
Seolah tidak sabar menunggu teman-temannya di dalam mobil, akhirnya Febby pun memutuskan untuk masuk lebih dulu ke cafe itu untuk memesan minuman, karena cuaca yang cukup panas membuatnya mulai kehausan.
Siapa sangka, cafe yang didatangi Febby saat itu adalah cafe yang sama dengan tempat kerja Elena yang baru. Namun meski begitu, mereka tidak langsung bertemu karena saat itu Vero mengajak Elena dan Jonas masuk ke dalam ruangannya untuk mulai membaca surat kontrak kerja dan menandatanganinya.
Setelah beberapa saat terduduk, akhirnya Bram dan Biru pun nampak muncul, di susul pula dengan Ferdy dan yang lainnya. Kedua mata Febby pun seketika mendelik saat menyadari jika salah satu di antara mereka ada seorang yang begitu ia rindukan kehadirannya, siapa lagi kalau bukan Biru.
"Wah, apa aku lagi mimpi sekarang? Ada Biru di antara kita setelah sekian lama." Celetuk Febby yang seketika nampak tersenyum.
"Ya, setelah membujuknya mati-matiian, akhirnya dia mau ikut gabung bareng kita lagi." Jawab Bram santai sembari langsung duduk di sebuah kursi kosong.
"Tumben kamu mau ikut gabung lagi bareng kita, memangnya kemana pacar tercintamu Ru? Apa kamu mulai bosen sama dia?" Tanya Febby sembari terkekeh.
"Dia ke perpus, lagi ada tugas." Jawab Biru datar sembari ikut duduk.
"Hmm bagus deh, sering-sering aja kegitu, biar kamu bisa sering nongkrong lagi bareng temen-temen kamu yang udah hampir kamu lupain ini." Jawab Febby.
"Apasih Feb!" Ketus Biru berdecak.
Mereka pun langsung memesan minuman dan makanan, tak lama Ame pun muncul bersama dengan Lita hingga menambah ramai kumpulan mereka.
Di sisi lain, Elena telah selesai menandatangani surat kontrak kerja.
"Ok Elena, besok siang sepulang kuliah, kamu udah bisa mulai kerja ya. Tapi biar besok kamu gak terlalu canggung, gimana kalau hari ini aku test kamu dulu untuk ngelayani beberapa tamu? Kamu keberatan?" Tanya Vero.
"Boleh, sama sekali gak keberatan." Jawab Elena sembari tersenyum,
"Ok, tunggu sebentar ya." Vero pun langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangannya, meninggalkan Jonas dan Elena yang maish terduduk di dalam ruangan sepetak yang dingin karena AC.
"Good luck ya El." Ucap Jonas sembari tersenyum.
"Makasih banyak ya Jo, ini berkat kamu. Aku janji bakal traktir kamu nanti pas aku terima gaji pertamaku, ok?"
"Yakin mau neraktir aku? Aku makannya banyak loh."
"Gak papa, aku berhutang budi sama kamu."
"Hmm ok, aku tunggu dua Minggu lagi." Jonas pun tersenyum.
Tak lama Vero pun kembali masuk ke dalam ruangan itu dengan sudah membawa sebuah celemek modern berlogo nama cafe miliknya, dengan sebuah notes kecil beserta sebuah pulpen.
__ADS_1
"Ini Elena, kamu bisa pakai ini dulu untuk sementara sebelum kamu dapetin seragam kerja."
Elena pun meraihnya dan langsung memakainya.
"Dan ini, kamu bisa catet semua pesanan tamu disini." Ucap Vero lagi saat memberikan buku notes dan pulpen.
Elena pun tersenyum dan dengan semangat meraihnya.
"Aku liat ada beberapa tamu di samping bagian luar yang baru dateng, kamu handle mereka sekarang ya?"
Elena pun menghela nafas singkat.
"Baik." Jawabnya yang kemudian langsung melangkah keluar dari ruangan itu.
"Semangat El." Celetuk Jonas.
"Hehehe thanks." Jawab Elena yang kemudian langsung pergi.
Elena dengan perasaan sedikit gugup, mulai menghampiri tamu yang datang ke cafe itu, yang dimana hampir rata-rata pengunjung yang datang kesana adalah anak-anak muda dan anak kuliahan.
"Silahkan mas, mbak." Ucap Elena dengan ramah sembari memberikan buku menu pada custumernya.
Beberapa menit menunggu hidangan sembari melayani pengunjung baru di bagian outdoor cafe, Elena pun dipanggil oleh orang dapur karena pesanan sudah selesai dan bisa di antar. Dengan sigap Elena pun membawa nampan itu ke luar dan mulai menghidangkannya ke atas meja dengan sangat hati-hati.
Dan disaat yang sama, tak sengaja kedua mata tajam Febby melirik ke arah luar cafe dan mendapati seseorang yang begitu familiar baginya.
"Hah?! Gue gak salah liat??! Kok waiters itu mukanya mirip banget sama Elena sih?" Gumam Febby dalam hati dengan dahi yang mulai mengkerut.
Febby pun terus memandangi Elena yang kala itu tengah nampak fokus melayani tamunya. Semakin lama, semakin jelas jika itu memanglah Elena.
"Sumpah demi apa itu beneran Elena??!!" Gumam Febby lagi yang mulai nampak terkejut saat menyadari jika waiters itu adalah Elena.
Febby pun kembali menoleh ke arah Biru yang kala itu tengah duduk tenang sembari mengaduk-aduk minuman miliknya,
"Biru." Panggilnya.
"Hmm." Jawab Biru datar.
"Tadi kamu bilang Elena ada dimana??" Tanya Febby secara sengaja.
__ADS_1
"Ke perpus, kenapa?" Tanya Biru datar.
"Lo yakin dia beneran ke perpus?"
"Yakin lah, dia gak mungkin bohong." Jawab Biru.
"O'o, apa mungkin aku yang salah liat ya." Celetuk Febby lagi.
"Salah liat apasih Feb?" Tanya Ame yang juga mulai merasa penasaran dan sedikit bingung.
"Coba liat ke arah sisi kanan, di bagian luar." Ucap Febby.
Secara serentak, mereka semua pun menoleh ke arah yang sama termasuk Biru, ke arah tempat dimana saat itu Elena terlihat sedang melayani para pengunjung cafe.
"Itu Elena kan??" Tanya Febby lagi.
Melihat hal itu, tentu saja kedua mata Biru jadi seketika membulat sempurna.
"Elena??!!" Ucapnya pelan yang nampak begitu terkejut.
"Wah, wah,, keliatannya Elena yang polos, mulai jago membohongi pacarnya sekarang, hmm apa perpus kampus udah pindah kesini?? Sejak kapan??" Celetuk Febby yang seolah ingin memanas-manasi Biru.
"Loh, demi apa itu Elena?? Dia jadi waiters disini?? Sejak kapan??" Tanya Bram yang juga nampak terkejut.
Biru masih membeku, ia tercengang dengan lidahnya yang mendadak terasa kelu sembari terus memandangi Elena yang kala itu masih belum menyadari keberadaannya.
"Hmm kalau diliat dari ekspresi Biru, keliatannya dia juga baru tau sekarang." Celetuk Ame saat melirik ke arah Biru.
"Hmm, apa itu artinya Elena yang baik dan polos bener-bener udah mulai suka berbohong?" Tanya Febby yang semakin membuat Biru mulai merasa panas di dadanya.
"Ru, beneran kamu juga baru tau dia kerja disini?" Tanya Ferdy sembari menepuk pundak Biru.
Biru pun masih terdiam sembari menundukkan kepalanya dengan pikiran yang mulai berpikir macam-macam.
"Wahh, dianggep apa lo selama ini Ru? Masak lo baru tau sih? Berarti selama ini dia gak terbuka dong sama lo." Tambah Ame yang ikut memanas-manasi Biru.
Biru pun mendengus kasar sembari langsung bangkit dari duduknya, berbagai ucapan teman-temannya berhasil membuat api emosinya mulai berkobar.
Bersambung...
__ADS_1