Hubungan Toxic

Hubungan Toxic
Kecewa


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya tidak boleh aku tau?" Gumam Elena dalam hati yang merasa cukup kesal.


Namun entah kenapa, saat itu ia masih memilih untuk tetap menunggu Biru di depan cafe. Tak lama Biru pun keluar dengan raut wajah yang tidak biasa,


"Ada apa sebenernya? Apa yang gak boleh aku tau?" Tanya Elena.


"Bukan apa-apa kok."


"Kenapa? Kamu malu diledeki temen-temen kamu karena deket sama cewek kampung kayak aku? Iya?"


"Enggak, gak gitu!"


"Atau mungkin karena mereka tau aku udah di jodohin sama Tama?"


Biru pun terdiam.


"Ak,, aku udah pikirin, kalau aku bakal ngomong sama Tama tentang kita,,"


"Kita??" Tanya Biru.


"Apa maksudmu dengan kata kita?" Tanya Biru lagi.


Rena pun terdiam sejenak dengan raut wajah sedikit bingung namun juga cukup terkejut dengan pertanyaan Biru saat itu.


"El, kalau kamu mau campakin pacarmu yang di kampung, lakukan aja! Tapi tolong jangan libatin aku di dalam permasalahan kalian."


"Mak,, maksudmu Ru?? Kamu serius ngomong gini sama aku?" Kedua mata Elena pun sontak membesar.


"Aku memang suka sama kamu, tapi aku gak berniat untuk jalin hubungan sama kamu atau siapapun." Ucap Biru sembari mulai tertunduk.


Bak disambar petir di siang bolong, pernyataan Biru kali itu benar-benar mengagetkan Elena. Entah apa yang terjadi didalam, yang membuat Biru seketika berubah sikapnya pada Elena.


"Ja,, jadi yang tadi malam, it,, itu gak ada artinya apa-apa sama kamu?" Tanya Elena lagi dengan kedua mata yang mulai nampak berkaca-kaca.


"Sudah ku bilang sebelumnya, hal kegitu udah biasa terjadi di kota besar, tolong jangan kaget."


Elena lagi-lagi terdiam, ia mulai menggeleng-gelengkan kepalanya seolah masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Biru, sikap Biru benar-benar berubah drastis dalam hitungan menit.


"Ok, makasih untuk semuanya!" Ketus Elena yang langsung beranjak pergi begitu saja, meninggalkan Biru yang kala itu masih berdiri di tempatnya.


Biru pun berdecak pelan sembari mengusap kasar wajahnya.


"****!!!" Ucapnya yang nampak kesal, namun tidak tau pasti pada siapa kekesalan itu tertuju.


Elena mulai meneteskan air matanya di sepanjang langkahnya menuju kost, baru saja merasakan bahagia beberapa jam, kini rasa bahagia itu seolah dihancurkan sendiri oleh orang yang sebelumnya membuat hatinya begitu berbunga-bunga.


"Ini jelas salahku, salahku yang belum apa-apa, udah mau aja dicium sama dia." Gumam Elena lirih dalam hati.

__ADS_1


Tak ingin menjadi tontonan banyak orang karena menangis di tepi jalanan yang padat, Elena pun akhirnya menyeka air matanya dan melajukan langkahnya agar bisa tiba lebih cepat di kostnya,


Malam hari...


Malam itu Elena nampak begitu gelisah di atas tempat tidurnya yang empuk, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun kedua matanya seolah tak ingin terpejam karena pikirannya dipenuhi oleh kekalutan dan rasa sedih yang mendalam.


Lagi-lagi Elena terbayang betapa hangatnya ciuman Biru, lelaki pertama yang berani menyentuh bibirnya, rasanya bahkan masih begitu jelas terekam di memory Elena.


"Rasanya ternyata sehangat itu, aku bahkan seakan terbang di udara waktu dia nyentuh bibirku. Tapi kenapa? Kenapa harus begini? apa karena aku cewek kampung yang kuper, sampai-sampai mudah dimainin."!


Elena pun terus melamun, ia terus menatap kosong langit-langit kamarnya hingga akhirnya ia pun tertidur.


Ke esokan harinya...


Hari itu Elena sama sekali tidak ada bertegur sapa dengan Biru, bahkan ia langsung memalingkan wajahnya ketika saat itu harus berpapasan dengan Biru saat di kantin. Sementara Biru, ia pun hanya terdiam memandang sendu tubuh Elena yang terus melangkah menjauh tanpa menatapnya sedikit pun.


"Kamu pantes marah Elena." Gumam Biru lirih dalam hati.


Hingga siang, seperti biasa Elena berjalan di trotoar tepi jalan untuk pulang, ia terus melangkah dengan tatapan sendu, saat itu tanpa ia sadari, Biru terus mengikuti langkahnya dari kejauhan dengan motornya yang ia kendarai dengan sangat lambat, walau hari itu ia tidak bisa memberi tumpangan untuk Elena seperti sebelumnya, namun ia masih ingin terus mengawasi Elena dan ingin memastikan jika Elena sampai di kostnya dengan selamat.


Setibanya di kost, Elena kembali di kejutkan dengan kehadiran Tama, yang kembali datang dengan membawa sebuah buket bunga yang cukup besar.


"Surprise!" Ucap Tama.


Elena lagi-lagi pun dibuat terkejut.


"Ini untukmu." Ucap Tama sembari menyerahkan buket bunga itu.


"Dalam rangka apa memberiku bunga?" Tanya Elena sembari tersenyum manis memandangi bunga mawar berwarna merah muda itu.


"Ku dengar kamu berhasil jadi ratu ospek, itu makanya aku bela-belain dateng kesini lagi untuk ngasi hadiah untuk kamu hehehe."


"Hais, itu cuma gelar yang biasa aja, gak ada sangkut pautnya sama sekali dengan performaku di kampus."


"Apapun itu, yang jelas aku mau bilang selamat."


"Makasih ya,"


"Kamu suka bunganya?"


"Ya, aku suka kok!" Elena pun kembali melebarkan senyumannya.


Tama pun ikut tersenyum sembari mengusap pelan ujung kepala Elena. Hal itu justru kembali mengingatkan bagaimana Biru yang sebelumnya melakukan hal serupa dan itu cukup berhasil membuat Elena jadi semakin menyukainya.


"Oh ya El, aku bakal tinggal di disini selama 2 atau 3 hari, bolehkan?"


"Hah?!" Elena pun mendelik.

__ADS_1


"Tenang, aku bakal tidur di bawah kok, kamu udah lama kenal aku kan? Aku gak bakal macem-macemin kamu."


"Ta,, tapi.."


"Ku dengar kost disini bebas-bebas aja, jadi apa masalahnya?"


Elena pun kembali terdiam lesu, seolah kehilangan akal saat itu untuk menghindari keputusan Tama, Elena pun akhirnya setuju meski dengan sedikit berat hati,


Malam hari...


"Apa kamu gak ada niat mau ngajakin aku jalan-jalan keliling kota ini?" Tanya Tama begitu Elena keluar dari kamar mandi dan sudah nampak segar dengan memakai piyama tidurnya.


"Jalan-jalan?"


"Ya, atau nongkrong di cafe? Biar keliatan gaul hehehe."


Elena pun menghela nafas singkat.


"Hmm ok," lagi-lagi Elena tak bisa menolak ajakan Tama.


Saat itu Elena berfikir jika ia juga butuh hiburan karena ia baru saja merasa dikecewakan oleh Biru.


Elena pun mengajak Tama untuk makan malam di sebuah cafe, yang ia dengar cafe itu cukup hits dikalangan anak muda.


"Wah, jadi disini anak-anak kota ngabisin waktunya untuk nongkrong?" Celetuk Tama sembari tersenyum saat melangkah memasuki cafe.


Namun hal tak terduga lagi-lagi terjadi, seolah dunia saat itu benar-benar selebar daun kelor bagi Elena, hingga ia harus kembali dipertemukan dengan Febby dan gerombolannya yang kala itu terlihat tengah begitu asik mengobrol sambil menikmati bir.


"Hais, dia lagi!" Celetuk Elena dalam hati yang mendadak merasa malas.


"Tama, tunggu!" Elena pun seketika menarik tangan Tama, membuat langkah lelaki itu jadi seketika terhenti.


"Kenapa El?"


"Kayaknya kita gak usah makan disini deh,"


"Loh kenapa? Kita udah masuk kesini."


"Iya, tapi aku tiba-tiba inget, kalau di dekat sini ada cafe yang makanannya jauh lebih enak." Jawab Elena beralasan demi menghindari Febby and the geng.


"Gitu ya? Hmm ya udah deh." Tama akhirnya setuju dan ingin melangkah berbalik arah.


Tapi sayangnya, Ame yang juga berada disana terlanjur melihat keberadaan Elena dan Tama, dan ia pun langsung mengguit Febby.


"Feb, Feb, lo liat deh siapa yang ada di deket pintu masuk itu." Bisik Ame.


Febby pun sontak menoleh ke arah Elena dan seketika mengembangkan senyumannya sembari mulai melirik ke arah Biru yang saat itu juga berada disana. Biru yang merasa galau juga memilih ikut bergabung bersama teman-temannya untuk menikmati bir demi menenangkan sedikit hatinya yang tengah kacau.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2