
Tanpa berkata apapun lagi, Elena akhirnya langsung menarik tangan Biru dan membawanya masuk begitu saja. Elena mendudukkan Biru di tepi tempat tidur, lalu bergegas meraih sebuah kotak PPPK untuk mengobati lukanya.
"Sini tanganmu!" Ucap Elena sembari meraih tangan Biru.
Elena mulai membersihkan luka Biru secara hati-hati, melihat luka robekan yang cukup lebar di tangan Biru kembali membuar Elena membulatkan matanya.
"Astaga, kok bisa luka kegini sih?" Tanya Elena yang nampak semakin cemas.
"Tadi aku gak sengaja nyenggol gucci di rumah." Jawab Biru berbohong.
"Bohong!" Ketus Elena yang sepertinya sudah sangat paham dengan Biru.
Biru pun mendengus pelan, lalu ia pun meringis karena merasakan perih saat Elena mulai meneteskan obat pada lukanya.
"Tahan sedikit ya." Ucap Elena pelan.
Biru pun hanya mengangguk pelan.
Beberapa menit berlalu, Elena pun berhasil membalutkan perban di tangan Biru.
"Sekarang cerita, kamu kenapa?" Tanya Elena yang mulai menatap Biru dengan begitu serius.
"Aku gak papa El, aku cuma pengen liat kamu aja malam ini, makanya aku datang." Jawab Biru lesu.
"Masih gak mau cerita?" Kedua mata Elena kembali membesar.
Namun Biru yang masih enggan untuk bercerita, saat itu tetap memilih bungkam sembari mulai menundukkan kepalanya. Hal itu pun membuat Elena mulai kesal dan mulai menghela nafas kasar.
"Ok, kalau gitu mending kamu pulang aja sekarang!" Ucap Elena yang langsung bangkit dari duduknya.
Hal itu membuat Biru langsung bereaksi dengan menarik tangannya lalu memeluk tubuh wanita kesayangannya itu begitu saja.
"Please, aku butuh kamu!" Ucapnya lirih.
Elena membeku, entah kenapa mendengar ucapan Biru kala itu membuat hatinya seketika ikut terenyuh. Perlahan, kedua tangan Elena pun mulai menyentuh punggung Biru, dengan sedikit ragu, ia akhirnya mulai membalas pelukan Biru.
__ADS_1
"Aku disini, aku bakal selalu ada untuk kamu Biru." Ucap Elena pelan.
Mendengar perkataan itu berhasil membuat jiwa Biru mulai kembali menghangat sehingga ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada Elena.
"Papaku, papaku mau nikah lagi." Ucap Biru lirih.
Elena pun kembali terdiam.
"Dia bahkan mempercepat pernikahannya dengan perempuan itu. Perempuan yang baru beberapa bulan masuk ke hidup papa, dan sebentar lagi bisa menikmati semua yang papa punya." Ungkap Biru lagi.
"Jadi itu yang bikin kamu jadi kegini?" Tanya Elena pelan.
Biru pun mengangguk.
"Gimana aku bisa baik-baik aja, sedangkan mamaku, orang yang udah nemeni papa dari nol, harus hidup pas-pasan di luar kota sana." Ungkap Biru lagi.
"Kesian banget Biru, sedikit demi sedikit aku mulai tau apa masalah hidupnya, yang bikin dia jadi kegini."
"Aku memang gak bisa bantu untuk mengubah keadaan yang udah terjadi, tapi aku janji bakal selalu ada untuk kamu di situasi tersulit kamu Biru." Ungkap Elena.
"Makasi El, memang itu yang aku butuhin sekarang, aku cuma butuh kamu."
"Kamu yang sabar ya, aku tau ini berat untuk kamu, tapi coba pelan-pelan kamu buka hati, kamu bisa bicarakan ini dengan papa kamu baik-baik, buat kesepakatan sama papa kamu, aku yakin semua masalah pasti ada solusinya." Ucap Elena lembut.
Saat itu Biru hanya terdiam seolah sedang menyimak semua yang diucapkan oleh Elena. Lalu ia kembali menunduk lesu dan mengangguk pelan. Hal itu membuat Elena perlahan mulai tersenyum tipis.
"Aku sayang banget sama kamu Biru. Sayang banget, aku gak mau liat kamu kacau kegini." Ungkap Elena lembut.
Biru masih terdiam dengan kepala yang terus menunduk lesu.
"Hei, liat aku." Pinta Elena.
Biru pun mulai menatapnya dengan tatapan sendu. Elena terus tersenyum dan akhirnya tanpa ragu mulai mengecup bibir dengan singkat.
Perlahan sebuah senyuman tipis mulai terlihat dari wajah tampan Biru, ia pun ikut membelai lembut pipi Elena dengan tatapan yang sangat dalam.
__ADS_1
"I love you El, entah apa jadinya aku tanpa kamu sekarang." Ungkap Biru yang membuat senyuman Elena jadi semakin berkembang.
Biru pun mendaratkan sebuah ciuman di bibir Elena, ciuman yang awalnya hanya ia lakukan secara singkat, namun kemudian ia lanjutkan lagi dengan sedikit luumattan yang lembut. Elena mulai memejamkan kedua matanya kala menikmati sentuhan dari bibir Biru. Elena sepertinya mulai meraca candu akan hal itu, hal yang belakangan ini sering ia lakukan hanya dengan Biru.
Biru secara perlahan mulai melangkah pelan, mengarahkan tubuh Elena ke arah tempat tidur yang hanya berukuran 120x200cm itu. Sudah terlanjur basah, saat itu tidak ada lagi yang membuat Elena takut, sudah tidak ada lagi yang perlu ia jaga, keperawanannya sudah ia berikan sepenuhnya pada Biru. Hal itu membuatnya merasa, jika saat itu Biru benar/benar sudah memiliki dirinya seutuhnya.
"Apa boleh?" Tanya Biru dengan berbisik saat ia menciumi telinga Elena.
"Udah gak ada alasan lagi untuk nolak,"
"Kamu yakin?"
"Aku yakin kalau kita ngelakuinnya, itu bisa bikin kamu jadi merasa jauh lebih baik." Jawab Elena.
Biru pun kembali tersenyum dan langsung melanjutkan aktivitasnya. Biru benar-benar seperti singa yang lapar, ia langsung menerkam Elena, menjadikannya seperti mangsa.
Suara lenguhan mulai terdengar menggema di ruangan itu, suara lenguhan yang sesekali masih bercampur dengan ringisan karena Elena masih merasakan sedikit sakit pada bagian intinya.
"Apa masih sakit? Apa kamu mau aku berenti?" Tanya Biru sembari menghentikan gerakannya.
"Jangan! cuma perlu pelan-pelan,"
Biru pun patuh dan melanjutkan gerakannya dengan perlahan tapi pasti.
Elena menggigit bibir bagian bawahnya, demi menahan suara erangannya agar tidak keluar. Namun sepertinya Biru justru sangat menyukai alunan merdu Elena yang membuatnya semakin candu.
"Kenapa kamu nahan suara kamu?" Bisik Biru.
"Aku gak mau tetangga kost ku denger."
"Gak bakal, jangan di tahan! Aku suka dengernya, suara desahann kamu terdengar seksi."
Elena pun hanya bisa tersenyum, mereka pun terus melanjutkan aksi pergulatan mereka, jiwa Biru yang sebelumnya begitu kacau, berkat hal itu seketika menjadi lebih baik.
Setelahnya, Elena bahkan berhasil membujuk Biru agar bisa menerima keputusan papanya. Bukan hanya itu, ia bahkan berhasil membuat Biru luluh dan setuju untuk menghadiri acara pernikahan papanya dengan Elena, sembari mengenalkan Elena secara resmi pada keluarganya.
__ADS_1
Elena benar-benar sudah berhasil membuat seorang Biru Dirgantara takluk padanya, apalagi kini Biru telah merasakan kenikmatan luar biasa dari Elena. Merasakan bagaimana meniduri seorang wanita perawan ternyata benar-benar memberikan rasa nikmat yang berbeda baginya.
...Bersambung......