Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Hilang sudah


__ADS_3

Elena terus menarik tangan Biru dan membawanya masuk ke kamar kostnya yang cukup elit.


"Hmm jadi ini kamarmu?" Tanya Biru santai sembari terus melangkah ke arah sofa.


"Yaps," jawab Elena sembari menutup kembali pintu kamarnya.


Elena pun ikut duduk di sisi Biru, ia duduk sembari menyandarkan kepalanya dengan manja ke pundak Biru.


"Akhirnya aku tau apa yang bikin kamu dan temen-temen kamu jadi sering minum alkohol."


"Memangnya apa?" Tanya Biru sembari tersenyum.


"Rasanya kayak terbang, lebih plong dan kayak gak ada beban."


"Oh ya? Jadi kamu ngerasain itu sekarang?"


"Iya hehehe, dan juga aku ngerasa jadi jauh lebih berani."


"Memang seharusnya kamu gak boleh takut sama Febby dan yang lainnya, makin kamu takut, mereka bakal makin seneng ngebully kamu."


"Iya ok, ok, mulai sekarang aku gak mau jadi penakut lagi hehehe." Jawab Elena sembari tersenyum.


Biru pun ikut tersenyum sembari mencium singkat dahi Elena. Hal itu membuat Elena mulai menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


"Gimana mungkin kakak tingkat yang begitu populer di kampus kayak kamu, jadi pacarku sekarang?? Aku masih ngerasa seperti mimpi." Ucap Elena dengan suara lebih pelan dari sebelumnya.


"Kamu terlalu berlebihan, aku bukan artis."


"Tapi semua mahasiswa di kampus kenal sama kamu, kamu ganteng, jago main basket, keren, anak pak Dekan lagi." Ungkap Elena sejara terus terang.


Biru yang mendengarnya pun hanya bisa mendengus pelan sembari tersenyum.


"Ternyata gini ya kamu kalau udah mabuk, bener-bener gak bisa diem," ucap Biru sembari mencubit pelan hidung Elena yang bangir.


"Hehehe ok, aku tantang kamu ya, bisa gak kamu bikin aku berenti ngoceh dalam waktu satu detik?" Ungkap Elena sembari terus tersenyum.


"Easy!" Jawab Biru dengan tenang.


"Mana ayo coba buktiin!" Tantang Elena lagi.


Tanpa berkata apapun lagi, Biru pun langsung mengecup Bibir Elena, membuat kedua mata sayu Elena seketika nampak sedikit membesar.


Seolah tidak ingin ciuman hangat itu berakhir singkat, Elena pun akhirnya langsung membalas ciuman hangat itu. Bahkan kali ini gadis yang sebelumnya tidak tau bagaimana cara berciuman yang benar, terlihat lebih ganas kala mencium bibir Biru.

__ADS_1


Bahkan kini posisi Elena langsung berpindah dan terduduk di atas pangkuan Biru.


"Kamu beneran cinta sama aku kan?" Tanya Elena di sela-sela ciuman mereka.


"Banget!" Jawab Biru.


"Kalau kita lakuin itu malam ini, apa setelahnya kamu bakal ninggalin aku?"


"Ya enggak lah, aku udah terlanjur sayang banget sama kamu El."


"Demi apa?"


"Demi apapun!" Tegas Biru.


Elena pun akhirnya tersenyum dan mulai berbisik pada Biru.


"Aku mau nyoba lagi."


Mendengar hal itu, membuat Biru sedikit terkejut.


"Kamu yakin?" Tanya Biru.


Elena pun mengangguk dan kembali menciumi pipi Biru. Tanpa basa basi, Biru pun kembali menyambar bibir Elena lagi, lalu menggendongnya untuk membawanya menuju ranjang.


Bercak darah pun nampak mengotori seprei tempat tidur, namun saat itu Elena tentu saja tidak mempedulikan hal itu. Yang ia tau hanyalah, betapa nikmatnya hal itu, hingga membuatnya seolah melayang, ia merasa terbang tinggi saat merasakan bagaimana sesuatu terasa bergerak-gerak di dalam bagian intinya.


Elena yang polos benar-benar seolah menghilang, ia lenyap di telan waktu dan pergaulan bebas di kota. Tidak ada lagi Elena yang pemalu, tidak ada lagi Elena yang rajin belajar dan taat aturan. Hanya dalam waktu singkat, bagian terpenting yang selama ini ia jaga, ia tutup rapat dari semua lelaki, kini terbobol sudah. Kini yang ada hanyalah seorang Elena yang begitu dibutakan oleh perasaan cinta yang baru saja ia rasakan.


Perasaan cinta yang dirasanya begitu indah, begitu menggebu, benar-benar perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Dengan nafas terengah dan dipenuhi peluh yang bercucuran, Biru kembali menatap Elena dengan lekat.


"Apa sakit?" Tanya Biru lembut.


Elena saat itu hanya mampu menggelengkan pelan kepalanya tanpa menjawab dengan sepatah katapun.


"Hmm ya, wajar aja, kamu lagi mabuk sekarang."


"Ja,, jadi, kamu udah bener-bener berhasil mecahin perawan aku?"


"Apa kamu nyesel?"


"Aku gak bakal nyesel asal kamu tetep sama aku."

__ADS_1


"Aku bakal tetep sama kamu!" Tegas Biru.


"Apa kamu gak pake pengaman?"


Biru pun menggelengkan pelan kepalanya.


"Hah?! Terus gimana? Apa itu bisa bikin aku hamil?"


"Kalau pun kamu hamil, aku gak bakal ninggalin kamu, justru aku senang." Jawab Biru yang terlihat tidak ada kepanikan sama sekali.


Elena yang merasa sangat kelelahan pun hanya kembali terdiam sembari memeluk kembali tubuh Biru.


"Aku cinta sama kamu, tolong jangan tinggalin aku setelah ini." Ucap Elena pelan.


"Enggak! Gak bakal, jangan takut ya." Jawab Biru yang terus mengusap pelan ujung kepala Elena.


Keesokan harinya...


Seperti biasa, matahari mulai terbit dari ufuk timur, mulai bersinar cerah menyengat permukaan kulit wajah Elena yang kala itu masih tertidur lelap di pelukan Biru, memberi kehangatan melalui celah-celah jendela kamar kost yang kala itu masih tertutup.


Rasa hangat itu pun perlahan mulai membangunkan Elena dari tidurnya, ia tersenyum saat hal pertama yang dilihatnya saat pertama kali membuka mata adalah wajah Biru yang tetap saja terlihat tampan meski sedang tidur.


Elena mulai mengusap lembut wajah Biru, menyentuh hidung serta bibirnya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.


"Bibir ini, bahkan sudah menyentuh hampir seluruh bagian tubuhku," Gumam Elena dalam hati yang kala itu terus tersenyum dan masih terus menyentuh bibir Biru.


Elena pun akhirnya perlahan bangkit dari tidurnya, namun seketika ia meringis saat merasakan sakit pada bagian inti hingga kedua pangkal pahanya.


"Aaaghh." Elena meringis pelan sembari memegangi bagian intinya yang terasa perih dan ngilu ketika ia banyak bergerak.


Hal itu pun membuat Biru jadi ikut terbangun dan mulai melirik ke arah Elena dengan mata sayunya.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Biru sembari mulai mengucek-ngucek matanya.


"Sakit," Jawab Elena pelan,


"Sakit? Apa yang sakit?" Tanya Biru yang langsung bangkit dari tidurnya dan terduduk di hadapan Elena.


Elena tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menatap Biru dengan tatapan sendu sembari tangannya terus memegangi bagian intinya. Biru yang melihat hal itu pun akhirnya mengerti.


"Ohh, perih ya?" Tanya Biru lembut sembari mendekati Elena.


Elena pun mengangguk pelan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2