
Dahi Elena pun seketika mengkerut saat mengetahui tantangan yang harus ia jalani.
"Hah?!! Su,, surat cinta?? Duhh, gimana cara nulisnya ya?? Akukan belum pernah sekalipun nulis surat cinta untuk siapapun!" Gumam Elena dalam hati yang kala itu mulai kebingungan.
"Ok, kami beri waktu kalian setengah jam untuk nulis surat cinta itu." Tambah Febby dengan lantang.
"Tulis surat cinta dengan kata-kata setulus mungkin untuk salah satu di antara kami semua yang mengospek kalian, ok?"
"Ok kak." Jawab seluruh mahasiswa baru dengan serentak.
Namun Elena terdiam sesaat sembari memandangi 7 orang kakak tingkat yang kala itu ada di depan barisan mereka dan tiga di antaranya laki-laki yang sama sekali tidak ada kesan apapun baginya.
Lagi-lagi dahinya kembali mengkerut saat tidak mendapati sosok lelaki yang kemarin menolongnya.
"Kok kak Biru gak ada ya? Apa dia bukan bagian dari mereka?" Tanya Elena dalam hati.
"Ok, kalian bisa mulai sekarang!" Seru Bram.
Seluruh mahasiswa pun mulai menulis surat di selembar kertas, tidak ada meja, mereka bahkan harus menulisnya sambil duduk di lapangan basket. Elena kala itu masih sangat kebingungan ingin menulis surat cinta untuk siapa, hingga 5 menit berlalu, namun kertasnya masih nampak polos tak bertinta.
Dan disaat yang sama, sosok yang sebelumnya sempat ia pertanyakan pun muncul dan nampak bergabung ke jajaran kakak tingkat yang ada di depan barisan, hal itu membuat kedua mata Elena melebar dan sedikit tercengang.
"Hah itu dia, jadi dia juga bagian dari mereka?" Gumam Elena lagi.
Biru kala itu nampak mulai mengobrol santai dengan teman-temannya, senyuman tipis yang ia tampilkan pun entah kenapa begitu terasa meneduhkan saat Elena melihatnya.
"Ok, berhubung dia yang udah nolong aku kemarin, jadi kurasa aku bakal nulis surat cinta untuk dia aja." Gumam Elena lagi yang perlahan mulai menorehkan tinta pada lembar kertasnya yang masih kosong.
Setengah jam pun berlalu, dan para mahasiswa baru ditegaskan untuk berhenti menulis. Saat itu Elena benar-benar sangat gugup dan gemetaran, ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti ia akan membacakan surat cinta itu pada seorang lelaki di hadapan orang ramai.
Elena pun memandangi lagi lembaran kertas yang sudah di isi dengan tulisan tangannya sendiri, mendadak ia mulai ragu pada kata-katanya sendiri.
__ADS_1
"Entah ini bisa disebut surat cinta atau cuma sekedar ucapan terima kasih, yang jelas ini yang ada di dalam kepalaku sekarang." Gumamnya lagi.
Satu persatu mahasiswa baru dari barisan paling ujung mulai di panggil untuk membacakan isi surat cintanya, setiap kakak tingkat yang menjadi sasaran juga wajib berdiri di hadapan si penulis surat.
Elena berharap sekiranya waktu bisa berjalan sedikit lebih lambat hingga gilirannya bisa lebih lama, tapi sayangnya yang terjadi malah sebaliknya, waktu seakan cepat sekali berlalu hingga hanya satu orang lagi sebelum dia.
"Ya ampun, abis ini aku, duh gimana ini??" Elena benar-benar gugup hingga telapak tangannya mulai terasa berkeringat.
Dan ya, sekarang tibalah saatnya Elena yang harus maju, dengan langkah gemetaran ia pun mulai melangkah dan berdiri di depan barisan.
"Heh, perempuan sok cantik, siapa nama lo kemarin??" Tanya Febby sedikit jutek sembari menyedekapkan kedua tangannya di dada.
Kala itu sorot mata Biru pun seakan mendadak berubah kala melihat perempuan yang berdiri di depan itu adalah orang yang kemarin ia tolong.
"El,, Elena kak." Jawab Elena sembari mulai menundukkan kepalanya.
"Hmm ok Elena, untuk siapa surat cinta yang lo tulis?" Tanya Febby lagi.
Bram pun nampak tersenyum tipis, dalam hatinya ia berharap Elena akan menulis surat cinta untuknya.
"Untuk kak Biru." Ucapnya pelan.
Lagi-lagi suara sorakan pun terdengar, hal yang sama juga terjadi setiap mahasiswa baru menyebutkan pada siapa surat cintanya tertuju.
Dengan tenang, Biru pun langsung melangkah maju dan berdiri di hadapan Elena dengan tatapan yang begitu pekat menatap gadis itu.
"Ok, sekarang bacakan isi suratmu, Elena." Ucap Biru dengan tenang,
"Ba,, baik kak." Jawab Elena dengan kedua tangannya yang masih nampak begitu gemetaran saat memegang selembar kertas itu.
Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Elena pun mulai membacakan isi suratnya.
__ADS_1
"Untuk seseorang yang kutau bernama Biru, jujur saja, aku sama sekali belum pernah menulis surat cinta sebelumnya, entah ini layak disebut surat cinta atau tidak, tolong kakak nilai sendiri. Kak Biru, kakak tingkat yang memiliki kesan paling baik di hari pertamaku masuk kesini, terima kasih sudah menolongku, terima kasih untuk nasi goreng dan segelas susu coklat hangat yang enak. Aku tidak peduli atas dasar apa kakak bersedia melakukan itu, entah hanya karena kasihan, atau hanya karena takut bermasalah karena aku dihukum sampai pingsan, yang jelas aku sangat berterima kasih. Aku tentu tidak akan mengungkapkan cinta di dalam surat ini, karena aku pun tidak tau bagaimana rasanya mencintai apalagi pada orang yang baru ku kenal kemarin. Tapi dengan setulus hatiku, sekali lagi aku hanya ingin bilang, terima kasih sudah baik padaku."
Elena pun kembali melipat suratnya saat selesai membaca, Biru yang mendengar hal itu sontak dibuat mendengus pelan sembari tersenyum.
"Bener-bener apa adanya dan keliatan jujur banget ya isi suratmu." Celetuk Biru.
Elena hanya bisa tersenyum kikuk dan kembali menunduk. Sementara Febby, kelihatannya ia sangat tidak senang saat mengetahui Biru membawakan makanan dan minuman untuknya kemarin hingga ia terus menatap sinis ke arah Elena.
"Jadi bukan cuma nolongin bawa ke UKS, Biru juga bawaan makan dan minum untuk anak sok cantik itu!!" Gerutu Febby dalam hati,
"Ok, berikan suratmu." Biru pun menjulurkan tangannya.
Elena dengan sedikit ragu langsung menyerahkan surat cintanya pada Biru, terlihat saat itu Biru menggabungkan surat milik Elena dengan beberapa lembar surat yang sebelumnya juga di tujukan untuknya.
Seluruh mahasiswa telah membacakan isi surat cintanya, dan sekarang waktunya beristirahat sejenak sembari menunggu para kakak tingkat untuk menilai dan menandatangani salah satu surat cinta yang menurut mereka paling menyentuh. Febby dan Biru, menjadi orang yang paling banyak mendapat surat cinta hari itu dari para mahasiswa baru.
Melihat bagaimana banyaknya tumpukan kertas di tangan Biru, membuat Elena hanya bisa menghela nafas pasrah karena berpikir jika ia tidak akan menang dalam tantangan kali itu mengingat isi surat cintanya yang biasa saja.
"Ada banyak banget surat cinta untuk kak Biru, bahkan kata-kata cinta mereka juga sangat romantis dan banyak pujian, beda banget sama suratku. Hmm kayaknya gak mungkin aku bisa menang." Gumam Elena melesu,
Setengah jam berlalu, mereka kembali di bariskan dan surat yang mereka tulis, kini telah dikembalikan dalam keadaan terlipat kecil.
"Nah, sekarang kalian buka surat kalian dan lihat, jika ada tanda tangan dari kakak tingkat yang kalian kirimi surat, itu berarti kalian pemenangnya dan kalian tidak perlu mengikuti tantangan selanjutnya." Jelas Febby dengan menggunakan toa,
Elena dengan lesu pun membuka lipatan surat miliknya, dengan dugaan jika dia tidak akan menang saat itu. Tapi kedua mata Elena nampak seketika membulat sempurna kala mendapati sebuah tanda tangan di dalam surat miliknya.
"Hah?!!" Elena pun begitu terkejut.
"In,, ini gak salah??" Gumam Elena yang semakin membesarkan matanya kala memandangi tanda tangan biru di bawah suratnya.
"Aku kecewa karena bukan ungkapan cinta yang kamu tulis untukku, tapi kamu beruntung, karena aku suka kejujuranmu, congrats." Tulis biru di sisi tanda tangannya.
__ADS_1
Elena pun sontak menoleh ke arah Biru, disaat yang sama, Biru juga terlihat sedang memandanginya dengan sebuah senyumannya yang khas. Elena pun ikut tersenyum dan merasa begitu senang saat itu.
...Bersambung......