
Tawa dan perasaan bahagia dari ke-enam orang yang sedang berada di atas kapal kecil mereka yang tengah melaju pelan menyebrangi lautan yang sangat dalam di bawahnya, dan dalam perkiraan beberapa menit lagi mereka akan sampai ke sebuah pulau yang mereka tuju.
“Hei jangan menyalahkanku, tadi hampir saja aku ketahuan oleh orang-orang itu jika kak Ayato tidak menggendongku agar segera menyusul kalian,” Kata Nazeem memanyunkan bibirnya ketika para kakak-kakaknya sedikit menjahilinya.
“Makanya kamu tuh harus tangguh, kamu itu akan menjadi laki-laki dewasa, masa lari saja lambat banget sih,” Jahil Annie tak pernah bosan ketika melihat anggota tim paling muda itu marah-marah.
Tiba-tiba pria berambut gradasi hitam dan hijau tua itu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya berniat membanggakan dirinya. “Benar sekali. Silahkan tiru si kilat Irvin Forke, dia adalah petarung terbaik yang sangat kuat, gesit dan juga sangat tampan. Masalah kecepatan berlari? Itu gampang”.
Aira dan Harina hanya tertawa mendengar kalimat yang sangat berbeda dari fakta sebenarnya.
“Petarung terbaik darimana nih, haha kukira kau hanya cadangan dari petarung-petarung utama,” Remeh Aira membuat mereka berdua saling mempelototi satu sama lain.
“Hya... Jangan sembarang bicara yah kau, aku hanya terlalu kuat untuk para musuh sekecil semut. Mereka hanya menghargai kekuatan superku” Sela Irvin tak mau kalah oleh Aira.
Nazeem memandangi Irvin dengan mata berbinar-binar. “Begitukah? Apa kau mau mengajariku seni pedang dan bela dirimu?”
Irvin juga membalas tatapan Nazeem yang terlihat sangat mendalam membuatnya menyesali perkataannya sendiri, namun harga dirinya terlalu tinggi untuk mengatakan kejujuran. Ia mengangguk “Ba~baiklah, setelah sampai kita akan berlatih setiap harinya”.
“Sebagai gantinya, kau juga mau mengajariku menggunakan itu, apa namanya... Telepon genggam” Tambahnya yang di balas dengan penuh semangat dari Nazeem.
Selagi mereka berdua sibuk berbincang, Annie tiba-tiba di panggil oleh Harina.
“Kak Annie, apa di antara buku-buku yang kalian ambil tadi ada yang membahas tentang dunia di luar pulau D'Devils?” Tanya Harina.
Annie mengangguk. “Sebentar yah, aku akan mencarinya untukmu”.
Selang beberapa menit, dengan kedua karung yang sudah terbongkar telah membuat kapal sedikit tidak seimbang dan juga upayanya tak membuahkan hasil.
Annie kembali dengan tangan kosong. “Nona Harina, aku yakin tadi aku membawa dua buku dan di sana ada buku yang membahas tentang dunia luar”.
Harina menaikkan sebelah alisnya. “Benarkah? Kalau begitu aku akan bertanya pada Irvin dan Ayato”.
Annie melihat punggung Harina yang mendekati rekan mereka. Melihat Irvin dan Nazeem saat ini membuat Annie seperti mengingat sesuatu.
4 jam yang lalu.
Aira, Harina dan Nazeem keluar dari perpustakaan rahasia itu terlebih dahulu untuk berjaga-jaga kedatangan para petugas keamanan dari pulau lain datang mengamankan pulau itu sedangkan Ayato, Irvin dan Annie masih belum berhenti mengemasi 2 karung berisi beberapa buku penting yang harus mereka bawa.
__ADS_1
Annie mengikat satu karung yang yang terlihat belum terikat kencang membuat buku-buku itu masih kelihatan dari atas.
“Ada apa Annie?” Tanya Irvin yang melihat Annie sedikit kesulitan.
“Irvin, kurasa kita harus mengeluarkan setengah, karung ini terlalu penuh,” Ucapnya menepuk-nepuk karung penuh itu.
Ayato yang sedang sibuk setelah menemukan satu dokumen yang mencurigakan tergantung tepat dibelakang bingkai foto Vasilio berbalik kearah mereka.
“Jangan mengurangi apapun, pakailah otak kalian secepat mungkin dan kita segera tinggalkan tempat ini,” Jelasnya melihat Annie yang memiliki kemampuan kepekaan 80 persen lebih tinggi dari manusia lain.
Irvin ikut menatap Annie yang sudah bergerak cepat karena merasakan banyaknya hentakan kaki yang akan mendekati mereka. Mereka kini keluar dari ruangan itu dan tak lupa menguncinya kembali agar tak ketahuan. Akhirnya pintu rahasia itu kembali seperti dinding polos semula.
Mereka ber-enam kini bergerak perlahan di setiap langkah mereka. Hingga seseorang mendengar seperti suara langkah kaki di hutan rimbun di sebelah kanannya. Suara langkah kaki itu adalah Nazeem yang saat itu ketinggalan dan sedang menyusul kakak-kakaknya. Petugas itu mendekat mencari sumber suara di dalam hutan itu namun nihil. Ia rasa, dugaannya salah dan akhirnya kembali bersama petugas lainnya.
“Nazeem, Ayato”
Lega Harina, Aira, Annie dan Irvin yang tadinya khawatir jika mereka sampai ketahuan.
Mereka akhirnya menaiki kapal.
“Kalian tadi menjatuhkan kedua buku ini, makanya aku memungutnya dan kalian meninggalkanku,” Sebal Nazeem seraya memperlihatkan kedua buku yang terjatuh dan salah satunya berjudul 'The Light World'.
“Nazeem, aku kira kau tadi memegang buku itu kan?”
Nazeem hanya tertawa kecil “Buku itu maksudmu buku yang kalian jatuhkan?”
Angguk Annie sebagai balasan.
Nazeem menunjuk Harina yang kini telah duduk santai sambil membaca buku yang dicarinya. Di sampingnya Ayato yang masih sibuk mengemudikan kapal seraya mendengarkan suara imut Harina yang tak bisa membaca dalam hati itu, bersama Aira di sana yang sedang menyajikannya cemilan. “Itu”
Irvin memberikan tawa remehnya yang terdengar sangat menjengkelkan. “Makanya mikir jangan kelamaan”.
Annie menatap tajam Irvin sebelum meninggalkan mereka.
Irvin tersenyum membalas tatapan tajam Annie tadinya. “Hei Nazeem, apa dia menyukaiku?”
Nazeem berkedip tak mengerti.
__ADS_1
“Ah, sudahlah lupakan saja” Elaknya mengalihkan pandangannya kesal.
...~~~...
Halaman 38 “Disini tertulis, dunia menelan api tempat kami di buang”
Halaman 156 “Disini tertulis, tanah lebih berkuasa di banding air, udara apalagi api”
Halaman 188 “Disini tertulis, hidup adalah sebuah penyiksaan yang nikmat”
Halaman 205 “Disini tertulis, kendalikan mereka”
...~~~...
Harina tiba-tiba menutup buku itu dengan kasar.
“Apa-apaan buku ini, hanya berisi kutipan singkat tiap lembarnya,” Geramnya memukul meja dengan kasar.
Aira segera menyeduh teh hangat dan langsung memberi teh itu pada Harina untuk meredakan perasaan kesalnya.
Ayato melirik Harina. “Jangan terlalu membebani pikiranmu, kupikir buku itu dirancang agar hanya orang-orang tertentu yang mengetahui maksud tiap lembarnya”.
Harina tampak memijat pelipisnya. Memang benar yang dikatakan Ayato. Di antara semua kutipan itu, ia hanya mengerti satu di antaranya.
Ia meneguk tehnya dengan sekali tegukan.
“Kendalikan mereka”.
Ayato, Aira, Annie, Irvin dan Nazeem kini berfokus pada Harina.
“Beberapa tahun yang lalu ketika aku masih di dalam tabung eksperimen mereka, aku mendengar tuan Hiro sedang berbicara dengan seorang pria yang ternyata dia dari luar pulau D'Devils. Mereka mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan keluar dan mereka siap akan hal itu. Begitu juga pria asing itu, aku tak mengerti tetapi aku kira penguasa tertinggi pulau adalah tuan Vasilio, masa sih tuan Hiro dan tuan Vasilio sampai harus meminta izin pada pria itu terlebih dahulu, Dan saat itu pria itu menyetujui bahwa mereka akan membuatku sebagai pengendali pikiran. Itulah sebabnya pikiran kalian telah aku kendalikan sehingga kalian mau menjadi bawahanku”.
Kata-kata terakhir dari Harina membuat mereka saling melirik.
“Ahaha... Nona Harina, jangan berpikir mau menipu kami, aku masih ingat kok kau pernah mengatakan bahwa kemampuan terkuat mu hanya akan aktif di usiamu yang ke-25 tahun, sekarang masih 24 tahun hahaha” Tawa receh Irvin mencoba mencairkan suasana diikuti Aira dan juga Annie yang tadinya sempat tertipu sebentar.
Mereka tertawa bersama hingga mendengar sebuah pertanyaan benar-benar serius dari Harina.
__ADS_1
“Tapi aku masih penasaran siapa pria misterius itu, seandainya aku bisa membuka mata saat itu, mungkin dia memegang rahasia yang penting sehingga ia menjadi tamu penting dari tuan Vasilio”.
Ia menarik nafasnya dalam dan berkata dengan yakin dan penuh semangat. “Kita pasti akan mendapatkannya”