
Biru dan ke tujuh teman yang bertugas mengospek kala itu pun langsung menuju kantin. Mereka bahkan bisa duduk bersantai disaat para mahasiswa baru sedang melanglang buana tak tentu arah demi menyelesaikan misi dari mereka.
"Acara pembubaran ospek nanti mau gimana?" Tanya Wita, salah satu dari mereka.
"Gimana kalau acara pembubaran ospeknya kita adakan nanti malam, jadi kita buat ala-ala kemah gitu di taman kampus, kan luas tuh." Usul Ame.
"Hmm boleh juga tuh, kita bakar-bakar dan bikin api unggun terus main beberapa game sama para mahasiswa baru itu, seru pasti." Tambah Febby.
"Hmm bagus tu, gue setuju." Sahut Bram.
"Lo gimana Ru? Setuju gak?" Tanya Ame sembari menoleh ke arah Biru yang sejak tadi hanya duduk tenang dan banyak diam.
"Lo atur deh, gue ngikut aja." Jawab Biru tanpa beban tanpa mau ribet.
"Ok deh, jadi deal ya semua?" Ame pun memandangi satu persatu teman-temannya.
"Deal!!" Jawab mereka serentak.
"Ini tantangan terakhir berarti ya?" Tanya Biru kemudian.
"Iya, tantangan terakhir yang udah pasti sulit hehehe." Jawab Bram.
"Kalau mereka gagal, hukumannya apa?"
"Udah pasti hukumannya juga akan jauh lebih sulit!" Jawab Febby.
"Contohnya?" Tanya Biru lagi sembari mulai mengerutkan dahinya.
"Siapa yang gagal, gimana kalau kita suruh pasang tenda untuk nanti malam," Usul Ame.
"Bakal terlalu mudah kalau ada banyak yang gagal." Jawab Febby.
"Ya mereka harus pasang tenda, mereka yang bakar-bakar, mereka yang bikin api unggun, ya pokoknya mereka akan melayani kita di acara pembubaran ospek nanti malam, gimana?" Tanya Ame lagi.
"Hmm kalau gitu sih boleh juga." Febby pun tersenyum.
"Terus kalau yang lolos? Apa istimewanya?" Tanya Biru lagi.
"Mereka bakal gabung ikut kita, mereka juga bakal dilayani sama yang kalah." Jawab Bram.
"Dan ya, siapa yang paling cepet selesaiin misi ini, dia bakal jadi ratu ospek tahun ini, dan bakal dapat perlakuan istimewa setelahnya," tambah Febby lagi.
"Gimana bisa cepet kalau harus minta tanda tangan lima orang dosen yang bahkan mereka belum kenal." Biru pun mendengus pelan.
"Tapi ada jalur alternatif lain Ru, duh lo banyak gak taunya ni, efek kesiangan mulu jadi gini deh." Keluh Ame sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa?"
__ADS_1
"Mereka bisa aja lolos dengan mudah tanpa harus nyari ke lima dosen kalau berani minta tanda tangan bokap lo hahaha." Jawab Ame yang kemudian terkekeh geli.
Namun hal itu membuat Biru terdiam seketika,
"Memang siapa yang berani? Liat muka dingin bokap Biru aja pasti udah bikin nyali mereka ciut hahaha." Bram pun ikut tertawa.
Ayah Biru yang merupakan seorang Dekan di kampus itu, memang terkenal sebagai pribadi yang dingin, sedikit bicara juga sangat tegas. Itu sebabnya banyak mahasiswa yang dibuat ciut nyalinya jika sudah sekali di panggil ke ruangannya.
Tak lama Biru pun bangkit dari duduknya.
"Kalian lanjut aja dulu makannya," Ucapnya dengan tenang.
"Lah, lo mau kemana Ru?" Tanya Bram.
"Gue mendadak gak laper karena lo bahas bokap gue." Jawab Biru datar yang kemudian langsung melangkah dengan tenang meninggalkan mereka begitu saja.
"Haiss kenapa dia? Apa dia marah karena kita ngomongin bokapnya?" Tanya Ame yang nampak heran memandangi kepergian Biru.
"Hmm memang begitu lah dia, penuh misteri, banyak teka-teki." Sahut Febby yang juga masih memandangi kepergian Biru dengan tatapan lesu.
Biru terus melangkah menyusuri koridor yang kala itu nampak ramai oleh mahasiswa baru yang sibuk mencari dosen tujuan mereka.
Tak lama, dua orang mahasiswa baru pun menghampirinya dengan wajah sedikit memelas.
"Kak Biru, tolong kami dong, kasi tau satu aja dari nama dosen ini semua," pujuk mereka.
"Dosen ini dan ini, ruangannya ada di ujung tangga itu, kalian bisa datang kesana, kemungkinan di jam segini mereka lagi ada di ruangannya." Jawab Biru dengan tenang saat menunjuk dua nama dosen, dan kemudian menunjuk ke arah tangga yang tak jauh dari mereka.
"Ah makasi banyak kak Biru, makasi banyak." Dua mahasiswa perempuan itu pun nampak begitu senang dan dengan cepat langsung melangkah menuju tangga.
Biru pun melanjutkan langkahnya sembari melirik kesana kemari seolah sedang mencari seseorang. Kebetulan, saat itu seseorang yang berjalan cepat dari arah kiri, tak sengaja menabraknya.
"Maaf." Ucap seorang gadis yang kemudian kedua matanya nampak membulat saat melihat wajah orang yang baru saja ia tabrak.
"Elena?" Ucap Biru pelan.
Ya, gadis itu ialah Elena, yang kala itu terlihat begitu gusar.
"Biru?? Hmm maaf Biru aku gak sengaja."
Tanpa menjawab, Biru pun langsung saja meraih selembar kertas yang kala itu tengah di pegang oleh Elena.
Saat itu terlihat jika Elena baru berhasil mendapat tanda tangan satu orang dosen.
"Udah setengah jam lebih, kamu baru dapet satu?" Tanya Biru yang kembali menatap Elena.
Elena pun mengangguk dengan memasang wajah sendu.
__ADS_1
Biru pun terdiam sesaat, lalu menghela nafas singkat, kemudian tanpa meminta persetujuan Elena terlebih dulu, ia pun langsung meremas kertas itu dan melemparkannya ke dalam tong sampah yang tak jauh darinya.
Kedua mata Elena yang melihat hal itu pun sontak membulat sempurna.
"Kenapa kamu buang??!! Aku udah susah payah dapetin satu tanda tangan dari dosen itu."
"Kamu gak butuh itu lagi, sekarang ikut aku!" Ucap Biru yang langsung menarik tangan Elena tanpa ragu.
Namun Elena yang tidak mau ada yang melihat, segera kembali menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanya Biru yang juga menghentikan langkahnya.
"Aku gak mau ada yang liat kamu narik tangan aku dan jadi salah paham." Ucap Elena pelan.
Biru pun mengerti, dan akhirnya melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Elena.
"Hmm maaf, ya udah kamu ikutin aku ya!" Ucap Biru yang kembali melangkah.
Tak lama ia pun mengeluarkan ponselnya dan langsung melakukan panggilan.
"Dimana pa?" Tanyanya kemudian dengan nada datar.
"Oh, ok!" Jawabnya kemudian yang langsung mengakhiri panggilan itu dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Elena yang mendengar hal itu dari belakang awalnya tak ada menaruh pikiran apapun dan apalagi rasa curiga.
"Kita mau kemana?" Tanya Elena kemudian.
"Ikut aja!" Jawab Biru yang terus melangkah tanpa menoleh ke arah Elena.
Tak lama mereka pun tiba di depan sebuah ruangan, yang diatas pintunya memiliki label yang bertulis "Dekan"
"Ruangan Dekan? Ka,, kamu nyuruh aku untuk minta tanda tangan Dekan??" Tanya Elena yang nampak terkejut.
"Enggak, enggak, aku gak mau!!" Tegas Elena yang menggelengkan cepat kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Biru dengan tenang.
"Ku dengar dari beberapa kakak tingkat, Dekan fakultas ini bener-bener jutek, wajahnya dingin tanpa ekspresi seperti vampir." Jawab Elena dengan polosnya tanpa tau kebenaran jika Biru adalah anak dari Dekan yang ia maksud.
"Oh ya?" Tanya Biru yang saat itu berusaha menahan senyumannya karena merasa lucu sekaligus gemas saat melihat ekspresi Elena.
"Yang ku denger sih kegitu, jadi kalau kamu suruh aku ngambil jalan pintas untuk bisa lolos di tantangan ini, aku gak mau!"
Biru pun akhirnya mendengus pelan dan menampilkan sebuah senyuman tipis.
"Bukan kamu, tapi aku!" Jawab Biru yang kemudian langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan itu.
__ADS_1