
7 tahun telah berlalu.
Usia Harina kini beranjak 12 tahun setelah terkurung di dalam tabung eksperimen dan terus berproses secara intens hari demi hari, tahun demi tahunnya.
Hiro melemparkan sebuah dress selutut berwarna hitam kepada seorang dari tim peneliti. Renne.
“Renne, pakaikan dia pakaian ini” Ucapnya setelah Harina keluar tak berpakaian, pikirannya kosong dan sedikit pusing.
“Dia belum sadarkan diri 100 persen, cepat sediakan dia makanan dan apapun yang di butuhkan anak itu” perintah Hiro kepada pelayan yang bekerja di bagian dapur.
Tunduk pelayan itu dan berkata “Baik tuan”.
...~~~
...
Harina melangkahkan kakinya ke sebuah taman perusahaan. Ia menghela nafas dalam-dalam, ia sangat bahagia baru kali ini ia menghirup udara segar bahkan sebelum ia di masukkan ke dalam tabung itu, ia belum pernah di beri makan oleh mereka para peneliti gila yang langsung ingin segera melaksanakan eksperimen terhadapnya.
“Aaa... Aaa...” ia mulai mengeluarkan suaranya lagi dan lagi mencoba mendengar suaranya setelah sekian lama.
“Apa di sini ada cermin? Aku ingin melihat wajahku, apa aku sudah menjadi gadis cantik?” Ia menyentuh kulitnya pipinya yang sangat mulus kemudian tersenyum.
Tiba-tiba sebuah cermin memantulkan wajahnya sehingga ia dapat melihat wajahnya sekarang ini.
“Bagaimana? Kau sama sekali tidak cantik dengan rambut berantakan dan juga acak-acakan itu”
Harina berbalik setelah mendengar suara asing dari belakangnya. “Siapa?”
Pemuda berusia 15 tahun itu menjabat tangannya. “Perkenalkan aku Ayato De Ryuu, Aku dari Jepang”
Harina hanya mengangguk terdiam.
“Kau pendiam yah, aku sudah mengenalmu sejak kurang lebih 8 bulan yang lalu. Kau di sana terus tertidur di dalam tabung air berwarna hijau dengan banyak selang yang terhubung di tubuhmu” Jelas Ayato seraya menatap seorang gadis yang selalu ia tunggu.
“Ibuku berkata kau harus di rawat dengan intens setelah kau tewas, jadi aku terus menunggu mereka berhasil menghidupkanmu. Jika kau masih ingat, kau tewas karena apa?” Lanjut ayato melontarkan pertanyaan yang Harina sama sekali tidak mengerti.
Harina masih terus terdiam, ia tidak tahu bagaimana cara untuk berbicara dengan pemuda ini. Nada dan gaya berbicara mereka sangat berbeda tapi pemuda ini terus mengoceh di depannya.
“Masih ingat? Tidak ingat?”
Harina akhirnya membuka mulutnya “Aku, aku tidak pernah mati”
__ADS_1
Pernyataan Harina membuat Ayato menaikkan sebelah alisnya bingung. “Lalu, kau di laboratorium untuk apa?”
Gadis berkulit pucat itu terdiam menatap Ayato, begitu pun pemuda itu membalas tatapannya dalam. “Diam” Perintah Harina mencoba mengendalikan Ayato sebagai percobaan pertamanya.
Mendengar perintah Harina, Ayato sedikit tersentak. “Astaga, apa kau marah padaku?”
Harina langsung mengalihkan pandangannya “Tidak, pikiranku sedikit kacau, maafkan aku”
“Aku bukan berasal dari pulau ini, keluargaku tidak ada di sini. Mereka membawaku untuk di jadikan kelinci percobaan” Sambung Harina.
“Maksudnya?”
Tiba-tiba dari jauh terdengar ibu Ayato memanggilnya. “AYATO...”
Ayato berbalik “Kita bicara lagi nanti” setelah mengucapkan itu, Ayato langsung meninggalkan Harina sebelum ketahuan oleh ibunya yang selama ini melarangnya bertemu dan membuatnya semakin penasaran.
'Kelinci percobaan? Apa maksudnya itu, kukira pulau ini tak pernah menjadikan manusia sebagai mahakarya?’
Ayato cepat-cepat berjalan menuju kamarnya dan di sana jugalah ibunya melihatnya baru memasuki kamarnya. “Kamu darimana?”
“Aku hanya pergi ke dapur sebentar” Singkatnya langsung mengunci pintu kamar.
Tiba-tiba seseorang menunduk di depannya “Maaf menganggu nyonya Renne, tapi sebentar lagi rapat akan di mulai”
...~~~
...
Seorang pria melangkahkan kakinya naik membawa sebuah laptop besar beserta dokumen-dokumen yang telah ia kerjakan sesuai kemampuannya. “Baiklah untuk membuka rapat ini, aku Leo sebagai presenter pertama akan menunjukkan hasil dari penelitianku.
Jadi dalam penemuanku aku mendapatkan sebuah sampel yang dapat membuat lidah manusia bisa memanjang dan melilit layaknya ular dan~”
Hiro Orfias sebagai ketua tim langsung memotong presentasi dari Leo “Next...”
Dengan kecewa, Leo kembali duduk di tempat duduknya kemudian presenter kedua Cindy maju menggantikan Leo.
“... Jadi mesin ini dapat memerintahkan benda tajam untuk menusuk jantung musuh...”
Hiro menutup matanya mencoba untuk bersabar “Apa benda tajam punya pikiran? Next”
Presenter ke-3 hingga presenter ke-15 sama sekali tak ada yang menarik dari penemuan tidak jelas mereka pada rapat yang bertemakan 'Karya mematikan'.
__ADS_1
Selanjutnya giliran Rennesa Mahiro, ia dengan seluruh tubuh yang gemetar, ia sangat gugup saat ini dan keringatnya telah bercucuran padahal satu kata saja belum terdengar dari mulutnya.
“Ba~baiklah atas kesempatan yang telah di berikan, a~aku Renessa Mahiro dan karya yang aku akan perkenalkan ini bukanlah sebuah senjata, robot ataupun racun tetapi i~ini...”
Ia menelan ludahnya gugup, semua orang menunggunya melanjutkan presentasi miliknya dengan gaya yang sudah sangat lelah. Semuanya sangat malas hanya untuk mendengarnya dan tak ada yang berfokus padanya.
Ia kembali menghela nafasnya berat untuk kesekian kalinya.
“Ini adalah sebuah portal yang menghubungkan antara dunia dan juga neraka dan penemuan ini aku dan tim memberi nama dengan sebutan Hell Prison” Jelasnya namun suasana masih saja membosankan.
“Dengan membuka portal ini, kita akan memasuki neraka di mana semua roh-roh dari mayat-mayat yang telah mati tinggal di sana bersama dendam mereka. Roh-roh itu tak ada yang ramah maupun berteman satu sama lain. Mereka akan selalu merasa kesepian dan akan menyerang apapun jika ia tahu bahwa itu bukanlah berasal dari neraka.
Tidak hanya para roh jahat yang berada di penjara neraka, tetapi kita bisa memanfaatkan tempat itu sebagai pembuangan monster-monster yang saat ini terkurung di ruang rahasia itu. Monster-monster yang gagal kita sempurnakan, mau bagaimana pun suatu saat mereka berpotensi menyerang kita jika kita terus mengurung mereka dengan sihir yang sangat terbatas itu”.
Semuanya terdiam. Tentu saja hal itu sama sekali bukan karya mematikan, itu adalah dunia lain, sama saja dengan alam kubur orang-orang yang berdosa dan juga penuh dendam.
“Renne-san, apa kau tidak lihat? Tuan Hiro membutuhkan senjata bukannya wilayah” Sewot Leo menyilangkan tangannya seraya menggelengkan kepalanya.
Hiro mengangkat tangannya membuat semua orang di ruangan itu segera memperbaiki posisinya yang sedari tadi sangat bosan. Mereka sudah sangat tahu aba-aba jika Hiro akan berpendapat dan membutuhkan kefokusan dari para tim peneliti.
“Renne... Izinkan aku memberimu pertanyaan” Ucap Hiro.
“Silahkan tuan”
“Penjara neraka milikmu, apa bisa memasukkan dan mengeluarkan makhluk yang masih hidup?”
Pertanyaan Hiro membuat Renne kebingungan.
“Maaf tuan Hiro tapi aku belum pernah mencoba hal itu, jadi aku tidak bisa menjawabnya”
Hiro mengangguk mengerti kemudian berdiri mengambil dokumen Renne dari tangannya dan membacanya sebentar.
“Pertemuan kali ini saya cukupkan, dan untuk saat ini kita akan mengembangkan penemuan dari Rennesa Mahiro sebagai ketua dari penelitian ini”
Semua anggota tim peneliti akhirnya bertepuk tangan kecuali Leo “Tuan Hiro sebentar, kukira karyanya itu sangat jauh dari tujuan kita” bantahnya.
Hiro menatap Leo dengan tajam dan dengan suara yang tegas “AKU YANG MEMUTUSKAN”
Leo menundukkan kepalanya geram namun tetap menyadari posisinya saat ini “Maafkan aku tuan”
Mereka akhirnya meninggalkan ruang rapat menyisakan Renne yang masih beberes dengan wajah bahagianya. “Sebentar lagi, aku pasti menjadi kebanggaan”
__ADS_1