
Keesokan paginya,,,
Elena perlahan terbangun dari tidurnya, sembari melirik ke arah jam dinding yang tergantung tepat di hadapannya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi, saat itu Biru bahkan masih nampak terlelap sembari memeluknya dari belakang.
Dengan gerakan pelan, Elena pun mulai turun dari tempat tidurnya, ia mengambil salah satu test pack dan membawanya ke dalam toilet.
Beberapa menit kemudian, sebuah garis berwarna merah gelap perlahan muncul saat ia sudah mencelupkan ujung test pack itu ke dalam urinenya. Namun tak lama, sebuah garis merah satu lagi perlahan juga nampak muncul hingga seketika membuat jemari tangan Elena yang kala itu masih memegang test pack itu gemetaran.
"Gak, gak mungkin aku hamil." Ucapnya yang mulai panik dan masih gemetaran,
Elena pun dengan cepat membuang test pack itu ke dalam closet, lalu menyiramnya dengan air hingga test pack itu pun lenyap. Seolah tidak percaya dengan hasil pertama, Elena pun berusaha menenangkan dirinya dan meyakinkan dirinya sendiri jika test pack itu bisa saja keliru.
"Bakal aku coba lagi besok." Celetuknya pelan.
Dan keesokan harinya, hasil yang sama dari test pack dengan merk yang berbeda pun seketika membuat Elena terdiam membeku, bagaimana tidak, sudah dua kali percobaan dan hasilnya sama. Masih merasa belum puas hati, Elena pun mengambil sisa test pack terakhir dan langsung mencelupkan ujungnya pada urinenya pagi itu. Dan ya, dua buah garis merah pun kembali muncul hingga membuat Elena seketika melemas.
Kedua matanya sontak berkaca, ia pun terduduk lesu di atas closet dengan tatapan kosong.
"Aku hamil, aku bener-bener hamil." Gumamnya lirih sembari mulai meneteskan air matanya,
Tak lama, suara ketukan pintu pun menyentakkan Elena, itu adalah Biru.
*Toktoktok*
"Sayang, kamu lama lagi ya di dalam? Aku kebelet nih." Ucap Biru dengan suara beratnya khas orang baru bangun tidur.
Elena pun tersentak dan langsung menyeka air matanya.
"Sayang??? Kamu ngapain sih? Kok diem aja?" Tanya Biru lagi yang kembali mengetuk pintunya.
"Sebentar." Jawab Elena lesu,
Tak lama, Elena pun keluar dengan raut wajah yang tidak biasa, hal itu pun sontak mengundang tanda tanya bagi Biru yang merasa aneh melihat Elena yang tidak seperti biasanya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Biru sembari meraih kedua pundak Elena.
Elena masih terdiam lesu.
"Kamu berkeringat dingin, kamu sakit ya?" Tanya Biru lagi yang nampak cemas.
Elena pun hanya menggelengkan pelan kepalanya.
__ADS_1
"Terus kenapa? Ada masalah apa?"
Tak ingin menutupinya lagi dari sang kekasih, Elena dengan lesu akhirnya mulai mengeluarkan salah satu test pack dari saku celananya, lalu menyerahkannya pada Biru tanpa berkata sepatah katapun.
"Apa ini?" Tanya Biru sembari meraih test pack itu.
Biru pun memperhatikan test pack itu dengan seksama, beberapa detik di awal, Biru terlihat masih bingung dan terus membolak balik test pack itu. Namun beberapa detik selanjutnya, perlahan kedua matanya nampak membesar saat memandangi dua garis merah yang terpampang nyata di test pack itu.
"Ka,, kamu hamil??" Tanya Biru yang langsung melirik ke arah Elena.
Tidak menjawab dengan kata-kata, Elena hanya mengangguk pelan dan kemudian mulai melangkah lesu menuju tempat tidur.
"Serius kamu hamil??" Tanya Biru lagi yang langsung mengejar langkah Elena.
Elena hanya diam dan menunduk lesu.
"Elena jawab aku, kamu beneran hamil?" Tanya Biru lagi yang masih seolah tidak menyangka.
"Iya!! Iya aku hamil!!" Tegas Elena yang nampak kembali meneteskan air matanya.
Namun reaksi Biru setelahnya benar-benar diluar ekspektasi, ia justru langsung tersenyum senang dan seketika langsung menggendong tubuh Elena sembari bersorak girang.
"Yeaayyy, kamu hamil."
"Ka,, kamu,,, kenapa malah seneng?" Tanya Elena yang nampak bingung.
"Ya jelas aku seneng, kamu hamil Elena, aku seneng banget."
"Kamu gak takut? Kita ini belum nikah, gimana bisa kamu seneng?"
"Hais, banyak kok diluaran sana orang hamil di luar nikah. Aku janji, setelah lulus kuliah, aku bakal nikahi kamu."
"Terus gimana dengan kandungan aku? Apa langsung di gugurin aja?" Tanya Elena.
"Jangan!" Tegas Biru.
"Kenapa?" Dahi Elena pun nampak mengkerut.
"Aku mau kamu tetep hamil, bakal nyenengin banget rasanya kalau liat perut kamu mulai membesar."
"Ka,, kamu yakin? Apa kata orang nanti?"
__ADS_1
"Kenapa kamu masih aja mau mikirin apa kata orang? Memangnya saat kita susah, orang-orang itu ada yang nolongin kita? Enggak kan!"
Elena pun seketika terdiam sejenak dengan segala macam pikiran yang ada.
"Ta,, tapi, kamu gak bakalan ninggalin aku kan setelah tau aku hamil kegini? Kamu bakalan tetep disini dan tanggung jawab kan?" Tanya Elena yang masih saja terlihat begitu cemas.
"Tentu aja, aku gak bakal ninggalin kamu, aku justru seneng tau kamu hamil."
"Tapi gimana kuliahku?"
"Kamu kuliah aja kayak biasa, nanti kalau perutnya mulai gede, kamu bisa pake baju longgar atau sweater, biar gak keliatan."
Lagi-lagi Elena pun kembali terdiam sembari menundukkan kepalanya.
"Udah dong sayang, jangan takut lagi, ada aku disini, ok? Aku gak bakal lari kemana-mana, kamu percaya kan sama aku?"
Elena pun mengangguk pelan sembari menatap Biru dengan tatapan sendu.
"Udah ya, jangan sedih lagi, aku bakalan selalu ada buat kamu." Biru pun langsung memeluk erat tubuh Elena, mengusap-usap lembut punggungnya untuk memberi kenyamanan serta ketenangan pada Elena yang nampak begitu gusar hari itu.
Sejak kehamilannya, pribadi Elena yang awalnya begitu santai pun seketika berubah menjadi lebih posesif dari sebelumnya. Bahkan setiap jam ia harus mengetahui keberadaan Biru saat mereka sedang tidak bersama. Perubahan terjadi bukan hanya pada Elena, Biru juga. Semenjak mengetahui kehamilan Elena, Biru justru semakin agresif pada Elena terlebih saat mereka melakukan hubungan ranjang. Seakan gairahnyaa menjadi tiga kali lipat lebih besar dari sebelumnya, ia bahkan semakin sering menciumi perut Elena dengan penuh naffsu.
Keduanya semakin sering melakukan hubungan intim, seolah pantang memiliki waktu luang sedikit saja, mereka pasti menghabiskannya dengan bercumbu.
"Kamu milikku Elena, jangan pernah berfikir kamu bisa pergi dariku." Bisik Biru sembari terus menciumi area telinga Elena.
"Aku cuma milik kamu, selamanya bakal kegitu." Jawab Elena sembari terus terpejam merasakan betapa nikmatnya setiap sentuhan Biru kala itu.
"Kau ini, sudah sakit-sakitan tapi masih saja kekeh untuk tetap hidup. Apa kau belum puas selama ini hidup di atas keretakan rumah tanggaku ha?! Bahkan hingga saat ini suamiku masih sering mengigau dan menyebut namamu!!" Ketus seorang wanita yang begitu meninggikan suaranya di hadapan Irene yang kala itu masih terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.
"Maafkan aku, sudah berapa kali ku katakan padamu, aku benar-benar tidak tau jika ia sudah memiliki keluarga, demi tuhan aku tidak mengetahui hal itu sebelumnya." Jawab Irene yang terdengar begitu pelan dan lirih.
"Aaah tidak mungkin, kau bukannya tidak tau, tapi saat itu kau berpura-pura tidak tau karena ingin menguras harta suamiku lebih banyak lagi, iya kan?" Mata wanita itu pun nampak semakin melotot pada Irene.
Namun hal itu tidak membuat Irene membalas tatapannya dengan ikut melotot, Irene justru terlihat semakin sendu menatap wanita yang tengah dalam emosi yang menggebu-gebu itu.
"Tidak, itu sama sekali tidak benar! Aku sungguh tidak tau, dia mengaku lajang padaku dan berjanji ingin menikahiku secepatnya, sampai akhirnya aku mengandung, baru lah dia mengatakan semuanya padaku. Barulah aku tau jika Aryo telah berkeluarga, sejak saat itu, aku pun tidak lagi berhubungan dengannya."
"Aahh! Aku benar-benar muak dengan pembelaanmu itu, kenapa kau tidak mati saja ha?! Dasar pelakor! Sekali pelakor tetap lah pelakor!!" Pekik wanita itu lagi sembari menampar keras pipi Irene seolah tak peduli pada kondisi Irene pada saat itu.
Kedua mata Anna sontak kembali membulat sempurna saat mendengar suara tamparan yang begitu jelas terdengar di telinganya. Kini emosi Anna pun semakin tak bisa lagi ia bendung dan kendalikan, membuatnya langsung masuk begitu saja ke ruangan tempat dimana ibunya di rawat yang berada di kelas tiga. Lalu, tanpa ada rasa takut, ia pun menghampiri wanita yang sejak tadi terus memarahi ibunya dan dengan begitu beraninya, ia juga menampar pipi mulus wanita itu dengan begitu keras hingga membuat pipi wanita itu jadi memerah akibat bekas tamparannya.
__ADS_1
Bersambung...