Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
The Dark Blood


__ADS_3

The Tyranny, adalah julukan yang diberikan oleh masyarakat pulau D'Devils pada squad Ayato, Irvin, Annie dan Aira. Mereka di kenal sebagai penghibur pagi dan malam yang sangat ramah, sosok mereka selalu membawa hati-hati yang hangat. Anak-anak muda berbakat sekaligus buronan yang suka mencari onar pada petugas perusahaan inti di pulau mereka sendiri.


Mereka adalah kelompok kecil yang bertindak jika sesuatu penting terjadi. Tentu saja ada misi yang telah mereka rencanakan sejak awal. Setelah mengambil hati masyarakat, gambar mereka yang dipajang hingga penghujung pulau sebagai buronan tetap aman. Itulah alasan sampai sekarang, mereka termasuk buronan bebas. Di tambah berkat kesetiaan masyarakat, nama asli mereka pun di sembunyikan.


Saat ini, nama Ayato, Irvin, Annie dan Aira di sebut oleh masyarakat sebagai penghibur The Tyranny. Sedangkan yang tercatat di buronan, mereka adalah The Dark Blood. Sebuah julukan yang melambangkan keberingasan mereka. Setiap sayatan yang mereka ciptakan membuat darah para korban menghitam.


3 tahun yang lalu sejak Ayato dan Irvin menjadi murid Tasiro sang legenda penakluk pedang, ajarannya begitu merasuk ke dalam diri mereka. Perlahan, kerja sama mereka dengan Annie dan Aira pun semakin menguntungkan, uang yang di hasilkan tak main-main. Oleh karena itu, setelah lulus dari sekolah pelayanan, kedua gadis itu pun bergabung di kelas pribadi tuan Tasiro.


Setelah melewati berbagai misi level B, squad mereka menjadi semakin kuat dan di saat itu pula mereka telah menjadi buronan. Hingga suatu saat, markas mereka diketahui oleh para musuh dan akhirnya terjadilah perang yang memojokkan mereka. Tentu saja saat itu pasukan musuh sangat banyak sedangkan mereka hanya 5 orang.


Meskipun begitu tentu saja kemampuan sang penakluk pedang tak main-main, Tasiro pun mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi markas rahasia yang telah ia bangun sampai titik darah penghabisan, semua musuh pun di habisinya, sayangnya dia pun tak mampu lagi menahan energinya yang terkuras hingga 90%. Sore itu, sang penakluk pedang akhirnya tewas di depan para muridnya.


Perusahaan D’Devils pun kehilangan banyak sekali pasukan dan hal itu membuat Vasilio menyesal tak pernah melihat langsung wajah para buronan itu. Ia hanya terlalu meremehkan keterampilan masyarakat biasa yang katanya selalu membuat onar dengan pedang mereka jika para pasukan yang berjaga sedang menjalankan tugas.


Setelah kematian Tasiro, The Dark Blood tak pernah kelihatan lagi dan itu membuat Vasilio lega, kemungkinan besar The Dark Blood yang kehilangan tuannya telah mengakui kekalahannya. Sementara itu, kegiatan sosial The Tyranny semakin banyak berjalan seiring hilangnya jejak The Dark Blood dan akhirnya di lupakan sebagai buronan rangking S.


3 bulan tak melanjutkan misi yang telah di rencanakan oleh Tasiro, akhirnya jiwa-jiwa pejuang mereka kembali di tubuh masing-masing ketika bertemu dengan Harina.


......


...


Misi pertama semenjak ayah dari Ayato meninggalkan mereka. Menyelamatkan seorang putri desa dari kumpulan bandit besar yang menculiknya.


Irvin berdiri dengan tegak menghalangi jalur lewat dari kencana kecil yang jelas sedang menuju ke tempat yang sepi.

__ADS_1


“Yuhuu... Apa aku menganggu jalan kalian?”


Para bandit itu tertawa dengan keras. “Haha, lihat siapa yang berani menantang kita seorang diri. Waw aku takut, bahkan dia membawa pedang aneh ditangannya,” hinanya.


Jujur saja Irvin sedikit kesal dengan penghinaan mereka tetapi ia harus melaksanakan sesuai aba-aba yang diberikan. Tetap tenang maka mereka akan semakin unggul.


Irvin terkesiap dikala salah satu dari bandit itu mengeluarkan senjata yang lebih besar dari miliknya, sementara ke-empat bandit lainnya terus berjalan membiarkan mereka bertarung satu lawan satu.


“Hei anak kecil, sekarang kita berhadapan langsung. Ayo maju, aku tak ingin berlama-lama bersamamu.”


Dengan gaya malasnya, bandit itu dengan santai meletakkan palu besar di atas kedua bahunya menunggu Irvin menyerangnya lebih dulu. “Ayolah anak muda jangan takut...”


Satu detik kemudian.


Irvin menepuk-nepuk siku tangan kanannya seolah-olah bandit besar yang baru saja dipukulnya itu sangatlah kotor. Bandit itu pun jatuh terbaring tak sadarkan diri di atas tanah.


Irvin tersenyum remeh kemudian melirik ke belakangnya dimana bandit itu tergeletak tak berdaya. “Heh, hanya segitu yah om? Sungguh membosankan, bahkan aku melepaskan pedangku. Tidak berguna.”


Irvin kembali menjemput pedangnya yang tadinya tak terpakai dan langsung menyusul posisi Ayato sekarang.


Di sisi lain, Annie dan Aira baru saja tiba di markas kecil para bandit itu. Tentu saja ke-empat bandit yang tampak puas menangkap seorang putri itu telah tiba sedari tadi dan karena pergerakan mereka yang cepat dengan tubuh besar-besar itu langsung membawa sang putri dengan tangan kosong mereka akibatnya Annie dan Aira sempat kehilangan jejak karena kencana kecil yang mereka tinggalkan di pertengahan jalan itu.


“Apa ini?”


Annie dan Aira menyusuri sebuah lorong bawah tanah yang hanya diberi penerangan lilin di sepanjang lorong.

__ADS_1


“Apa ini benar markas mereka? Tidak ada tanda-tanda kehidupan sepertinya.” Ujar Annie menerka-nerka.


Aira memperhatikan sekitarannya di mana tak ada apapun yang mencurigakan sedikitpun, hanya saja ia yakin tak mungkin lilin-lilin ini menyala jika seseorang tak berada di dalamnya. “Mereka kan melewati lorong ini juga, mengapa jejak kaki mereka sedikitpun tak ada yah.”


Langkah mereka terhenti dan langsung menajamkan pendengaran mereka mencoba memastikan dugaan mereka benar. Suara perempuan menangis kini terdengar jelas. Tak hanya satu, tetapi di luar dugaan, suara orang lain pun terdengar tengah menenangkannya.


Sampailah Aira dan Annie ke sebuah tempat di mana semua para gadis berusia 20-30 itu di sekap di salam sini. Keadaan mereka dalam keadaan terkurung layaknya ruang penjara yang sempit. Baru saja Aira ingin menyentuh jeruji besi itu, seorang gadis langsung memperingati mereka.


“Jangan sentuh itu, kalian akan terkontak seperti putri malang itu.”


Akhirnya sosok putri yang ingin mereka selamatkan sedang terbaring di sana tak berdaya setelah nekat membuat keributan sehingga para bandit itu mengalirkan listrik ke setiap jeruji.


“Nona, apa yang terjadi di sini?” tanya Annie.


Gadis berusia 25 tahun itu memperlihatkan wajah khawatirnya yang tak pernah pudar. “Nona aku tak tahu caranya mengapa kalian bisa masuk ke sini, tetapi sebelum kalian ketahuan, pergilah... Pergilah aku tak mau mereka menangkap mangsa lagi.”


Aira menggeleng dengan wajah penuh keyakinan. “Tidak, tujuan kami kesini adalah untuk menyelamatkan sang putri dan tak kusangka ada korban lainnya. Karena itu, kami tak akan keluar jika semuanya tak keluar.”


Perkataan Aira semakin membuat para bandit yang bersembunyi tak mampu menahan tawanya. Posisi mereka akhirnya ketahuan dan akhirnya lampu menyala. Tepat beberapa meter di depan mereka, mereka duduk dengan santai seraya manatap mereka penuh remeh.


“Jangan bercanda nona-nona kecil, hentikan khayalan kalian segera mungkin karena kalian semua telah berada dalam genggamanku.”


Ke-empat bandit itu tertawa keras kemudian menekan tombol yang langsung menyergap Annie dan Aira dalam kurungan besi yang turun dari atas.


Bandit-bandit itu semakin merasa di atas angin. “Hahaha, merengeklah gadis-gadisku.”

__ADS_1


__ADS_2