Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Selalu ada cara lain


__ADS_3

"Aaaaghh!" Elena kembali memekik kesakitan, hingga membuat Biru kembali menghentikan aksinya.


"Aku gak bohong, ini bener-bener sakit banget." Ucap Elena lirih.


Biru pun tertunduk singkat sembari menghela nafas, lalu kembali menatap Elena.


"It's ok, gak perlu kita lanjutin lagi," ucap Biru pelan, yang kemudian langsung beranjak dari atas tubuh Elena.


Elena pun terduduk lesu dan menatap Biru yang kala itu masih nampak terdiam sembari memijiti pelipisnya.


"Kamu pusing lagi?"


"Hmm ya, memang bakal selalu kegini kalau gak kesampe'an. Tapi it's ok, asal kamu gak ngerasa sakit lagi, gak papa!" Jawab Biru pelan sembari mulai memejamkan kedua matanya dan terus memijiti pelipisnya.


Hal itu sontak membuat Elena jadi merasa tidak tega dan merasa bersalah, di tambah lagi Biru yang lagi-lagi tidak ingin memaksakan kehendaknya demi tidak membuat Elena sakit.


"Dia rela ngerasa sakit kepala cuma demi gak mau nyakitin aku." Celetuk Elena dalam hati.


"Kamu gak marah sama aku karena lagi-lagi gak bisa bikin kamu sampe puncak?"


"Enggak kok," Jawab Biru lembut, hingga membuat Elena semakin tidak tega,


Elena pun perlahan mendekati Biru, lalu mulai memeluknya dari belakang.


"Ada cara lain ga yang bisa bantu untuk kamu bisa sampai puncak?" Tanya Elena.


"Untuk apa kamu nanya itu?" Tanya Biru lesu.


"Kalau ada cara lain, aku mau ngelakuinnya, apa aja, asal kamu gak sakit kepala lagi." Ungkap Elena polos.


Biru pun seketika menoleh ke arah Elena dengan tatapan sedikit memicing,


"Kamu yakin mau?"


Elena pun mengangguk pelan hingga membuat Biru mendengus pelan sembari tersenyum tipis.


"Udah deh jangan, ku yakin kamu bakal jijik nanti." Biru pun menggelengkan kepalanya dan kembali fokus memijit pelipisnya.


"Gak bakal! Kamu udah terlalu sering berkorban demi aku, sekarang giliran aku. Sekarang kasi tau sama aku, gimana caranya?"


Lagi-lagi Biru pun menatap Elena dengan tatapan serius.


"Kamu beneran serius?"

__ADS_1


"Aku serius!" Elena kembali mengangguk penuh keyakinan.


Membuat Biru perlahan berbalik badan hingga membuat mereka duduk berhadapan,


"Aku tanya sekali, kamu serius mau?"


"Iya, aku serius."


"Hmm ok." Ucap Biru setelah ia menghela nafas singkat.


Biru pun mulai meraih tangan Elena, mengarahkan tangan itu menuju bagian keperkasaannya. Kedua mata Elena pun seketika membulat saat untuk pertama kalinya ia menyentuh bagian inti milik Biru yang kala itu masih terasa mengeras dengan ukuran yang dirasanya cukup fantastis.


Ini pertama kalinya dalam sejarah hidup Elena, pertama kali menyentuh bagian pribadi orang lain, apalagi itu adalah laki-laki. Biru pun membuat tangan Elena agar menggenggam erat kepunyaannya, lalu mulai menggerakkan tangan Elena secara naik turun.


"Begini?" Tanya Elena pelan.


"Ya, ini yang paling standart, bahkan laki-laki juga bisa lakuin sendiri."


"Ohh." Elena pun mengangguk.


"Kamu bisa terusin." Ucap Biru yang mulai melepaskan tangan Elena, seolah membiarkan Elena untuk mandiri tanpa bantuan darinya lagi.


Kedua mata Biru mulai terpejam merasakan bagaimana kepunyaannya mulai di mainkan oleh Elena dengan tangannya, hingga entah berapa menit lamanya, Elena mulai merasakan pegal pada tangannya, bahkan ia sudah bolak-balik mengganti dari tangan kiri hingga tangan kanan, Namun nampaknya belum ada tanda-tanda Biru ingin mencapai puncak.


"Tangan kamu pegel ya?" Tanya Biru pelan.


"Kalau tangan kamu pegel, sebenarnya masih bisa dengan cara lain, tapi aku gak yakin kamu bakal mau."


"Cara apa?" Tanya Elena yang nampak penasaran.


"Lakuin hal yang sama, tapi bukan dengan tangan, melainkan pake mulutmu."


"Hah?!" Elena pun kembali tercengang mendengarnya.


"Ya, itu sebenarnya yang rasanya paling mirip dengan yang seharusnya." Jelas Biru singkat.


Elena lagi-lagi terdiam sejenak.


"It's ok, gak papa El, aku gak akan maksain kamu kok, udah ya, gak usah dilanjutin lagi, kesian kamu capek." Tambah Biru lagi yang langsung menjauhkan tangan Elena dari bagian intinya.


"Aku mau!" Tegas Elena tiba-tiba, hingga kali ini Biru yang nampaknya sedikit terkejut,


"Aku mau ngelakuinnya, asal itu bener-bener bisa bikin kamu ngerasa sensasi yang sama."

__ADS_1


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Biru pun mulai meraih kedua pipi Elena, lalu perlahan mulai mengarahkan wajahnya ke arah bagian intinya.


"Lakuin lah El, kalau kamu yakin." Ucap Biru setengah berbisik.


Elena tanpa pikir panjang, langsung menyambar bagian inti Biru dengan mulutnya. Dengan kedua mata yang terpejam, ia terus melakukan aksinya. Biru pun mulai terdongak merasakan kenikmatan semu itu, kedua matanya kembali terpejam bahkan sayup-sayup suara lenguhannya juga terdengar meski tidak begitu frontal seperti Elena.


"Apa bener kegitu caranya?" Tanya Elena yang menghentikan sejenak aksinya.


Namun Biru yang sudah terlanjur merasa jika ia sudah hampir menuju puncak, seolah tidak mengizinkan Elena menghentikan aksinya walah sejenak.


"Tolong lanjutin! Kamu udah tau jawabannya hanya dari liat eksresiku sekarang." Jawab Biru yang kembali menekan kepala Elena agar kembali pada aktivitasnya yang begitu menyenangkan bagi Biru.


Elena pun semakin mempercepat ritme gerakan pada mulutnya, membuat Biru semakin tak kuasa menahan gejolaknya.


"Ughh,, ooghh!!" Biru semakin tak bisa lagi mengendalikan alunan yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Melihat bagaimana Biru yang kala itu begitu menikmati, membuat Elena merasa semakin semangat dan puas karena bisa membuat Biru merasakan hal yang sejak kemarin tidak bisa ia rasakan dengan Elena.


"Aku beneran bakal tiba di puncak, sekarang." Celetuk Biru yang kembali menekan kepala Elena agar tidak menghentikan aksinya.


Dan ya, sesuatu yang aneh akhirnya terasa memasuki mulut Elena bahkan seolah langsung muncrat ke dalam kerongkongannya. Elena pun seketika menghentikan langkahnya dan sontak merasa ingin muntah.


"Muntahin aja kalau kamu jijik." Ucap Biru pelan yang terlihat tersenyum tipis sembari sedikit terengah,


"Percuma, udah terlanjur ketelen." Jawab Elena yang kala itu masih nampak syok dengan hal yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


"Ya, begitu lah rasanya, kamu udah tau kan sekarang?"


"Ini bener-bener masuk ke dalam mulutku, apa gak bahaya?"


"Bahaya!"


"Serius??" Elena pun membulatkan matanya.


"Bahayanya, kamu jadi awet muda, dan pasti makin banyak sainganku."


"Kok gitu?" Tanya Elena.


"Katanya sih gitu, temen-temen cewekku juga pada bilang gitu,"


"Berarti temen-temen cewek kamu udah sering kegini?" Elena yang polos lagi-lagi nampak terkejut.


"Sayang, kamu harus ingat sekarang kamu tinggal dimana, kamu tinggal di tengah kota besar yang dimana kebebasan anak muda disini seolah gak ada batasannya." Jelas Biru sembari kembali mengusap lembut sebelah pipi Elena.

__ADS_1


Elena pun lagi-lagi hanya bisa terdiam.


...Bersambung......


__ADS_2