Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Rampage


__ADS_3

Kuroko sedang dalam bahaya. Posisinya sekarang ini sangat sulit untuk mendapatkan kesempatan yang bagus untuk melarikan diri. Ia tak dapat bergerak dalam segala kesakitan dan kurungan dari monster singa raksasa itu.


Kepalanya yang terkunci oleh gigitan dan taring singa yang menancap memakan sebagian kepalanya. Sedangkan tubuhnya di peluk menggunakan kedua kaki depan singa itu sementara di bagian belakangnya di tendang-tendang dengan kaki belakangnya.


Kuroko dengan sekuat tenaganya terus memberontak dan berteriak kesakitan berharap singa itu segera melepaskannya. Namun tentu saja singa itu tak akan melepaskannya karena baginya kini buaya itu hanyalah mainan semata.


Harina yang mendengar jeritan kesakitan dari buaya itu menjadi panik. Pasalnya ia masih tak menemukan jawaban untuk segera mengakhiri perkaranya di dalam sana sedangkan Kuroko semakin dalam bahaya di luar sana.


Tanpa berpikir panjang Harina langsung menancapkan tangan kirinya ke daging lunak yang di pijaknya dan langsung memasukkan rantai yang tadinya membelit di tangan kirinya itu untuk menjadi pegangan dirinya agar tetap bertahan di posisinya kemudian mengikatnya di kaki kirinya.


Kini Harina dapat seimbang dan mulai mencakar daging bengkak itu dan menariknya daging-daging lunak yang tebal itu agar semakin dekat dengan kristal yang di carinya. Perlakuan gadis itu tentu saja membuat sang singa menahan kesakitan dan ngilu karena gesekan rantai yang mengikat dagingnya.


Rasa sakit di perutnya membuat ia terpaksa melepaskan Kuroko setengah hati meninggalkan kepala buaya itu yang darahnya telah berjatuhan. Singa itu meringkuk kesakitan. Ia tak tahu sama sekali apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Sementara di dalam sana, Harina akhirnya berhasil menarik kristal itu keluar dari kurungannya dan bernafas bebas. Seperti sebelumnya, kristal itu juga bercahaya kemudian memperlihatkan kenangan yang terjadi sebelum kristal itu tertanam di daging sang monster singa raksasa.


Tak mau melewatkan kesempatan ini, Harina langsung memperhatikan dengan seksama apa yang akan di tunjukkan oleh kristal itu. Cahaya kini meredup menggantikan rangkaian memori terakhir.


Terlihat dari penglihatan singa itu yang tampak sedang kesusahan akan dirinya sendiri yang di seret oleh rantai yang lebih besar darinya, keras dan mengikat kaki-kakinya, leher dan bagian perutnya. Ia tak bisa berkutik. Ia di seret ke kurungan gelap nan penuh dengan air yang membuatnya terus ingin memberontak namun gagal.

__ADS_1


Di luar kurungan itu, terlihat 3 orang mendekatinya dengan wajah yang datar.


“Dia sama sekali tak berguna,” Ujar kasar salah satu orang yang menggunakan kacamata hitam, jas hitam semuanya serba hitam layaknya gambaran bos arogan yang berdiri di samping penguasa Vasilio dan peneliti Hiro Orfias.


Ya, benar. Hanya wajahnya yang samar dan sulit untuk diprediksi.


“Maafkan kami, untuk sementara waktu dia akan di kurung di tempat ini dan kami akan segera mencarikan sesuatu yang bisa mengontrolnya,” sahut Hiro meminta maaf karena kesalahan pada eksperimen mengakibatkan singa raksasa itu masih dengan pikiran sendirinya.


Vasilio mengunci kurungan itu dan berkata. “Aku menemukan kelinci percobaan lain, tidak usah mengupgrade-nya, kupikir ini akan lebih baik darinya. Biarkan dia terus terkurung di sini atau kalau bisa segera lenyapkan saja dia.”


Hiro menunduk mengerti kemudian mereka bertiga meninggalkan kurungan singa raksasa itu namun sebelumnya si serba hitam itu mendekati sang singa dan menyentuh hidung besar itu.


Pria itu tersenyum sumringah di hadapan singa itu dan mengatakan sesuatu padanya dengan nada rendah hingga ucapannya tak terdengar oleh Hiro dan Vasilio.


Guncangan hebat kembali di rasakannya sehingga membuat tayangan memori terakhir itu tak selesai karena singa itu bergerak memuntahkan kristal beserta Harina, daging-daging lunaknya yang telah tercabik-cabik, rantai yang tersimpul dengan potongan dagingnya dan darah-darah yang jatuh bersamanya.


Berbeda dengan perlakuan Kuroko pada kristalnya, singa itu sama sekali tak ingin menghancurkan kristal itu, ia hanya mengabaikannya kemudian lanjut menikmati rasa sakit di perutnya. Sedangkan roh-roh pemakan daging itu langsung melahap daging cabik milik singa itu.


Melihat kesempatan ini, Harina segera naik ke punggung Kuroko bersama bola kristal milik singa itu. Beruntung tubuh Harina saat ini sangat basah berlumuran darah dan juga bau usus yang sangat tak mengenakkan membuat para roh tak berniat menyerangnya.

__ADS_1


Walaupun dengan tubuh yang terluka, Kuroko dengan sigap berjalan cepat melewati tingkatan itu agar mereka mendapatkan tempat yang baik untuk memulihkan diri dan aman untuk beristirahat sejenak. Jujur, Harina dan Kuroko saat ini sangat kelelahan dan butuh istirahat lebih. Tadinya mereka hanya bergerak memaksakan tubuh mereka sendiri karena tekanan dari ketakutan dan keinginan kuat untuk tetap bertahan melanjutkan hidup mereka.


Mereka telah melewati 2 tingkatan dan memutuskan untuk beristirahat di tempat itu. Sebagai informasi, tingkatan yang telah di lewati mencapai tingkatan ke-46 di penjara neraka dan mereka telah melewati 3 bulan di dunia. Itu artinya tersisa 9 bulan lagi untuk mencapai 1 tahun seperti prediksi para peneliti jika Harina tak banyak menghabiskan waktu di neraka beku.


Sebuah tingkatan yang kosong, buaya itu langsung menjatuhkan dirinya sementara Harina pun langsung turun mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menghentikan pendarahan di kepala Kuroko, namun nihil. Tingkatan itu hanya lapangan datar yang tak memiliki apapun meskipun satu kerikil batu.


Harina berlari terus mengelilingi tingkatan itu dan memastikan tak ada celah yang di lewatkannya tetapi tetap saja semuanya kosong. Ia sampai bingung sebenarnya tingkatan macam apa ini. Ia kembali dan memeluk Kuroko yang tak berdaya, luka besar di kepalanya membuatnya cedera parah sementara Harina hanya bisa menangisi Kuroko karena tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Selang berapa menit, sesuatu seperti menabrak tubuh Harina yang masih dalam keadaan memeluk buayanya itu. Ia berbalik tetapi matanya tak menangkap apapun di sana.


Harina kembali berbalik menghadap Kuroko dan mengelusnya dengan tangan kirinya yang masih utuh itu. “Tenanglah Kuroko, aku akan melindungimu. Kau diam saja, kali ini adalah giliranku melindungimu,” serunya menenangkan Kuroko.


Harina segera menyebarkan pandangannya dan mencari hal yang aneh dari lapangan datar itu. Sama seperti tadi tak ada apapun hingga ia menengadah ke atas. Rupanya langit-langit yang tinggi dan gelap itu menutupi banyak roh-roh terbang yang siap menyerangnya.


Ia memiringkan lehernya ke kanan dan ke kiri kemudian menekukkan ke-lima jarinya bersiap untuk menyerang roh-roh terbang itu duluan. “Haha, kalian pikir aku tak mengetahui keberadaan kalian? Sayang sekali, tetapi tempat ini akan kami rebut. Bersiaplah...”


Dengan gerakan kaki yang gencar ia berlari menjadikan tembok-tembok yang mengelilingi tempat itu sebagai pijakan untuk dirinya mencapai langit-langit di mana apra roh-roh terbang itu berkumpul. Emosinya menguap, ia sangat marah dan sangat kelelahan. Jika tak ada ruang istirahat baginya, maka dia yang akan menciptakan ruang itu meski di neraka sekalipun.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2