yang paling cantik dimataku!" Jawab Biru lembut sembari kembali memegang tangan Elena yang terasa sedikit berkeringat.
Acara potong kue pun dimulai, banyak suara sorakan serta tepuk tangan saat Lita berhasil meniup lilin serta memberikan potongan kue pertama untuk pacarnya. Saat itu orang tua Lita tidak ada, keduanya sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis, hingga membuat Lita dengan bebas bisa mengadakan party bebas seperti malam itu.
Kini acara pun berlanjut, setelah menyantap berbagai jenis makanan yang tersedia, kini mereka kembali duduk berkumpul sembari menikmati minuman beralkohol seperti biasa. Minuman yang nyaris tidak pernah terlewatkan di setiap mereka mengadakan party.
Baik laki-laki maupun perempuan, nampaknya begitu menikmati minuman berjenis whisky itu, kecuali Biru dan Elena yang kala itu masih duduk terdiam memandangi orang-orang disekitar mereka saling bersulang.
"Biru, ayo minum, kenapa lo diem aja sih kayak orang bego gitu!" Celetuk Bram.
"Enggak, kalian lanjut aja." Jawab Biru.
Elena saat itu pun mulai kembali melirik ke arah Biru dan entah kenapa merasa tidak tega melihat pacarnya sepertinya selalu di pojokkan teman-temannya sendiri karena tidak minum.
__ADS_1
"Haiss, kenapa sih lo jadi gak asik gini? Dulu lo juga paling kuat minum di antara kita semua." Celetuk Ame.
Biru pun menatap Elena.
"Kita pergi sekarang? Acaranya juga udah selesai." Bisik Biru.
Elena pun mengangguk pelan.
"Ya udah, kalian lanjut aja, gue mau cabut dulu." Ucap Biru sembari mulai bangkit dari duduknya.
"Hah?! Lo serius mau langsung pergi saat kita lagi lanjut minum kegini Ru??" Tanya Bram yang nampak sedikit terkejut.
"Bahkan lo pergi disaat belum minum setetes pun??" Tambah Ame.
Febby pun nampak menghela nafas dan akhirnya ikut bersuara.
"Hmm guys, kalian harus paham kalau Biru yang sekarang ada di hadapan kita ini, bukan lagi Biru yang asik dan seru kayak dulu. Biru yang sekarang udah berubah jadi Biru yang alim dan polos, sepolos pacarnya. Jadi jangan ajak dia minum lagi, karena dia mau ngejaga perasaan pacarnya yang suci tanpa dosa ini." Ungkap Febby seolah menyindir.
"Febb!!" Ketus Biru.
"Elena, kamu kalau mau pacaran sama Biru silahkan, tapi ya jangan ngerubah Biru juga dong!! Dari sebelum lo kenal dia, kita udah deket duluan sama dia, jadi lo jangan pengaruhi Biru untuk ikutan polos kayak lo!!" Tegas Ame.
"Ak,, aku, aku gak pernah sama sekali pengaruhi Biru." Jawab Elena pelan.
"Ru, kayaknya lo emang gak cocok deh pacaran sama cewek yang terlalu polos kayak dia, asli ya, lo jadi keliatan cupu bro sekarang." Celetuk Ferdy menimpali.
Seolah merasa muak dengan julukan cewek polos, Elena pun nampak mulai kesal, bahkan rasa segannya terhadap teman-teman Biru pun seolah seketika lenyap.
"Aku gak polos!" Tegas Elena.
"Oww waw haha? Yakin kamu gak polos?? Hmm kalau emang gak polos, nih minum!" Ucap Ame sembari menyodorkan botol minuman itu ke hadapan Elena.
Elena pun terdiam sejenak sembari memandangi botol minuman yang warna airnya seperti teh manis baginya.
"Udah El, gak perlu di ladeni, kita pergi aja!" Bisik Biru sembari ingin kembali menarik tangan Elena.
Namun Elena yang sudah terlanjur merasa tertantang dan sudah sangat lelah di bully, seolah tidak ingin beranjak dari tempatnya.
"El, jangan bilang kamu mau nerima tawaran Ame!!" Ucap Biru.
Elena tidak menggubris dan seketika langsung meraih botol minuman itu.
"Ok, aku bakal minum!" Tegas Elena.
"Wow, are you serious Elena?" Tanya Bram.
__ADS_1
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Elena pun langsung meneguk minuman itu langsung dari botolnya, kedua matanya pun sontak terpejam saat merasakan bagaimana anehnya rasa minuman alkohol untuk pertama kalinya.
...Bersambung......