Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Sudah jatuh, tertimpa tangga


__ADS_3

Sri kembali menghentikan langkahnya saat mereka sudah berjarak beberapa meter dari Elena.


"Kamu bener-bener lebih milih laki-laki itu dari pada keluargamu sendiri Elena?" Tanya Sri lagi.


"Maaf bu, aku bener-bener cinta sama dia."


"Kamu siap gak kami anggap anak lagi?"


"Kalau ibu udah memutuskan kegitu, aku terima." Jawab Elena lirih.


Sri pun mendengus kasar dengan kedua mata yang mulai berkaca, lalu tanpa berkata apapun lagi, mereka pun akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Elena.


Elena kembali masuk ke dalam kamarnya dengan langkah lesu serta raut wajah sendu. Seolah kehilangan seluruh tenaganya, Elena pun langsung terduduk lemas di sofa kamarnya sembari memijiti pelipisnya dengan kedua mata yang mulai ia pejamkan.


"Jadi itu orang tuamu?" Tanya Biru pelan.


Elena hanya mengangguk pelan tanpa menoleh ke arah Biru.


"Dimana mereka sekarang? Aku mau minta maaf sama mereka karena hal ini." Ungkap Biru.


"Gak perlu, mereka udah pulang!" Jawab Elena lesu.


"Pulang?? Apa mereka bener-bener marah besar?"


"Kayaknya gitu."


Biru pun menghela nafas singkat, lalu kemudian beranjak mendekati Elena dan duduk di hadapannya.


"Boleh aku tau orang tuamu bilang apa?"


"Mereka minta agar aku menjauhimu." Jawab Elena pelan sembari terus menundukkan kepalanya,


"Terus kamu jawab gimana?"


"Ya jelas aku gak mau nurutin mereka!"


Biru pun sontak mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"El, kenapa kamu ngelakuin itu? Itu sama aja kamu bikin orang tua kamu kecewa dan yang ada mereka bakal makin benci sama aku dan gak akan pernah nyetujui hubungan kita." Ungkap Biru.


"Biarin aja, toh selama ini aku selalu jadi anak yang penurut, kali ini aku bener-bener mau mutusin sendiri jalan hidupku, aku udah dewasa!" Tegas Elena.


"El, kayaknya ini gak akan berhasil." Ucap Biru lesu.


"Maksudmu?" Tanya Elena sembari mulai mengerutkan dahinya.


"El, demi tuhan aku sayang sama kamu, tapi di sisi lain aku juga gak mau bikin hidup kamu jadi berantakan kayak gini."


"Apanya yang berantakan? Asal dengan kamu, hidupku bakalan baik-baik aja." Jawab Elena.


"Walaupun harus bermusuhan sama kedua orang tua kamu sendiri??"


"Gak masalah, mereka cuma gak ngerti ada di posisiku sekarang, mereka itu egois."


"El, aku gak mau karena aku, kamu jadi bermusuhan dengan keluargamu sendiri."


"Terus aku harus gimana? Orang tua aku udah terlanjur gak suka sama kamu karena omongan Tama dan karena liat kejadian tadi."


"El, kayaknya kita gak bisa lanjutin ini, aku bener-bener gak mau ngerusak hidupmu lebih parah lagi." Biru pun perlahan mulai bangkit dari duduknya.


"Maksudmu??!!"


"Maaf El, tapi kayaknya kita sampai disini aja, gak perlu dilanjutin lagi. Tolong turuti kemauan orang tuamu, kamu anak baik sebelumnya, tolong jangan buang waktumu demi aku." Ungkap Biru dengan tatapan sendu.


Elena pun terperanjat dan langsung berdiri di hadapan Biru dengan wajah yang terlihat syok.


"Apa kamu bilang??" Tanya Elena dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


Saat itu Biru hanya diam dan menunduk lesu.


"Kamu serius barusan ngomong gitu sama aku Ru?" Tanya Elena lagi yang seolah masih sangat tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Maaf El, aku bener-bener gak siap dengan situasi ini, aku gak mau hidup kamu jadi berantakan, sama kayak aku." Ungkap Biru yang seketika terlihat lirih,


"Setelah apa yang udah lakuin semalem? Segampang itu kamu ngomong gini?" Air mata Elena pun seketika menetes melewati pipinya,

__ADS_1


Biru lagi-lagi terdiam.


"Setelah aku udah ngasi bagian yang paling berharga dari diri aku cuma buat kamu, dan sekarang kamu mau ninggalin aku??" Tanya Elena lagi.


"El, tolong ngerti apa maksudku,"


"Bahkan aku rela gak dianggap anak lagi sama orang tuaku demi kamu!!" Elena pun semakin menangis.


"Ya, itu yang gak aku mau Elena! Aku gak mau kamu jadi kacau karena aku, tolong ngerti!"


Elena pun terus menangis dan kembali terduduk lemas, begitu juga dengan Biru yang nampak jadi begitu gusar.


"Ya udah kalau itu mau kamu, pergi sana! Pergi!!" Ketus Elena sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Maafin aku El."


"Puas kamu kan udah bikin aku kegini??! Pergi sana!!" Teriak Elena yang semakin menangis terisak.


"Sekali lagi, aku bener-bener minta maaf El." Ucap Biru yang kemudian langsung pergi begitu saja.


Meninggalkan Elena yang kala itu terus menangis tersedu-sedu. Bagaikan jatuh tertimpa tangga, mungkin itu pribahasa yang paling tepat bagi Elena saat ini. Bagaimana tidak, setelah beberapa menit sebelumnya ia harus merasa sedih karena dengan terpaksa harus bermusuhan dengan keluarganya sendiri karena ia yang lebih memilih Biru. Namun malangnya, lelaki yang begitu ia perjuangkan di hadapan keluarganya, malah memilih untuk menyerah begitu saja.


Elena oh Elena, baru sebentar merasakan betapa indahnya cinta, kini ia sudah harus menelan pil pahit karena lelaki yang ia cintainya memilih untuk mengakhiri semuanya hanya dalam hitungan hari, bahkan hubungan mereka harus berakhir ketika Elena sudah melepaskan keperawanannya demi Biru.


Elena benar-benar di landa frustasi, ia kembali mengurung diri di kamarnya dan benar-benar kehilangan minat untuk masuk kuliah hari itu.


Hari-hari pun berlalu, tiga hari sudah lamanya Elena tidak masuk kuliah karena mengurung diri di kamarnya. Karena cinta, hubungan pertemanannya dengan Tama yang sudah terjalin sejak kecil jadi hancur, karena cinta hubungannya dengan kedua orang tuanya jadi hancur, dan karena cinta pula, kini kuliahnya yang baru saja ia jalani, juga sepertinya akan ikut berantakan.


Hari ke empat setelah putus, Elena dengan lesu mulai melangkah menuju meja riasnya, ia duduk di hadapan cermin dan mulai memandangi wajahnya yang nampak pucat seperti orang yang kekurangan darah.


"Enggak, aku gak bisa kegini terus, aku harus buktiin sama Biru kalau aku bukan perempuan yang pantang menyerah kayak dia!" Gumam Elena dalam hati.


Elena pun menghela nafas dalam, lalu dengan sedikit ragu mulai meraih beberapa alat make up yang ia punya, yang sebelumnya begitu jarang ia gunakan. Elena mulai berdandan, membuat matanya menjadi lebih tajam dengan menambahkan eye liner, membuat bulu matanya terlihat jadi semakin tebal dengan cara menambahkan mascara, serta membuat wajahnya yang sebelumnya begitu pucat, kini nampak cerah dan merona dengan polesan blush on berwarna pink yang tidak terlalu mencolok.


"Satu sentuhan terakhir." Celetuknya sembari meraih sebuah liptint dan mengoleskannya dengan tipis ke bibirnya.


Senyuman tipis perlahan nampak muncul dari wajahnya yang kini sudah terlihat begitu segar karena make up, Elena benar-benar merasa sangat puas saat itu kala melihat wajahnya yang jadi terlihat flawless meski hanya dengan alat make up seadanya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2