Hypnotized : My Second Life Mission

Hypnotized : My Second Life Mission
Tantrum


__ADS_3

Satu, dua, tiga...


Rantai-rantai itu melayang mencambuk setiap roh-roh terbang yang mendekatinya. Harina dengan lincah memainkan kedua kakinya dengan satu tangan yang bertahan agar tak jatuh di sebuah tembok yang hampir retak.


Roh-roh terus berdatangan mendekatinya dan selama itu juga ia terus menyerang menggunakan rantai-rantai di kedua kakinya. Meskipun tubuhnya kini tak lengkap namun ia dengan seluruh tenaganya terus berjuang demi mendapatkan tempat untuk Kuroko. Seekor buaya raksasa yang sudah sangat di sayanginya.


“Tak boleh... ada yang mengganggu Kuroko.”


Harina kini menurunkan dirinya ketika mendapatkan Kuroko yang sedang di serang oleh roh-roh terbang lainnya. Meskipun roh-roh terbang itu tak menyakitinya begitu parah, tetapi dampak dari tindakan banyak roh yang menabrakan tubuh mereka sendiri membuat tubuh raksasa Kuroko tetap terguncang dan sebentar lagi akan terbalik.


Reflek Harina meraih rantai yang cukup panjang dan melemparkannya tepat di pertengahan roh-roh terbang itu. Ia sangat tahu caranya mengambil perhatian para roh. Jika setengah roh sibuk menyerangnya dan yang lainnya tak mendapatkan kesempatan untuk menyerangnya maka mereka mengincar buaya itu. Tentu saja itu adalah tak tik yang mudah di tebak.


“Hosh... Hosh... Hosh...”


Jujur saja Harina sangat kelelahan sehabis menggila di awal dan segila apapun dia, tetap saja para roh itu tak ada habisnya kecuali Kuroko kembali berjalan. Namun untuk keadaan saat ini, itu mustahil. Ia pun tak bisa memaksa Kuroko.


Harina kini berlari tanpa arah agar terus dikejar dan memberi waktu Kuroko untuk beristirahat. Beruntung tingkatan itu sangat luas 3 kali lipat dari besar Kuroko. Harina lantas tertawa dengan lantang saking stresnya. Ia pun tak tahu lagi harus melakukan apa hingga sesuatu mengalihkan perhatiannya termasuk Kuroko dan para roh terbang.


Satu langkah memasuki tingkatan itu. Kaki yang penuh bulu berwarna orange dengan ukuran yang besar. Menyaksikan langkah kaki itu membuat Harina melotot. Ia dan Kuroko tentu saja mengenal musuh yang baru mereka lewati 2 tingkatan sebelumnya dan itu membuat semuanya menjadi kacau.


Tentu saja Harina sangat panik. Jika musuh kembali bertambah itu artinya tak ada cara lain selain melarikan diri. Mereka semakin terpojokkan semakin berjalannya waktu. Tak ada yang tahu akhir dari mereka. Pikiran-pikiran negatif itu terus berputar di kepala Harina.


Kedatangan monster singa raksasa itu menjadikan suasana menjadi hening. Roh-roh itupun hanya diam menatapinya. Tak berniat menyerang maupun menghindar. Mereka sama sekali tak ketakutan tetapi semuanya diam mematung.


Harina mengusap wajahnya kasar kemudian berjalan diam-diam ke arah Kuroko yang belum terlalu jauh darinya. Setelah sampai, ia pun naik ke punggung Kuroko, meskipun mereka berdua sama sekali tak mengerti bahasa satu sama lain namun hati mereka telah menyatu dan sudah saling mengerti sama lain walau tanpa melalui bahasa.


Roh-roh terbang itu langsung menyadari keberadaan target mereka telah berpindah. Dengan gencar roh-roh itu kembali terbang melayang kemudian berniat menabrak namun sebelum itu terjadi, Harina tak kalah lincahnya langsung turun dan berlari menuju singa raksasa itu.


Lantas singa yang terganggu kini juga ikut menyerang para roh terbang itu. Ia tak lagi mengincar Harina. Namun, tujuannya ke tingkatan ini adalah menghabisi roh-roh itu. Ia membiarkan Harina dan Kuroko mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri sedangkan ia akan menghalau pergerakan para roh terbang yang kasar itu.

__ADS_1


Secepat itu pula semua perjuangan mereka berakhir sejak si monster singa raksasa itu datang dengan segala pertanyaa.


Di tingkatan selanjutnya. Kuroko telah mendapatkan banyak tenaga meski lukanya masih sangat parah dan darah di kepala yang belum berhenti mengalir. Harina memegangi luka itu berusaha menutupinya tetapi bekas taring itu sangat besar bahkan menggunakan seluruh tubuhnya untuk menutupinya pun tetap tak bisa.


Kuroko masih terus berjalan di susul oleh singa raksasa itu yang entah kapan telah selesai berurusan dengan roh-roh terbang itu. Bagaimana pun mereka berterima kasih pada singa itu. Tak seharusnya ia menjadi pengalih perhatian tetapi hanya itu salah satunya kesempatan yang mereka dapatkan untuk segera melarikan diri.


Singa itu langsung menghentikan langkah Kuroko untuk membawa Harina lebih jauh lagi. Sontak Harina terkaget tatkala sjnga itu langsung menggigiti pakaiannya di bagian tenguk lehernya menggendong gadis itu layaknya bayi miliknya. Setelah itu langsung membawa Harina meninggalkan Kuroko.


Harina memberontak.


“Hei... Kau bahkan belum memiliki nama untuk bertindak seenaknya padaku,” protesnya.


Singa itu masih tetap berjalan, tentu saja ia tak mengerti dengan perkataan Harina. Sekali lagi, Harina memberontak keras hingga membuat pakaiannya robek sementara ia terjatuh ke tanah neraka.


“Dasar... Gara-gara kau pakaianku jadi sobek,” geramnya seraya menutupi bagian punggungnya yang terekspos luas setelah melihat potongan kain miliknya di mulut singa raksasa itu.


Harina yang sekarang hanya memiliki satu tangan tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba sebuah lampu keluar dari atas kepalanya. Setidaknya itu adalah gambaran yang nyata menggambarkan sebuah ide cemerlang yang terlintas di kepalanya.


Ia berlari naik ke atas punggung Kuroko untuk perlindungan dari roh-roh yang berada di bawah lalu Ia menarik rantai yang ada di kaki kirinya. Sementara singa itu menginjak-injak roh itu dengan mudah, Ia yakin Kuroko pun akan di lindungi oleh singa itu.


Ikatan rantai itu telah terlepas total dari kaki kirinya dan ini saatnya menjahit pakaiannya, lebih tepatnya menggabungkan kedua sisi yang terobek itu. Namun karena sobekannya berada di punggung, itu membuatnya sulit untuk menjahitnya. Tak ada cara lain selain...


“Baiklah, aku tak pernah menjahit tapi akan aku lakukan dengan cepat.” Harina berbalik melihat ke kanan, kiri, depan dan belakang.


“Buat apa aku melakukan itu? Tentu saja di sini tak ada manusia lain selain aku.”


Harina kini melepas kalung pengintai yang telah dititipkan oleh tim peneliti dan membuatnya terbalik agar mereka pun tak melihatnya. Tangannya pun kini bergerak dengan perlahan karena luka yang ada di tubuhnya dan sebelah tangannya yang terputus masih sangat sakit ketika mengenai sesuatu.


Gadis dengan rambut panjang selutut itu merintih kesakitan. Semua yang tadi tak di rasakannya tiba-tiba semua terasa dengan nyata. Ia sadar bahwa kekuatan dari ketakutan dan kemarahan itulah yang membuatnya selamat.

__ADS_1


Gerakannya terhenti sejenak, ia menghela nafas, jika terdiam saja sudah sesakit ini apalagi harus terkena sesuatu meski sangat sebentar dan sedikit. Tak butuh menunggu lama, Harina kini kembali bergerak melepaskan pakaiannya. Perlahan tapi pasti.


Di sisi lain.


“Woy... Woy... Woy... Mantap nih,” antusias Irvin yang setia menonton perjuangan Harina yang kini telah berganti genre.


Tiba-tiba ia mendapatkan dorongan dari Ayato.


“Kita bisa menonton semuanya tetapi untuk scene ini tidak boleh, terutama kau!” tegas Ayato memperingati.


Irvin tertawa dengan reaksi tak terduga dari Ayato dan itu membuatnya semakin ingin menggoda sahabatnya itu.


“Benarkah?” Irvin bergerak kembali ingin mencuri kesempatan itu namun sekali lagi di tepis.


Dengan kasar Ayato mendudukkan Irvin membelakangi kristal besar itu kemudian membiarkan tubuhnya menjadi penghalang agar menjaganya tak mencuri kesempatan.


Terlihat Harina masih sibuk menyatukan rantai itu dengan pakaiannya. Dengan susah payah ia harus menggunakan kedua kakinya untuk mempertahankan posisi bajunya, tangan kirinya menggenggam rantainya dan giginya di pakai untuk merobek kecil-kecil agar rantai bisa masuk.


Ayato berbalik melirik Harina. Jujur saja, hal itu juga membuatnya risih. Ia meneguk ludahnya sendiri ketika menyadari ia pun tak seharusnya melihat ini, tetapi tak ada pilihan lain untuk memastikan sudah tidaknya Harina memperbaiki pakaiannya.


Ayato kembali berbalik menghadap Irvin yang kini menatapnya dengan mata yang menyipit serta senyuman jahilnya.


“Ketahuan hahaha.”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2