
"Ya udah yuk!" Biru pun langsung memegang tangan Elena dan mengajaknya untuk berlari menuju sekumpulan tenda-tenda di tepi telaga.
Setelah membayar biaya sewa tenda di post utama, Biru dan Elena pun kembali berlari memasuki salah satu tenda yang tidak terlalu jauh dari mereka.
Di dalam tenda sudah tergantung sebuah lampu, yang akan menjadi penerang selama mereka di dalam. Dengan cepat Biru mengancing tenda itu hingga membuatnya tertutup rapat, agar tempias air hujan tidak masuk ke dalam tenda mengingat anginnya saat itu juga cukup kencang.
"Huh, astaga, bener-bener bikin panik aja." Celetuk Elena sembari tersenyum geli saat mereka sudah aman di dalam tenda.
"Kamu basah gak?" Tanya Biru sembari membuka jaketnya yang sudah lumayan basah.
"Lumayan sih." Jawab Elena yang mulai memandangi pakaiannya.
Biru pun menoleh ke arah Elena dan mendapati jika rambut serta baju yang dikenakan Elena saat itu sudah cukup basah.
"Astaga!! baju kamu beneran basah loh ini!" Ujar Biru saat memegangi baju Elena yang terasa sangat lembab.
"Hmm mau gimana lagi?" Jawab Elena santai.
"Kalau dibiarin kamu bisa masuk angin!"
"Iya, tapi mau gimana lagi cobak? Akukan gak ada bawa baju ganti."
Tanpa berkata apapun lagi, Biru pun langsung membuka baju kaos yang kala itu tengah ia pakai. Baju kaos Biru sama sekali tidak basah karena sebelumnya ia memakai jaket yang berbahan cukup tebal hingga membuat baju kaos yang ada di dalamnya cukup terlindungi.
"Kamu pake bajuku ya." Ucap Biru saat membuka bajunya.
Untuk sesaat, Elena pun sedikit terkejut saat mendapati Biru yang nampak bertelanjang dada di hadapannya. Perut Biru yang memiliki banyak bentuk kotak pun jadi terlihat jelas hingga menambah nilai kemachoannya bagi Elena. Bahkan Elena akhirnya mengetahui satu hal yang selama ini tidak ia ketahui, yaitu ada sebuah tatto yang cukup besar di tengah-tengah dadanya yang bergambar seperti seorang wanita romawi yang memiliki sayap.
"Kenapa kamu diem dan liatin aku kegitu Elena?" Tanya Biru yang nampak bingung.
"Ja,, jadi, kamu punya tatto?"
Biru pun terdiam sembari melirik ke arah dadanya.
"Ya, sesuai dengang yang kamu liat sekarang." Jawab Biru dengan tenang,
"Oh." Ucap Elena pelan.
"Kenapa El, apa kamu gak suka sama cowok bertatto?"
"Awalnya iya, jujur aku takut kalau liat cowok bertatto?"
"Hah? Serius? Apa aku bikin kamu takut sekarang?" Biru pun nampak sedikit terkejut.
__ADS_1
"Gak takut tapi sedikit kaget."
"Maaf El, apa aku bikin kamu kecewa sekarang? Aku bisa aja hapus tattoku asal bisa bikin kamu nyaman deket aku,"
"Kamu serius mau hapus tatto cuma demi aku?" Elena pun kembali terperangah.
"Kenapa enggak? Lebih baik kehilangan tatto dari pada kehilangan kamu El, bahkan aku baru aja miliki kamu."
Elena pun lagi-lagi di buat meleleh oleh kata-kata manis Biru yang semakin menyentuh lubuk hatinya.
"Kamu gak perlu lakuin itu, ku denger bikin tatto itu sakit, tapi lebih sakit kalau di hapus,"
"Ya, itu memang bener. Tapi aku bisa tetep hapus tatto ini kalau kamu keberatan aku punya tatto,"
"Enggak, gak usah, yang udah terlanjur ada, biarin aja, tapi jangan di tambah lagi, ok?"
"Serius kamu gak papa?"
"Iya, tapi kamu harus janji gak bikin tatto-tattoan lagi."
"Iya sayang, aku janji. Makasi ya udah ngertiin aku."
Elena pun mengangguk sembari tersenyum.
"Ak,, aku harus ganti baju disini?" Tanya Elena sembari meraih baju kaos milik Biru.
"Iyalah, masa mau keluar hujan badai gini, yang ada ikut basah dong baju aku."
Elena pun terdiam seolah ragu, namun Biru yang paham dengan hal itu pun seketika kembali tersenyum.
"Ya, ya. I know, I know." Ucapnya yang kemudian langsung berbalik badan membelakangi Elena.
"Kamu udah punya privasi sekarang, ayo cepet ganti bajunya!" Ucap Biru.
Elena pun lagi-lagi dibuat tersenyum, selain manis dan perhatian, ternyata Biru juga sangat pengertian. Elena pun bergegas membuka bajunya yang sudah sangat lembab, hingga menampilkan sebuah bra berwarna hitam yang kala itu sedang menyangga dua gundukan daging yang terlihat cukup besar dan kokoh di baliknya, lalu dengan cepat memakai baju kaos berwarna hitam milik Biru yang kala itu tercium begitu harum, beraroma maskulin yang sangat membuat nyaman.
"Udah?" Tanya Biru.
"Kamu boleh balik badan sekarang," jawab Elena.
Biru pun berbalik badan dan dibuat sedikit tercengang saat pertama kali melihat Elena memakai baju kaos miliknya.
"Kenapa?" Tanya Elena.
__ADS_1
"Hmm enggak, cuma ngerasa pangling aja, ternyata pake baju kaos oblong gini aja kamu tetep keliatan cantik." Jawab Biru.
"Hiss, gombal banget." Elena pun mendengus pelan sembari kembali tersenyum lebar.
Biru pun ikut tersenyum, lalu mulai meraih sebelah pipi Elena yang kala itu terasa dingin, mengusapnya dengan lembut sembari menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Pipimu dingin banget El, apa kamu masih kedinginan?" Tanya Biru setengah berbisik,
"Jujur iya. Tapi yang aku cemaskan itu kamu, kamu gak pake baju disaat udara dingin kegini, kamu yakin gak papa?"
"It's ok, aku bisa tahan, yang penting kamu aman dulu."
"Makasih ya, kamu bener-bener udah peduli banget sama aku, aku sayang sama kamu,"
"Aku juga." Jawab Biru sembari mulai mengusap rambut Elena yang masih basah.
"Rambutmu juga basah El."
"Hehehe iya, jadi berantakan gini penampilan aku jadinya." Elena pun kembali memegangi rambutnya.
"Enggak, sama sekali enggak! Justru malah sebaliknya, kamu keliatan cantik banget kegini El."
Hal itu sontak membuat wajah Elena kembali memerah karena malu.
"Apasih kamu, gombal banget."
"Aku serius, aku keliatan semakin cantik," Biru pun terus mengusap lembut pipi Elena sembari semakin mendekat ke arah Elena.
"Keliatan jadi makin..."
"Makin apa?" Tanya Elena lembut.
"Boleh aku jujur?"
"Jujur lebih baik kan?" Jawab Elena.
"Kamu jadi keliatan seksi banget kalau rambutnya lagi basah kegini."
Elena pun terdiam sembari terus tersenyum, saat itu Biru juga semakin mendekatkan wajahnya. Elena tau maksud tujuan Biru saat itu, namun ia pun seolah terpaku dan bahkan sama sekali tidak berniat untuk menghentikan aksi Biru.
Dan ya, Biru pun kembali mencium Elena, menciumnya dengan hangat sembari melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang ramping Elena. Elena, seakan mulai sedikit mengerti bagaimana cara membuat hal itu bisa jadi semakin mengasyikkan, yaitu dengan cara membalasnya. Jika di dua kali ciuman pertama mereka Elena terus diam dan hanya Biru yang bergerak, kini perlahan Elena pun nampak mulai ikut memainkan bibir Biru dan mulai menikmati permainan bibir mereka yang seolah saling menerkam satu sama lain,
...Bersambung......
__ADS_1