Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Secret Cave


__ADS_3

Harina terbaring lelah di punggung sang monster buaya raksasa yang berjalan santai entah mengantarnya ke mana namun gadis itu tak perduli dan hanya mengikuti ke mana monster itu akan membawanya.


“Harina... Kupikir kau akan langsung mati ketika menginjakkan kakiku di neraka. Nyatanya kau bisa bertahan sampai sejauh ini. Kira-kira di dunia sudah tanggal berapa yah?” Tanya Harina pada dirinya sendiri kemudian tertawa receh.


Ia membawa tangannya ke atas sehingga irisnya dapat menatap dalam tangannya yang penuh dengan luka bakar dengan seksama. “Begitu yah, karena aku juga monster sama seperti buaya ini. Aku tak perlu takut, tubuhku bisa melakukan apapun.”


Perkataannya sendiri membuat ia semakin berani untuk terus melangkah. Ia bangkit berjalan menuju kepala sang buaya dan berdiri tepat di depan mata kiri sang buaya.


“Hei kau buaya... Sekarang aku adalah bosmu dan sekarang namamu adalah Kuroko, jadi jika aku memanggilmu kau harus datang membantuku, mengerti!” Perintahnya seakan-akan telah berdamai dengan buaya itu.


Buaya itu reflek menggeleng keras dan Harina yang tak siap langsung terjatuh dari kepala buaya raksasa itu. Setelah itu sang monster buaya raksasa pergi tanpa menghiraukan Harina yang sedang kesakitan.


Tak secepat itu, Harina dengan tekad yang bulatnya berlari terus mengejar sang buaya agar dapat menjinakkan buaya baik itu. Ia sangat tahu bahwa buaya itu tak akan menyakitinya, buktinya bahkan setelah batu kristal itu ia hancurkan dengan kakinya sendiri, buaya itu tetap tak menyerangnya. Namun sebaliknya, malah tak menghiraukannya dan membiarkan dirinya berbuat seenaknya ketika di atas punggungnya.


Harina seketika terpeleset karena tak melihat batu lava besar di depannya.


“Aauch,” Rintihnya kesakitan.


Buaya itu terhenti dan berputar balik kemudian memajukan moncongnya ke arah Harina seakan bernyuruh Harina naik ke atasnya. Tanpa basa-basi, Harina langsung mengerti dan akhirnya menaiki moncong buaya itu.


Harina tersenyum lebar, perasaannya sangat gembira ketika melihat buaya ini berinisiatif menolongnya. “Kuroko, apa kau sudah tak marah padaku?”


Tentu saja pertanyaan itu hanyalah pertanyaan tanpa jawaban. Meskipun begitu Harina sangat bersyukur bahwa buaya ini ternyata peduli padanya.


...~~~


...


Suara gesekan di antara dua bilah pedang terus saling bertabrakan menguji kemampuan masing-masing. Langkah demi langkah tercipta dengan pola yang seimbang membuat kedua anak laki-laki itu seperti sedang menari dengan pedang mereka.


Bel telah berdenting 3 kali menandakan bahwa waktu istirahat telah datang. Mereka berdua terduduk lelah di tanah rata tempat latihan mereka. Tak hanya mereka, murid-murid yang lainnya juga langsung terduduk kelelahan, ada yang berlari ke kantin, yang berjalan kembali ke kelas mereka dan juga hanya menuju kamar kecil untuk membasahi tubuh mereka.

__ADS_1


Anak berambut hitam dengan ujung-ujung rambut yang berwarna hijau tua itu meraih sebuah botol yang bukan miliknya dan langsung meminumnya tanpa bertanya saking hausnya dirinya karena tak sanggup lagi berjalan menuju kantin.


“Irvin, berhenti meminum milik orang lain,” ucap anak di sampingnya keberatan.


Anak yang di panggil Irvin itu melihat malas ke arahnya kemudian memegang rambut temannya itu. “Hei Ayato, konon katanya jika seseorang sering marah-marah itu akan membuatnya semakin cepat tua. Lihatlah ujung-ujung rambutmu yang memutih, lama kelamaan semua rambutmu akan memutih dan akhirnya kau tua duluan dariku.”


Ayato menangkis tangan Irvin yang masih ada di kepalanya. “Sembarangan, lantas kau sebut apa ujung rambut yang menjadi hijau sepertimu?”


“Hijau karena aku adalah lelaki sejati yang selalu gagah berani makanya rambutku menjadi hijau yang artinya membuatku semakin tampan setiap harinya. Apa kau pernah dengar? Orang tampan akan bertindak sesuai wajahnya, makanya fisikku pun setiap hari semakin mendukung ketampananku,” jelas Irvin mengada-ada namun penuh percaya diri dalam membanggakan dirinya sendiri.


Ayato menatapnya dengan mata yang menyipit seolah-olah mengatakan bahwa Irvin adalah orang yang paling narsis dan itu menjijikkan baginya. Seketika ia tertawa dan hanya menggeleng melihat kelakuan teman sekamarnya itu. “Terserah kau saja, aku mau pergi dulu ke suatu tempat.”


Irvin yang langsung di tinggal begitu saja sama sekali tak ingin melewatkan apa yang akan di lakukan oleh Ayato. Demi menjahilinya, ia akan mengikutinya di mana pun ia berada. Memang itulah kebiasaan bodohnya tetapi itulah yang juga membuat persahabatan mereka semakin erat.


Ayato dan Irvin tiba di sebuah sungai kecil dengan air terjun di sampingnya. Tempat itu terlihat biasa saja namun sangat sejuk dan bisa di jadikan sebagai tempat tongkrongan asyik.


“Aku tak tahu ada tempat seperti ini di sini,” kata Irvin.


Irvin berbalik melihat ke belakang dan ia menyadari bahwa tempat ini sangat jauh dari kelas mereka. Jauh melewati hutan yang lebat. “Ayato, mari kita jadikan tempat ini sebagai pelarian kita. Mari bolos sehari saja, aku sangat lelah terus di kekang oleh sensei Judes itu.”


Ayato tak menjawab.


“Maksudku bukan ayahmu tapi wakilnya. Sensei Akame, yang seksi itu,” ucapnya memperbaiki perkataannya ketika teringat wali kelas mereka yang sekarang adalah ayah dari Ayato. Memang baru sebulan ini ayahnya di lantik sebagai wali kelas bersama wakilnya Akame, adik kandungnya. Yang artinya dia adalah bibi dari Ayato.


Ayato masih terdiam tak menjawab dan terus fokus memperhatikan sesuatu di sana.


Irvin menggaruk kepalanya sendiri bingung akan kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga Ayato mengabaikannya.


Ia mencoba ingat-ingat letak kesalahannya dimana. Seketika ia tersentak dan reflek memukuli bibirnya sendiri. Ia tak percaya ia keceplosan mengatakan sesuatu yang tak senonoh tentang sensei Akame di depan keponakannya. Ia masih memukul bibirnya seraya mengutuk dirinya sendiri.


“Ano... Ayato, maafkan aku tadi aku tak senga~” ucapan maafnya langsung terhenti ketika tersadar bahwa Ayato tak lagi di dekatnya, melainkan dirinya telah menceburkan separuh tubuhnya di sungai itu dan melangkah maju ke arah air terjun.

__ADS_1


Irvin segera berteriak memanggilnya dan walaupun ragu-ragu tetapi ia tetap mengikuti Ayato dari belakangnya. “Waduh, bisa di marahi habis-habisan kita jika pulang sudah basah kuyup,” keluhnya.


Mereka terus berjalan melewati air terjun itu hingga mendapati sebuah goa di balik air terjun itu dan mereka pun turun lebih dalam ke dalam goa.


“Wow... Di mana kita?” kagum Ayato tak menyangka apa yang di temukannya.


“Wah... Aku ingin tinggal di sini.” Begitu pun Irvin yang seperti telah di hipnotis oleh isi dari goa itu.


Sebuah goa yang di penuhi oleh batu-batu kristal dengan ukuran yang bermacam. Goa yang sangat indah dengan kristal biru yang mengkilap, bebatuan kecil yang berwarna keunguan, serta pijakan batu Mineral Ore yang rata melapisi tanah di dalamnya. Begitu mewah.


Mereka berjalan dengan mata berbinar saking indahnya, mengelilingi goa dan menyentuh kristal-kristal yang mewah dan megah itu. Semua keindahan ini begitu menghipnotis mereka.


“Irvin, kita bisa kaya dengan semua ini,” ucap Ayato sudah mulai lupa diri.


“Pastinya, kita akan menjadi orang terkaya di dunia ini,” kata Irvin tak kalah lupa dirinya.


Tiba-tiba suara seseorang terdengar samar dan itu membuat mereka penasaran siapa orang yang telah menemukan tempat itu mendahului mereka.


Mereka berjalan terus kedalam hingga menemukan jalan buntu dengan sebuah batu kristal raksasa yang paling besar di antara semua kristal yang telah mereka lewati.


“Kuroko, tolong katakan sejujurnya... Apa tujuanmu menyerang tempat tinggalku?” rengek suara seorang gadis.


“Kuroko, katakanlah sebelum aku memakan dagingmu. Kau tahu kan aku sangat lapaaar hiks.” gadis itu mulai mengeluarkan suara tangis.


Ayato dan Irvin mendekat ke kristal raksasa itu dan melihat pantulan seorang gadis berambut berantakan dengan pakaian selutut yang robek-robek dan kulit yang penuh luka bakar tengah berbicara tidak jelas di atas kepala monster buaya raksasa.


“Ayato”


“Irvin”


Tatapan mereka bertemu dan kedua tangan mereka bersiap tuk menampar pipi mereka masing-masing.

__ADS_1


Plak...


__ADS_2