
Tanpa mempedulikan apapun lagi, Biru pun langsung saja melangkah untuk menghampiri Elena.
Febby yang menyaksikan hal itu pun seketika dibuat sumringah, ia melirik ke arah Ame sembari menaikkan singkat kedua alis matanya.
"Kayaknya bakal ada tontonan menarik ni." Celetuk Ame pelan yang kemudian ikut tersenyum.
"Hahaha, dan gue bakal jadi orang pertama yang paling nikmatin tontonan menyenangkan ini." Jawab Febby yang terus tersenyum sinis.
"Ok, let we see apa yang bakal terjadi." Ucap Ame.
Saat itu, kebetulan Elena dalam perjalanan untuk kembali menuju ke dalam setelah selesai mengantarkan pesanan para tamu. Namun tiba-tiba saja langkahnya dibuat terhenti saat posisinya tepat di depan sebuah pintu kaca transparan.
Kedua mata Elena pun seketika membulat sempurna saat mendapati sosok Biru yang sudah ada di hadapannya.
"Bi,, Biru??!!!" Elena pun sangat terkejut.
"Oww, jadi perpustakaan kampus, udah pindah ke cafe ini ya?!" Ucap Biru dengan kedua tangannya yang mulai bersedekap di dada.
Elena seketika membeku, ia menelan ludahnya sendiri karena merasa gelagapan dan gemetaran.
"Ngapain kamu disini?!" Tanya Biru yang mulai nampak tidak senang.
"Ak,, aku...." Elena yang sangat ketakutan karena sudah ketahuan berbohong pun mendadak jadi gagu.
"Kamu kerja disini??!! Sejak kapan?? Kok aku gak tau??!!" Biru yang semakin emosi pun terus menghujani Elena dengan berbagai macam pertanyaan hingga membuat Elena semakin merasa terpojok dan semakin tidak bisa berkutik.
"Bener-bener kamu ya!! Bisa banget kamu bohongi aku kegini, dan gak terbuka sama aku tentang kerjaan ini. Kamu anggep apa aku selama ini El?? Ha??!! Kamu anggep apa??!!"
"Sayang, to,, tolong jangan bikik keributan disini, kita bicarain ini baik-baik ya, pleasee." Ucap Elena yang nampak begitu memelas.
Namun hal yang tidak diinginkan pun terjadi, Jonas tiba-tiba saja muncul disaat yang tidak tepat, dengan tenang ia berdiri tak jauh di belakang Biru dan langsung meneriaki Elena.
"El, Vero bilang udah cukup trainingnya hari ini, yuk ku anter pulang!" Ucapnya sembari tersenyum tenang.
Hal itu pun seketika membuat kedua mata Elena semakin membesar dan kembali menelan ludahnya. Begitu pula dengan Biru yang mendengar hal itu, sontak langsung berbalik badan dan menoleh ke arah Jonas.
Sama halnya dengan reaksi Elena sebelumnya, Jonas yang akhirnya menyadari keberadaan Biru pun seketika membulatkan matanya karena terkejut.
"Biru?!!" Ucapnya.
__ADS_1
Biru pun semakin tidak senang, emosinya semakin meluap dan langsung melangkah mendekati Jonas.
"Lo yang bawa Elena kesini??!!" Tanya Biru dengan tatapan menajam.
"Ru, tolong lo tenang dulu, jangan salah paham sama gue!"
"Gue tanya, lo yang bawa dia kesini??!!" Tanya Biru lagi yang semakin meninggikan suaranya.
"Iy,, iya, tapi itu atas permintaan Elena sendiri Ru. Dia yang minta tolong sama gue untuk nyariin kerjaan part time karena dia lagi terdesak masalah keuangan." Jelas Jonas yang sedikit merasa gemetaran karena ia tau betul bagaimana Biru saat sedang marah,
Biru pun kembali menoleh ke arah Elena dengan tatapan yang semakin tajam, tanpa berkata apapun lagi, ia pun kembali menghampiri Elena dan langsung menarik tangannya begitu saja.
"Kita pulang sekarang!" Ketusnya.
Elena tak berkutik, ia hanya bisa pasrah saat pergelangan tangannya di cengkram kuat oleh Biru yang kala itu nampak semakin emosi.
Sedangkan Febby dan yang lainnya, sepertinya harus sedikit kecewa karena mereka tidak bisa menonton pertunjukan yang nampak semakin seru itu lagi.
"Yah, kenapa harus pergi sih? Padahal lagi seru-serunya," Celetuk Ame yang nampak melesu.
"Gue yakin kali ini Biru bener-bener emosi, mungkin mereka bakal berantem yang lebih hebat lagi di suatu tempat." Jawab Febby.
Biru dengan langkah cepat terus membawa Elena ke tempat dimana motornya terparkir.
Namun Elena yang begitu ketakutan nampaknya masih enggan untuk naik ke motor Biru hingga membuat Biru harus membentaknya.
"Naik kataku!!" Bentak Biru.
Elena pun terkejut dan mau tidak mau langsung naik ke motor Biru. Dengan kecepatan tinggi, Biru terus melaju membelah jalanan untuk menuju kost'an Elena.
Biru kembali meluapkan Emosinya yang sebelumnya sempat tertunda saat mereka berdua sudah berada di dalam kost'an.
"Apa-apaan kamu El??!!" Bentak Biru.
Elena hanya bisa terduduk di tepi tempat tidurnya sambil menangis menundukkan kepalanya.
"Kamu bener-bener udah gak anggep aku sebagai pacar lagi ya??!!" Ketus Biru.
"Bukan gitu, tolong jangan marah dulu, maafin aku." Ucap Elena lirih.
__ADS_1
"Gimana aku gak marah??!! Aku pacar kamu, tapi kenapa kamu lebih percaya sama Jonas untuk bantu kamu ketimbang aku??!!"
"Karena,,, ka,, karena aku gak mau repotin kamu." Jawab Elena yang terus menangis terisak.
"Aaaghh bacot!!" Seru Biru sembari melempar kasar sebuah jam beker ke arah salah satu sisi dinding.
Elena pun terkejut dan langsung memandangi jam beker pemberian Tama yang kala itu nampak sudah hancur lebur.
"Kamu kok jadi gini sih?" Tanya Elena yang semakin menangis.
Namun Biru masih dengan kadar Emosinya yang memuncak. Ia kembali menghampiri Elena, berjongkok di hadapannya dan mulai meraih kedua pipi wanita itu hanya dengan sebelah jemari tangannya.
"Aku selalu terbuka sama kamu dalam hal apapun, aku turuti semua maumu, aku cintai kamu dengan sepenuh hatiku, aku juga berusaha berubah cuma demi kamu El." Ungkap Biru dengan suara yang merendah, namun dengan tatapan yang masih terlihat menyeramkan bagi Elena.
"Tapi apa yang aku dapat??!!!!" Pekik Biru kemudian hingga kembali membuat Elena terkejut dan kembali menangis,
"Kamu bahkan lebih terbuka sama Jonas ketimbang sama aku!!" Bentak Biru yang melepaskan kasar cengkraman tangannya pada Elena.
"Apa gunanya aku sebagai pacarmu El? Apa??!!" Biru terus mengamuk dan mulai memukuli tembok dengan tangannya.
Elena pun semakin ketakutan, namun di sisi lain ia juga tidak tega saat Biru melakukan hal itu karena tangannya mulai mengeluarkan bercak darah.
"Biru stop! Tolong jangan gini, aku minta maaf." Ucap Elena yang langsung memeluk Biru dari belakang.
Namun Biru masih saja seperti orang kesetanan, ia masih tidak mau menghentikan amukannya dan terus memukuli tembok dengan tangannya.
"Awas!!" Bentak Biru yang langsung menepis kasar tubuh Elena agar menjauh darinya.
Hingga tanpa sengaja, ia pun berhasil membuat tubuh Elena langsung tersungkur ke lantai.
"Aaaww." Elena pun meringis kesakitan.
Hal itu sontak membuat Biru menoleh ke arahnya, ia terkejut, dan langsung tersadar.
"El." Panggilnya yang langsung menghampiri Elena.
Elena masih terus meringis lirih.
"Maafin aku El, aku gak sengaja, tolong maafin aku." Ucap Biru yang nampak panik.
__ADS_1
Ia pun langsung menggendong tubuh Elena untuk membawanya ke atas ranjang, tanpa peduli pada tangannya yang juga sudah terluka dan mengeluarkan darah.
...Bersambung......