Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
47


__ADS_3

Wanita itu pun sontak jadi melotot sejadinya memandangi Anna sembari memegangi pipinya yang di buat memerah dan terasa begitu pedas akibat tamparan keras dari Anna.


"Ka,, kau! Beraninya kau menamparku!!!" Bentak wanita itu yang kembali ingin menampar Anna.


Namun tangannya dengan cepat di tahan oleh Anna dan di hempaskannya kembali secara kasar.


"Iya, memang aku berani, memangnya kenapa?!" Bentak Anna yang tak mau kalah sembari mulai mengecakkan kedua tangannya di pinggang, dengan tatapan yang begitu tajam seolah ingin membunuh.


"Dasar anak haram!! Tidak tau sopan santun dan tidak punya etika!" Ketus wanita itu yang terlihat semakin menggeram pada Anna.


Seperti sudah sangat terbiasa mendengar kata 'anak haram' dalam hidupnya, bahkan sejak Anna masih kecil ia sudah sering dibully dengan disebut anak haram oleh orang-orang di sekitarnya hingga akhirnya membuatnya mulai terbiasa dengan julukan pedas itu. kini Anna tak lagi menangis apalagi bersedih hati saat mendengar kata itu kembali di lontarkan untuknya. Ia hanya bisa mendengus kasar dan tersenyum sinis pada istri sah ayah kandungnya itu.


"Ya, memang aku adalah anak haram, anak hasil hubungan gelap dari suamimu yang begitu rakus akan kasih sayang dan belaian wanita, anak haram dari lelaki yang tidak pernah merasa puas dengan istrinya, Aku memang anak haram, lantas kau mau apa ha??!" Tantang Anna.


Irene, yang saat itu masih begitu lemah, mulai berusaha meraih tangan Anna yang bermaksud ingin menenangkan Anna, hal itu pun membuat Anna seketika menoleh sejenak ke arah ibunya.


"Nak, sudah lah, tolong jangan menentangnya, biar bagaimana pun dia juga ibumu." Ucap Irene lirih.


"Apa? Ibu?!" Mata wanita itu pun seketika mendelik.


"Cuihh!! lebih baik aku mati dari pada harus menganggap anak haram ini sebagai anakku!!" Tegas Wanita yang dikenal bernama Miska.


"Hei wanita tua, aku juga tidak sudi menganggapmu sebagai ibuku!!" Ketus Anna lagi.


"Dasar, anak tidak tau sopan santun dan tidak punya etika!! kau dan ibumu sama, sama-sama tidak tau malu!" Ketus Miska lagi.


Mendengar hal itu Anna justru semakin dibuat terkekeh geli.


"Apa katamu? Sopan? Hahaha aku tidak perlu berlaku sopan pada orang seperti mu, yang beraninya hanya pada yang lemah!!" Jawab Anna yang terus menertawakan Miska,


Hal itu pun ternyata berhasil membuat Miska semakin naik darah dan semakin geram.


"Dasar kau...."


"Dasar apa?! Apalagi yang akan kau ucapkan untuk menghinaku dan juga ibuku?! Seujung kuku pun, tidak akan lagi ku biarkan kau menghina apalagi menampar ibuku seperti tadi! Sekarang ku minta agar kau pergi dari sini!!" Bentak Anna sembari menunjuk ke arah pintu seolah meminta wanita itu untuk keluar saat itu juga.


Namun saat itu Miska masih saja terdiam, ia sama sekali tak bergerak dari posisinya dengan tatapan matanya yang semakin menajam.


"Pergi dari sini kataku!!" Bentak Anna lagi.


Wanita itu pun mendengus, lalu akhirnya ia pun pergi begitu saja dari ruangan itu tanpa ada berkata apapun lagi. Anna kembali menoleh ke arah ibunya, lalu bergegas mendekati ibunya dan mengusap-usap pipinya.


"Ibu, apakah sakit?" Tanya Anna lirih.


"Sudah lah nak, ibu tidak apa." Jawab Irene yang terlihat sangat lemas.


"Hais ibu, sudah jelas-jelas wanita itu menampar ibu, kenapa masih saja bersikap sok baik-baik saja ha?"


Irene pun akhirnya hanya bisa terdiam dan tersenyum lirih di hadapan anaknya.


"Sudah-sudah, tenangkan dirimu, ada banyak orang disini dan sekarang mereka jadi terus memandangi kita dengan tatapan aneh.


"Aku tidak perduli bu! wanita itu memang layak di beri pelajaran." Tegas Anna.


"Sudah lah nak, sudah, lupakan! Ibu tidak mau ada dendam di hatimu sayang." Pujuk Irene yang kembali meraih tangan Anna.


Namun tak lama suster pun datang untuk mengecek keadaan Irene yang hingga saat itu, belum juga di lakukan penindakan yang lebih serius pada penyakitnya, mengingat Anna belum juga memberikan dp awal sebagai biaya tindakan operasi.


"Suster, apa bisa ibu saya di pindahkan ke kelas satu?" Tanya Anna tanpa pikir panjang terlebih dulu.


"Maksudnya mba?"


"Ya, saya mau ibu saya di pindahkan ke kelas satu, atau bila perlu pindahkan ibu saya ke kelas VVIP, agar dia bisa mendapatkan pelayanan yang lebih baik, dan agar orang asing tidak bisa lagi sembarangan masuk seperti kejadian barusan." Jelas Anna lagi,


"Ta,,, tapi mba, ruangan VVIP itu biayanya sangat mahal sekali, apa mba yakin?" Tanya suster yang seolah tidak yakin pada Anna karena melihat penampilannya yang saat itu memang terlihat biasa saja, tidak terlihat seperti orang kaya.


Sementara Irene, yang mendengar hal mustahil itu sontak langsung mendelikkan matanya.


"Nak, apa-apaan kamu?! Ruang VVIP sudah pasti akan sangat mahal, dan kita sudah jelas tidak akan mampu membayar biaya rawat inapnya walau hanya satu malam, meski pun itu dengan sebulan gajimu." Ungkap Irene yang mulai cemas pada permintaan Anna yang menurutnya sangat mustahil.


"Sudah lah bu, demi kebaikan ibu, apapun akan ku lakukan. Yang terpenting sekarang, ibu harus tetap semangat untuk sembuh dan jangan pernah takut ya, karena Anna akan selalu disini untuk ibu." Ungkap Anna dengan lembut sembari mengusap-usap sebelah tangan ibunya dan mulai menciumi punggung tangan ibunya itu.


"Jadi, anda benar-benar yakin ibunya mau di pindah ke ruang VVIP?"


"Eeemm." Anna pun mengangguk penuh penegasan.


"Baiklah, kalau begitu akan saya konfirmasikan dulu ke bagian Administrasi."


"Baik suster, tolong segera ya suster."


"Akan saya usahakan mba."


"Ok, terima kasih banyak Suster." Anna pun akhirnya tersenyum singkat.


Sang suster pun juga hanya mengangguk dan tersenyum, lalu langsung beranjak pergi dari ruangan tempat dimana Irene di rawat.


Anna pun kembali terdiam, dan kembali memikirkan lagi apa yang diucapkan oleh Arga sebelumnya padanya. Lalu ia pun memutuskan untuk memberanikan diri dan merencanakan untuk datang menemui Arga secara langsung dan menagih semua janji yang telah ia buat pada Anna.


Miska yang ternyata belum sepenuhnya keluar dari ruang rawat Irene, bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka, hal itu sontak membuatnya jadi membulatkan matanya saat memandangi Anna, ia begitu tidak percaya dan terus bertanya-tanya dalam hati dari mana Anna mendapatkan uang untuk kamar pasien semewah itu.


“Apa aku tidak salah dengar? Dia ingin pindah ke ruangan VVIP? Jika benar, dari mana dia uang sebanyak itu?” Tanya Miska dalam hati.

__ADS_1


Miska terus berfikir dalam diam, karena menurutnya seorang pekerja biasa seperti Anna, tidak mungkin sanggup untuk membayar kamar VVIP. Kemudian, Miska pun mulai menduga jika Anna pasti memanfaatkan kecantikan yang ia miliki untuk menjadi simpanan dari lelaki kaya.


"Wahh, nampaknya kalian adalah anak dan ibu yang sangat kompak ya.” Celetuk Miska lagi yang kembali memandangi Anna dan Irene dengan senyuman mengejek sembari kedua tangannya mulai bersedekap di dada.


Anna pun kembali menoleh dan menatap tajam ke arah Miska.


“Mendengarmu ingin memindahkan wanita penyakitan ini ke ruang VVIP, sungguh tidak membuatku terkejut, karena aku memang sudah menduga, pasti kau pun juga telah mewarisi bakat jadi wanita simpanan lelaki kaya dari ibumu hahaha.”


“Heh, apa maksudmu?” Anna pun kembali bangkit dan melototi Miska.


“Memiliki uang sebanyak itu untuk membayar kamar VVIP, sedangkan kau hanyalah seorang pekerja biasa, itu hal yang tidak mungkin terjadi jika tidak dengan menjadi simpanan lelaki kaya. Jika tidak dengan jalan pintas seperti itu, lalu uang itu datang dari mana? Apakah uang itu turun begitu saja dari langit ha? Hahaha.” Miska pun terlihat semakin puas saat merendahkan Anna.


Saat itu Anna pun kembali dibuat menggeram.


“Dasar, anak dan ibu sama saja, sama-sama pelakor yang kerjanya hanya mengincar suami orang yang kaya raya!!” Ketus Miska lagi.


Mendengar hal itu, membuat Irene menjadi sangat marah, dia pun jadi ikut bertanya-tanya dalam hati, apakah Anna memang menjadi simpanan seperti yang Miska katakan.


“Apakah benar yang dikatakan wanita ini, jika anakku menjadi simpanan lelaki kaya?” Tanya Irene dalam hati sembari mulai menatap sendu ke arah Anna.


Anna pun ikut menatap lirih ke arah ibunya sembari menggelengkan kepalanya, seolah menegaskan pada sang ibu jika yang dikatakan oleh Miska tidak lah benar.


Akhirnya Irene pun percaya, jika putrinya memang tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.


“Tidak mungkin anakku seperti itu!! meski kami hidup pas-pasan, tapi itu tidak membuat Anna menjadi hilang akal sehat hingga melakukan hal yang anda tuduhkan!!” Tegas Irene yang mulai menatap tajam ke arah Miska.


“Lalu, apa kau bisa menjelaskan dari mana uang itu berasal?” Tanya Miska yang nampaknya masih begitu mempermasalahkan masalah uang.


“Tidak perlu anda tau dari mana uang itu berasal!! yang jelas, aku percaya dengan putriku!!” Tegas Irene lagi yang semakin meninggikan suaranya.


Mendengar hal itu Miska pun hanya mendengus dan kembali tersenyum sinis.


“Ya ya ya, wajar saja jika kau membela mati-matian anakmu, karena pada dasarnya, sesama wanita simpanan memang harus saling mendukung.” Ucap Miska yang semakin melebarkan senyumannya.


Irene pun semakin menggeram dan mulai tak bisa mengendalikan emosinya yang selama ini terpendam, kali ini ia seolah ingin meledakkan segala unek-unek yang ia simpan selama puluhan tahun lamanya. Ia pun bergegas bangkit dari atas tempat tidur untuk menghampiri Miska dan merasa perlu menampar mulut busuknya itu. Namun apakan daya, kondisi Irene yang masih begitu lemah, sangat tidak memungkinkan untuk ia dapat melakukan hal itu, ia justru jatuh pingsan karena saking kesalnya bahkan sebelum ia berhasil menyentuh Miska seujung kuku pun.


Hal itu sontak membuat Anna kembali panik dan bergegas menekan bel untuk memanggil perawat.


“Suster, Dokter,,, tolong!!!” Pekik Anna yang semakin panik sembari terus berusaha menopang tubuh ibunya yang hampir ambruk ke lantai.


Tak lama, suster pun datang dan bergegas menolong Anna mengangkat tubuh Irene untuk membaringkannya kembali ke atas tempat tidur.


“Tolong suster, tolong periksa kembali ibu saya suster.” Pinta Anna.


“Iya mba, sebaiknya mba juga tenang, jangan panik.”


Anna pun terdiam, sembari terus mengusap-usap telapak tangan ibunya yang kembali terasa dingin.


Miska yang masih terdiam memandangi kejadian itu mulai kembali memancarkan sebuah senyuman sinis.


“Semoga saja kau cepat mati, pelakor!” Ketus Miska yang kemudian keluar dari ruangan itu.


Anna pun hanya bisa terdiam memandangi kepergian Miska dengan tatapannya yang begitu tajam dan dingin, seolah penuh dendam.


“Denyut nadinya masih stabil mba, tidak apa-apa, mungkin ibu anda hanya syok.” Jelas perawat dengan tenang.


“Apa anda yakin suster?”


Suster pun mengangguk.


“Tapi sebisa mungkin, hal semacam ini tidak boleh terulang lagi ya mba, karena kita tidak bisa menjamin jika terjadi syok yang kedua atau selanjutnya, ibu anda masih baik-baik saja. Tidak ada yang berani menjaminnya.” Jelas Suster itu lagi.


“Baik,” Anna pun mengangguk cepat.


Miska yang ternyata masih berdiri di balik pintu, bisa menguping dengan jelas apa saja yang di ucapkan oleh suster. Ia pun sedikit merasa kecewa karena mengetahui jika Irene masih saja mampu bertahan hidup.


“Haiss ada berapa nyawa wanita itu, sudah lama jadi penyakitan, tapi kenapa tidak mati juga!” Ketus Miska dalam hati sembari terus menggeram.


Menyadari jika Miska masih berada di depan pintu kamar ibunya, membuat Anna kembali berdiri tegak dan memilih untuk bergegas menghampirinya. Anna membuka pintu, hal itu membuat Miska cukup terkejut. Anna, saat itu masih diam dengan tatapannya yang semakin menajam seolah ingin membunuh, membuat Miska tiba-tiba saja mulai merasa merinding saat melihat tatapan yang penuh dengan kemarahan itu.


Tapi, bukan Miska namanya jika ia memperlihatkan hal itu pada Anna, ia pun menepis segala perasaan yang mulai membuatnya sedikit takut, dan kembali bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apapun, justru saat itu ia kembali mendengus di hadapan Anna, dan kembali berceletuk.


“Tidak ada gunanya meskipun saat ini kau memiliki banyak uang untuk mengganti kamar ibumu, karena di dunia ini kekuasaan bisa melakukan apapun. Bahkan, aku punya hak untuk meminta pihak rumah sakit agar mengusir ibumu dari rumah sakit ini!” Tegas Miska.


Anna pun terdiam sejenak, dalam hati ia mulai kembali menyumpahi serta mengutuk wanita yang saat itu ada di hadapannya, dan juga kepada ayah kandungnya yang telah membuat hidupnya terus menerus menjadi bahan hinaan seperti itu, bahkan tanpa ia sadari, kini kedua tangannya pun mulai mengepal saat ia kembali memikirkan kekejaman ayah kandungnya terhadap ia dan ibunya.


“Lelaki itu, tidak cukupkah dia membuat hidupku dan juga ibu menderita selama ini ketika menjadi bahan hinaan orang-orang. Kini, istri sahnya juga ikut menambah kesusahan di hidupku!!” Ketus Anna dalam diam sembari mulai mengepalkan kedua tangannya.


Namun, seolah mendapat ilham, tiba-tiba saja kembali terpikir olehnya, bahwa laki-laki yang ia telepon di pagi hari tadi, mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab padanya dengan cara menikahinya.


“Baiklah, jika hanya kekuasaan yang dapat menaklukan segalanya, maka aku akan menjadi istri CEO yang sangat berkuasa dalam banyak hal.” Gumam Anna dalam hati lagi yang saat itu mulai memantapkan hatinya.


“Haha nampaknya kau mulai tak bisa berkutik lagi sekarang saat mengingat jika aku punya kuasa disini.” Ketus Miska yang merasa menang.


Anna pun mulai kembali menatap Miska, ia mendengus sembari mulai tersenyum sinis.


“Kau dengar ini baik-baik! aku berjanji, aku akan membuatmu merasakan rasa sakit dan menderita akibat kekuasaan yang nantinya akan kumiliki.” Tegas Anna dengan sorot matanya yang saat itu penuh keyakinan.


Mendengar hal itu, sontak membuat dahi Miska mulai mengkerut.


“Apa maksudmu?” Tanya Miska yang mulai merasa sedikit cemas namun tetap berusaha untuk tidak memperlihatkannya di hadapan Anna.

__ADS_1


“Kelak, di waktu yang akan datang, jika aku sudah berkuasa, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu semudah itu! Bahkan aku akan melipat gandakan seluruh penghinaan dan penderitaan yang telah kau dan suamimu berikan padaku dan juga ibuku!!” Tegas Anna lagi dengan sorot matanya yang semakin menajam namun terlihat jelas matanya juga mulai berkaca-kaca.


Mendengar segala macam ancaman yang disampaikan oleh Anna, yang saat itu seolah ia anggap hanya sebuah lelucon baginya, sontak membuat Miska jadi tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha, apa aku tidak salah dengar lagi ha?” Miska terus tertawa geli di hadapan Anna.


“Kau, apa kau sadar saat mengatakan hal itu padaku ha? Kau, sama sekali tidak pantas dan tidak akan mampu melawanku disini, kau itu sangat lah kecil bagiku, jadi saranku, segera tarik ucapanmu, agar setidaknya hidupmu tidak terlalu menderita karena obsesimu yang sangat mustahil terjadi hahaha.” Tambah Miska lagi seolah ingin kembali menyadarkan Anna untuk mengingat siapa dirinya.


“Aku sadar saat mengatakannya, bahkan sangat sadar! Maka dari itu, mulai sekarang, gunakan saja segala cara dan trik yang kau punya untuk menindasku dan ibuku, karena selanjutnya, aku tidak akan memberimu ampun!” Ungkap Anna yang kembali menegaskan sembari mulai melebarkan senyumannya, lalu kemudian ia pun kembali melangkah dengan tenang memasuki kamar rawat ibunya dan meninggalkan Miska seorang diri di depan pintu kamar.


Hal itu membuat Miska sejenak jadi tertegun memandangi Anna yang nampak begitu percaya diri dan penuh keyakinan saat mengancamnya. Saa itu pula, entah kenapa Miska jadi semakin was-was dan semakin tak tenang dengan ancaman yang diberikan oleh Anna padanya, padahal hingga saat itu ia masih sangat tak yakin jika Anna bisa mengalahkannya.


Setengah jam kemudian, Miska pun memilih untuk menelpon pihak rumah sakit dan meminta mereka untuk mengusir Irene dan juga Anna dari rumah sakit itu.


Tak lama, pegawai administrasi rumah sakit datang secara langsung ke kamar tempat dimana Irene di rawat untuk mengatakan jika permintaan Anna untuk pindah kamar, tidak bisa di penuhi.


“Maaf mba, salah seorang dari pihak rumah sakit ini, meminta ibu anda agar mencari rumah sakit lain, dan tidak bisa melakukan pengobatan disini lagi.” Ucapnya dengan sedikit ragu-ragu.


Mendengar hal itu, Anna sontak kembali bangkit dari duduknya dengan matanya yang jadi begitu membulat sempurna.


“Apa?!”


“Iya mba, dengan berat hati saya harus menyampaikannya, karena saya mendapat perintah langsung dari kepala rumah sakit, dan meminta saya untuk memastikan jika mba dan ibu bisa pergi saat ini juga.”


Tangan Anna pun mulai kembali mengepal kuat, kini api kemarahan kembali berkobar jelas dari pancaran sorot matanya.


“Miska!! Kau benar-benar kelewatan!!” Ketusnya dalam hati sembari tanpa ia sadari, ia pun mulai meneteskan air mata.


Keadaan itu membuatnya semakin merasa terdesak, hingga tak memiliki waktu lagi untuk pergi menemui Arga secara langsung sesuai seperti rencananya sebelumnya. Tak ingin membuang banyak waktu untuk berfikir, ia pun langsung menelpon Arga saat itu itu juga.


“Eeemm.” Jawab Arga yang terdengar datar.


Anna pun harus menghela nafas panjang terlebih dulu sebelum dia menanyakan sebuah pertanyaan yang menurutnya cukup memalukan baginya.


“Eeem, aku ingin bertanya.”


“Setelah tadi pagi kamu puas memarahiku, sekarang kamu malah ingin bertanya? Eeem baik lah, katakan saja, apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Apa tawaranmu tadi pagi masih berlaku?” Tanya Anna tanpa ingin banyak basa basi lagi.


Namun, seperti ada yang berbeda saat mendengar suara Anna kali ini, suaranya tidak sama seperti tadi pagi saat ia terus memarahi Arga, suara Anna kali ini justru terdengar sangat lesu dan terdengar serak.


“Hei, apa kamu sedang menangis? Suaramu terdengar berbeda kali ini.” Tanya Arga.


“Tidak perlu mengetahui bagaimana keadaanku saat ini, menangis atau pun tidak, itu tidak lah penting. Jadi, tolong jawab saja pertanyaanku.” Tegas Anna sembari mulai menahan isak tangisnya.


“Eemm baik lah, karena niatku memang ingin bertanggung jawab atas kejadian semalam, jadi kurasa aku belum berubah pikiran tentang ucapanku tadi pagi.” Jawab Arga dengan enteng.


“Eemm ok, kalau begitu aku setuju.”


“Setuju? Setuju apa?” Tanya Arga yang nampaknya masih bingung.


“Aku setuju untuk menikah denganmu.” Jawab Anna datar.


“Oh, emm, benarkah?” Arga nampaknya sedikit tidak menyangka.


“Iya. Oh ya, boleh aku bertanya lagi.”


“Katakan lah!”


“Apakah kamu tidak marah jika calon ibu mertuamu di usir dari rumah sakit?”


Arga terdiam sejenak, sebenarnya ia masih begitu bingung ke arah mana pembicaraan Anna saat itu. Namun karena tak ingin berfikir terlalu keras, di tambah pula dengannya yang belum pernah bertemu dengan calon ibu mertuanya itu, maka Arga dengan mudah mengatakan tidak.


“Tidak.” Ucapnya yang masih terdengar santai.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika istrimu marah?” Tanya Anna lagi.


Pertanyaan seperti itu, berhasil membuat Arga jadi tertegun sejenak,


“Hei, apa yang sebenarnya kamu inginkan?” Tanya Arga kemudian.


“Kamu yakin ingin mengetahui apa yang ku inginkan saat ini?”


“Ya, katakan la!”


“Aku ingin sekali membunuh kepala rumah sakit ini.”


Mendengar hal itu, lagi-lagi berhasil membuat Arga jadi mendelikkan matanya.


“Apa? Ingin membunuh? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah itu tindakan yang terlalu kejam bagi seorang wanita yang berparas imut dan lembut seperti dia.” Gumam Arga dalam hati.


Tapi sepertinya Arga tidak bisa memenuhi keinginan Anna dalam hal itu, karena menurutnya, cara seperti itu sangat lah kejam bagi wanita seperti Anna.


“Cara itu tidak realistis dan menurutku sangat tidak manusiawi, apa kamu tidak bisa menggantinya dengan cara lain?”


“Eeemm baik lah, kalau begitu aku ingin mengganti kepala rumah sakit ini, karena kepala rumah sakit yang sekarang sangat tidak punya hati nurani hingga membuatnya tidak pantas berada di posisinya saat ini.”


“Kamu sepertinya sangat marah sekarang, sebenarnya apa yang terjadi? Bisa jelaskan detailnya padaku agar aku tidak bingung?”


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2