Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
The Song


__ADS_3

“Harina, kau mau kemana?” Tegur Annie dengan nada ceria seraya tersenyum terus mengikuti langkah Harina yang sengaja dipercepat itu.


Tanpa menoleh sedikitpun Harina pun berlari meninggalkan Ayato seraya berkata. “Enyahlah. Aku kira kau tak menyukaiku.”


Di hari berikutnya, Harina pun tak menyerah. Meskipun sulit baginya untuk keluar hanya di waktu malam, lagi dan lagi ia yang hanya ingin kedamaian dan kebahagiaan berteman dengan orang lain. Ia tetap bertekad keras meski yang ia temui hanyalah orang-orang yang tak diinginkan.


“Kau Harina kan? Apa kabarmu?” Sapa Ayato yang juga tak berhasil meruntuhkan tembok yang telah dibangun Harina.


Rambut Ayato tiba-tiba berdiri dan menjadi kering, keriting, berasap tatkala api di semburkan kekepalanya. “Jangan mendekatiku, terutama kau!”


Hari selanjutnya.


“Hei Harina kau mau kemana dengan pisau itu?” tanya Aira tiba-tiba mengagetkannya.


Dengan wajah kesal dan capeknya, ia sudah menduga ini akan terjadi. Oleh karena itu ia telah menyiapkan alat yang pantas untuk membuat mereka berhenti. “Ohh ini, aku ingin mengiris alat ini kekulit kalian.”


Aira sedikit memundurkan dirinya ketika merasakan aura gelap dan hawa menyeramkan pada Harina.


Satu hari lagi.


Irvin mendekati Harina dan langsung berlagak seperti seorang bodyguard yang siap menghalangi Aira, Annie dan Ayato jika mereka datang mengganggu lagi, sedangkan Harina hanya bisa menghela nafasnya.


“Hei kau...”


Reflek Irvin berdiri tegak dan dengan tangan yang dikepal didepan dadanya untuk menunjukkan rasa hormat pada sang bos. “Siap Nona.”


Sembari mengunyah gula-gulanya, gadis dengan tampak wajah membosankan itu berkata. “Aku tahu ini rencana kalian. Berhentilah kalau tidak, akan ku layangkan pisau ini padamu,” ancamnya.


Lagi dan lagi.


Harina menatap bunga-bunga taman bersama Ayato yang entah darimana asalnya. “Kau lagi? Belum merasa terpanggang?” tanya Harina mengira kemarin adalah upaya terakhir mereka.

__ADS_1


“Yah... Padahal kami ingin berteman padamu, mengapa kau begitu menjaga jarak seperti itu?”


Harina tak bergeming kemudian menatap Ayato yang menjauh darinya. “Sayang yah. Kalau kau maunya begitu, baiklah. Aku pergi.”


Gadis itu mengedipkan matanya yang entah terasa segar. “Wah dia pergi sendiri tanpa diusir. Baguslah dengan begitu aku bebas.”


Di hari-hari selanjutnya, Harina masih menjalankan kebiasaan barunya, yaitu pergi dari rumah diam-diam di malam hari dan sebuah keuntungan yang besar, hingga hari ini ia pun tak pernah ketahuan.


Ia berjalan seorang diri masih dengan memegang pisau di tangannya berjaga-jaga, meski tanpa pisau pun ia tetap bisa menjaga diri, namun berakting sebagai manusia normal itu harus.


Malam yang sepi. Beberapa rumah dan toko masih terbuka di malam sunyi itu namun tak ada lagi sesusianya yang di luar rumah. Jelas semuanya telah terlelap dan yang tersisa hanyalah beberapa orang tua dan orang-orang dewasa yang bermain gelap seperti biasanya.


Seraya melihat-lihat suasana sekitar, Harina tiba-tiba menangkap sosok Ayato, Irvin, Annie dan Aira di sebuah kaca jendela yang memperlihatkan mereka sedang sibuk menghibur pengunjung.


“Hah, pantas saja hanya mereka anak muda yang selalu aku temukan. Tentu saja karena kehidupan mereka adalah kehidupan malam. Tapi, apa mereka tak memiliki orang tua? Apa tak ada yang mengajari mereka?”


Harina menggelengkan kepalanya kembali meluruskan pikirannya yang sempat teralihkan oleh keributan sekitar dan akhirnya terduduk di taman pusat. Duduk di sana pun, pikirannya kembali saat Ayato datang mengucapkan perpisahan padanya kemarin.


“Harina Harina, sepertinya aku tak boleh keluar di malam hari saja. Bagaimana caranya mau menemukan seorang teman jika kau pun hanya bisa ditemui di malam hari.”


Satu minggu kemudian. Di pagi hari.


Ginni tersenyum lebar, akhirnya Harina bersedia untuk keluar rumah setidaknya untuk pertama kalinya di hadapannya.


“Nona Harina, apa kau sudah percaya diri mengendalikan kekuatanmu?” tanya Ginni penasaran seraya terus mendorong kursi roda Harina yang masih berakting tak bisa berjalan.


Harina memperlihatkan kedua tangannya yang terbungkus rapat oleh sebuah sapu tangan yang terlihat ringan dan tipis tetapi sesungguhnya dapat menahan kekuatan miliknya di tambah memang karena Harina sudah beberapa kali keluar di malam hari, makanya ia pun sedikit dapat mengendalikan dirinya.


“Aku mendapatkan ini dari nyonya Indy. Dia memberiku sapu tangan ini, katanya sapu tangan ini khusus dibuat untukku.” Jelas gadis berdress ungu itu dengan sebuah kardigan yang senada itu.


“Wah, nyonya Indy memang paling mengerti. Tidak heran tuan Vasilio menunjuknya sebagai penasehat terpercaya, dia bisa merasakan orang. Apa yah namanya. Aku pernah mendengar jika dia itu memiliki kemampuan apa yah...”

__ADS_1


Selagi berpikir, Harina langsung menjawab kebingungan Ginni. “Empath.”


“Ahh, benar nona. Kemampuan Empath bisa merasakan perasaan dan pikiran orang lain. Pasti orang-orang pada menyukainya, pasti dia adalah seseorang yang pengertian. Bagaimana menurutmu terhadap nyonya Indy? Aku penasaran, aku tak pernah berkomunikasi langsung dengannya. Pasti dia seseorang yang dermawan. Benarkah nona?”


Harina hanya tersenyum remeh. “Benar, dia adalah orang yang dermawan. Paling pengertian.”


Harina terhenti sejenak lalu melanjutkan perkataannya dengan nada kecil sehingga sulit terdengar di telinga Ginni di dalam keramaian kota. “Sangat pengertian hingga aku yang menolak makan setelah seharian pun ia paham tanpa memaksaku makan dan langsung memasukkanku ke laboratorium. Seharusnya dia memaksa maka itu lebih baik bagiku.”


“Halo selamat pagi nona-nona cantik, pagi ini kami akan membawakan sebuah konser khusus bagi orang-orang yang beruntung dan hari ini kalian adalah pemenangnya. Yeaaah.” Sorak band gadungan yang mengagetkan Ginni dan Harina.


Ginni yang terkaget karena menjadi pemenang plus visual para personil yang cantik dan tampan itu. Sedangkan Harina hanya bisa melototi band gadungan yang telah di kenalnya itu.


Dengan penuh semangat, Ginni langsung mengambil tiket palsu itu yang bertuliskan. ‘The Tyranny'


Namun sebelum itu, para penjaga yang menyamar menggunakan pakaian biasa datang memeriksa identitas mereka.


Ayato De Ryuu, Irvin Forke, Annie Adalrich dan Aira Mariko.


Para penjaga yang berjumlah 5 orang itu mundur ketika mengetahui identitas mereka. Untung saja para warga mengenali wajah mereka, wajah-wajah ramah yang menghibur penduduk di malam hari. Band gadungan itu akhirnya lolos.


Akhirnya Ginni mendorong Harina mengikuti langkah The Tyranny ke sebuah hutan yang tak asing di mata Harina. Hutan biasa yang telah berubah menjadi hutan yang indah. Sangat jelas diperuntukkan untuk seseorang.


Dengan karpet merah yang mereka lewati dan juga kelap kelip yang memperindah pohon-pohon sepanjang jalan. Akhirnya sampailah mereka di mana pohon-pohon yang berjatuhan sebabnya kini telah menjadi sebuah tempat duduk yang nyaman.


Banyaknya kain dan bunga-bunga yang memperindah pohon-pohon dan tanah datar itu, membuat semuanya terlihat enak dipandang. Ke-empat orang itu pun mengambil posisi masing-masing.


Irvin sebagai pemain drum, Annie sebagai piano, Aira sebagai pemain gitar dan Ayato sebagai penyanyi, menyanyikan sebuah lagu romantis yang menenangkan.


Ginni terlihat sangat menikmati lagu yang di bawakan terlebih lagi dengan Harina. Gadis itu tak pernah mendengarkan sebuah lagu yang menyejukkan hatinya yang terasa pahit itu. Harina mulai memperlihatkan senyum tipisnya dengan jari yang sedikit bergerak menikmati.


Pikirannya kembali ke masa di mana ia bertemu seorang anak laki-laki baik yang terus mengajaknya bermain setelah eksperimen selesai. Anak itu, anak yang masih ia cari hingga sekarang. Lagu ini mengingatkan dirinya pada anak laki-laki itu yang telah ia lupa siapa namanya, membawanya tenggelam semakin dalam di dalam ingatan samar itu.

__ADS_1


Seraya menutup matanya menikmati lagu, tiba-tiba ia membuka matanya ketika mengingat satu kalimat yang pernah dikatakan oleh anak laki-laki itu.


“Perkenalkan aku Ayato De Ryuu, aku dari Jepang.”


__ADS_2